PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Berakhir


Pangeran Zico duduk di salah satu bangku kosong sembari menatap ke arah para tamu yang masih sibuk dengan kegiatan mereka masing masing. Di sisi lain saat ini Ratu Zivaya telah sampai di ruang kesehatan, sang ratu menatap ke arah putri kecilnya yang sedang terbaring lemas di atas ranjang ruang kesehatan.


"Bagaimana kondisinya?." tanya Ratu Zivaya dengan tatapan sedih. Semoga anak perempuannya baik baik saja tanpa mengalami luka parah.


"Dia baik baik saja, putri kita mengalami kebangkitan pada indra pendengaran sehingga mengalami reaksi seperti itu." ucap Raja Azvago yang menjelaskan pada istrinya mengenai kondisi Putri Amerilya.


"Baiklah sebaiknya Anda segera pergi menuju aula utama. Sebantar lagi pesta akan berakhir, jangan sampai para tamu undangan terjebak pertarungan yang sedang terjadi." ucap Ratu Zivaya dengan senyuman manis.


Raja Azvago menganggukkan kepala kemudian segera keluar dari ruang kesehatan menuju aula utama. Pangeran Mixo menatap ke arah di seluruh bagian ruang aula utama, ia sedang mencari keberadaan Ratu Zivaya yang entah pergi kemana. Pangeran Mixo menyadari keberadaan Pangeran Zico yang seharusnya berada di ruang kesehatan namun ada di aula utama.


Pangeran Mixo berjalan menghampiri adik keduanya itu, ia menepuk pundak Pangeran Zico hingga membuatnya terkejut. Pangeran Zico menatap kakak tertuanya dengan tatapan datar.


"Mengapa kau berada di sini, bukankah ayah meminta mu untuk menjaga adik di ruang kesehatan?." tanya Pangeran Mixo dengan tatapan bingung.


"Aku datang untuk memanggil ibu, saat ini ibu sedang berada di ruang kesehatan dan ayah akan datang kemari." jawab Pangeran Zico.


Baru saja kedua pangeran itu saling berbincang bincang satu sama lain tiba tiba pintu aula terbuka dengan lebar dan Yang Mulia Raja Azvago masuk ke dalam. Sang raja naik ke atas tahta dan menatap ke arah semua tamu undangan yang datang, Raja Azvago memberikan isyarat pada pemain musik untuk menghentikan alunan musik dansa yang masih terdengar hingga saat ini.


Kini suasana di dalam ruang pest berubah menjadi hening, para tamu undangan mengalihkan pandangan mereka ke arah Yang Mulia Raja Azvago dengan tatapan bingung. Mereka sedang bertanya tanya apa yang membuat sang raja menghentikan pesta yang tengah berlangsung.


"Maaf karna saya harus menghentikan dansa kalian untuk beberapa saat. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan sebelum pesta ulangtahun ini berakhir." ucap Raja Azvago sembari menundukkan kepala beberapa kali sebagai permintaan maafnya pada para tamu undangan yang hadir.


"Silahkan Yang Mulia Raja Azvago, kami tak merasa terganggu." jawab beberapa tamu undangan secara bersamaan. Mungkin saja sang raja ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting hingga menghentikan acara dansa mereka.


"Saat ini telah terjadi pertarungan di keempat penjuru, untunglah ada beberapa kelompok orang yang membantu pihak kerajaan untuk menghalangi kelompok lain yang ingin menyerang Istana Kerajaan saat pesta ulangtahun Tuan Putri Amerilya. Karna itu saya menghimbau agar para tamu menunggu hingga pertarungan itu selesai sebelum kembali ke rumah kalian masing masing. Saya mewakili pihak Istana Kerajaan Meztano meminta maaf atas gangguan yang terjadi, kami akan menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan senyuman hangat.


Setelah mendengar pengumuman dari Raja Azvago beberapa orang langsung menyimpulkan bahwa pesta ulang tahun Putri Amerilya adalah saat yang ditunggu tunggu oleh musuh Kerajaan Meztano untuk menyerang. Raja Ruzel menarik putra pertamanya untuk sedikit menyingkir dari keramaian pesta, ia berharap pasukan Kerajaan Belgize tidak terlibat dalam pertarungan di keempat penjuru area Istana Kerajaan Meztano.


"Ada apa ayah? mengapa Anda menarik saya secara tiba tiba?." tanya Pangeran Nanzo sembari menunjukkan ekspresi bingung.


"Apakah pasukan kita terlibat dalam pertarungan ini? mungkin salah seorang pangeran mengirim pasukan secara pribadi!." ucap Raja Ruzel dengan raut wajah khawatir.


"Saya sangat yakin pihak kita tidak terlibat dengan pertarungan ini, kemungkinan besar Keluarga Marques Montiqu yang melakukan penyergapan namun mereka gagal karna dihadang oleh kesatria dari Kerajaan Meztano ataupun beberapa kelompok lain yang memihak pada Kerajaan Meztano." jawab Pangeran Nanzo, tatapan mata penuh keyakinan itu membuat Raja Ruzel merasa lega. Sebaiknya mereka tidak terlibat dalam aksi balas dendam yang ingin dilakukan Keluarga Marques Montiqu pada Keluarga Kerajaan Meztano.


"Baguslah jika begitu, sekarang ayah tak merasa khawatir. Mari kita kembali berbaur dengan yang lain." ucap Raja Ruzel. Ia menepuk pundak Pangeran Nanzo beberapa kali kemudian pergi berbaur dengan tamu undangan yang lain.


Di sisi lain pertarungan di empat penjuru mata angin hampir selesai, kelompok topeng emas berhasil mengalahkan pasukan dari Keluarga Marques Montiqu. Lilian meminta agar sang jenderal dan beberapa prajurit dibiarkan hidup, mereka akan berguna jika pihak Kerajaan Meztano ingin melayangkan tuntutan ataupun mengibarkan bendera perang pada pihak Keluarga Marques Montiqu. Para prajurit yang telah tiba dan ingin membantu kelompok topeng emas langsung mengurungkan niat mereka.


"Kami ucapkan terimakasih atas bantuan yang telah kalian berikan pada pihak Kerajaan Meztano." ucap seorang Jenderal dengan membungkukkan badannya di hadapan Lilian dan anggota kelompoknya yang lain.


"Kami tidak membantu pihak Kerajaan Meztano, semua ini kami lakukan murni demi kelancaran pesta ulang Tuan Putri Amerilya karna itu kalian tak perlu merasa berhutang budi. Kami permisi terlebih dahulu sisanya silahkan kalian urus." jawab Lilian dengan nada bicara yang terkesan dingin.


"Jika kalian berkenan Yang Mulia Raja Azvago mengundang kalian semua untuk datang ke istana untuk mengucapkan rasa terimakasih secara langsung." ucap jenderal itu. Akan lebih baik jika kelompok topeng emas benar benar berada di pihak Kerajaan Meztano karna mereka sekutu yang kuat.


Pasukan Kerajaan Meztano yang berada di wilayah bagian selatan hanya bisa melihat kepergian kelompok bertopeng emas itu. Mereka sangat menyayangkan karna gagal menarik mereka agar menjadi sekutu pihak kerajaan. Hal yang membuat pasukan itu semakin bingung adalah mengapa pemimpin kelompok topeng emas yang terdengar seperti wanita itu mengenal Tuan Putri Amerilya? seberapa besar pengaruh putri kecil itu di dunia luar?.


"Ini sungguh aneh mereka hanya bersedia membantu Tuan Putri Amerilya saja. Mungkinkah sang putri mengenal mereka?." ucap salah seorang prajurit.


"Entahlah tak ada yang tau pasti mengenai hal itu. Mari kita bawa pasukan Keluarga Marques Montiqu yang masih tersisa menuju istana kerajaan." ucap sang jenderal dengan tatapan dingin.


Pertarungan di bagian selatan telah selesai, pasukan yang diutus untuk pergi ke sana sedang dalam perjalanan kembali menuju Istana Kerajaan Meztano. Di tempat lain saat ini kelompok topeng perak telah berhasil mengalahkan kelompok menara sihir dengan menggunakan beberapa trik khusus. Kini hanya tersisa empat orang dari kelompok menata sihir yang masih selamat, mereka tak menyangka orang orang dengan topeng konyol itu memiliki kemampuan untuk mengalahkan mereka semua kurang dari dua jam.


"Kalian kemarilah." panggil Juylin pada pasukan Kerajaan Meztano yang telah datang sekitar setengah jam yang lalu. Juylin sengaja meminta mereka untuk tidak ikut turun dalam pertarungan ini karna sangat berbahaya. Meskipun sebagian prajurit memiliki kemampuan sihir namun itu belum cukup untuk menahan serangan dari anggota menara sihir.


Pasukan Kerajaan Meztano berjalan mendekat ke arah kelompok bertopeng perak itu.


"Kami telah selesai melaksanakan tugas untuk mengamankan pesta ulangtahun Tuan Putri Amerilya, bawalah keempat anggota dari menara sihir untuk menghadap Yang Mulia Raja Azvago. Kami akan pergi sekarang tolong bersihkan kekacauan atas pertarungan tadi, sampai jumpa." ucap Juylin, ia memberikan arahan pada pasukan kerajaan yang datang kemudian menghilang dalam sekejap mata.


"Terimakasih atas bantuan yang telah kalian berikan, Tuan Putri Amerilya pasti sangat senang saat mengetahui banyak orang baik yang memihak padanya." ucap sang jenderal yang memimpin pasukan itu.


"Sebagian dari kalian ikut saya untuk kembali ke istana dengan membawa keempat penyihir ini dan sisanya tolong bereskan mayat mayat yang berserakan, bakar saja mayar mayat itu agar tidak menimbulkan wabah di hari mendatang." perintah sang jenderal yang langsung di laksanakan oleh pasukannya. Kini pertarungan di bagian timur telah berakhir.


Para Kesatria White Rose yang berada di bagian barat masih bertarung sengit melawan para bandit hutan dengan jumlah yang cukup banyak itu. Pasukan Kerajaan Meztano yang baru saja tiba langsung membantu para Kesatria White Rose agar pertarungan segera berakhir. Dengan datangnya bala bantuan kini para bandit hutan mulai terpojok, selain kalah dalam hal kekuatan mereka juga kalah jumlah. Pemimpin bandit yang bertarung dengan Kesatria Richal mengalami luka yang sangat parah, beberapa bagian tubuhnya robek dan berlumuran darah.


"Lebih baik kalian menyerah sebelum korban jatuh lebih banyak lagi." ucap Kesatria Richal dengan tatapan serius.


"Tidak, kami tidak akan menyerahkan begitu saja. Kami mendapatkan perintah untuk menghancurkan pesta ulangtahun Tuan Putri Amerilya." ucap sang pemimpi bandit dengan keras kepala.


"Apa kalian tidak tau bahwa saat ini pesta akan segera berakhir, sia sia saja jika kalian berhasil menyerang istana sekarang." ucap Kesatria Richal sembari menunjukkan senyum miring.


"Argh sialan kalian semua!!." bentak pemimpin kelompok bandit dengan kemarahan meluap luap.


Jleb...


Pedang milik Kesatria Richal menancap tepat di jantung pemimpin kelompok bandit itu. Akhirnya sang pemimpi bandit mati dan anggotanya yang lain mulai tertekan setelah melihat kematian pemimpin mereka. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya pertarungan itu berakhir dengan kemenangan di pihak Istana Kerajaan Meztano.


"Kami akan membawa kedua anggota bandit hutan yang masih hidup ke hadapan Yang Mulia Raja Azvago, mohon bantuannya untuk membereskan semua mayat ini." ucap Kesatria Richal pada pasukan Kerajaan Meztano.


"Tak perlu khawatir kami akan membereskan semuanya. Kalian kembalilah ke istana terlebih dahulu, terimakasih untuk kerja kerasnya para Kesatria White Rose." ucap sang jenderal yang memimpin pasukan tersebut.


"Kami juga sangat berterimakasih atas bantuan yang kalian berikan. Kami permisi terlebih dahulu." ucap Kesatria Richal sebagai perwakilan anggota Kesatria White Rose yang lain.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.