
Kini beberapa prajurit yang diminta untuk pergi menuju keempat penjuru mata angin telah menemukan titik tempat pertarungan yang terjadi, mereka terkejut karna pihak Istana Kerajaan Meztano terlambat menyadari hal ini. Setelah mendapatkan kebenaran mengenai informasi yang disampaikan oleh Tuan Putri Amerilya kini para prajurit bergegas kembali menuju istana untuk melaporkan pada Yang Mulia Raja Azvago.
Karna pertarungan masih berlangsung Putri Amerilya berusaha menahan rasa sakit di kedua telinganya, darah tak kunjung berhenti mengalir walaupun para tabib sudah memberikan berbagai macam obat.
"Ayah sakit... aaaaaaaaaa." triak Putri Amerilya dengan sangat kencang hingga mengejutkan semua orang termasuk kedua pangeran yang sedang menunggu di luar.
Karna sangat khawatir dengan kondisi adik perempuan mereka akhirnya Pangeran Luxe dan Pangeran Zico memutuskan untuk masuk ke dalam ruang kesehatan, apa yang mereka lihat sangatlah mengejutkan. Tubuh Putri Amerilya tersangka ke atas dengan sendirinya dan seluruh tubuh gadis itu mengeluarkan cahaya berwarna putih terang kecuali kedua bagian telinga yang mengeluarkan cahaya emas.
Raja Azvago akhirnya mengerti mengapa tiba tiba kedua telinga putrinya itu terasa sakit dan mengeluarkan darah secara terus menerus padahal dalam kondisi normal. Ternyata saat ini kedua indra pendengaran sang putri mengalami kebangkitan, ia mendapatkan kemampuan spesial untuk mendengar suara dari jarak yang jauh. Kemampuan tersebut akan terus berkembang bersama berjalannya waktu selama sang putri mau mengasah dengan baik.
Setelah melayang selama beberapa saat akhirnya tubuh Putri Amerilya kembali jatuh ke ranjang ruang kesehatan. Seorang pria yang bertugas sebagai penguji sedang memeriksa kondisi sang putri dan memastikan tidak ada efek samping setelah kebangkitannya.
"Kedua telinga Tuan Putri Amerilya baik baik saja, kini dia bisa mendengar dari jarak puluhan kilo meter. Saya sudah memastikan tidak ada efek samping akibat kebangkitan spesialnya ini. Saya juga dapat merasakan ada beberapa kekuatan lain di dalam tubuh Tuan Putri Amerilya, beberapa hari setelah pesta ini selesai sebaiknya Yang Mulia Raja Azvago melakukan upacara kebangkitan bakat untuk Putri Amerilya." ucap pria itu dengan tatapan serius. Akan sangat berbahaya jika Tuan Putri Amerilya tidak diarahkan sejak dini bagaimana cara untuk mengelola kekuatan yang ia miliki.
"Baiklah saya akan mengadakan upacara kebangkitan satu minggu lagi. Saya tidak ingin membuat putri kecil kelelahan karna jarak antara pesta ulangtahun dengan upacara kebangkitan terlalu dekat." jawab Yang Mulia Raja Azvago, ia sudah membuat keputusan dan tak ada yang bisa merubah keputusannya itu.
"Itu lebih bagus, untuk sementara waktu sebaiknya Anda ataupun Yang Mulia Ratu Zivaya menemani Putri Amerilya ketika sedang tidur. Saya khawatir akan terjadi kebangkitan lainnya." ucap pria yang bertugas sebagai penguji itu.
"Kami juga bersedia menemani adik jika ayah dan ibu sedang sibuk." ucap Pangeran Luxe, ia dan ketiga pangeran yang lain tak merasa keberatan jika harus menjaga adik kecil mereka itu.
"Saya permisi terlebih dahulu, ada beberapa pekerjaan yang belum saya selesaikan. Selamat malam Yang Mulia Raja Azvago dan kedua pangeran." ucap pria penguji itu sembari membungkukkan badan kemudian pergi meninggalkan ruang kesehatan.
Para tabib dan alkemis bisa bernafas dengan lega, pendarahan di telinga Tuan Putri Amerilya telah berhenti. Mereka cukup terkejut karna seorang anak perempuan yang baru berusia tiga tahun sudah mengalami kebangkitan pertamanya, hal seperti ini tak pernah terjadi sebelumnya pada anggota Keluarga Kerajaan Meztano yang lain.
"Kalian bisa pergi sekarang, terimakasih untuk kerja kerasnya." ucap Raja Azvago. Ia meminta para tabib dan Alkemis untuk kembali ke tempat mereka karna Putri Amerilya memerlukan ruangan dengan tekanan oksigen yang padat.
"Baik kami permisi terlebih dahulu Yang Mulia Raja Azvago." ucap para tabib dan alkemis secara serempak, mereka bergegas pergi meninggalkan ruang kesehatan.
Yang Mulia Raja Azvago duduk di sebuah kursi yang berada tepat di samping ranjang tempat Putri Amerilya beristirahat. Sang raja menatap lekat wajah lelah dari putri kecilnya itu, untunglah Putri Amerilya baik baik saja. Yang Mulia Raja Azvago sempat khawatir kutukan itu kembali aktif saat sang putri bertambah usia, kenyataannya semua itu hanyalah kekhawatiran belaka.
Tok tok tok....
Suara ruang kesehatan yang diketuk oleh para prajurit yang telah sampai di Istana Kerajaan Meztano. Pangeran Luxe membuka pintu dan mempersilahkan para prajurit itu untuk masuk ke dalam.
"Salam hormat kami pada Yang Mulia Raja Azvago, kedua Pangeran, dan Tuan Putri Amerilya." salam yang diucapkan oleh para prajurit secara serempak dengan membungkukkan badan mereka.
"Bagaimana, apakah kalian melihat adanya pertarungan di keempat arah mata angin?." tanya Raja Azvago dengan rasa penasaran yang menyelimutinya.
"Lapor saya menemukan pertarungan di wilayah timur. Sepertinya beberapa anggota menara sihir yang berhasil melarikan diri memulai pembalasan dendam mereka atas kejadian sepuluh tahun yang lalu. Ada sekelompok orang dengan topeng perak yang menghadang orang orang dari menara sihir. Menutut pengamatan yang saya lakukan beberapa saat yang lalu salah seorang anggota kelompok topeng perak mengatakan bahwa mereka tidak ingin ada keributan saat pesta ulangtahun Putri Amerilya berlangsung." ucap seorang prajurit yang memberikan laporan.
"Lapor saya menemukan pertarungan di wilayah bagian barat. Saat ini Kesatria White Rose sedang bertarung dengan kelompok bandit hutan, saya tidak mengetahui darimana para bandit itu datang namun saya mendengar pembicaraan Kesatria Richal dengan pemain kelompok bandit hutan itu. Jika tidak salah mereka membawa bawa nama Putri Haru, kemungkinan sang putri ingin membalas dendam atas apa yang telah terjadi padanya, karna itulah ia mengirim sekelompok bandit hutan untuk mengacau di pesta ulang tahun Tuan Putri Amerilya." ucap sang prajurit yang memberikan laporan mengenai pertarungan di wilayah barat.
"Lapor saya juga menemukan pertarungan di wilayah utara. Saya melihat ada delapan orang wanita yang sedang bertarung melawan beberapa orang berjubah ungu tua yang ingin masuk ke dalam istana. Orang orang berjubah ungu tua itu sepertinya berasal dari salah satu kelompok pembuat racun karna ada lambang ulang cobra di bagian belakang jubah mereka. Saya tidak mengenal siapa kedelapan wanita itu, namun saya sangat berterimakasih karna mereka bersedia membantu Kerajaan Meztano." ucap sang prajurit dengan tatapan terharu. Jika prajurit biasa seperti mereka yang turun ke medan pertarungan yang ada mereka semua mati sia sia akibat racun asap.
"Sialan.. mengapa banyak sekali yang ingin menyerang saat pesta ulangtahun putri kecilku dilangsungkan. Pangeran Luxe pergilah ke markas para prajurit, mintalah empat Jenderal tingkat tinggi untuk memimpin pasukan mereka kemudian menyebar keempat arah mata angin. Sebelum ikuti campur dalam pertarungan yang sedang terjadi mintalah mereka untuk bertanya pada sekutu kita apakah mereka mau dibantu ataukah tidak. Mengganggu pertarungan kelompok lain bukanlah tindakan yang baik." ucap Yang Mulia Raja Azvago, ia meminta putra keduanya untuk mengatasi masalah ini.
"Baik ayah, saya pamit untuk melaksanakan tugas dari Anda. Tolong jaga Putri Amerilya karna kami semua sangat mengkhawatirkannya." ucap Pangeran Luxe dengan tegas. Setelahnya Pangeran Luxe bergegas pergi menuju markas para prajurit.
Kini di ruang kesehatan yang tersisa hanyalah Putri Amerilya yang masih terbaring lemas di atas ranjang, putri kecil itu langsung pingsan setelah kebangkitannya. Ada Raja Azvago dan Pangeran Zico yang setia menunggu Putri Amerilya hingga ia sadar nanti.
"Sepertinya pesta akan segera berakhir namun jalan untuk para tamu undangan pulang masih mengalami kekacauan. Jangan sampai mereka terluka karna melewati jalur yang tidak aman." gumam Yang Mulia Raja Azvago dengan kerutan di keningnya.
"Saya akan memanggilkan ibu untuk datang kemari setelah itu ayah bisa pergi ke aula utama untuk memberitahukan pada para tamu undangan agar menunda kepulauan mereka hingga masalahnya selesai." usul dari Pangeran Zico. Ide dari pangeran ketiga sangat berlian.
"Baiklah ayah serahkan tugas ini pada mu putraku. Pergilah ke aula utama dan panggil ibumu untuk segera datang. Berhati hatilah karna ayah khawatir ada penyusup di dalam istana." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan senyuman hangat yang ia tunjukkan pada putra keduanya itu.
Pangeran Zico pergi menuju aula utama Kerajaan Meztano, di sepanjang jalan saat ia melewati lorong lorong istana sang pangeran merasa ada yang mengikutinya namun ia tak merasakan ancaman dari orang itu. Setelah beberapa saat akhirnya ia sampai di depan pintu masuk aula utama, para prajurit membuka pintu aula tersebut kemudian sang pangeran masuk ke dalam. Pangeran Zico mengarahkan pandangannya ke segala arah untuk menemukan keberadaan sang ibu, setelah beberapa menit akhirnya Pangeran Zico menemukan keberadaan ibunya.
"Salam hormat saya pada ibu dan Ratu Jenya, maaf jika kedatangan saya mengganggu pembicaraan kalian. Bisakah ibu ikut dengan saya sebentar?." ucap Pangeran Zico tanpa bertele-tele.
"Saya permisi sebentar Ratu Jenya." pamit Ratu Zivaya pada temannya yang merupakan seorang ratu dari Kerajaan Monzxo.
"Silahkan Yang Mulia Ratu Zivaya, sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan pangeran ketiga pada Anda." jawab Ratu Jenya, ia tersenyum lebar sebagai pertanda tak masalah jika Ratu Zivaya pergi untuk beberapa urusan penting.
Ratu Zivaya dan Pangeran Zico pergi ke tempat yang tak terlalu ramai. Ratu Zivaya menatap ke arah Pangeran Zico dengan tatapan bingung, mengapa putranya datang dengan ekspresi serius seperti itu.
"Ada apa putraku?." tanya Ratu Zivaya, ia sudah tak bisa menahan lagi rasa penasarannya itu.
Pangeran Zico menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang disekitar mereka berdua, setelah itu ia meminta sang ibu untuk sedikit membungkukkan badan agar ia bisa berbisik.
"Ayah meminta ibu untuk menggantikannya menjaga Putri Amerilya di ruang kesehatan. Saat ini keempat penjuru area istana sedang diserang oleh beberapa pihak, untunglah Kesatria White Rose dan beberapa kelompok tak dikenal membantu secara sukarela. Ayah ingin memberitahukan pada seluruh tamu undangan untuk menunda kepulauan mereka." bisik Pangeran Zico pada sang ibu.
"Apakah Keluarga Marques Montiqu kembali terlibat?." tanya Ratu Zivaya dengan suara yang sangat pelan.
"Ya mereka juga terlibat." jawab Pangeran Zico.
"Pantas saja ibu tak melihat mereka lagi setelah acara pemberian hadiah. Ibu akan ke ruang kesehatan, sebaiknya kau tetap disini untuk mengawasi keadaan sekitar." ucap Ratu Zivaya. Ia bergegas pergi meninggalkan aula utama dan membuat beberapa tamu menatap bingung ke arahnya.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.