
Di sebuah rumah besar bak istana, bangunan megah yang pernah dilihat Harven dari kejauhan saat dia menginap di rumah Serge kala itu. Ternyata rumah itu milik pemilik Gardenia Pasifik Mall, Presdir yang sekarang, adalah generasi kedua.
Masih pagi, setelah bangun tidur waktunya semua orang bersiap. Ada yang akan bekerja, ada juga yang bersiap sekolah. Para pelayan juga beraktifitas sesuai dengan pembagian tugas.
Di dalam rumah besar ini seluruh keluarga tinggal, bahkan kakak laki-laki yang sudah menikah sekalipun masih tinggal bersama dengan orangtuanya. Bersama istrinya di rumah ini. Jadi ada ayah, ibu, kakak laki-laki dan istrinya, Sherina dan tentunya para pelayan yang entah berapa jumlah pastinya.
Tuan muda rumah ini keluar kamar dengan istrinya, melihat Sherina yang berlarian menuruni tangga dengan semangat, akhir-akhir ini adiknya terlihat sangat antusias di pagi hari. Sudah berjalan cukup lama sebenarnya, tapi akhir-akhir ini makin terlihat kalau gadis itu sangat bersemangat pergi ke sekolah. Seperti di sekolah ada sesuatu yang menyenangkan.
"Kak apa Sherin punya pacar ya?" Sang istri merangkul tangan suaminya. Menebak-nebak. "Padahal awalnya dia bilang mau home schooling karena di sekolah tidak ada yang seru. Eh tiba-tiba berubah drastis begitu."
"Pacar? Tidak mungkin." Kenapa tuan muda itu bisa berfikir tidak mungkin, karena dia sudah menempelkan mata-mata paling akurat di dekat Sherina, orang kepercayaan yang tumbuh besar bersamanya. Siapa lagi kalau bukan Arman. Seseorang yang selama ini berperan menjadi kakak sepupu palsu. Dan tidak ada informasi mengenai adiknya yang punya pacar.
Tidak mungkin informasi sepenting itu tidak dilaporkan padanya. Bahkan dia tahu siapa teman sebangku atau wali kelas Sherina adiknya.
Tuan muda yang baru saja menikah ini, memang belum punya anak. Dia melampiaskan segala jenis keposesifannya selain pada istrinya tentu pada adiknya. Dari saat Sherina dulu masih bocah yang selalu mengikuti di belakangnya sampai gadis itu tumbuh menjadi remaja. Kalau diberi judul sinetron oleh Sherina, mungkin judulnya tidak jauh-jauh dari kakak laki-laki ku yang posesif.
Selain dia melakukannya karena perintah sang ayah, dia dengan senang hati melakukan karena kasih sayangnya pada Sheri, bayi kecil yang dulu dia gendong-gendong dalam dekapannya.
Walaupun setelah dewasa Sherina menentang dengan berani segala jenis pengekangan kakaknya. Gadis itu berteriak dengan lantang di depan wajah Erwin.
"Aku nggak mau punya Kakak seperti Kak Erwin!" Kata-kata semacam itu saja sudah bisa menghancurkan hati kakak yang berbeda usia 12 tahun itu, alhasil Erwin memang mengendurkan sedikit pengekangannya. Membiarkan Sherina pergi ke sekolah umum salah satunya. Meskipun tetap masih dalam pengawasan mata elangnya.
Di rumah besar ini Sherina adalah ratu yang akan dituruti apa pun kemauannya. Tapi untungnya gadis itu tetap tumbuh dengan tahu aturan, mana yang baik dan mana yang salah, diketahui dengan pasti oleh gadis itu. Walaupun semaunya, dia tetap menerapkan sopan santun pada para pelayan di rumahnya. Jadi yang menyayangi Sheri di rumah sebenarnya bukan hanya keluarganya, tapi para pelayan juga jatuh hati dan menyayanginya.
Keluarga Sherina adalah keluarga bahagia. Keluarga konglomerat yang jauh dari gosip karena memang mereka sangat menjaga privasi. Informasi yang mereka berikan keluar, sebatas urusan perusahaan.
Ayah dan ibu mereka yang menikah karena perjodohan, akhirnya berdamai dengan keadaan. Dan mulai jatuh cinta setelah kelahiran Erwin. Keinginan untuk memiliki anak lagi, membuat kedua orang tua itu semakin dekat. Apalagi saat ada faktor kesehatan yang harus dihadapi sang istri, membuat mereka dengan susah payah memperjuangkan anak kedua. Setelah Erwin menginjak usia 12 tahun dan rasanya mereka sudah akan menyerah, Sherina lahir menjadi hadiah indah dari Tuhan. Putri cantik yang mewarnai istana megah mereka. Itulah sekilas cerita tentang keluarga Sherina. Tembok tinggi yang harus dilewati Harven. Keluarga yang bucin dan terlalu menyayangi Sherina.
Kembali ke waktu sekarang.
Erwin dan istrinya sudah menuruni tangga dan masuk ke ruang makan. Istri Erwin bicara lagi berusaha menenangkan hati suaminya, karena suaminya terlihat gelisah ketika dia mengatakan tentang perkiraannya Sherina punya pacar. Dalam hati sang istri menyesal, dia seperti menebar api sendiri, padahal dia tahu bagaimana posesifnya suaminya kalau urusan adiknya Sherina.
"Ya mungkin dia punya teman yang disukai Kak, sudahlah jangan terlalu khawatir, malah lebih bagus kan kalau dia bersemangat. Teman perempuan yang menyenangkan memang selalu membuat semangat sekolah. Ah, aku jadi kangen masa sekolah." Kata-kata sang istri sepertinya tidak mampir ke telinga sang suami, padahal istri Erwin sudah berusaha semaksimal mungkin, karena faktanya, Erwin menyeret Arman ke ruangan kerjanya untuk dia mintai pertanggung jawaban.
Bisa-bisanya kau melewatkan hal yang sangat penting begini, sudah menguat rasa marah ketika melihat pengawal Sherina.
Erwin duduk di sofa, sementara Arman berdiri tidak jauh darinya. Laki-laki itu terlihat sengaja membuang muka. Tidak mau bersitatap dengan Erwin, hal ini semakin mencurigakan saja gumam Erwin.
"Arman..."
"Ia Tuan Muda."
Hah, sialan! kenapa pagi-pagi aku sudah dipanggil begini, Arman sebenarnya cukup panik, namun bisa menyetel wajahnya dengan baik. Tapi dia masih belum mau melihat ke depan ke arah Erwin. Supaya tidak ketara kegelisahannya sekarang.
"Kenapa sekarang Sheri rajin sekali sekolah?" Erwin membuka pertanyaan tidak langsung pada poin utama, pacaran.
Walaupun begitu Arman sudah bisa membaca, informasi apa yang diinginkan Tuan muda di depannya. Ah, sialan! Kalau aku bicara di sini nona yang akan marah, tapi kalau aku diam sudah pasti tuan muda akan mengamuk dan tersinggung. Kenapa aku harus jadi bawahan kalian berdua yang terkadang semaunya begini. Arman sedang meratapi nasibnya. Perintah ayahnya yang menempatkannya untuk mengawasi Nona Sherina memang seperti bumerang baginya. Ya walaupun dia memang santai bekerja, bisa membaca komik lebih banyak dari saat dia mengawal tuan muda.
"Karena Nona Sheri kan sudah kelas dua Tuan Muda, sebentar lagi persiapan masuk universitas." Arman mencari aman, menjawab seperti membaca buku teks. "Jadi nona bilang, dia akan lebih rajin belajar supaya bisa masuk universitas."
Universitas yang sama dengan Harven maksudnya.
"Ah, benarkah?" Erwin terlihat tidak percaya namun juga antusias. "Bayi Sheri ku sudah dewasa sampai bisa memikirkan masa depan sekarang. Ah, padahal dia tidak perlu bersusah payah juga bisa masuk ke universitas mana pun yang dia inginkan." Erwin mangut-mangut, puas dengan sikap bijak Sherina.
"Kalau begitu, saya permisi Tuan Muda, Nona pasti sudah selesai sarapan sekarang, sudah waktunya berangkat."
Aku mohon, jangan bertanya lagi. Arman sudah menundukkan kepala, saat tangan Erwin terangkat, mengizinkannya keluar, Arman bergegas mundur dan berjalan cepat ke pintu.
"Tunggu!"
Ah, sialan! apa lagi sekarang?
"Tidak ada yang mengganggunya di sekolah kan? Ah, tidak, tidak, tidak mungkin ada yang menggangu bayi imut seperti Sheri, semua orang pasti menyukainya." Bertanya sendiri, dijawab sendiri juga. Tapi, tatapan Erwin menjadi serius sekarang karen teringat kata-kata istrinya saat menuruni tangga tadi.Pacar, Sheri punya pacar. Bayi kecilku punya pacar! Erwin tidak mau mempercayai itu, dia menatap tajam Arman. Yang ditatap gelagapan. "Sheri tidak punya pacar kan?"
Dan pertanyaan seperti bom itu meledak di depan wajah Arman. Serpihannya mengenai matanya membuatnya perih tidak mau melihat Erwin. Gelagat mencurigakan itu malah membuat Erwin berspekulasi sendiri. Kalau jawaban dari pertanyaannya, tidak seperti yang dia harapkan. Dia berharap Sheri kecilnya tidak punya pacar, belum saatnya bayi kecilnya itu terlibat dengan hubungan lawan jenis. Begitu yang dia pikirkan.
Erwin bangun dari duduk, berjalan dengan cepat menghampiri Arman yang ada di dekat pintu. Secepat kilat tangan kokoh itu sudah menyambar kerah kemeja yang dipakai Arman.
"Dia punya pacar, bayiku Sheri punya pacar!"
Dia bukan bayi lagi tuan muda!
Saat Arman pura-pura batuk, tangan Erwin terlepas dengan kesal. Dia mendorong laki-laki di depannya, sekarang terlihat semakin marah.
"Jawab sialan!"
"Ia Tuan Muda, Nona Sherina punya pacar." Arman sudah siap menerima ledakan kemarahan Erwin. Dan tidak perlu menunggu lama.
Buag! Kepalan tangan Erwin mendarat tipis di dekat bibir Arman. Membuat Arman memalingkan wajah merasa nyeri.
Ah, sial, tuan muda memang selalu mudah terpancing emosi kalau berurusan dengan Nona Sherina.
"Beraninya kau tidak memberitahu ku sialan! Aku menaruhmu di samping Sheri untuk menjaga, mengawasinya dan melaporkan semua yang terjadi padanya!"
Masalahnya nona yang akan marah kalau aku mengatakannya.
"Siapa laki-laki yang berani menjerat adikku dalam tipu muslihatnya."
Malah nona yang memanipulasinya tuan muda, memaksa Harven menjadi pacarnya. Percayalah, nona bukan bayi imut Anda lagi.
"Licik sekali, dia menggoda bayi kecil kami. bagaimana di bisa menggoda bayi Sheri. Sheri itu masih bayi kenapa bisa dia punya pacar!"
Nona tidak sepolos itu tuan muda. Dan nona bukan bayi!
Arman yang kebingungan bagaimana harus mulai menjelaskan. Memilih mendengarkan makian yang diberikan Erwin ke wajahnya. Tuan muda Erwin bukan orang yang mudah terpancing emosinya, kecuali berurusan dengan adiknya. Walaupun sikap itu sudah sedikit berkurang karena dia sudah menikah. Tapi Arman juga menyadari kesalahn besar yang sudah dia lakukan, karena menyembunyikan perihal Sherina yang pacaran.
Tangan Erwin yang terkepal meninju bahu Arman. Lalu menepuk pipi Arman beberapa kali. Agak keras sepertinya. Tapi Arman tidak bergeming.
"Katakan semuanya yang ingin aku dengar, kalau kau menyembunyikan sesuatu, aku adukan pada paman kalau kau membantah perintahku." Ancaman Erwin masih dengan marah.
Ah, sialan, kapan terakhir kali aku mendengar ancaman tuan muda seperti ini ya, sepertinya sudah lama sekali. Paman disini adalah ayah Arman, sekretaris pribadi Presdir. Jangan tanya semenyeramkan apa ayahnya Arman ya, Arman bahkan jauh lebih takut pada ayahnya ketimbang menghadapi kemarahan tuan muda di depannya.
"Silahkan tanyakan apa saja Tuan Muda, saya akan menjawabnya."
Bersambung