PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Siapa Pemilik Sihir Alam?


Yang Mulia Raja Azvago menghampiri putri kecilnya itu kemudian menggendong sang putri dan di ajak masuk ke dalam Istana. Raja Azvago ingin tau bagaimana kronologi penemuan ketiga tahanan yang kabur di halaman samping Istana putri dan siapa orang pertama yang menyadari keberadaan mereka. Raja Azvago duduk di kursi ruang tamu istana putri sembari memangku Putri Amerilya, di sampingnya sudah ada Pangeran Mixo sedangkan kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya duduk bersebrangan dengan mereka bertiga.


"Saya sangat terkejut saat seorang pelayan berlari menghampiri saya yang saat itu sedang berada di halaman depan istana utama, pelayan itu mengatakan bahwa Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya sedang berada di halaman samping istana putri. Siapa yang pertama kali menemukan keberadaan mereka bertiga?." tanya Yang Mulia Raja Azvago dengan tatapan serius. Ia sudah meminta para prajurit untuk berpencar dan mencari mereka di sekitar istana maupun di luar istana namun belum mendapatkan hasil apapun.


Yang membuat Raja Azvago bingung adalah dimana tempat pertama yang ditempati oleh Riana Marques dan kedua anaknya sebagai tempat persembunyian dan mengapa mereka bisa berada di halaman samping istana putri.


"Bisa dibilang orang yang pertama kali menyadari ada hal aneh di halaman samping istana putri adalah Tuan Putri Amerilya. Beberapa saat yang lalu Tuan Putri berlari ke arah dapur dalam kondisi menangis dan tubuh gemetaran, ia memberitahukan pada saya dan beberapa pelayan lain bahwa ada suara suara aneh dari halaman yang dekat dengan kamarnya. Karna penasaran dengan apa yang ada di sana akhirnya saya menggendongnya Putri Amerilya dan mengajak beberapa pelayanan untuk melihat langsung di tempat kejadian." ucap Liliana yang mewakili Putri Amerilya dan kesembilan rekannya yang lain untuk menjelaskan pada Yang Mulia Raja Azvago.


"Jadi Putri Amerilya yang menyadari hal itu pertama kami, apakah Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya sudah dalam kondisi terlilit tanaman rambat saat kalian sampai di sana? dan mengapa lidah Ciela Marques menghilang?." tanya Raja Azvago, ia sangat yakin tanaman rambat itu bukanlah tanaman biasa karena pada awalnya para prajurit kesulitan memotong tanaman itu menggunakan pedang mereka.


"Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya sudah seperti itu saat kami datang kesana, dan sayalah yang memotong lidah Ciela Marques karna ia terus mengumpat pada Tuan Putri Amerilya. Sebagai seorang pelayan yang merawat Tuan Putri dari ia baru lahir hingga sebesar ini tentu saya merasa tak terima dengan perkataan gadis itu." jawab Liliana dengan raut wajah tenang karna ia tak merasa bersalah telah melakukan hal itu pada Ciela Marques.


"Saya tak mempermasalahkan apa yang kau lakukan pada anak sialan itu. Namun saya masih penasaran darimana datangnya tumbuhan merambat itu, di Kerajaan Meztano ini tak ada penyihir yang mendapatkan kekuatan alam seperti itu." ucap Yang Mulia Raja Azvago penuh dengan tanda tanya. Kehadiran seorang penyihir dengan kemampuan sihir alam adalah sebuah berkat karna mereka dapat membantu para penduduk yang mengelola lahan pertanian dan perkebunan. Sangat disayangkan dari generasi pertama hingga generasi sekarang hanya ratu pertama dari Kerajaan Meztano yang memiliki berkat tersebut dan ia tak menurunkannya pada pewaris yang lain.


"Kami juga tak mengetahui akan hal itu, jika ada salah satu anggota Kerajaan Meztano yang memiliki kekuatan sihir alam seharusnya ia melaporkan pada Anda. Pemilik sihir alam akan sangat dilindungi karna kemuliaan yang mereka miliki." ucap Liliana yang tiba tiba melirik ke arah Putri Amerilya dan sang putri hanya menunjukkan wajah polosnya saja. Seketika Liliana menepis pikirannya jauh jauh, tak mungkin Putri Amerilya mendapatkan warisan dari ratu pertama Kerajaan Meztano.


"Baiklah jika begitu saya dan Pangeran Mixo akan pergi untuk melakukan penyelidikan, tolong jaga Putri Amerilya selama saya tak ada bersamanya." ucap Yang Mulia Raja Azvago kemudian ia mencium kening putrinya itu dengan penuh kasih sayang. Raja Azvago menurunkan sang putri dari pangkuannya lalu bergegas pergi dari istana putri.


Sebelum menyusul sang ayah Pangeran Mixo sempat mencium pipi adik perempuannya itu kemudian menggigitnya sedikit karna merasa sangat gemas dengan pipi bulat Putri Amerilya.


"Pipiku akan menghilang." ucap Putri Amerilya saat pipinya digigit oleh Pangeran Mixo.


"Kakak mu yang tampan ini telah mengambil pipi bulat mu itu, selamat tinggal adikku." ucap Pangeran Mixo yang langsung berlari keluar dari istana putri karna ia takut dimarahi oleh para pelayan yang ada di sana.


Liliana berjalan mendekat ke arah Putri Amerilya kemudian berjongkok di hadapan putri kecil itu, ia mengusap bekas gigitan Pangeran Mixo yang masih membekas di pipi Putri Amerilya.


"Tuan Putri ingin tidur lagi atau sarapan?." tanya Liliana dengan suara yang sangat lembut, sepertinya pelayan wanita itu memiliki banyak kepribadian.


"Amerilya sangat lelah dan ingin tidur lagi." ucap Putri Amerilya dengan wajah cemberut, putri kecil itu berjalan dengan perlahan menuju kamarnya kemudian menutup pintu kamar dengan rapat lalu kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


"Apakah mungkin Putri Amerilya memiliki kemampuan sihir alam seperti itu?." tanya Liliana pada kesembilan rekannya yang lain.


"Sepertinya Tuan Putri Amerilya berbakat dalam hal berpedang, seseorang dengan bakat pedang tak akan mahir dalam menggunakan sihir. Meskipun satu hari Tuan Putri Amerilya membangkitkan kekuatan sihirnya kemungkinan besar itu sihir api ataupun sihir es." jawab seorang pelayan dengan rambut berwarna coklat dan mata tajam berwarna hitam.


"Gen yang ada di dalam tubuh Tuan Putri Amerilya cenderung menurun pada Yang Mulia Raja Azvago, karna itu sangat tak mungkin jika Tuan Putri yang menumbuhkan tanaman rambat itu." ucap pelayan dengan rambut berwarna putih dan mata coklat tua.


"Baiklah alasan kalian sangat masuk akal, saya juga percaya tak ada lagi keturunan dari Kerajaan Meztano yang memiliki kekuatan sihir alam selain ratu pertama." ucap Liliana dengan senyuman tipis, wanita itu lebih percaya jika Putri Amerilya akan tumbuh menjadi seorang ahli pedang yang sangat hebat.


"Sebaiknya saya tak mengatakan hal ini pada siapapun, lebih baik jika Putri Amerilya tumbuh lebih dewasa terlebih dahulu sebelum banyak orang yang mengetahui kemampuannya." ucap pelayan bernama Juylin itu, ia takut jika banyak orang yang mengetahui kemampuan istimewa dari Putri Amerilya maka akan banyak pihak yang mengincarnya juga. Putri Amerilya saat ini masih berusia dua tahun, meskipun ia sudah cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri namun ia tetaplah seorang balita.


Di sisi lain saat ini Yang Mulia Raja Azvago dan Pangeran Mixo sedang berada di tempat eksekusi Riana Marques berserta kedua anaknya, sebelum wanita itu dipenggal dan kehilangan nyawanya, Yang Mulia Raja Azvago ingin menanyakan beberapa hal pada wanita itu terutama mengenai tanaman rambat yang melilit tubuh mereka bertiga.


"Pergilah dari sini, meski hari ini aku akan mati aku tak sudi jika satu ruangan dengan orang seperti mu!." bentak Riana Marques saat melihat Raja Azvago masuk ke dalam ruang evakuasi. Melihat wajah Raja Azvago membuatnya semakin marah dan kesal, karna ulah Keluarga Kerajaan Meztano kehidupannya yang indah bersama dengan sang suami menjadi hancur.


"Mengapa Anda menyalahkannya orang lain atas tindakan bodoh yang dimulai dari suami Anda sendiri. Jika sedari awal Duke Zidan Marques tak mengincar Putri Haru maka semua akan baik baik saja." jawab Yang Mulia Raja Azvago, ia tak terima disalahkan oleh Riana Marques atas kemalangan yang menimpa Keluarga Duke Marques.


Riana Marques tak peduli dengan perkataan Raja Azvago, apapun yang dilakukan oleh sang suami ia akan tetap mencintai suaminya itu. Riana Marques menatap tajam ke arah Raja Azvago kemudian meludah di hadapan sang raja, untung saja ludah wanita itu tak mengenai alas kaki yang sedang digunakan oleh Raja Azvago. Sang raja mendekat ke arah Riana Marques kemudian menginjak telapak tangan wanita itu hingga ia menjerit kesakitan, sikap Riana Marques kali ini sudah sangat keterlaluan.


"Ini bukan Kediaman Duke Marques dimana Anda bisa meludah dengan leluasa." ucap Raja Azvago dengan tatapan tajam dan kemarahan yang meluap dari dalam tubuhnya.


"Pergilah dan biarkan saya mati dengan tenang, kehadiran Anda di tempat ini akan menganggu kepergian jiwa saya." ucap Riana Marques yang bersikeras untuk mengusir Raja Azvago dari ruang eksekusi.


"Itulah yang ingin saya lakukan saat ini, ketidaktenangan jiwa Anda adalah kebahagiaan saya." jawab Yang Mulia Raja Azvago dengan sorot mata tajam.


Pangeran Mixo dan beberapa prajurit yang berada di dalam ruangan itu hanya diam sembari menyaksikan apa yang ingin dilakukan Raja Azvago pada Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya. Mereka tak berani ikut campur ataupun membuka pembicaraan saat Raja Azvago sedang marah seperti itu termasuk Pangeran Mixo sekalipun.


"Dimana tempat persembunyian kalian sebelum tertangkap basah di halaman samping istana putri?." tanya Raja Azvago pada Riana Marques.


"Mengapa saya harus menjawab pertanyaan itu? saya akan membuat Anda merasa penasaran untuk selamanya." ucap Riana Marques yang tak ingin memberitahu dimana tempat persembunyian mereka setelah keluar dari penjara.


Raja Azvago menginjak kaki sebelah kiri wanita itu hingga terdengar suara retakan yang sangat nyaring, bersama dengan itu Riana Marques menjerit keras karna kakinya sangat sakit. Riana Marques mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Raja Azvago, ia tak habis fikir bahwa pria itu akan tega menyiksa walaupun ia seorang wanita.


"Ahahaha Anda secara terang terangan menyiksa wanita lemah seperti saya? apakah Yang Mulia Raja Azvago masih pantas disebut dengan seorang pria." ucap Riana Marques dengan senyuman meremehkan.


"Saya tak akan memanusiakan manusia seperti Anda dan para pengkhianat Kerajaan Meztano yang lain. Entah itu seorang laki laki, wanita, pemuda, gadis, atau kakek nenek sekalipun. Selama mereka melakukan pengkhianatan pada Kerajaan Meztano artinya mereka siap untuk mati dengan cara yang sadis." jawab Raja Azvago dengan senyuman lebar, sang raja kini menginjak dengan kencang kaki sebelah kanan Riana Marques dan wanita itu kembali menjerit dengan kencang.


"Argh seorang iblis sepertimu tak layak menjadi seorang raja!!." ucap Riana Marques penuh dengan kemarahan ia ingin mengeluarkan sebuah pisau yang disembunyikan di balik bajunya namun tiba tiba Raja Azvago menginjak punggung wanita itu.


"Lepaskan aku sialan, cepat lepaskan." triak Riana Marques dengan histeris. Kedua anaknya hanya bisa diam karna mereka tak ingin bernasib sama dengan sang ibu.


Hai hai semua author balik lagi nih dengan novel Putri Amerilya. Gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.