Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
103. Dukungan Sahabat


Kegalauan hati seorang gadis yang perlahan hatinya move on dari cinta pertamanya. Namun, baik yang telah berlalu atau pun yang sekarang, entah kenapa semua bermuara pada hal yang sama.


Di dalam mobil, menuju RS. Mei memperlambat laju mobil saat sampai di belokan, dia membenturkan kepalanya ke kemudi. Dadanya rasanya ingin meledak, saat hatinya sudah tidak bisa lagi dibohongi. Semakin dia mencoba menyangkal, perasaan itu semakin kuat menerjang.


Bagaimana ini, aku sepertinya benar jatuh cinta pada Kak Rion. Tidak Mei, ini tidak boleh sampai terjadi. Kau tidak boleh jatuh cinta pada Kak Rion.


Bukan hanya cinta dalam diam yang seperti dia lakukan dulu saat menyukai Kak Serge. Perasaan yang saat ini sedang meledak-ledak di hatinya, sekarang jauh lebih menyedihkan, kenapa lebih menyedihkan? Karena ini jauh lebih mustahil, ketimbang dia mengakui perasaan pada Kak Serge. Menyukai Kak Rion bagi Mei, adalah sesuatu yang terlarang. Dia pun tidak akan berani mengungkapkannya. Karena dia tahu, Kak Rion hanya menganggapnya apa.


Hatimu lemah sekali Mei? Kenapa? apa karena dia tampan, tubuhnya yang seksi? Atau karena sentuhan tangan dan bibirnya yang selalu agresif menyerangmu setiap ada kesempatan? Atau kau tersentuh karena perubahan nasib keluargamu yang tidak akan mungkin terjadi tanpa bantuannya. Terlalu banyak alasan yang membuat Mei bisa jatuh cinta pada Rion. Saat dia memelukku dan berbisik dengan iseng, walaupun kesal, namun entah kenapa, hati kecil Mei tidak bisa membenci laki-laki itu. Dia merasa nyaman. Apalagi saat Kak Rion mengakuinya di hadapan semua orang kemarin.


Kak Rion dengan segala keanehan sifatnya, namun juga, aaaaaaa! Entahlah, aku bingung!


Sekarang, nikmatilah saja Mei kebersamaan ini. Memang kau bisa apa lagi? Saat kau bisa menyukai laki-laki itu, maka sukailah dia. Akhirnya, begitulah dia berdamai dengan dirinya sendiri. Merilin, akan menikmati, menjadi wanita yang diakui Rion sebagai istrinya.


Saat mobil sampai di area parkir RS, Harven terlihat dari kejauhan. Adiknya mengenali mobilnya, berlari setelah Mei keluar dari mobil. Mei memang minta dijemput diarea parkir karena ada barang yang harus dibawa.


"Hallo Dek, maaf Kak Mei telat ya?" Mei tertawa malu. Pasti semua orang sudah datang gumamnya. Aaaaa! Ini gara-gara Kak Rion si.


"Lumayan terlambat Kak. Semua sudah datang Kak, sudah membantu membereskan barang-barang ibu juga. Yang paling duluan Kak Brama." Kak Brama benar-benar menunjukkan perubahan sikapnya, yang mau tidak mau akhirnya Harven membuka hatinya pada Brama. Karena kakak laki-lakinya berusaha dengan sungguh-sungguh. "Kakak ipar yang membereskan baju-baju ibu."


Mei membuka pintu belakang mobil, mengeluarkan dua buah dus. Gadis itu senang, karena Harven dan Kak Brama sudah berbaikan.


"Apa ini Kak?" Harven menerima satu kardus.


"Ah, minuman sama camilan untuk para suster yang sudah menjaga ibu. Ini buat ibu perawat yang sudah menemani ibu selama ini."


Harven membantu membawa satu, Mei mengangkat yang satunya. Sambil melangkah menuju ruangan ibu, Mei bicara kalau suaminya tidak bisa ikut menjemput karena sedang ada pekerjaan. Begitu juga Kak Serge. Dia mengatakan kalau sebenarnya Kak Rion mau ikut tapi berhalangan. Wajah gadis itu bersemu saat menyebut-nyebut nama suaminya, tertangkap jelas di mata Harven.


"Ia, Kak Ge sudah bilang kemarin." Harven terdiam sebentar. Sampai mereka menuju lift untuk naik ke lantai ruangan ibu. Setelah pintu lift tertutup, Harven bicara. "Apa Kak Mei sudah bisa melupakan Kak Ge sekarang?"


Deg.


Apa intonasi suaraku kelihatan sekali? Mei merasa malu sendiri pada adiknya yang bisa membaca perasaanya hanya dari intonasi suara. Apa aku terlihat sesenang itu saat membicarakan Kak Rion.


"Kenapa? Kak Mei merasa bersalah?"


Gadis itu belum menjawab.


"Kenapa juga Kak Mei merasa bersalah." Harven melihat kakaknya yang tampak sendu, seperti ketahuan sudah berselingkuh. "Kalau hati Kak Mei berubah, itu bukan kesalahan Kak. Kak Rion kan suami Kak Mei, sudah sewajarnya hati Kak Mei berpaling padanya." Kata-kata itu sangat benar, semua tidak masalah, bahkan itu lebih baik, kalau situasinya tidak seperti sekarang ini. Dimana pernikahan mereka hanya terjalin karena kontrak kepentingan. "Aku tidak akan pernah mengungkit perasaan Kak Mei pada Kak Ge dimasa lalu, mari kita kubur perasaan itu seperti tidak pernah ada Kak. Toh Kak Ge juga tidak tahu kan, kalau Kak Mei pernah menyukainya."


Mei menyandarkan kepala sambil berterimakasih, karena adiknya selalu mendukungnya.


Benar, kenapa aku merasa bersalah kalau hatiku sudah berpaling, aku kan tidak pernah mengungkapkannya pada Kak Ge. Lagipula aku juga cuma dianggap adik, mau aku pernah menyukainya atau tidak, pasti tidak ada artinya kan bagi Kak Ge.


Saat sampai, mereka langsung menemui para suster yang ada di meja kerjanya. Berulang kali Mei mengucapkan terimakasih atas kerja keras mereka sudah menjaga ibu. Para suster mengucapkan selamat atas kesembuhan ibu dan berharap beliau sehat selalu. Menerima pemberian Mei dengan wajah sumringah. Beberapa saat mereka bicara, lalu Mei berpamitan karena mau membereskan barang-barang ibu.


Dean dan Jesi yang ikut larut dalam kebahagiaan yang dirasakan Mei saat ini. Keluarganya seperti terlahir kembali setelah ibu keluar dari RS. Semua tampak jauh lebih optimis menatap masa depan yang akan menyambut mereka.


Di dalam ruangan semua orang sudah menunggu. Mei memeluk perawat khusus yang sudah menemani ibu selama perawatan. Kotak yang dia bawa juga dia berikan. Beserta amplop yang jauh lebih tebal dari biasanya. Berulang dia mengucapkan terimakasih, bahkan sampai menitikkan airmata.


Mei tidak mungkin bisa berdiri sekuat ini tanpa orang-orang yang ada disampingnya. Dean dan Jesi tertawa meledek Mei yang malah tidak berhenti menangis. Sambil meledek tentunya memeluk Mei, sambil mengatakan kau hebat Mei, kau sudah berjuang dan bekerja keras.


"Ayo hidup dengan senyum dan kebahagiaan ke depannya Mei."


Gadis muda yang jauh lebih kecil dari dua temannya itu masih sesenggukan. Ibu yang sudah bisa berjalan mendekat ke arah putrinya. Memeluk anak perempuan yang luar biasa itu.


"Maafkan ibu ya Nak, sudah menyusahkanmu. Ibu akan sehat, sekarang ibu yang akan menjaga Harven. Sambil menunggu ayahmu pulang."


Deg.


Mei belum menghentikan isak tangisnya, apalagi saat ibu bicara begitu.


"Kau ini, ini kan hari bahagia kenapa kau malah menangis." Brama menarik Mei dalam pelukannya menepuk kepala gadis itu. "Terimakasih Mei, karena bertahan dengan kuat selama ini. Maaf, kakak yang datang terlambat."


Tangis-tangisan di ruangan rawat inap berlangsung cukup lama. Setelah itu mereka berpamitan dengan para suster penjaga. Beberapa perawat laki-laki membantu Kak Brama dan Harven membawa barang ibu. Sementara Mei dan kakak ipar mendorong kursi roda ibu masuk ke dalam lift.


Ibu naik ke mobil Mei, duduk di belakang bersama Harven. Dean dan Jesi, naik ke mobil Jesi. Kak Brama dan kakak ipar naik mobil mereka, kakak ipar bilang akan sekalian mampir berbelanja dulu sebelum ke rumah. Membeli kebutuhan harian untuk ibu.


Terimakasih Kak, sudah memilihku.


...๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“...


Mobil yang ditumpangi Mei sampai lebih dulu, dibelakang mobil Dean juga menepi. Kompleks perumahan yang asri dan bersih, langsung menyambut mereka.


Semua orang sudah berdiri di depan teras. Harven sudah membuka pintu lebar. Dia masuk ke dalam ruang duluan.


"Selamat datang Bu, ke rumah ibu." Harven merentangkan tangan. Mei tersenyum melihat pancaran kebahagiaan di mata Harven. Adiknya pasti sangat senang dengan datangnya ibu. Karena dia tidak akan tinggal sendiri lagi.


"Ini rumah kita?" Ibu melihat semua, tatapannya beralih pada anak-anaknya bergantian. Mei dan Harven. "Benar, ini rumah kita?"


"Ia Bu, ini rumah ibu. Hadiah dari suami Kak Mei." Harven yang menjawab sambil mengandeng tangan ibu masuk ke dalam rumah. "Karena Kak Mei sudah menikah, jadi kita tinggal berdua di sini Bu." Menarik tangan ibu masuk ke ruang keluarga.


Ibu menoleh melihat gerbang depan yang terlihat dari pintu utama. Tatapannya berubah menjadi getir.


"Ayahmu sudah dikasih tahu belum? Nanti kalau dia pulang ke rumah kita yang lama bagaimana?"


Deg. Selalu ada kesedihan jika ibu mulai membicarakan ayah. Bahkan sekedar menyinggung saja sudah memunculkan kesedihan, apalagi sampai ibu bicara begitu.


Dean dan Jesi saling pandang dengan tatapan sedih.


"Ayah sudah tahu kok Bu, nanti kalau ayah pulang, pulangnya juga ke sini. Ven, kita tunjukkan kamar ibu. Harven yang membersihkan kamar ibu."


Ibu membelai kepala anaknya dengan bangga.


"Ayahmu pasti suka rumah ini, cat dindingnya warna kesukaan ayahmu." Ibu bergumam-gumam sendiri, tapi terdengar oleh semua orang.


Mei di rangkul oleh kedua temannya saat Harven membawa ibu melihat kamar.


"Sabar ya Mei, ibu pasti bisa sehat lagi. Yang penting kondisi fisik ibu sudah baik." Dean merengkuh bahu sahabatnya. "Nanti setelah beliau menjalani hari-hari, aku yakin, beliau akan menyadari kalau suaminya sudah berpulang.


Jesi tidak bisa mengatakan apa-apa, karena sudah diwakilkan Dean. Gadis itu berdoa dalam hati, semoga ibu Mei akan sehat seperti sedia kala. Cinta ibu pada ayah Mei yang sangat besar, memang membuat ibu seperti kehilangan penopang hidupnya.


"Ayo turunkan barang-barang ibu."


Dean menarik tangan Mei. Jesi ikut mengekor keluar. Setelah sampai di dekat mobil, dia menghentikan langkah.


"Dan ceritakan pada kami, tentang kemarin di kantormu?"


Mei memang sudah memberi tahu kalau ada kejadian di kantor, perihal gosipnya yang merembet ke mana-mana. Walaupun dia belum menceritakan semuanya.


Saat mereka sudah meletakan tas di ruang tamu, ketiganya duduk di teras rumah. Di lantai, sambil menatap rerumputan yang ada di halaman rumah.


"Aku tanya pada Kak Ge apa yang terjadi, tapi dia nggak mau bilang, dan menyuruhku menanyakan padamu." Dean bicara. "Tapi kau tidak membalas pesan, aaaaaaa! kau tahu kami setengah mati penasaran."


Jesi juga menimpali berapi-api.


Maafkan aku! Sampai di rumah kemaren sore Kak Rion sama sekali tidak melepaskan ku! bahkan untuk membuka hp.


"Mei..."


"Ternyata yang menyebarkan gosip kalau aku itu punya hubungan dengan petinggi perusahaan, dan bilang aku simpanan Presdir itu mantan pacar Kak Rion."


"Apa! Dasar gila!"


"Siapa wanita tidak tahu diri itu!"


Melihat reaksi yang dipenuhi kobaran api itu, Mei tertawa. Walaupun dia harus jambak-jambakkan sekalipun dengan Amerla ada dua orang yang akan selalu membelanya. Bahkan mungkin bisa dia ajak menjambak gadis itu. Hehe, aku bercanda kok. Tidak mungkin kan aku mendatangi dan melabraknya.


Malah Mei yang akhirnya menenangkan dua sahabatnya.


Tenanglah Mei, kau tidak perlu turun tangan masalah Amerla๐Ÿคซ