PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Penyerangan


Para prajurit dan beberapa jenderal turun dari tempat duduk mereka dan langsung menghampiri sang Jenderal Tingkat Tinggi yang berkhianat pada pihak Kerajaan Meztano. Jenderal penghianat itu tentu tak tinggal diam dan berusaha melawan para prajurit yang mencoba menangkapnya menggunakan ilmu pedang yang telah ia kuasai, karna tingkatan antara prajurit biasa dengan jenderal itu sangatlah jauh banyak prajurit yang terluka cukup parah. Dari kejauhan Duke Rigel Elister melompat dari tempat duduknya dan menodongkan pedangnya pada jenderal penghianat itu hingga sang jenderal terkejut bukan main, di wilayah Kerajaan Meztano selain Yang Mulia Raja Azvago ada orang lain yang memiliki kemampuan berpedang dengan tingkatan yang tinggi, orang tersebut adalah Duke Rigel Elister.


"Penghianat memang pantas mati, katakan siapa yang telah menyuap mu untuk melakukan semua ini?." tanya Duke Rigel Elister pada jenderal penghianat itu. Sang jenderal hanya diam saja dan enggan menjawab pertanyaan dari Duke Rigel Elister, ia akan mati tanpa membuka rahasia sedikitpun.


Di sisi lain saat ini Duke Zidan Marques sedang menyerang para jenderal yang berusaha untuk menangkapnya menggunakan pedang yang terbuat dari sihir elemen api, meskipun Duke Zidan Marques bukanlah ahli pedang namun ia sangat mahir dalam memainkan api yang ia miliki.


"Terkunci." ucap Raja Azvago dari tempat duduknya. Seketika Duke Zidan Marques tak dapat menggerakkan tubuhnya, sang duke melihat ke arah Raja Azvago yang sedang menatapnya dengan senyuman meremehkan.


"Argh sialan mengapa kau ikut campur dalam pertarungan ini." triak Duke Zidan Marques penuh dengan amarah.


"Tempat ini adalah wilayah kekuasaan ku." jawab Raja Azvago dengan singkat padat dan juga jelas.


Saat ini Nyonya Riana Marques hanya diam dan menyaksikan pertarungan yang sedang terjadi di dalam tempat eksekusi, wanita itu sedang menunggu bala bantuan dari Kediaman Marques. Sebagai keturunan langsung dari Duke Marques sebelumnya tentu wanita itu memiliki pasukan khusus yang akan menjaganya dari segala bahaya dan siap melindungi nama baik Keluarga Marques. Sebelum eksekusi dilakukan hari ini, Nyonya Riana Marques sempat mengirimkan surat untuk pengurus rumah yang ada di kediaman duke, isi surat tersebut adalah permintaan Riana Marques agar para prajurit yang bekerja di kediaman Duke Marques bersedia melakukan penyergapan terhadap pihak Istana Kerajaan Meztano. Pagi tadi Nyonya Riana Marques mendapatkan kabar bahwa pasukannya telah berada di sekitar Istana Kerajaan Meztano dan sedang mencari celah agar mereka bisa masuk kedalam tanpa menimbulkan keributan.


Putri Amerilya yang saat itu sedang membaca buku bersama ke-enam anak duke merasa terganggu dengan suara dentingan pedang dari gerbang luar istana. Dengan sigap sang putri langsung berdiri dan berlari menuju kamar untuk mengambil pedang pemberian dari Kesatria Richal.


"Ikuti Tuan Putri Amerilya sekarang." ucap Tuan Muda Edwig Elister, mungkin ada sesuatu yang sedang terjadi hingga putri kecil itu pergi terburu buru dengan sebuah pedang kecil yang ia genggaman dengan erat.


Keenam anak duke berlari dan berusaha untuk mengejar Putri Amerilya, akhirnya mereka sampai di gerbang luar Istana Kerajaan Meztano. Hal yang paling mengejutkan adalah para prajurit penjaga gerbang sedang bertarung dengan para prajurit dari kediaman Duke Marques. Sangat mudah membedakan prajurit Kerajaan Meztano dengan prajurit dari kediaman duke, lencana yang ada di seragam mereka menunjukkan dari tempat mana mereka berasal.


"Kalian semua bersiaplah, sebagai seorang putri dari Kerajaan Meztano saya meminta bantuan kalian berenam." ucap Putri Amerilya dengan nada bicara serius. Sang putri melepaskan pedang miliknya dari sarung pedangnya.


"Baik, kami siap membantu Tuan Putri Amerilya dengan sepenuh jiwa kami." ucap keenam anak duke itu yang tak merasa keberatan jika harus terluka parah untuk membela Kerajaan Meztano.


Keenam anak duke mengeluarkan senjata mereka masing masing, mereka sedang menunggu aba aba dari Tuan Putri Amerilya untuk menyerang pasukan musuh.


"Kalian semua siap!!." triak Putri Amerilya dengan suara kencang.


"Kami siap." jawab keenam anak duke secara bersamaan.


"Serang!!!!!!." triak Putri Amerilya lagi dengan suara yang lebih keras daripada sebelumnya.


Putri Amerilya dan keenam anak duke mulai menyerang para prajurit Kediaman Duke Marques dengan segenap kemampuan yang mereka miliki, para prajurit dari Kediaman Duke Marques tak menyangka bahwa putri kecil itu akan ikut campur dalam pertarungan kali ini. Di sisi lain kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya ingin mengantar makanan ke perpustakaan namun setelah sampai di sana mereka tak melihat tanda tanda keberadaan Putri Amerilya dan keenam anak duke.


"Dimana Tuan Putri Amerilya dan yang lain?." tanya seorang pelayan dengan rambut berwarna putih dengan mata coklat tua.


"Biasanya Tuan Putri akan izin terlebih dahulu ketika ia ingin keluar." jawab pelayan lain dengan raut wajah khawatir. Bagaimana jika ada musuh yang dengan sengaja menculik Tuan Putri Amerilya?.


"Segera berpencar dan temukan Tuan Putri secepat mungkin." ucap pelayan dengan rambut berwarna putih dengan mata biru muda, ia adalah pemimpin para pelayan yang lain.


Akhirnya kesepuluh pelayan itu berpencar di beberapa tempat yang ada di dekat Istana Putri untuk mencari keberadaan Putri Amerilya, seorang pelayan melihat pintu gerbang akses keluar masuk utama Istana Kerajaan Meztano terbuka dengan lebar. Akhirnya pelayan itu berlari mendekat dan melihat apa yang sedang terjadi di sana, pelayan itu membelalakkan matanya ketika melihat Putri Amerilya dan keenam anak duke bertarung melawan prajurit Kediaman Duke Marques.


"Dimana Tuan Putri kecil kita sekarang?." tanya seorang pelayan dengan rambut dan mata berwarna hitam legam.


"Saat ini Tuan Putri Amerilya dan keenam anak duke sedang berada di gerbang bagian luar Istana Kerajaan Meztano untuk melawan para prajurit Kediaman Duke Marques yang berusaha untuk masuk kedalam." ucap pelayan itu dengan singkat agar tak membuang buang banyak waktu.


"Prajurit Kediaman Duke Marques? untuk apa mereka berada di sini?." tanya seorang prajurit dari istana utama.


"Cepat beritahu para pangeran dan prajurit lain untuk membantu Tuan Putri." ucap seorang pelayan setia Putri Amerilya yang merasa khawatir dengan keselamatan Tuan Putri mereka.


"Baiklah saya akan segera melapor." ucap prajurit itu yang langsung bergegas pergi dari Istana Putri menuju Istana Pangeran. Untunglah para pangeran tak ikut pergi ke tempat eksekusi Duke Zidan Marques karna mereka harus mengerjakan tugas lain yang menumpuk di ruang kerja masing masing.


Setelah prajurit itu pergi, kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya masuk ke kamar mereka masing masing untuk berganti pakaian. Mereka semua menggunakan pakaian serba hitam dengan wajah yang ditutupi oleh topeng dengan bentuk aneh, setelah persiapannya selesai kesepuluh pelayan itu berlari keluar dari Istana Putri menggunakan pintu belakang dan langsung melompat ke atas gerbang. Kesepuluh pelayan wanita itu berjalan dengan cepat di atas dinding gerbang Istana Kerajaan Meztano, mereka akan membantu Putri Amerilya diam diam dan memantau keselamatan sang putri selama pertarungan berlangsung.


"Tembakkan panah kalian ke arah musuh, jangan sampai melukai Tuan Putri Amerilya dan anak anak duke." ucap pelayan berambut putih dengan mata biru cerah.


"Baik kami mengerti." ucap sembilan pelayan wanita yang lain. Mereka mulai mengambil anak panah dan meregangkan busur mereka, dalam sekejap mata sepuluh anak panah berhasil melesat dan menembus jantung para prajurit dari Kediaman Duke Marques.


Putri Amerilya melihat ke arah dari kana para anak panah itu berasal, sang putri tersenyum lebar karna mengetahui orang orang dengan pakaian serba hitam itu adalah kesepuluh pelayan yang ada di Istana Putri. Selama ini Putri Amerilya sangat penasaran dengan identitas mereka, akan tetapi sang putri tak ingin lancang dengan menanyakan hal tersebut.


Di sisi lain sang prajurit dari istana utama telah sampai di istana pangeran, prajurit itu datang dengan nafas tersengal sengal hingga membingungkan para prajurit yang menjaga istana pangeran.


"Mengapa kau sampai seperti itu?." tanya seorang prajurit dari istana pangeran pada prajurit dari istana utama.


"Saat ini Tuan Putri Amerilya sedang dalam bahaya, tolong panggilkan semua Pangeran agar segera berkumpul." ucap prajurit dari istana utama itu dengan kalimat tersendat sendat.


Mendengar bahwa Tuan Putri satu satunya dari Istana Kerajaan Meztano sedang dalam bahaya membuat para prajurit dari istana pangeran menjadi panik, akan sangat lama jika mereka harus mengetuk satu persatu pintu ruang kerja keempat pangeran itu. Akhirnya salah seorang prajurit menemukan cara untuk membuat keempat pangeran segera datang.


"Pangeran saat ini Tuan Putri Amerilya sedang membutuhkan bantuan Anda!!!" triak salah seorang prajurit dengan suara lantang dan kencang.


Pangeran Mixo, Pangeran Luxe, Pangeran Zico, dan Pangeran Azxo yang tadinya sedang sibuk dengan tugas mereka masing masing langsung keluar dari ruang kerja dan bergegas berlari menuju halaman depan Istana Pangeran. Keempat Pangeran itu datang dengan waktu kurang dari tiga menit, mereka menatap ke arah para prajurit yang ada di sana untuk meminta penjelasan apa yang sedang terjadi pada Putri Amerilya.


"Saat ini prajurit dari Kediaman Duke Marques berusaha menerobos masuk ke dalam istana, Tuan Putri Amerilya dan keenam anak duke sedang berusaha menahan mereka. Menurut perkiraan jumlah prajurit lebih dari seribu orang, Tuan Putri Amerilya membutuhkan bantuan kita semua." ucap prajurit dari istana utama dengan perasaan khawatir, ia harap Tuan Putri Amerilya bisa bertahan hingga bala bantuan datang.


Mendengar adik kesayangannya mereka sedang dalam bahaya membuat jantung keempat pangeran berdegup dengan kencang, mereka langsung bergegas pergi menuju barak tempat para prajurit berlatih. Keempat pangeran mempercepat langkah mereka agar segera sampai di barak tersebut, bagaimana cara adik kecil mereka mengatasi pasukan sebanyak itu hanya dengan bantuan enam anak duke saja? ditambah para anak duke itu belum memasuki usia remaja.


"Keluar kalian semua, saat ini Tuan Putri Amerilya sedang menghadapi seribu pasukan Kediaman Duke Marques sendirian. Apakah kalian hanya akan diam saja di salam sana." ucap Pangeran Mixo dengan suara kencang. Para pasukan yang sedang berlatih di barak langsung keluar seketika dan berbaris rapi dihadapan keempat pangeran.


"Kami siap membantu Tuan Putri Amerilya memenangkan pertarungan." ucap para prajurit secara serempak. Pangeran Mixo dan ketiga pangeran yang lain mengajak lima ribu prajurit untuk bergegas pergi menuju bagian luar gerbang utama Kerajaan Meztano.


Hai semuanya novel Putri Amerilya update lagi nih, gimana kalian kangen ga sama novel author yang satu ini?. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.