
Setelah berjalan selama beberapa saat akhirnya Pangeran Zico sampai di Istana Putri sembari menggendong Putri Amerilya. Beberapa prajurit yang berjaga di depan pintu utama langsung membungkukkan badan dan menyambut kedatangan mereka berdua. Pangeran Zico berjalan menuju ruang makan untuk mengantar sang adik untuk sarapan, beberapa pelayan yang melihat kedatangan mereka berdua bisa bernafas dengan lega.
"Apakah sarapan telah dimulai?." tanya Pangeran Zico pada salah seorang pelayan yang bekerja di Istana putri.
"Saat ini beberapa tamu telah menunggu kedatangan Putri Amerilya di ruang makan." jawab Juylin dengan senyuman lebar.
"Baiklah kami akan masuk ke dalam. Terimakasih untuk informasinya." ucap Pangeran Zico yang langsung membuka pintu ruang makan. Di dalam ruangan tersebut sudah ada Putri Liene, Putri Lena, Putri Alexsi, Putri Yunha, dan Putri Xirel. Keenam putri tersebut menatap ke arah pintu masuk ruang makan dengan tatapan bingung, mengapa Putri Amerilya digendong oleh kakak laki-lakinya? mungkinkah sang putri sedang sakit?.
"Salam saya pada para Tuan Putri yang telah hadir di ruang makan. Maaf jika adik perempuan saya datang terlambat." ucap Pangeran Zico yang meminta maaf atas keterlambatan yang dilakukan oleh sang adik.
Setelah mengatakan hal itu Pangeran Zico segera menurunkan Putri Amerilya dari gendongannya, sang putri duduk di kursi yang telah disediakan dengan wajah memerah. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Zico membuatnya sangat malu apalagi disaksikan oleh para Tuan Putri yang ada di sana.
"Mengapa Pangeran tak duduk dan ikut sarapan bersama dengan kami?." tanya Putri Alexsi dengan tatapan dingin. Entah mengapa putri tertua dari Kerajaan Monzxo lebih tertarik pada Putri Amerilya daripada para pangeran yang ada di Istana Kerajaan Meztano?.
"Saya sudah sarapan bersama dengan pangeran yang lain, saat ini perut saya sudah tidak mampu menampung makanan apapun lagi." jawab Pangeran Zico dengan tatapan datar. Ia tak merasa telah melakukan kesalahan pada Putri Alexsi namun mengapa sang putri menatapnya seperti itu.
"Pangeran Zico ingin menunggu saya hingga selesai sarapan? jika iya Anda bisa menunggu di ruang tamu ataupun tempat lain." ucap Putri Amerilya sembari menatap ke arah kakak laki-lakinya itu.
"Sepertinya saya harus pergi sekarang karna ada beberapa hal yang perlu diselesaikan, sampai jumpa semua." ucap Pangeran Zico dengan sangat sopan kemudian ia pergi meninggalkan ruang makan istana putri.
Setelah kepergian kakak laki lakinya itu Putri Amerilya langsung mempersilahkan semua putri yang hadir untuk memulai sarapan mereka, di saat para putri dari kerajaan lain sibuk memilih makanan yang akan mereka makan, Putri Amerilya hanya menatap dengan ekspresi wajah seperti sedang menunggu seseorang datang.
Tok tok tok...
Suara pintu ruang makan yang diketuk oleh seseorang dari luar, dengan segera Putri Amerilya mempersilahkan orang itu untuk masuk.
"Masuklah Lilian, saya sudah menunggu kedatangan mu." ucap Putri Amerilya dengan nada rendah namun masih bisa di dengar oleh Lilian yang berada di luar.
Dengan segera Lilian masuk ke dalam ruang makan sembari membawa satu nampan penuh berisi makanan yang akan ia hidangkan khusus untuk sarapan Putri Amerilya. Lilin meletakkan beberapa potong ikan salmon yang ia panggang sebentar kemudian diberikan sedikit saus asam manis, selain itu ada beberapa potong roti isi sayur, buah buahan yang telah dipotong sesuai dengan selera Putri Amerilya serta air putih dalam jumlah yang cukup banyak. Mata Putri Amerilya berbinar dengan sangat terang saat melihat makanan yang disajikan oleh salah satu pelayan setianya itu.
"Ini menu sarapan yang saya siapkan khusus untuk Anda. Silahkan dinikmati Tuan Putri Amerilya." ucap Lilian dengan senyuman manis kemudian ia keluar dari ruang makan agar tak mengganggu para putri yang lain.
Saat Putri Amerilya ingin memotong daging ikan salmon yang ada di piringnya, ia mendengar seseorang menggebrak meja makan dengan cukup kencang. Pandangan Putri Amerilya dan putri yang lain langsung tertuju ke arah sumber suara, ternyata pelaku keributan itu adalah Putri Lena. Entah karna alasan apa saat ini Putri Lena sedang menatap Putri Amerilya dengan tatapan kesal.
"Ada apa dengan sikap Anda itu Tuan Putri Lena?." tanya Putri Yunha dengan tatapan tak suka. Apakah para Tuan Putri dari Kerajaan Antez tak bisa bersikap dengan baik meskipun hanya untuk satu hari saja?.
"Apa apaan ini! mengapa para pelayan dari istana putri memperlakukan Putri Amerilya dengan khusus sedangkan kita mendapatkan hidangan sarapan yang sangat jauh berbeda darinya!." bentak Putri Lena, ternyata ia merasa iri dengan perbedaan perlakuan para pelayan.
"Bukankah itu hal yang perlu wajar? Putri Amerilya adalah satu satunya Tuan Putri dari Kerajaan Meztano sedangkan kita hanyalah tamu di sini. Saya juga mendengar kabar bahwa para pelayan yang bekerja di istana putri telah melayani Putri Amerilya semenjak ia masih bayi karna itulah mereka memiliki ikatan yang cukup kuat." jelas Putri Alexsi dengan suara yang cukup kencang agar Putri Lena mendengar dan memahami apa maksud perkataannya itu.
"Hidangan ikan salmon sangat bagus untuk pertumbuhan Putri Amerilya yang masih menginjak usia tiga tahun. Apakah Putri Lena merasa iri dengan seorang anak perempuan yang baru berusia tiga tahun? jangan bilang Anda tidak pernah menikmati hidangan ikan salmon saat berada di wilayah Kerajaan Antez." ucap Putri Xirel dengan tatapan bingung. Mungkin saja alibinya itu benar, wilayah Kerajaan Antez diselimuti dengan salju yang sangat tebal hingga para penduduknya kesulitan mendapat ikan segar.
"Duduklah dengan tenang dan jangan membuat ayah merasa malu dengan sikap kekanak-kanakan mu ini." tegur Putri Liene pada adik perempuannya itu. Sudah terlalu banyak masalah yang ditimbulkan oleh Putri Lena selama berada di wilayah Kerajaan Meztano.
Mendengar teguran sang kakak Putri Lena langsung kembali ke posisinya semula sembari memegang kembali sendok dan garpu yang telah ia lempar. Samar samar Putri Amerilya melihat Putri Lena sedang memakan sarapannya dengan berlinangan air mata, Putri Amerilya tak mengerti apa yang sedang terjadi namun satu hal yang ada di fikirannya saat itu. Putri Lena belum pernah memakan ikan salmon segar dengan kualitas terbaik seperti yang disajikan untuknya saat ini. Usia Putri Lena memang dua tahun lebih tua darinya namun tak merubah fakta bahwa ia putri termuda dari semua tamu yang sedang makan bersamanya saat ini.
Tiba tiba saja Putri Amerilya mengangkat piring berisi semua makanan yang disajikan khusus untuknya itu. Beberapa putri yang melihat hal tersebut beranggapan bahwa saat ini Putri Amerilya sedang merasa kesal dan kehilangan selera makannya akibat ulah Putri Lena. Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat semua merasa terkejut termasuk Putri Liene.
Putri Amerilya meletakkan ikan salmon kesukaannya itu di piring Putri Lena dengan ekspresi polos yang sangat menggemaskan. Putri Lena yang tadinya sangat kesal dan berusaha menahan diri langsung menoleh ke samping dan menatap Putri Amerilya dengan tatapan bingung, apa yang sedang dilakukan oleh putri kecil itu.
"Ini untuk saya?." tanya Putri Lena yang semakin kebingungan.
"Ya itu untuk Anda, meskipun saya memberikan ikan salmon itu pada Putri Lena bukan berarti saya akan memberikan semua makan ini hanya untuk menenangkan Anda yang sedang menangis." ucap Putri Amerilya dengan wajah cemberut. Ia langsung kembali ke kursinya dengan membawa piring yang masih penuh dengan makanan, Putri Amerilya hanya kehilangan potongan besar ikan salmon favoritnya saja.
"Te.... terimakasih." ucap Putri Lena dengan nada gemetaran.
"Sama sama, silahkan lanjutkan sarapan kalian." ucap Putri Amerilya yang menyadari bahwa putri yang lain sedang fokus menatap ke arahnya saat itu.
Suasana di dalam ruang makan kembali menjadi hening. Untuk mengganti ikan salmon yang diberikan Putri Amerilya untuk Putri Lena, putri kecil itu mengambil beberapa potong daging ayam yang dibakar dan diberikan bumbu bumbu rahasia. Setelah setengah jam berlalu akhirnya semua putri menyelesaikan sarapan mereka tanpa ada makanan yang tersisa.
"Kami ucapkan terimakasih untuk hidangan yang telah disajikan pagi ini. Maaf jika kehadiran kami merepotkan Tuan Putri Amerilya." ucap ketiga putri dari Kerajaan Monzxo secara serempak.
"Saya dan semua orang yang berada di istana putri hanya berusaha melayani para tamu dengan baik. Maaf jika masih banyak kekurangan yang kami lakukan dalam hal menjamu dan melayani kalian semua." ucap Putri Amerilya dengan wibawa yang terpancar dari tubuh mungilnya itu.
"Saya dan putri yang lain harus pamit terlebih dahulu. Ayah meminta kami untuk berkumpul di kamar tempatnya tinggal untuk membahas beberapa hal penting. Sampai jumpa Tuan Putri Amerilya." pamit Putri Alexsi sembari mewakili kedua adiknya.
"Sampai jumpa saat acara pesta ulang tahun nanti." jawab Putri Amerilya dengan senyuman lebar.
Kini yang tersisa di ruang makan hanyalah Putri Amerilya, Putri Liene dan Putri Lena. Ketiganya saling bertatapan satu sama lain dengan suasana yang sangat canggung, Putri Amerilya menyadari bahwa Putri Lena seperti ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Saya permisi terlebih dahulu, terimakasih untuk hidangannya pagi ini. Maaf atas sikap asik saya yang telah membuat Tuan Putri Amerilya merasa kurang nyaman." setelah mengatakan semua itu Putri Liene segera pergi meninggalkan ruang makan dan menyisakan adik perempuannya bersama dengan Putri Amerilya.
"Jika tidak ada yang ingin Anda sampaikan saya permisi terlebih dahulu." ucap Putri Amerilya yang ingin pergi meninggalkan ruang makan namun tiba tiba tangannya di tahan oleh Putri Lena.
"Ada apa?" tanya Putri Amerilya dengan tatapan bingung. Mengapa Putri Lena menundukkan kepalanya seperti itu.
Tak ada angin tak ada hujan tiba tiba saja Putri Lena memeluk Putri Amerilya kemudian menangis sejadi-jadinya. Putri Amerilya yang tak memahami situasi saat itu hanya berusaha untuk menenangkan Putri Lena dengan mengusap punggungnya perlahan.
"Apa Anda merasa sakit? kalau begitu saya akan mengantar Anda ke ruang kesehatan yang ada di istana utama." ucap Putri Amerilya yang semakin panik karna tangisan Putri Lena semakin kencang sedangkan sang putri tak mengatakan apapun pada Putri Amerilya.
Dengan segera Putri Lena menggelengkan kepala sebagai pertanda bahwa ia baik baik saja dan tak perlu dibawa ke ruang kesehatan.
"Tolong berhentilah menangis dan jangan membuat saya kebingungan seperti ini." ucap Putri Amerilya yang sudah sangat pasrah dengan sikap absurd Putri Lena.
Putri Lena melepaskan pelukannya dari Putri Amerilya kemudian menatap putri kecil itu dengan mata berkaca-kaca, wajah Putri Lena sangat kacau dan ia hampir saja meneteskan ingus di baju yang sedang dikenakan oleh Putri Amerilya.
"Hiks hiks terimakasih atas hidangan ikan salmon terbaik yang pernah saya rasakan. Jujur selama ini saya sangat iri dengan Anda karna memiliki keluarga yang begitu baik dan kakak laki laki yang sangat menyayangi Anda dengan sepenuh hati. Saya minta maaf atas semua tindakan buruk dan kekacauan yang terjadi karna ulah saya yang sangat kekanak-kanakan. Saya tidak menyangka Tuan Putri Amerilya akan merelakan ikan salmon asam manis untuk untuk seorang putri asing yang selalu membuat Anda menempatkan banyak masalah. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih, saya permisi terlebih dahulu." ucap Putri Lena kemudian langsung berlari meninggalkan Putri Amerilya sendirian di ruang makan.
Putri Amerilya terdiam beberapa saat di tempatnya, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang terjadi barusan adalah kenyataan. Mengapa Putri Lena berubah secara tiba tiba?.
"Apakah Putri Lena mendadak menjadi pintar setelah memakan ikan salmon?." tanya Putri Amerilya pada dirinya sendiri. Apa yang baru saja terjadi sangatlah mengejutkan dan di luar jangkauan otak manusia normal.
Daripada bingung memikirkan sikap Putri Lena yang tiba tiba berubah secara drastis, Putri Amerilya memilih keluar dari ruang makan dan berencana untuk menemui sang ibu lagi.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.