Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
158. Si Kepala Batu


Entah kenapa waktu berjalan sangat lambat bagi Mei, karena pikirannya yang kalut, hitungan menit saja rasanya sudah berjam-jam dia sendirian di kamar ini. Menunggu dalam ketidakpastian.


Mei memeluk bantal dengan gelisah.


Kak, apa kau memang tidak akan datang? Atau aku yang seharunya keluar. Mei bangun dari tiduran, berjalan ke depan pintu. Merapatkan telinga ke pintu. Tetap hening, tidak ada suara apa pun, bahkan langkah kaki pun tak ada. Seperti tidak ada kehidupan di luar sana.


Merilin! Ayo bergerak!


Tangan Mei yang sudah meraih handle pintu terlepas lagi. Dia malah jatuh terduduk di lantai. Menatap lututnya sendiri. Kalau aku keluar sekarang, tanpa izin dan membuat Kak Rion semakin marah dan tersinggung bagaimana. Aaaaa! Merilin! Mana semangat berapi-api yang kau tunjukkan tadi. Lagi-lagi menghardik dirinya yang penakut. Padahal tadi kau sudah seperti orang yang siap pergi berperang. Kenapa sekarang kau berubah lagi menjadi bongkahan es yang meleleh.


Mei membenturkan kepala lemas ke lututnya sendiri. Nyalinya menciut, keberanian yang sudah dia bangun menguap begitu saja. Gayanya mau terjang, peluk Kak Rion dan mengatakan dengan lantang, bahwa hanya Kak Rion yang ia cintai. Mana? Mana keberaniannya tadi. Yang ada, dia malah terpuruk duduk di lantai seperti gelandangan. Tak berdaya.


Jegrek.


Suara handle pintu terbuka. Mei yang terkejut dengan pintu yang terbuka, menarik tubuhnya ke belakang sampai membentur tembok. Seraut wajah yang terlihat sama kagetnya dengannya. Wajah Kak Rion yang dirindukan Mei. Sedang berdiri di depan pintu. Rion juga mundur selangkah. Mempertahankan ekspresi wajahnya.


"Apa yang kau lakukan di sana? Kenapa kau duduk di lantai?"


Sebenarnya Rion tidak bermaksud bertanya dengan suara keras, tapi karena terkejut langsung melihat Mei saat membuka pintu, kata-katanya jadi terdengar dengan ketus ketika mampir di telinga Mei.


Deg.. deg..


Jantung gadis itu berdebar kuat.


"Aku tidak keluar dari kamar Kak, aku bersumpah, aku bahkan tidak membuka pintu." Mei saking takutnya ditanya apa malah yang diberikannya sebagai jawaban apa. "Aku hanya."


Aku hanya? aku ngapain si duduk di lantai begini! Malah bingung Mei melanjutkan kalimatnya. Dan akhirnya terdiam lagi. Aku.. aku ngapain coba sekarang! Mei! Bergeraklah! Semangatnya berkobar lagi.


Tapi...


"Keluarlah.." Sepatah kata itu membuat Mei merasa lega, karena tidak perlu mengarang alasan kenapa dia duduk di lantai. Tapi juga menggagalkan rencananya untuk langsung memeluk Kak Rion. Ketika Kak Rion muncul.


Momennya sudah tidak pas gumam Mei sedih.


Rion sudah balik badan, tidak membutuhkan jawaban Mei. Mei juga langsung bangun beranjak dari lantai, berjalan tanpa suara di belakang Rion sambil menangkan hatinya. Mengelus dadanya berulang.


Tenanglah Mei, kau sudah latihan berulang kali tadi kan. Kau sudah hafal tadi, jangan tegang. Hei kau! Jangan mengkhianatiku! Mewanti-wanti hatinya untuk tidak gagap bicara. Bicaralah seperti saat kau latihan tadi Merilin. Bicaralah dengan lancar. Katakan semua yang ingin kau katakan hari ini pada Kak Rion. Setelahnya datangi dia dan minta maaflah dengan tulus. Peluk dia dengan kuat.


Bibir Mei yang komat kamit, mencoba menghafal lagi dialog yang sudah dia siapkan tadi.


Deg.. deg..


Sementara Rion, masih membisu. Karena aku hanya menganggapnya istri boneka. Jadi semua ini salahku? Aku yang jadi penyebab Mei minum pil kontrasepsi. Benarkah? Benarkah itu juga jawaban yang sebenarnya dari hatimu yang paling dalam Mei? Rion menatap Mei yang masih berdiri diam tidak bergerak bukannya duduk di sofa, Mei malah hanya berdiri. Sementara Rion sudah duduk di sofa.


Dia terlihat ketakutan gumam Rion. Biasanya ekspresi itu lucu, tapi sekarang tidak.


Rion memang berhasil menenangkan dirinya, mengubur amarahnya. Bersiap untuk menghadapi kenyataan, namun saat melihat wajah Mei secara langsung seperti ini, hati kecilnya merasa dikhianati lagi. Bagaimana kalau senyum dan cinta itu benar-benar palsu. Rion bergumam pada dirinya sendiri. Bagaimana kalau alasan sebenarnya tidak seperti yang dikatakan Serge tadi. Bukan karena status istri boneka. Tapi memang karena Serge.


"Semua ini karena Serge kan?"


Dan akhirnya, pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut Rion masih tentang Serge. Dia percaya Serge berkata jujur, tapi karena dia takut dengan jawaban Mei, akhirnya dia kembali menyimpulkan seperti ini. Kalau kau mau membuang ku karena Serge, maka lebih baik aku yang memutus hubungan dengan mu lebih dulu.


Perasaan takut mendapatkan pengkhianatan untuk kedua kalinya masih membutakan pikiran Rion. Dia takut dicampakkan Mei, dia takut ditinggal pergi Mei. Rasa trauma malah menghantuinya. Hingga dia menyimpulkan, hal paling buruk ini. Hingga dia menduga Mei akan menjawab karen dia masih mencintai Serge makanya dia menyimpulkan begitu supaya tidak terlalu terluka.


Rion yang keras kepala, padahal Serge sudah mengatakan semuanya. Tapi, dia masih saja berkubang dengan pikirannya sendiri. Takut kehilangan, takut dikhianati dan dicampakkan lagi. Menjadi alasan dia masih keras kepala.


Kak, ini kan masalah pil kontrasepsi, kenapa malah menjalar ke nama Kak Ge? Tanyakan aku alasannya, maka aku akan mengatakan semuanya dengan jujur Kak. Sedikit pun tidak akan ada yang aku tutupi sekarang. Alasannya aku minum pil kontrasepsi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kak Serge.


"Kau mencintainya kan? kau menyukai Serge kan?"


Tangan dan kaki Mei rasanya langsung bergetar saat Rion mengatakan itu dengan suara dingin, bahkan Mei tidak merasa menjejak lantai. Kenapa? Kenapa Kak Rion bisa tahu. Bibirnya bergetar, saat senyum sinis Rion muncul.


"Melihat kau gemetar begitu sepertinya benar ya? Kau mencintai Serge, makanya kau tidak mau mengandung anakku."


"Tidak Kak!"


"Apanya yang tidak? Aku juga melihatnya Mei, cinta mu untuk Serge, saat kita bertemu membahas rencana pernikahan kita. Aku tahu kau mencintai Serge."


Dengan wajah semakin pias, Mei mulai kehilangan pegangan. Dia jatuh terduduk.


"Saat aku mencium mu, apa Serge yang kau bayangkan? Saat kita melakukannya, apa kau juga membayangkan wajah Serge." Pertanyaan menyedihkan. Bukan hanya untuk Rion semata, namun juga untuk Mei. Dua-duanya sebenarnya merasa sakit dengan pertanyaan ini. "Apa aku yang mencumbui mu, tapi Serge yang kau bayangkan?"


Mei yang terdiam, mulai meneteskan airmata. Kenapa? Kenapa begini, kenapa malah melebar masalahnya Kak. Kenapa kau tahu tentang cinta masa lalu yang sudah menghilang di hatiku Kak. Sudah tidak tersisa lagi nama Kak Ge, Kak Rion cuma Kakak yang aku cintai sekarang.


Mei bergumam, kalau kau bisa move on dari Amerla, lantas kenapa kau tidak percaya aku juga demikian.


"Ah, sialan!" Rion mendongak dan mengusap wajahnya yang menatap langit-langit kamar. "Kenapa ini menyakitkan sekali Mei, semua yang kau tunjukkan padaku hanyalah kepalsuan." Rion memukul dadanya, sampai bersuara, bug, bug.


"Tidak Kak."


Rion tergelak sinis.


"Tidak apa? Lantas kenapa kau tidak mau mengandung anakku? kenapa kau diam-diam minum pil kontrasepsi tanpa izin dariku Mei. Kau jijik padaku, karena kau mencintai Serge kan?"


Mei sudah menangis terisak.


Gadis itu mendongak, dia berjalan merangkak mendekat ke kaki Rion. Karena dia sudah lunglai, kakinya lemas. Dia tidak punya tenaga untuk bangun. Kesalahpahaman ini sudah seperti jurang curam yang sebentar lagi ******* habis tubuhnya yang terjatuh. Dan dia tidak mau masuk ke dalam jurang kesalahpahaman itu.


"Apa yang kau lakukan?"


Mei memeluk pinggang Rion dengan erat saat dia sudah disamping sofa. Mengaitkan kedua tangannya di balik punggung Rion. Wajahny terbenam di dada Rion.


"Apa yang kau lakukan Merilin?"


"Dengarkan aku dulu Kak. Aku mohon, dengarkan aku tidak sedang membuat pembelaan. Hiks. Aku mohon dengarkan aku. Aku akan mengatakan semuanya tentang pil kontrasepsi. Dan tentang Kak Ge."


"Cih."


"Itu semua masa lalu Kak, seperti Kak Rion yang move on dari Amerla, begitu pula aku, aku pun berangsur melupakan Kak Ge, karena aku jatuh cinta pada suamiku sendiri. Suami yang hanya menganggap ku sebagai bonekanya."


Tubuh Rion yang bergoyang ingin melepaskan pelukan Mei, berhenti.


"Aku jatuh cinta pada mu Kak, walaupun aku sadar, aku hanya boneka mu."


Deg...deg...


Bersambung