
Bagai disambar petir di siang bolong. Itulah yang dirasakan kedua orangtua Rion saat ini. Bukan hanya sebatas terkejut, namun juga tidak bisa mempercayai. Saat menantunya berhasil menenangkan diri dan berhenti menangis, Mei mulai bicara, dan apa yang diucapkan Mei seperti cerita karangan yang tidak mungkin benar-benar nyata.
Tidak mungkin, tidak mungkin Rion seperti itu. Kedua orang itu bergumam dalam hati masing-masing, menyangkal.
"Saya menikah dengan Kak Rion karena uang, kami menikah karena kepentingan kami masing-masing."
Ibu sampai memegang tangan suaminya, menahan suaminya supaya jangan meledak amarahnya. Situasinya sangat membingungkan. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan menantunya. Karena apa? Karena dia melihat cinta diantara kemesraan putranya dan Mei. Cara mereka berdua menunjukkan cinta dan kasih sayang sangat mirip dengan apa yang dia rasakan dimasa muda.
Dan itu hanya sandiwara? Tidak mungkin, Rion benar-benar mencintaimu Mei. Ibu berusaha mempertahankan penilaiannya, karena apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana Rion memperlakukan istrinya, itu cinta, itu bukan sandiwara. Itu cinta Mei.
Mei meneruskan bicara walaupun dengan suara terbata-bata.
Kak Rion hanya butuh istri boneka yang menurut, yang bisa melakukan apa pun yang Kak Rion inginkan. Sedangkan saya, saya butuh uang. Itulah, tali penghubung yang terjalin diantara kami. Mei menyebut nama Serge sebagai perantara yang mengenalkan mereka. Kak Rion berjanji akan melunasi hutang-hutang ayah saya. Dan saya, melakukan peran menjadi istri yang sempurna di depan ayah dan ibu.
Tubuh yang berlutut dilantai itu terguncang. Sementara ayah dan ibu yang mendengar pasti jauh lebih terguncang.
"Kak Serge bilang, Kak Rion membenci wanita, karena pengkhianatan kekasihnya di masa lalu dan Kak Serge menjamin, Kak Rion tidak akan menyentuh saya di tempat tidur." Mei mengusap airmatanya dengan punggung tangan. Dia masih tertunduk menatap lantai, sama sekali tidak berani mengangkat kepala. Untuk melihat mata ayah maupun ibu. Gadis itu takut, ya dia takut melihat sorot mata hangat orangtua Kak Rion yang berubah merah dan dipenuhi kebencian. "Jadi, jadi tanpa ragu saya menerima tawaran Kak Serge untuk menikah dengan Kak Rion. Hanya dengan menjadi istri boneka, saya bisa menyelamatkan keluarga saya. Hutang ayah, pengobatan RS ibu dan biaya hidup serta sekolah adik saya. Tawaran Kak Rion sesuatu yang tidak bisa saya tolak." Mei menggigit bibir, sampai terasa sakit. Namun, dia tahu, apa yang dia lakukan sekarang, pasti jauh lebih menyakiti hati kedua orang tua Kak Rion.
Menantu yang mereka sayangi, ternyata hanya bersandiwara selama ini.
Sebentar mereka terdiam. Hanya suara tarikan nafas serta gesekan kaki Mei di lantai yang terdengar. Ayah dan ibu sedang mencerna cerita panjang yang baru Mei katakan dengan suara serak terbata-bata.
Kenapa aku tidak menyadari semua sandiwara ini? Baik ayah dan ibu tenggelam dengan renungannya. Tidak, ada cinta di mata kalian berdua. Lagi-lagi ayah dan ibu sependapat dengan hal ini.
"Maafkan saya Ibu, Ayah. Maafkan saya yang hina ini."
Ibu mempererat genggaman tangan, memegang tangan suaminya. Ibu takut, suaminya tidak bisa mengontrol emosi dan melakukan hal yang akan dia sesali nanti.
"Tapi, kalian melakukannya? Kalian melakukan hubungan suami istri. Kalian tetap melakukannya kan? Rion menyentuhmu di tempat tidur, walaupun kalian menikah kontrak karena kepentingan?"
Alasan Mei minum pil kontrasepsi sembunyi-sembunyi di belakang Rion, menjadi jelas sekarang. Ayah dan ibu mulai paham, alasan sebenarnya Mei minum pil kontrasepsi itu apa.
Pertanyaan bertubi-tubi ayah yang dipenuhi amarah dijawab Mei dengan anggukan kepala dan tangan yang terkepal gemetar.
"Karena itu kau minum pil kontrasepsi tanpa sepengetahuan Rion?"
Lagi-lagi, anggukan kepala Mei, mengiyakan semuanya. Tangan ayah Rion terkepal, geram menahan amarah.
"Sayang, tenanglah, dengarkan penjelasan Mei dulu. Kau membuatnya semakin ketakutan." Ibu berusaha sebisanya menenangkan suaminya.
"Dia memaksamu? Rion memaksamu melayaninya di tempat tidur?"
Mei tidak tahu, kemarahan ayah tertuju hanya untuknya atau juga untuk Kak Rion. Gadis itu bahkan tidak berani mengangkat kepala.
"Tidak Ayah. Kak Rion tidak memaksa saya."
"Jangan berbohong lagi!"
Deg.. deg..
Suara yang dingin dan tegas memenuhi ruangan.
"Jawab semua pertanyaanku dengan jujur Mei, jangan berbohong lagi."
Mei semakin gemetar. Dia tidak berbohong, Kak Rion tidak memaksanya, Kak Rion tidak mendorongnya secara paksa, namun, dia yang tahu diri, dia yang hanya boneka Kak Rion yang merasa tahu diri. Kalau Kak Rion menginginkannya tubuhnya akan bergerak melakukannya dengan sendirinya. Karena dia harus membayar semua yang sudah diberikan Kak Rion padanya. Tapi sekarang, Mei bingung bagaimana harus menjelaskan pada ayah.
"Apa Rion memper*kosa mu di tempat tidur?"
"Sayang! Kenapa kau bertanya pertanyaan mengerikan begitu." Ibu berteriak dengan suara hampir menangis. Anaknya jadi terdengar sangat jahat.
"Jawab aku Merilin! Angkat kepalamu, dan jawab pertanyaan tadi." Ayah tidak berhenti bertanya, walaupun ibu sudah melarangnya. "Angkat kepalamu dan jawab pertanyaanku, Apa Rion memper*kosa mu, memaksamu melayaninya di tempat tidur."
"Tidak Ayah, tidak seperti itu." Mei tetap tidak berani mengangkat kepala. "Kak Rion tidak pernah memaksa saya, Kak Rion tidak pernah bersikap kasar kepada saya. Tidak Ayah, Ibu, saya mohon jangan berfikir buruk tentang Kak Rion."
Ibu sampai memeluk suaminya, supaya suaminya diam dan menenangkan diri. Amarah laki-laki disampingnya, sekarang bukan tertuju untuk Mei. Tapi untuk Rion putranya. Ya, amarah ayahnya Rion sekarang tertuju pada anak laki-lakinya.
Mei mengganguk cepat.
"Kenapa? Bukankah kamu tahu kalau pernikahan kalian hanya pernikahan kontrak. Artinya kamu berfikir Rion tidak mencintaimu kan. Begitupula kamu, yang tidak mencintai Rion?"
Ayah dan ibu menatap lekat, memperhatikan setiap gerakan tubuh dan ekspresi yang ditunjukkan Mei.
"Jawab dengan jujur Mei!"
Deg. Jantung Mei langsung berdetak kencang.
"Sayang! Aku kan sudah menyuruhmu diam." Ayah mendengus seperti anak kecil dimarahi ibunya.
Mei sedang menyusun kata di kepalanya.
"Karena saya hanya sebatas istri boneka yang harus melakukan apa pun yang Kak Rion inginkan, karena saya harus membayar semua yang sudah diberikan Kak Rion kepada saya." Mei terdiam, mengingat lagi kejadian pertama kali dia tidur dengan Kak Rion. Aaaaaa! Kenapa pikiranku blank! Mei menjerit sendiri dalam hati. Karena tidak bisa menggali ingatannya. Yang muncul malam bayangan malah tubuh Kak Rion yang erotis. Serta malam-malam manis mereka. Sama sekali tidak ada paksaan di sana. Paksaan apanya, malah dia yang menikmati.
Apalagi semalam, gadis itu semakin malu. Karena dia yang memintanya pada Kak Rion.
"Itu artinya kan Rion memaksamu?" Ibu menaikkan intonasi. "Kau terpaksa melayaninya?"
"Tidak Bu! Tidak! Kak Rion tidak pernah memaksa saya. Kak Rion tidak pernah menyakiti saya. Saya tidak dipaksa, Kak Rion tidak pernah memaksa saya." Mei menjawab berputar-putar dengan kata yang sama.
"Lho, bagaimana si Mei, katanya kamu cuma dianggap istri boneka oleh Rion, tapi Rion tidak memaksamu untuk tidur dengannya? ibu dan ayah jadi bingung. Jadi sebenarnya situasi antara kamu dan Rion itu seperti apa?"
Yang ibu tanyakan sekarang, Mei sendiri tidak tahu jawaban pastinya apa. Dia memang istri boneka, tapi ya dia juga tidak dipaksa dan merasa terpaksa. Mungkin awalnya ada sedikit perasaan seperti itu. Tapi, wajah Mei memerah. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Karena pada akhirnya dia juga menikmati setiap sentuhan itu. Aaaaaaa! Aku tidak tahu harus menjawab ibu bagaimana.
"Maafkan saya Ayah, ibu." Karena tidak tahu harus memberi jawaban apa. Mei memilih mundur teratur dan memberi jawaban diplomatis. Minta maaf. "Walaupun pernikahan kami diawali dengan perjanjian kontrak, saya benar-benar sayang pada ayah dan juga ibu. Apa yang saya lakukan pada kalian sungguh tulus. Saya mohon, walaupun saya harus pergi, saya mohon jangan benci saya. Maafkan saya yang serakah Ayah, maafkan saya yang tidak tahu diri ini Ibu. Saya mohon, jangan membenci saya." Mei sadar, dia tidak tahu diri, setelah melakukan hal seperti ini masih meminta untuk tidak dibenci. "Saya mohon, saya akan pergi Bu, tapi saya mohon jangan benci saya."
"Lalu, bagaimana perasaanmu pada Rion?"
Pertanyaan ayah membuat Mei tersentak. Apa perasaannya sekarang masih penting. Toh, dia harus pergi juga, apa pun perasaan yang tersimpan di hatinya sekarang. Gadis itu masih membisu sambil meremas jemari tangan. Belum menjawab.
"Kalau Rion memang tidak memaksamu, apa kau mau tidur dengannya karena kau mencintai Rion?" Ibu dan ayah saling pandang. "Angkat kepalamu dan jawab pertanyaanku Mei, apa kau mencintai anakku Rion."
Bukannya menjawab Mei malah menangis lagi. Apa perasaanya penting sekarang. Kenapa ayah masih menanyakan pertanyaan ini. Membuat hatinya merasa sakit.
"Jawab dengan jujur Merilin, jawabanmu akan mempengaruhi keputusanku tentang hubungan kalian." Suara tegas ayah langsung menusuk telinga.
Mei terbata-bata, bicara pelan, sambil mengusap ujung matanya lagi.
"Awalnya, saya hanya melakukannya karena kewajiban saya pada Kak Rion. Saya juga tidak punya perasaan apa pun pada Kak Rion, saya pun melarang hati saya untuk jatuh cinta." Karena dia memiliki cinta pada mantan kekasihnya, Mei selalu mengingatkan hatinya untuk tetap tertutup rapat. "Tapi, tapi, sekarang saya jatuh cinta dan mencintai Kak Rion. Hiks, hiks bagaimana ini Ibu. Saya tidak boleh jatuh cinta pada Kakak, tapi saya malah mencintai Kak Rion."
Perasaan yang meluap-luap, yang Mei tahan-tahan selama ini akhirnya meledak. Dia mengakui perasaannya, dengan lantang dan suara keras. Dia berteriak kalau dia mencintai Kak Rion, bukan hanya hatinya yang mendengar. Ayah dan ibu juga mendengar semuanya. Dia mengatakan semua isi hatinya bercampur airmata.
"Saya mencintai Kak Rion, maaf Ayah, maaf Ibu, maaf saya serakah."
Ayah mendorong ibu, laki-laki itu menganggukan kepala. Berbisik di telinga ibu. "Peluk dan hibur dia. Aku keluar, jangan keluar dari sini sebelum aku panggil."
"Sayang, kamu mau kemana?"
Ayah hanya tersenyum membalas ibu. Setelah ayah keluar, ibu langsung menghampiri Mei. Memeluk menantunya yang masih terisak dengan bahu terguncang. Mei menangis lagi, dalam dekapan ibu.
Sementara itu, ayah masuk ke ruang kerjanya. Meraih hpnya. Menghubungi sekretarisnya yang sedang ada di kantor.
Ketika sambungan terhubung.
"Bawa Serge ke mari, tanpa sepengetahuan Rion. Sekarang juga!"
Hp yang baru saja dia pegang, retak menghantam meja.
Seperti yang Serge pikirkan, kalau Rion melakukan kesalahan, dia yang akan terseret duluan masuk ke kubangan.
Bersambung