Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
79. Menunjukkan Kamar Rion


Rumah Presdir Andez Corporation.


Merilin dan Rion sudah sampai di rumah. Ibu senang sekali melihat menantunya datang. Mereka berpelukan erat sambil mengusap bahu penuh kasih sayang antara mertua dan menantu. Ibu Rion senang sekali bertemu dengan menantunya. Sudah seperti sekian lama tidak bertemu, padahal baru beberapa hari saja sejak hari pernikahan. Sementara ayah Rion terlihat memperhatikan dengan seksama setiap gestur tubuh yang dibuat anaknya terhadap Merilin.


"Rion memperlakukanmu dengan baik kan Mei?" Ibu bicara melihat Mei, tapi mengusap kepala anaknya.


Hanya dengan melihat senyuman dibibir Rion saja, gadis itu paham apa yang diinginkan Rion. Dia ingin Merilin berakting dengan maksimal, bukan hanya menggunakan mulut tapi juga anggota tubuh, biar ibu semakin yakin.


"Kak Rion sangat baik Bu." Mei melingkarkan tangan di pinggang Rion, lalu menjinjitkan kaki mencium pipi Rion. "Ia kan Kak? Hehe." Aku pasti sudah tidak waras gumam Merilin.


Melihat senyum bahagia menantu dan anaknya yang merespon balik dengan mencium pipi Mei, sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan ibu. Anaknya memang telah kembali menjadi Rion yang berhati hangat dan penuh cinta.


Sambil mengobrol dan minum teh serta menikmati cake yang dibuat ibu.


"Kau menyukai baju yang ibu beli Mei? pas kan?" Mendengar pertanyaan ibu wajah Mei langsung memerah. Dia membenturkan wajahnya ke punggung Rion yang ada di sampingnya. "Haha, lucunya kalian berdua ini, ia kan yah. Ibu jadi ingat masa muda."


Presdir meraih tangan ibu dan mengusap punggung tangan ibu sambil tersenyum hangat. Ah, ayah dan ibu masih terlihat sangat romantis gumam Mei sambil mengintip dari punggung Rion.


"Terimakasih ya Bu, maaf sudah merepotkan ibu. Semua bajunya cantik, Kak Rion menyukainya. Eh."


Aku bicara apa si!


Mendengar ibu tertawa, Merilin jadi semakin malu. Membenturkan kepalanya lagi di belakang punggung Rion, sambil dusel-dusel. Padahal niatnya mau menyembunyikan wajah, tapi yang dilihat ayah dan ibu Rion malah keromantisan anaknya.


Rion berbisik sambil mengusap-usap pinggang Mei. "Teruskan Mei, lucu sekali. Kelakuanku selalu membuatku tertawa."


Apa si, kenapa aku jadi badut sekarang. Tapi Mei merangkul pinggang Rion, akting dengan maksimal dia lakukan. Mencium punggung. Menunjukkan betapa dia mencintai suaminya, begitu pula sebaliknya, Rion beberapa kali menyuapkan potongan cake ke mulut Mei. Mengusap bibir gadis itu dengan jemari, menjilat sisa cake dijarinya sambil menyeringai.


Ayah hanya menyimak, ibu menikmati tontonan di depannya dengan wajah berseri-seri.


Hati Merilin berdesir, melihat cinta dan ketulusan ayah dan ibu terkadang membuatnya takut. Bagaimana kalau suatu hari nanti mereka tahu, bahwa apa yang dilakukan Kak Rion hanyalah sebatas akting. Bahwa cinta mereka hanyalah kepalsuan.


Setelah dua tahun nanti, aku akan berlutut dan memohon pengampunan ayah dan ibu. Merilin berusaha tersenyum, mengusir rasa bersalah di dalam hatinya.


Setelah cangkir kosong dan cake habis, Rion menarik tangan Merilin untuk mengikutinya.


"Kemarilah, aku tunjukkan kamarku."


Mei sebenarnya mau menjawab, tidak usah Kak, aku tidak penasaran kok. Tapi saat melihat ibu yang mengulum senyum penuh arti dan mendorongnya dia mau bilang apa lagi. Ibu pasti berfikir kalau anaknya mau berduaan saja dengan istrinya. Ibu malah terlihat bersemangat dan mendukung.


"Ia, ia ibu tidak akan menggangu kalian. Ikutlah Rion Mei, Istirahatlah, nanti kalian turunlah untuk makan malam. Pakaian kalian sudah dibawa bibi di kamar."


Merilin menunduk dan berterimakasih pada ibu dan bibi yang berdiri di samping ibu. Tatapan bibi terlihat agak berbeda saat melihat Merilin, namun gadis itu sama sekali tidak menyadari apa pun.


Dan akhirnya, Merilin mengikuti langkah kaki Rion menaiki tangga, dan sekarang terjebak di dalam kamar Rion. Kamar yang dulu dipakai Rion, dan sesekali masih dia tempati saat akhir pekan pulang ke rumah.


Kamar yang tidak terlalu besar, mirip dengan kamar di apartemen. Bedanya sepertinya kamar ini memiliki kamar mandi yang terhubung, karena Mei melihat ada pintu. Tidak ada lemari pakaian di dalam kamar. Tas baju mereka ada di dekat meja.


Mungkin lemari pakaian ada di balik pintu itu juga.


Setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar. Rion melepaskan tangannya yang menggengam tangan Merilin.


Gadis itu masih terdiam sambil memperhatikan sekeliling kamar.


Ketimbang yang mewah dan besar, seleranya memang lebih simpel namun mendetail. Hanya sekali lihat saja Mei bisa merasakan aura yang mirip dengan kamar di apartemen. Mei masih melamun, tidak memperhatikan apa yang dilakukan Rion.


Rion melepaskan bajunya begitu saja, lalu berjalan dan langsung menjatuhkan tubuh yang bertelanjang dada ke atas tempat tidur, sambil menguap.


"Panas. Aku lelah." Bicara dengan suara keras, supaya Mei mendengar dengan jelas apa yang dia ucapkan. "Ah, lelahnya, aku berkeringat juga saat di RS."


Tubuh tinggi besar itu minta dimanja dan disentuh sepertinya, Mei bergumam sambil mengambil baju yang tergeletak di lantai. Dia letakkan di atas meja.


Padahal kita ada di ruangan ber AC, tapi kenapa kau kepanasan Kak.


"Aku ambil handuk sebentar ya Kak, dimana lemari pakaian Kak? Apa di sini?" Merilin membuka pintu, benar saja, ternyata itu lemari pakaian, dan ada pintu lagi menuju kamar mandi. Merilin masuk tanpa menunggu jawaban Rion. Bingung sendiri setelah membuka lemari tidak menemukan handuk. "Kak, handuknya ada dimana?" kepalanya menyembul, memohon Rion menjawab.


"Cari saja sendiri, cepat kemari!" Rion masih terlihat memejamkan mata, tubuhnya terlentang, dengan satu tangan menutup matanya.


Dasar, sudah tidak mau memberi tahu, masih menyuruh orang cepat-cepat. Mei mencari dibagian laci dengan tergesa, akhirnya ketemu juga. Tumpukan handuk kecil ada di sana. Dia mengambil dua lembar.


Saat keluar kamar, manusia bunglon yang mudah sekali berubah suasana hatinya diam tidak bergerak.


Dia tidur ya?


"Mei.."


Ternyata tidak.


"Ia Kak, ini handuknya mau aku bantu usap keringatnya?"


Dih, itukan karena kau tidak mau menjawab ku dasar.


Merilin meletakkan handuk di atas meja, dia tidak mendekat ke arah tempat tidur, masih berdiri di dekat meja. Mei melirik ke arah pintu, berfikir apa lebih baik aku keluar ya, membantu ibu menyiapkan makan malam. Masak aku tidur-tiduran dan tidak membantu. Mode menantu yang kebingungan karena tidak melakukan apa-apa di rumah mertua muncul. Walaupun ibu pasti lebih senang kalau dia di kamar menemani Kak Rion.


"Kak, Kak Rion istirahat saja ya, aku mau keluar membantu ibu."


Kepala Rion langsung terangkat, matanya terbuka, dia bertopang dengan tangannya dan memiringkan tubuh. Senyumnya muncul. Mei sudah merinding, melihat senyum itu.


"Buka!"


Aaaaaa! Benar kan!


Gadis itu agak bimbang, Rion mau dia membuka bajunya atau membuka celananya sekarang. Katanya kan dia kepanasan, apa di mau aku membuka celananya.


Bisa kan kau buka sendiri, memalukan!


Rion menjentikkan jarinya, menyuruh Merilin mendekat. Langkah perlahan, akhirnya membawa Mei ke samping tempat tidur. Kulit yang berkilau di atas tempat tidur menggeliat. Anehnya, masih tercium aroma harum dari tubuh Rion.


Glek. Kenapa kau menelan ludah Mei! Gadis itu sedang memarahi dirinya sendiri.


"Buka!" Perintah kedua keluar. Kalau sampai keluar perintah ketiga, bisa-bisa dia menyalak kesal. Dengan segera Mei menunduk, meraih pinggang Rion. Melepaskan ikat pinggang Rion.


"Apa yang kau lakukan Mei?"


Apa sih, aku kan mau melepas celanamu. Katanya suruh buka.


"Me.. melepas celana Kak Rion."


Rion tertawa saat mendengar jawaban Merilin dengan bibir dan tangan yang bergetar, dia menjentikkan tangan, Mei mendekatkan wajah ke arah Rion. Jari laki-laki itu menuding kening Mei sambil tertawa.


"Apa yang kau pikirkan dasar mesum, aku menyuruhmu membuka bajumu, kau juga pasti berkeringat kan."


Hah! Bajuku!


Tidak sadar Rion, menyuruh istrinya membuka baju bukannya itu jauh lebih mesum, tapi mana Rion perduli. Dan masalahnya apa yang dia katakan selalu benar. Jadi Mei hanya bisa mengelus dadanya sambil bilang. Sabar Mei, sabar. Yang kamu hadapi CEO Rionald.


"Cepat buka!" Menepuk tempat tidur di sampingnya, dia mau Merilin tidur di sampingnya.


"Aku nggak kepanasan kok Kak."


Merilin menyesal menjawab kata-kata Rion, karena laki-laki itu langsung menghela nafas.


"Hah! ini bukan permintaan Mei, ini perintah."


Belum menyelesaikan kalimatnya, baju Merilin sudah dia lempar ke atas meja, secepat kilat dia lakukan sebelum Rion menyelesaikan kalimatnya. Lalu dia juga segera menjatuhkan tubuh di dekat Rion.


"Kau sudah berani membantahku ya." Sudah memiringkan tubuh. Memindahkan kakinya ke atas paha Merilin. Kulit mereka bersentuhan.


"Tidak Kak, aku hanya salah menerjemahkan perintah Kak Rion. Aku pikir Kakak memintaku melepaskan celana tadi. Katanya kan Kak Rion panas dan berkeringat, jadi aku pikir Kak Rion... bla...bla..." Entah mengoceh apa Mei, mulutnya bergerak sendiri tanpa bisa ia cegah untuk berhenti. "Aku tidak mungkin membantah Kak Rion kan, aku kan boneka Kak Rion." Mengaku salah, dan sadar diri kalau dia adalah boneka Rion, adalah jalan ninja Merilin, selain sentuhan dan kecupan untuk meluluhkan hati Rion.


Grep. Sudah saling memeluk. Rion yang memeluk.


Rion yang bertelanjang dada, sementara Mei hanya memakai dalaman saja. Kulit mereka saling menempel dengan erat. Rion menggoyangkan tubuh supaya pelukannya semakin erat.


"Maaf Kak, apa lain kali Kak Rion bisa bicara dengan jelas maunya apa? supaya aku tidak bingung menerjemahkan perintah Kak Rion." Takut-takut bicara, sambil mendekatkan kedua tangan di depan dadanya sendiri. Supaya ada dinding pemisah, dadanya tidak menempel di perut Rion.


"Suka-suka aku mau bicara apa,"


Hah! Giliran salah kau marah. Dasar manusia aneh. Lagian kalau kau panas dan berkeringat, kenapa malah peluk-peluk si!


"Buka semua Mei! Lanjutkan yang di RS tadi." Rion berbisik di telinga Mei, langsung merubah warna muka Merilin.


Yang mereka lakukan sebelum masuk ke ruangan ibu di rawat, jangan membayangkannya Merilin. Jangan, aku mohon. Saking malunya sampai mau menangis rasanya.


"Haha, kenapa? kau malu, padahal kau semangat sekali tadi. Lihat ini, ini, dan ini." Menunjukkan hasil kerja keras Merilin saat di RS tadi. Bercak gigitan di tubuh Rion.


Itukan karena perintahmu, tapi kenapa kedengarannya seperti aku yang menyerangmu Kak!


"Buka!"


"Baik Kak."


Dan siang itu, sebelum keduanya tidur siang, mereka kembali berkeringat, padahal suhu di kamar tidur sudah cukup dingin.


Bersambung