PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Putri Amerilya Baik Baik Saja


Lilian mencari keberadaan Putri Amerilya di sekitar taman belakang karna putri kecil itu sering berjalan jalan di sana saat pagi hari namun tidak ada siapapun, setelah itu Lilian menyusuri setiap halaman yang ada di dekat istana putri dan hasilnya tetap sama bahkan para prajurit yang berjaga tidak melihat Putri Amerilya keluar dari istana.


Sedang Juylin memilih untuk mencari di dalam istana putri, di saat beberapa pelayan lain sibuk membuka beberapa ruangan Juylin malah berdiri di tengah tengah bangunan istana itu.


"Jika saya adalah Putri Amerilya kemana saya akan pergi saat terbangun di malam hari, apa yang akan saya lakukan untuk mengisi waktu agar tidak merasa bosan." tanya Juylin pada dirinya sendiri. Ia sedang berfikir keras seandainya menjadi Putri Amerilya tempat apa yang akan ia kunjungi.


Setelah cukup lama berfikir akhirnya Juylin menemukan sebuah jawaban, dengan segera ia berlari menuju perpustakaan yang tempatnya cukup jauh dari ruangan yang lain. Saat hendak masuk ke dalam ia melihat penjaga perpustakaan berada di luar ruangan itu sembari membawa setumpuk buku.


"Ada apa dengan wajah mu itu Juylin? apakah terjadi sesuatu?." tanya wanita penjaga perpustakaan.


"Kami sedang mencari Putri Amerilya, seharusnya ia tetap berada di dalam kamar karna sedang dalam masa pemulihan akan tetapi pagi tadi dia menghilang." ucap Juylin, ia memberikan sedikit penjelasan pada wanita penjaga perpustakaan itu.


"Ah Tuan Putri Amerilya dan Putri Alexsi semalam datang ke perpustakaan, kira kira pukul sepuluh malam. Karna saya tidak tau bahwa sang putri baru saja sakit akhirnya saya mengizinkannya untuk masuk ke dalam. Lihatlah apakah mereka berdua masih ada di dalam sana ataukah sudah pergi ke tempat lain." jawab wanita penjaga perpustakaan, ia bahkan tidak menunjukkan raut wajah khawatir.


Juylin segera masuk ke dalam perpustakaan, setelah itu dia bisa bernafas dengan lega karna menemukan Putri Amerilya sedang membaca sebuah buku dengan serius sedang Putri Alexsi tertidur dengan lelap di sebuah sofa panjang yang ada di perpustakaan. Juylin berjalan mendekat ke arah Putri Amerilya kemudian menepuk punggung putri kecil itu perlahan, Putri Amerilya pun menoleh ke belakang dan menatap Juylin dengan senyuman kecil.


"Kalian mencari Amerilya?." tanya Putri Amerilya dengan wajah polosnya itu.


"Kami semua khawatir karna Tuan Putri tidak ada di dalam kamar ketika kami bangun, syukurlah karna Anda baik baik saja. Mari kembali ke kamar dan saya akan menyiapkan sarapan untuk Anda, sebelum itu kita harus membangunkan Putri Alexsi terlebih dahulu." ucap Juylin pada Putri Amerilya.


Putri Amerilya turun dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju sofa tempat Putri Alexsi tertidur, Amerilya mencubit pipi Putri Alexsi dengan cukup kencang hingga sang putri terbangun dan menatap ke arah Amerilya dengan tatapan bingung.


"Sekarang sudah pagi Putri Alexsi, terimakasih telah menemani saya semalaman. Jika Putri Alexsi masih mengantuk silahkan kembali tidur di kamar Anda." ucap Putri Amerilya sembari tersenyum lebar.


Putri Alexsi yang tadinya merasa kesal karna dibangunkan saat masih mengantuk langsung luluh hatinya dan tersenyum balik pada Putri Amerilya. Setelah itu mereka bertiga keluar dari perpustakaan dan pergi menuju ruang depan tempur Yang Mulia Ratu Zivaya dan Ibu Suri Sinya menunggu laporan dari para pelayan. Saat masuk ke ruang depan ternyata semua pelayan talah berkumpul kecuali Juylin, karna itulah saat ini mereka semua melihat ke arah Juylin dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kenapa semuanya ada di sini?." tanya Putri Amerilya yang berdiri di belakang Juylin.


"Astaga Tuan Putri Amerilya, kemana Anda pergi kami semua sangat mencemaskan mu. Seharusnya Anda membangunkan kami jika ingin pergi ke sebuah tempat." ucap Amena, mata pelayan itu berkaca-kaca karna sangat lega Putri Amerilya baik baik saja.


"Kemarilah putriku." perintah Ratu Zivaya pada Putri Amerilya.


Dengan segera putri kecil itu mendekat ke arah sang ibu. Dengan sigap Ratu Zivaya menggendong Putri Amerilya sembari mencium pipinya beberapa kali. Sang ratu tidak bisa tenang jika putri kecilnya itu tiba tiba menghilang, ia khawatir Putri Amerilya telah diculik oleh pihak Kerajaan Belgize untuk dijadikan sandra namun untunglah kekhawatirannya itu tidak menjadi kenyataan.


"Jangan membuat ibu khawatir seperti ini, lain kali mintalah seseorang untuk menemanimu saat pergi." pesan Ratu Zivaya.


"Amerilya pergi bersama Putri Alexsi karna ia juga tidak bisa tidur. Kami berdua pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Karna Amerilya terlalu asik dengan buku yang sedang di baca akhirnya tidak menyadari bahwa pagi telah datang dan Putri Alexsi sudah tertidur di sebuah sofa panjang yang ada di perpustakaan." ucap Putri Amerilya yang menjelaskan kemana ia pergi tadi malam.


"Lalu mengapa tiada meminta salah satu diantara kami untuk menemani Anda?." tanya Lilian dengan nada bicara sedikit ketus.


"Kalian semua pasti merasa sangat lelah karna menjaga Amerilya seharian, karna itulah kalian tidur dengan lelap. Amerilya tidak ingin mengganggu waktu istirahat kalian semua." jawab Putri Amerilya dengan polosnya.


"Mari ibu antar menuju kamar untuk beristirahat, makanan apa yang ingin putri ibu makan untuk sarapan pagi ini?." tanya Ratu Zivaya, ia harus memastikan bahwa putri kecilnya itu tidur dengan teratur.


"Amerilya ingin roti daging buatan Juylin serta jus kiwi dengan sedikit es batu." jawab Putri Amerilya.


"Juylin, tolong buatkan sarapan sesuai dengan keinginan putri kecil saya. Tambahkan beberapa menu makanan lainnya seperti sayur ataupun telur rebus." perintah Ratu Zivaya pada Juylin.


"Baik Yang Mulia Ratu Zivaya, saya akan menyiapkan sarapan untuk Tuan Putri Amerilya. Saya permisi terlebih dahulu." pamit Juylin yang langsung pergi dari ruang utama menuju dapur.


"Kalian bisa pergi dan mengerjakan tugas masing masing, kali ini saya tidak akan menjatuhkan hukuman apapun karna cucu saya baik baik saja. Akan tetapi hal seperti ini tidak boleh terulang lagi." ucap Ibu Suri Sinya pada kesembilan pelayan yang masih berada di dalam ruangan itu.


"Kami mengerti Ibu Suri, maaf atas kejadian malam tadi dan kami tidak akan mengulanginya lagi." jawab kesembilan pelayan secara bersama sama kemudian mereka pergi meninggalkan ruang depan.


"Apa kalian sudah mendapatkan informasi yang ayah inginkan?." tanya Raja Ruzel pada kedua putranya.


"Tidak ada informasi mengenai kemana perginya semua bahan peledak itu ayah. Bahkan tidak ada yang melihat anggota Kesatria White Rose mengeluarkannya dari bangunan toko tua." jawab Pangerang Nanzo.


Gagal rencana Marques Jordy Montiqu juga mempengaruhi beberapa rencana yang ingin ia lakukan untuk menekan Kerajaan Meztano. Hal yang paling membingungkan adalah kemana perginya puluhan ton bubuk peledak itu?. Sangat tidak mungkin jika Putri Amerilya ataupun para anggota Kesatria White Rose memiliki cincin ruang yang harganya sangat fantastis dan sulit untuk dicari. Beberapa orang harus pergi ke pasar gelap untuk mendapatkan cincin itu.


"Mungkin ada seseorang yang membantu Putri Amerilya saat itu. Bukankah saat penyerangan berlangsung juga banyak kelompok misterius yang membantu Kerajaan Meztano atas nama Tuan Putri Amerilya?." ucap Pangeran Argaf yang mulai menebak nebak apa yang terjadi saat itu.


"Itu mungkin saja terjadi, namun sulit ikut campur secara langsung karna prajurit Kediaman Marques Montiqu memperketat penjagaan." sangkal Pangeran Nanzo.


"Sudahlah lupakan hal itu, kita harus mencari waktu yang tepat untuk membawa Putri Amerilya pergi dari istana ini dan menjadikannya sandra. Dia adalah kelemahan terbesar bagi Yang Mulia Raja Azvago maupun anggota keluarga kerajaan yang lain." ucap Raja Ruzel yang mulai menyusun rencana untuk menekan Kerajaan Meztano.


"Kita tunggu saja hingga Tuan Putri Amerilya keluar dari istana putri sendirian, setelah itu kita bisa langsung membawanya pergi." ucap Pangeran Nanzo.


"Akhir akhir ini saya jarang bertemu dengan Putri Amerilya, mungkin saja dia sedang jatuh sakit. Akan sulit bagi kita untuk menerobos masuk keamanan istana putri yang sangat ketat itu." gumam Pangeran Argaf.


"Kita harus secepatnya bertindak sebelum Raja Azvago melakukan jamuan makan malam penutupan, karena di keesokan paginya mau tidak mau kita harus pergi meninggalkan Istana Kerajaan Meztano. Akan lebih sulit lagi menjalankan rencana ini saat berada di luar istana." ucap Raja Ruzel yang masih merasa bingung.


Di saat Raja Ruzel dan kedua putranya dibuat kebingungan dengan rencana apa yang harus mereka buat, di sisi lain saat ini Lilian sedang termenung di dalam dapur dan memikirkan kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga Putri Amerilya menjauhinya seperti saat ini. Lilian rasa ia tidak melakukan apapun pada sang putri.


"Ada apa dengan mu?." tanya Amena sembari menepuk pundak Lilian perlahan.


"Entahlah saya rasa Tuan Putri Amerilya lebih menyukai Juylin daripada saya padahal sebelumnya ia selalu mencari saya saat membutuhkan sesuatu." gumam Lilian dengan suara pelan namun masih bisa di dengar oleh Amena dengan jelas.


"Apa kau merasa kesal saat Putri Amerilya lebih dekat dengan pelayan lain daripada dirimu?." tanya Amena yang langsung mendapatkan jawaban berupa anggukan kepala dari Lilian.


"Putri Amerilya juga merasakan hal yang sama ketika kau lebih dekat dengan putri lain daripada dirinya. Coba ingat ingat lagi apa yang telah kau lakukan akhir akhir ini. Adakah sesuatu yang dapat memancing kemarahan ataupun kekesalan Putri Amerilya?." jelas Amena pada Lilian agar Lilian segera mengerti sebab perubahan sikap Putri Amerilya padanya.


Setelah mendengar perkataan dari Amena, Lilian kembali terdiam dan mengingat kembali apa yang telah ia lakukan akhir akhir ini. Yang Lilian ingat hanyalah ketika ia membuatkan sarapan untuk Putri Haru hingga lupa membuahkan sarapan untuk putri kecilnya itu. Sejak saat itulah sikap Putri Amerilya mulai berubah dan selalu menjaga jarak dengannya. Lilian yang telah menyadari kesalahannya langsung mengusap wajah dengan kasar, bagaimana bisa ia begitu bohong hingga tidak menyadarinya.


"Sebaiknya kau segera meminta maaf pada Putri Amerilya, lakukan ketika ia selesai sarapan. Sebelum itu mintalah izin pada Juylin untuk mengambil pekerjaannya, karna pelayan yang seharusnya masuk ke kamar sang putri untuk membereskan sisa sarapan adalah Juylin." pesan Amena pada Lilian. Setelah itu Amena pamit untuk kembali melakukan pekerjaannya yaitu membersihkan halaman belakang.


Saat semua orang sedang sibuk, beberapa prajurit penjaga gerbang utama Kerajaan Meztano melihat beberapa kelelawar yang berterbangan di atas istana. Kelelawar itu dibiarkan masuk begitu saja karna tidak mungkin bagi para prajurit untuk menangkapnya. Seekor kelelawar pergi mendekat ke arah istana utama, ia hinggap di sebuah pohon yang letaknya tepat berada di samping jendela kaca ruang kerja Yang Mulia Raja Azvago. Kelelawar itu memiliki mata berwarna merah menyala yang saat aneh, matanya terus menatap ke arah punggung Raja Azvago.


Di tempat lain ada seekor kelelawar yang hinggap di sebuah tanaman yang berada di halaman belakang istana putri. Putri Amerilya yang sedang menikmati sarapannya sembari melihat ke arah taman melalui jendela kamar tentu menyadari kehadiran kelelawar aneh itu. Seketika sang putri ingat dengan satu bab di dalam buku berwarna merah yang ia baca semalam. Ketika seseorang dengan hati jahat mati dipenuhi dengan dendam maka jiwanya akan menyatu dengan kejahatan dan dapat berubah menjadi kelelawar dengan mata merah menyala, itu adalah bentuk sederhana yang mereka miliki sebelum berevolusi menjadi iblis secara utuh.


"Putri Haru." ucap Putri Amerilya yang langsung mengingat akan nama itu. Kemarin adalah hari dimana Putri Haru dimakamkan, mungkin ada sesuatu yang terjadi seusai semua pelayat pergi namun tidak ada yang menyadari hal itu.


Putri Amerilya mengulurkan tangannya ke depan dan muncul tanaman rambat yang terus menjalar hingga keluar ruang kamar sang putri. Tanaman itu terus tumbuh memanjang hingga berada di dekat sand kelelawar bermata merah. Saat Putri Amerilya menggenggam tangannya, tanaman rambat itu langsung melilit tubuh sang kelelawar.


"Makhluk seperti mu harus mati, mengapa jiwa mu tidak bisa tenang Putri Haru?. Apakah kau masih menyimpan dendam pada kami? jika terus seperti itu maka kau tidak akan mendapat kesempatan untuk berreingkarnasi." gumam Putri Amerilya dengan suara pelan.


Sang putri meletakkan nampan berisikan beberapa makanan yang belum ia makan, Putri Amerilya berjalan mendekat ke arah jendela kamarnya kemudian membuka jendela itu dengan lebar. Kini ia bertatapan langsung dengan si kelelawar bermata merah.


"Kau ingin memasuki alam bawah sadar ku lagi Putri Haru? itu tidak akan mudah. Saat ini kedelapan kakak perempuan ku sedang berjaga di sana agar penyusup seperti mu tidak dapat menerobos masuk." ucap Putri Amerilya sembari tersenyum ke arah kelelawar bermata merah itu.


Putri Amerilya menggerakkan tanaman rambat miliknya dan kini si kelelawar bermata merah tepat berada di depannya. Putri Amerilya mengambil sebuah pisau kecil yang ada di kamar kemudian ia mencongkel kedua mata merah kelelawar itu kemudian membakarnya. Inilah cara untuk membunuh secara permanen kelelawar yang memiliki serpihan jiwa milik Putri Haru.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.