Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
170. Kesalahpahaman


Ruang CEO Andalusia Mall.


Cukup lama Ibram termangu di kursi kerjanya, dia bahkan memutar ulang Vidio Presdir Andez Corporation. Tatapannya nanar, melihat layar laptop. Tadinya awal-awal matanya masih menyipit, mengeryit sedikit kesal karena kata-kata Presdir Andez Corporation yang seperti menamparnya. Namun, semakin dia ulang dan ulang lagi, kepalanya tanpa dia sadari mengganguk. Perasaan bersalah membuncah di dadanya.


Ibram masih belum beranjak, dia menghabiskan sebagian waktu sorenya di depan laptop dan hp. Setelah mengulang-ulang Vidio Presdir Andez Corporation, dengan bodohnya, dia berpindah ke mencari di mesin pencarian informasi, bagaimana cara membahagiakan istri. Begitu kata kunci yang dia tuliskan.


Mulutnya manyun, dia marah dan tersinggung dengan semua jawaban yang dia dapatkan. Karena sekali lagi pipinya ditampar berulang kali. Tanpa jeda, setiap kata yang dia eja selalu menyudutkannya. Dia dikritik habis-habisan, oleh tulisan yang dia baca di hpnya.


Caranya mencintai Erla, caranya menunjukkan cinta pada Erla, semuanya dituding sebagai keegoisan.


Ibram menjatuhkan kepalanya, bersandar di kursi kerja. Membayangkan wajah orangtuanya, selama ini, dia melihat sikap ayahnya pada ibu, sepertinya tidak ada yang salah. Ternyata, itulah racun dalam rumah tangga yang sebenarnya. Ibram masih termangu, menatap langit-langit ruang kerjanya, saat ketukan di pintu membuyarkan lamunan Ibram, sekretaris pribadinya masuk. Menatapnya heran.


"Anda belum mau pulang?"


Ya, sekretarisnya pasti heran, karena beberapa hari ini, dia selalu pulang lebih awal. Bukannya menjawab, Ibram menunjuk kursi, menyuruh sekretarisnya duduk.


Selain mesin pencarian, dia mau mendapatkan info dari manusia nyata.


"Bagaimana hubungan mu dengan istrimu?" Sebenarnya ini pertanyaan menggelikan, dia sendiri tahu, kalau pertanyaannya aneh. Ya, sekretarisnya sedikit banyak tahu bagaimana berantakannya hubungannya dengan Erla. Walaupun dia diam dan menutup mata karena ini urusan pribadi bosnya, tapi Ibram yakin, sekretarisnya tahu situasinya saat ini. Istrinya yang lari, dia yang menyusul istrinya.


"Istri saya? Kenapa Anda tiba-tiba.."


"Jawab saja!" Sambil mendorong kursi, dan menggambil jas yang menggantung, "Apa pernikahan kalian bahagia? Apa istrimu bahagia?"


Apa orang akan bahagia walaupun mereka tidak memiliki banyak uang, begitu yang dipikirkan Ibram. Kalau Presdir Andez Corporation bisa bicara begitu, tentu saja karena dia memiliki banyak uang. Tapi, bagaimana kalau orang pada umumnya. Lagi-lagi, pikiran Ibram masih bermuara, asalkan dia membanjiri Erla dengan uang dan barang mewah, itu sudah cukup menjamin kehidupan, yang ia baca dengan istilah bahagia tadi. Toh, ibunya juga begitu.


Mereka sudah keluar dari ruangan kerja, dan masuk ke dalam lift.


Sekretarisnya mulai menjawab pertanyaan Ibram.


"Kami tidak pernah bertengkar, bagi saya itu indikasi hubungan kami baik-baik saja. Dan..." Sekretaris Ibram menatap bosnya, sedang menebak, apa sebenarnya yang ingin dicari tahu laki-laki di depannya. Dia terlihat sedikit bahagia akhir-akhir ini, karena katanya sudah tinggal lagi dengan Nona Erla kan. Pikiran sang sekretaris tepat sasaran. "Saya berusaha menuruti keinginan dia sebisa mungkin, walaupun istri saya juga bukan wanita yang banyak maunya. Menyesuaikan diri dengan istri, mungkin gampangnya begitu. Bukan hanya saya yang minta untuk dipahami, tapi sebisa mungkin saya juga mencoba mengerti keinginan istri saya."


Dih, apa sih, jawaban aneh dan tidak berguna, gumam Ibram. Dia jadi tidak mau bertanya lagi. Karena jawaban sekretarisnya terlalu retoris. Sesuai dengan teori yang dia temukan di mesin pencarian tadi. Miriplah jawaban keduanya. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing bahkan sampai ke area parkir mobil belum ada yang bicara apa pun lagi. Sekretaris Ibram menundukkan kepala ketika Ibram sudah masuk ke dalam mobil. Namun, beberapa saat mobil masih belum menyala mesinnya.


"Kau masih tinggal bersama orangtuamu? Katanya setelah menikah, lebih baik tinggal sendiri." Muncul pertanyaan baru dari Ibram.


Salah satu tips yang Ibram baca tadi di situs internet. Untuk meminimalisir konflik dalam pernikahan, usahakan tidak ada campur tangan pihak ketiga, termasuk orangtua. Hingga pilihan tinggal terpisah yang paling utama dilakukan setelah menikah.


"Apa Anda mau memperbaiki hubungan dengan istri Anda?"


"Jangan banyak tanya! Jawab saja pertanyaanku!" Kesal, malah sekretarisnya bicara yang aneh-aneh. Walaupun yang dia katakan benar, Ibram tidak butuh ditanya-tanya. Dia hanya mau bertanya dan mendengar jawaban.


"Maaf Tuan. Ehm, saya tinggal di apartemen, setelah menikah, saya berpisah dengan orangtua walaupun mereka masih tinggal di kota ini juga. Memang lebih baik begitu, karena terkadang, orangtua sering mencampuri rumah tangga anaknya, dan membuat pasangan kita tidak nyaman." Sekretaris Ibram agak tersentak karena melihat Ibram memukul kemudi. Apa dia tersinggung gumamnya panik. "Tapi, setiap orangtua kan berbeda-beda, kita yang paling tahu tentang orangtua kita kan. Maaf, kalau kata-kata saya salah. Itu hanya berdasarkan pengalaman pribadi saya."


"Minggir!" Ibram mengibaskan tangan menyuruh sekretarisnya mundur.


Ibram sepertinya benar merasa tersinggung. Dia mulai menghidupkan mesin mobil. Mulai melajukan kendaraan, saat melihat kaca spion dia melihat sekretarisnya menundukkan kepala.


"Dasar sok tahu!"


Mobil meninggalkan area parkir, langit senja mulai berangsur menghilang. Sebentar lagi, malam pasti datang. Saat dia sampai di depan gerbang utama rumah orangtua Erla, waktu sudah berganti. Pikirannya masih campur aduk. Vidio Presdir Andez Corporation kembali terngiang-ngiang dipikirannya, kata-kata sekretarisnya juga seperti berulang di kepalanya.


Mobil sudah berhenti, Ibram keluar. Menutup pintu dengan suara cukup keras.


"Kenapa dengan mereka?" Kernyitan heran dan penuh tanda tanya Ibram muncul, saat melihat pemandangan di depannya.


Ibu Erla dan dua pelayan, keluar untuk menyambut Ibram.


"Kenapa kalian di sini? Aku tidak perlu di sambut. Menggangu saja. Di mana Erla?" Ibram bicara sekenanya.


"Eh, tidak apa-apa Nak, Erla ada di kamar. Apa Nak Ibram sudah makan malam?" Ibu Erla bertanya dengan wajah kikuk.


"Sudahlah, jangan menggangguku aku lelah." Saat pandangan Ibram bertemu dengan pelayan muda, gadis itu langsung tersentak kaget. Bingung sendiri. Apa sih, dia pelayan yang sering bicara dengan Erla kan. Kenapa dia melihat ku begitu, apa ada yang mau dia katakan. "Kau mau mengatakan sesuatu?" Akhirnya Ibram yang bertanya.


Pelayan muda yang ditanya Ibram malah menjerit kaget. Dia buru-buru menggelengkan kepala. Setelahnya menundukkan kepala dan terdiam. Ternyata tangan ibu Erla barusan mencubit pinggangnya. Namun tidak terlihat Ibram.


Ibram menghela nafas jengah.


"Aku mau ke kamar, jangan menggangu."


Langkah kaki Ibram diikuti tatapan ibu Erla, berarti dia belum menandatangani surat perceraian kan, dia masih bersikap biasa saja. Kalau dia mau membuang Erla, hari ini pasti dia tidak akan pulang ke mari. Ibu Erla merasa sedikit lega. Lalu dia memarahi pelayan muda yang mau mengadu tadi. Untung saja dia tidak keceplosan.


Sementara itu Ibram berpapasan dengan adik perempuan Erla sebelum sampai ke kamar, sikap adik Erla tidak jauh berbeda dengan pelayan di bawah tadi. Seperti ingin mengatakan sesuatu, namun dipenuhi keraguan.


Apa sih! Membuat kesal saja!


Akhirnya, tidak terjadi percakapan apa pun antara keduanya, adik perempuan Erla hanya menundukkan kepala lalu kabur dan masuk ke kamarnya sendiri.


Kenapa orang-orang aneh sekali!


Saat pintu terbuka, Erla langsung berdiri dari kursinya. Dia sedang membuat sketsa gambar. Rambut panjangnya terurai, hampir menutupi wajahnya. Gadis itu terlihat kaget, dan berusaha menutupi wajahnya dengan rambut.


"Apa yang kau lakukan?" Ibram mengendurkan dasi, melepaskan jas yang dia pakai. Melemparkan jas ke sofa.


"Hanya menggambar Kak." Erla menjawab dengan cepat. Ibram melirik ke meja kerja Erla, memastikan apa yang sedang di kerjakan gadis itu. Dia tidak berbohong gumamnya. Memang ada kertas berserak serta pensil yang selalu dia pakai.


Ibram menyapu wajahnya, berusaha mengeluarkan energi positif, sambil mengingat beragam tips yang dia dapat di internet tadi.


"Aku mau mandi."


"Ia Kak, aku siapkan baju."


Ibram menatap punggung Erla, sambil memiringkan kepala. Ada apa dengannya, kenapa dia patuh sekali. Aku bahkan belum minta maaf, kenapa dia sudah menurut begitu.


Langkah kaki Ibram terhenti lagi saat berada di depan pintu kamar mandi. Dia menatap punggung Erla lagi, yang sedang berdiri di depan pintu lemari yang terbuka.


"Hari ini, kau melakukan apa?"


"Hanya menfoto baju-baju yang sudah selesai aku buat." Lagi-lagi menjawab dengan cepat. Seperti berharap, Ibram segera pergi ke kamar mandi. Dan masih membelakangi Ibram.


Sikap Erla jadi terasa aneh di mata Ibram.


"Hanya itu?"


"Ia Kak."


"Kemari!" Nada suara tegas terdengar di kata perintah yang diucapkan Ibram. Erla memutar tubuh, sudah mendekap baju tidur suaminya. "Mendekat ke mari!" Karena Erla masih termangu diam, akhirnya kata perintah Ibram meninggi nadanya.


Eh, kenapa kau berteriak bodoh! Kau kan mau merubah sikap mu dan membuat Erla bahagia. Dimulai dari tidak boleh berteriak dan berkata kasar. Yang lembut, yang lembut bicara mu bodoh. Ibram sedang perang batin, praktek tips yang dia dapatkan dari mesin pencarian tadi.


"Ehm, maksudku, mendekatlah..." suara Ibram melembut.


"Eh.." Erla terlihat sedikit terkejut dengan sikap Ibram. Karena suaranya melembut. "Ia, Kak, Apa Kak Ibram sudah makan malam? Biar aku siapkan, sekarang Kak Ibram mandi saja." Karena Ibram bicara dengan pelan, malah membuat Erla takut. Dia pikir, pasti ada yang aneh dengan suaminya.


Jangan memancingnya Erla, turuti saja. Kau sudah lelah dengan semua kejadian tadi siang kan. Apa ibu mertua sudah menemuinya, makanya dia bicara dengan lembut sekarang. Tidak! Erla semakin takut akan memancing amarah Ibram.


"Mau, aku siapkan air hangat Kak? Apa Kak Ibram mau berendam supaya lebih segar."


Lagi-lagi, sikap Erla terlalu mencolok, terlihat sekali Erla ingin mengusir Ibram dari hadapannya.


"Kau keluar dari rumah?" Suara Ibram mulai terdengar tidak suka. Setelah diperhatikan, ada yang terlihat lain di wajah Erla.


"Tidak Kak, aku seharian di rumah saja. Aku menggambar dan mengambil foto."


Ibram mendekati Erla, mencengkeram dagu dan menggoyangkan.


"Bohong! Kau bahkan belum menghapus makeup di wajah mu."


Sebenarnya Ibram sedang menahan diri untuk tidak meledak sekarang, tapi cengkeraman di dagu Erla mengeras, membuat gadis itu meringis sakit. Barulah tangan Ibram terlepas.


"Kau keluar dari rumah tanpa izin dariku?"


Erla yang menutupi memar di wajahnya dengan sengaja memakai make-up telah menimbulkan kesalahpaham.


Bersambung