
Saat berada di hadapan Raja Azvago sang Jenderal membungkukkan badannya dan mengucapkan salam. Raja Azvago menatap bingung ke arah jenderal itu, bukankah ia ditugaskan di wilayah perbatasan? lalu mengapa saat ini sang jenderal berada di istana kerajaan?.
"Ada hal penting apa yang ingin Anda sampaikan hingga jauh jauh datang kesini untuk menemui saya?." tanya Raja Azvago.
"Maaf karna saya harus menyampaikan berita duka ini pada Anda, beberapa saat yang lalu beberapa prajurit perbatasan melihat kumpulan asap yang membumbung tinggi di langit. Karna merasa penasaran merekapun mencari dari mana asap itu berasal dan mereka menemukan tempat pengasingan Putri Haru habis terbakar.
Raja Azvago langsung terdiam ketika mendengar kabar duka yang disampaikan oleh sang jenderal perbatasan itu, apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa area pengasingan bisa terbakar seperti itu?. Mungkinkah ada sekelompok penjahat yang menemukan tempat tersebut kemudian berencana untuk merampok namun karna tidak menemukan apapun akhirnya mereka membakar tempat pengasingan saat para prajurit sedang lengah?.
Tubuh Raja Azvago terasa sangat lemas ia tak tah harus memberi tanggapan seperti apa mengenai kematian Putri Haru di tempat pengasingannya itu. Raja Azvago khawatir Ibu Suri Sinya akan pingsan jika sampai mengetahuinya.
"Apakah kalian menemukan kejanggalan di tempat kejadian?." tanya Raja Azvago, ia berusaha untuk menahan air mata yang hampir jatuh.
"Untuk sekarang kami belum menemukan barang bukti apapun, kami fokus mencari mayat Putri Haru beserta para prajurit yang ditugaskan di sana." jawab jenderal itu.
"Pergilah ke barak prajurit, bawa sekitar seribu prajurit untuk membantu mencari mayat para korban. Saya dan beberapa kesatria akan segera pergi ke sana untuk melihat langsung." perintah Raja Azvago pada sang jenderal.
"Siap laksanakan, saya permisi terlebih dahulu untuk melaksanakan tugas dari Yang Mulia Raja Azvago. Sampai jumpa di wilayah perbatasan." pamit jenderal itu. Ia bergegas pergi meninggalkan ruang kerja Raja Azvago menuju markas para prajurit.
Setelah kepergian jenderal itu Raja Azvago mulai menegaskan air matanya, ia tak menyangka sang adik perempuan akan berakhir tragis seperti ini. Pangeran Mixo merangkul pundak sang ayah, ia tau saat ini ayahnya benar benar terpukul setelah mendengar kepergian Putri Haru. Meskipun Putri Haru sempat melakukan tindakan yang hampir menghilangkan nyawa Putri Amerilya, hal itu tidak akan menghapus fakta bahwa Putri Haru adik perempuan satu satunya yang dimiliki Yang Mulia Raja Azvago.
"Tenangkan dirimu ayah, bagaimana bisa kita menyampaikan kabar duka ini pada yang lain jika ayah sudah seperti ini." ucap Pangeran Mixo.
"Apa yang harus ayah lakukanlah? mengapa semuanya menjadi seperti ini. Ayah telah memerintahkan pasukan terbaik untuk berjaga di area pengasingan, namun semuanya sia sia saja." ucap Raja Azvago dengan suara tangisan yang semakin menjadi jadi.
"Bukankah para prajurit belum menemukan mayat Putri Haru? mungkin saja ia berhasil menyelamatkan diri ketika kobaran api mulai menyambar bangunan bangunan yang ada di sana." ucap Pangeran Mixo. Ia harus berhasil membangun semangat ayahnya lagi jika tidak kondisi Istana Kerajaan Meztano akan menjadi kacau dalam beberapa hari kedepan.
"Tolong tinggalkan ayah sendirian untuk sementara waktu, beritahukan berita ini pada nenek serta ibumu." perintah Raja Azvago pada Pangeran Mixo.
"Baik ayah, saya pergi terlebih dahulu. Jika ayah sudah tenang segeralah pergi ke tempat pengasingan untuk memastikan apakah Putri Haru selamat ataukah tidak." Pangeran Mixo langsung pergi setelah mengatakan hal itu.
Raja Azvago menarik rambutnya dengan sangat kencang, ia menyesal karna tidak memperketat penjagaan di tempat itu. Hal yang paling Raja Azvago sesalkan adalah ia tak pernah mengunjungi Putri Haru setelah diasingkan.
"Argh siapa yang telah melakukan semua ini!!." triak Raja Azvago dengan sangat kencang hingga membuat beberapa pelayan dan prajurit terkejut.
Brag.... prang.....
Suara barang barang yang dilemparkan oleh Raja Azvago ke sembarang arah. Kini ruang kerja sang raja sangat berantakan, banyak kertas dan dokumen yang tersebar ke seluruh lantai serta pecahan benda benda tajam yang dapat melukai siapapun yang ada di sana.
"Apa yang terjadi pada Yang Mulia Raja Azvago?." tanya salah seorang pelayan istana yang sedang membersihkan ruangan di sebelah ruang kerja sang raja.
"Entahlah saya tak bisa mendengar percakapan sang raja dengan seorang jenderal perbatasan yang baru keluar beberapa menit lalu." jawab pelayan istana yang lain.
"Saya khawatir Raja Azvago akan melakukan sesuatu yang melukai dirinya sendiri, lebih baik kita melaporkan hal ini pada Ratu Zivaya." usul salah seorang pelayan.
Akhirnya dua orang pelayan istana menunda pekerjaan mereka dan bergegas pergi menuju ruangan khusus Ratu Zivaya. Di sisi lain saat ini Putri Amerilya sedang berjalan jalan di taman depan istana, ia melebarkan mata setelah melihat seorang jenderal memimpin kurang lebih seribu prajurit untuk pergi ke suatu tempat.
"Kemana kalian semua akan pergi?" tanya Putri Amerilya dengan tatapan bingung.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi di sana? mengapa Amerilya tidak mendapatkan kabar atau informasi apapun?." tanya Putri Amerilya.
"Area pengasingan yang ditempati oleh Putri Haru hangus tebakan, saya telah menyampaikan kabar duka ini pada Yang Mulia Raja Azvago dan ia meminta saya untuk membawa seribu prajurit untuk mempercepat pencarian." jawab sang jenderal dengan tegas dan tatapan tajam.
"Ha?? lalu bagaimana nasib Putri Haru!! apakah dia selamat dari kebakaran itu?." tanya Putri Amerilya, apa yang sebenarnya terjadi saat pesta ulang tahunnya semalam? mengapa banyak kejadian tak terduga yang sangat mengejutkan seperti sekarang ini.
"Kami belum menemukan apapun. Maaf Tuan Putri Amerilya kami harus pergi sekarang." jawab sang jenderal sekaligus pamit untuk segera pergi.
"Silahkan Tuan Jenderal, maaf jika saya menghalangi perjalanan Anda. Tolong segera dapatkan kabar mengenai Putri Haru, semoga saja dia masih hidup." ucap Putri Amerilya dengan berlinangan air mata. Sejahat apapun Putri Haru padanya di masa lalu, dia tetaplah bibi dari putri kecil itu.
Sang jenderal bersama seribu prajurit pergi meninggalkan halaman depan Istana Kerajaan Meztano dan bergerak menuju wilayah perbatasan. Tubuh Putri Amerilya terasa sangat lemas dan tiba tiba ia pingsan, beberapa prajurit penjaga gerbang yang melihat hal itu langsung berlari ke arah sang putri kecil. Salah seorang prajurit membopong tubuh Putri Amerilya kemudian dibawa menuju Istana Putri untuk mendapatkan perawatan.
Suasana di dalam istana utama menjadi sangat kacau ketika kabar terbakarnya area pengasingan tempat Putri Haru tersebar hampir di seluruh penjuru istana. Para pelayan dan prajurit ikut berduka atas kepergian sang putri meski hal itu masih belum pasti. Beberapa saat yang lalu Ibu Suri Sinya mendapatkan kabar kematian anak bungsunya itu, namun Ibu Suri terlihat biasa biasa saja bahkan tak menunjukkan kesedihan sedikitpun.
"Siapa yang mendahului ku untuk membunuh anak yang tidak berbakti itu?. Beraninya dia merencanakan penyerangan saat pesta ulangtahun cucu kesayangan ku." gumam Ibu Suri Sinya setelah Pangeran Mixo keluar dari ruangannya.
Mengapa Ibu Suri Sinya membenci Putri Haru? tidak mungkin jika sang ibu suri sangat tidak menyukai putri kandungnya sendiri hanya karna cucunya. Pasti ada hal lain yang menyebabkan Ibu Suri Sinya bersikap seperti itu.
Di sisi lain kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya tengah panik setelah mendapati putri kecil mereka dibawa kembali oleh seorang prajurit penjaga gerbang utama dalam kondisi pingsan. Prajurit yang membawa Putri Amerilya hanya mengatakan bahwa tiba tiba sang putri pingsan setelah berbicara bincang dengan sekelompok pasukan yang akan pergi ke wilayah perbatasan.
"Ambilkan air hangat kita harus mengompres tubuh Tuan Putri." perintah Lilian pada rekannya yang lain. Dengan segera Amena berlari keluar dari kamar Putri Amerilya menuju dapur untuk mengambilkan satu baskom air hangat serta beberapa sapu tangan.
Setelah selesai menyiapkan beberapa barang yang diperlukan Amena segera kembali masuk ke dalam kamar Putri Amerilya. Lilian mengambil sebuah sapu tangan lalu dicelupkan ke dalam air hangat beberapa saat, setelah itu sapu tangan tersebut di peras hingga airnya berkurang dan diletakkan di kening Tuan Putri Amerilya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa Tuan Putri menjadi seperti ini hanya karna berbincang bincang dengan seorang jenderal?. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, saya akan pergi untuk mencari tau apa yang membuat Putri Amerilya terkejut kemudian pingsan." ucap Lilian dengan tatapan mata tajam. Setelah itu Lilian pergi dari kamar Putri Amerilya, sepertinya ia akan nekat pergi ke istana utama untuk mencari tau informasi terbaru.
Tak perlu waktu lama bagi Lilian untuk sampai di tempat yang ia tuju, sangat disayangkan langkahnya dihentikan oleh beberapa prajurit penjaga pintu masuk istana utama. Para prajurit itu menatap ke arah Lilian dengan tatapan tak suka, pelayan dari Istana Putri tidak seharusnya berada di istana utama tanpa adanya perintah langsung dari Raja ataupun Ratu.
"Maaf pelayan dari istana putri dilarang masuk ke dalam." ucap salah seorang prajurit dengan tegas.
"Baiklah namun jika sesuatu terjadi pada Putri Amerilya maka kesalahan akan dilimpahkan sepenuhnya pada kalian semua." jawab Lilian dengan santai, ia juga tak ingin terlalu memaksa untuk mendapatkan izin masuk ke dalam istana utama.
"Saat ini situasi di dalam istana utama sedang sangat kacau, tolong rawat Tuan Putri untuk sementara ini waktu hingga kondisi di sini kembali normal seperti semula." tanggapan salah seorang prajurit atas perkataan Lilian barusan.
"Memangnya apa yang terjadi hingga suasana di dalam istana menjadi sangat kacau?." tanya Lilian dengan kebingungan.
"Ada seorang jenderal yang melaporkan bahwa area pengasingan tempat Putri Haru diasingkan habis hangus terbakar. Saat ini para prajurit perbatasan sedang mencari mayat mayat dari insiden kebakaran itu, Yang Mulia Raja Azvago juga mengutus seribu prajurit untuk membantu pencarian para mayat itu." jawab sang prajurit penjagaan pintu masuk istana utama Kerajaan Meztano.
"Baiklah jika begitu saya akan kembali ke istana putri sekarang. Tolong beritahukan pada Yang Mulia Ratu Zivaya bahwa Putri Amerilya tiba tiba pingsan, saya ingin salah seorang anggota keluarga kerajaan menemani Putri Amerilya di istananya." ucap Lilian, ia menyampaikan keinginannya itu dengan sopan kemudian membalikkan badan dan berjalan kembali menuju istana putri.
Akhirnya Lilian tau mengapa sang putri kecil tiba tiba pingsan setelah berbincang bincang dengan jenderal tersebut. Sepertinya Putri Amerilya sangat syok ketika mendapatkan kabar bahwa area pengasingan tempat Putri Haru berada habis termakan oleh api. Mental putri kecil seperti Amerilya tidak akan siap saat mendapat kabar mengejutkan seperti itu.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.