
Putri Amerilya mendapatkan banyak hadiah dari para tamu undangan yang datang, ada beberapa orang yang menghadiahkan sertifikat sepetak tanah maupun bangunan untuk putri kecil itu. Para anggota keluarga Kerajaan Meztano memberikan hadiah dengan ukuran yang sangat besar terutama Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe, entah apa yang ada di dalam kotak hadiah sebesar itu tapi Putri Amerilya merasa sangat penasaran.
Tuan Muda Rostow Elister naik ke singgasana sembari membawa sebuah kotak kado dengan ukuran kecil namun dibungkus dengan begitu indah, sang tuan muda menatap ke arah Putri Amerilya yang sedang dipangku oleh Yang Mulia Raja Azvago. Rostow Elister berjongkok di hadapan Putri Amerilya kemudian memegang telapak tangan kanan sang putri.
"Selamat ulang tahun Tuan Putri Amerilya, saya harap Anda akan segera tumbuh dewasa. Senang rasanya melihat suasana di sekitar Kerajaan Meztano menjadi berubah semenjak Anda lahir, semoga Tuan Putri Amerilya adalah bentuk kesejahteraan dari kerajaan ini. Saat dewasa nanti tolong pertimbangan saya sebagai calon kandidat pemuda yang layak untuk bersaing dengan Anda." selesai memberikan ucapan pada sang putri Tuan Muda Rostow mencium telapak tangan Putri Amerilya dan memberikan hadiah yang telah ia pilih dengan segenap hati.
"Terimakasih Tuan Muda Rostow Elister, semoga Anda akan tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan baik agar saya bisa mempertimbangkannya." jawab Putri Amerilya dengan senyuman manis yang ia berikan pada anak laki laki itu.
Seketika Rostow Elister mengeluarkan darah dari kedua lubang hidupnya, ia kembali mimisan karna tak sanggup menahan kelucuan yang ditunjukkan oleh Tuan Putri Amerilya. Rostow Elister segera turun ke bawah dan berlari ke arah sang kakak laki laki untuk meminta sebuah sapu tangan.
"Tuan Putri Amerilya akan merasa takut jika kau selalu mimisan seperti ini saat melihat senyumannya. Berlatihlah lebih keras lagi untuk memenuhi persyaratan yang baru saja dikatakan oleh sang putri." tegur Edwig Elister pada sang adik laki laki. Semua ucapannya itu untuk membangun semangat dari sang adik karna bersanding dengan seorang gadis yang memiliki posisi sebagai Tuan Putri suatu kerajaan bukanlah hal yang mudah.
"Tentu saya akan berusaha dengan keras agar layak bersanding dengan Tuan Putri Amerilya ketika ia sudah dewasa nanti." jawab Rostow Elister dengan tatapan penuh keyakinan.
Yang Mulia Raja Azvago menatap beberapa saat ke arah Tuan Duke Rigel Elister, ia sedang mempertanyakan sikap putra termuda dari sang duke. Raja Azvago tak melarang siapapun untuk mendekati putri kecilnya itu selama tidak membawa pengaruh yang buruk, namun membicarakan masalah perasaan antara pria dan wanita di usia semuda ini bukanlah hal yang bagus. Menyadari tatapan penuh tanda tanya dari sang raja, Tuan Duke Rigel Elister langsung membungkukkan badan sebagai permintaan maaf yang sangat tulus atas kelancangan yang telah putranya lakukan.
"Mengapa ayah membungkuk seperti itu?." tanya Rostow Elister yang kebetulan saat itu sedang berada di samping ayahnya.
Setelah selesai membungkukkan badan pada sang raja, Yuan Duke Rigel Elister menatap tajam ke arah putra keduanya itu. Untung Yang Mulia Raja Azvago tak langsung menyelak ucapan putranya pada Putri Amerilya tadi, bayangkan saya jika Raja Azvago mengatakan ia tak akan merestui Rostow Elister untuk mendekati putrinya itu.
"Lain kali berfikir lah terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu dihadapan orang banyak seperti ini. Apa kau tak sadar bahwa Tuan Putri Amerilya masih berusia tiga tahun dan pembicaraan diantara kalian tadi terlalu dewasa." gerutu Tuan Duke Rigel Elister sembari mengusap wajahnya perlahan.
"Maaf ayah, saya terlalu gegabah hingga membuat Anda merasa malu seperti ini. Saya berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama." ucap Tuan Muda Rostow Elister dengan rasa menyesal.
Kini anggota Keluarga Kerajaan Belgize naik ke atas satu persatu dan mulai memberikan ucapan selamat ulang tahun pada Tuan Putri Amerilya. Kini sang putri kecil sedang bersalaman dengan Raja Ruzel, sang raja dari Kerajaan Belgize itu menunjukkan ekspresi yang membuat Yang Mulia Raja Azvago merasa kurang nyaman dan ingin menonjok wajah rivalnya itu.
"Anda terlihat seperti seorang penculik anak yang sudah menemukan mangsanya. Jangan coba coba melakukan sesuatu pada putri kesayangan saya. Jika Anda merasa Putri Amerilya sangat lucu dan menggemaskan itu memang benar adanya, silahkan Anda buat sendiri seorang anak perempuan yang lucu seperti ini." ucap Yang Mulia Raja Azvago secara terus terang pada Raja Ruzel.
"Saya susah memiliki dua orang putri, namun tak ada yang semenarik putri Anda. Bagaimana jika saat dewasa nanti Yang Mulia Raja Azvago menjodohkan Putri Amerilya dengan salah satu putra saya. Ini akan menguntungkan bagi kedua belah pihak, hubungan persahabatan antara Kerajaan Meztano dan Kerajaan Belgize akan semakin erat." ucap Raja Ruzel. Ia memberikan penawaran yang sangat menarik pada Raja Azvago dan kemungkinan besar penawaran itu akan diterima.
"Saya tidak ingin menjodohkan Putri Amerilya dengan siapapun ketika ia dewasa nanti, siapapun pria yang ia pilih maka pria itu yang akan menjadi pasangan hidupnya. Berhentilah mencoba merusak kebahagiaan putri saya dengan perjodohan dilandaskan kepentingan politik semata." jawab Yang Mulia Raja Azvago dengan tegas. Ia mungkin akan membantu Putri Amerilya memilih seorang lak laki yang baik nantinya.
"Sangat disayangkan Anda menolak tawaran saya ini. Baiklah jika begitu, semoga kita bisa bertemu lagi Tuan Putri Amerilya. Selamat ulang tahun, semoga Anda bisa tumbuh dewasa dan terus bertemu dengan mentari di pagi hari." ucap Raja Ruzel. Ia langsung memberikan hadiah pada Putri Amerilya kemudian pergi.
Kini semua tamu undangan telah memberikan selamat serta kado yang mereka bawa untuk Tuan Putri Amerilya, kini bagian penutupan acara ulang tahun sang putri adalah berdansa. Semua tamu undangan bisa memilih partner dansa mereka selagi tak ada unsur paksaan.
"Silahkan kalian pilih pasangan dansa masing masing dan ingat jangan melakukan pemaksaan." ucap Yang Mulia Raja Azvago. Sang raja meminta beberapa orang pemain musik untuk memainkan alunan musik dansa.
Kini beberapa tamu undangan sibuk mencari partner dansa yang mereka inginkan. Keempat pangeran dari Kerajaan Meztano berjalan mendekat ke arah Putri Amerilya yang duduk sendirian di atas tahta kerajaan, putri kecil itu menatap ke arah sang ayah dan ibu yang sedang berdansa dengan sangat romantis.
"Ekem... apakah Tuan Putri kecil kami tak ingin turun ke bawah dan berdansa dengan salah satu diantara kami?." tanya Pangeran Luxe. Wajahnya menunjukkan ekspresi penasaran, kira kira siapa partner dansa yang ingin dipilih oleh Putri Amerilya.
"Tidak.... Amerilya tidak ingin berdansa dengan siapapun." jawab Putri Amerilya sembari menunjukkan ekspresi cemberut. Keempat kakak laki lakinya itu terlalu tinggi untuk dijadikan partner dansa.
"Kalian semua sangat tinggi untuk Amerilya yang pendek ini. Akan sangat tidak nyaman jika jarak antar partner dansa terlalu jauh." jawab Putri Amerilya dengan jujur pada keempat kakak laki lakinya itu.
"Ah ternyata begitu, karna Tuan Putri kecil kami tidak berdansa maka kamipun akan tetap berada di sini menjaga adik." ucap Pangeran Mixo yang telah membuat keputusan. Ketiga pangeran yang lain setuju dengan sarana itu.
Aula utama Kerajaan Meztano terdengar cukup ramai dengan suara musik dansa yang menggema hampir di seluruh istana. Meskipun begitu beberapa orang yang ditugaskan untuk berjaga di sekitar istana tak memperlemah penjagaan mereka termasuk kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya. Kesepuluh pelayan itu sedang mengintai di beberapa titik yang telah mereka rencanakan, entah mengapa Lilian memiliki firasat akan terjadi sesuatu saat pesta itu berakhir.
"Lihatlah ada pergerakan dari wilayah bagian timur. Saya melihat puluhan orang berjubah hitam dengan lambang sihir yang aneh sedang bergerak menuju Istana. Sepertinya mereka orang orang dari menara sihir yang ingin membalas dendam pada Yang Mulia Raja Azvago." ucap Juylin, ia sedang melaporkan hal itu pada Lilian.
"Minta beberapa kelompok untuk bergerak dan menghadang mereka. Saat ini para Kesatria White Rose juga mendapatkan informasi mengenai pergerakan beberapa orang dari bagian barat." perintah Lilian pada beberapa rekannya yang lain.
Kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya tidak bergerak sendirian, mereka meminta bantuan pada kelompok topeng emas dan kelompok topeng perak. Lilian memegang kendi atas kelompok topeng emas sedangkan Juylin pemimpin kelompok topeng perak, jumlah sekutu yang berkumpul di istana Kerajaan Balvagor saat ini sekitar tiga ribu orang.
"Lapor Nona Lilian." ucap salah seorang anggota kelompok topeng emas yang tiba tiba muncul di hadapan Lilian. Untunglah Lilian sudah terbiasa dikejutkan seperti ini sehingga jantungnya aman.
"Ada apa?." tanya Lilian dengan tatapan dingin.
"Beberapa prajurit dari Keluarga Marques Montiqu mulai bergerak, mereka pergi menuju markas Kesatria Black Night untuk mencari sekutu mereka yaitu Kesatria Black Linox. Jika para prajurit itu menyadari ada sesuatu yang janggal maka mereka akan merusak rencana Tuan Putri Amerilya.
"Saya akan bergerak bersama kelompok satu, tolong berikan sebuah topeng untuk saya." ucap Lilian.
Pria dengan topeng emas itu mengeluarkan sebuah topeng dan memberikannya pada Lilian, topeng itu sama persis dengan milik kelompok topeng emas. Lilian berlari dengan cepat di atas atap istana utama menuju halaman belakang tempat markas Kesatria Black Night berada.
Semua orang yang berada di dalam aula belum menyadari keributan yang terjadi di luar selain Tuan Putri Amerilya. Putri kecil itu dengan jelas mendengar suara dentingan pedang yang saling beradu dari beberapa penjuru, suara itu lambat laun menjadi semakin kencang dan berdengung di telinga Putri Amerilya.
"Sakit...." keluh sang putri sembari menutup kedua telinganya. Entah mengapa hari ini pendengaran miliknya jauh lebih sensitif dari hari hari biasa.
Keempat pangeran langsung menatap ke arah Putri Amerilya dengan tatapan khawatir, apa yang sedang terjadi pada adik kecil mereka itu. Pangeran Mixo mendekati Putri Amerilya kemudian melihat sang adik dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Apa yang sakit adikku? katakan pada kakak, apa yang sedang terjadi padamu." ucap Pangeran Mixo.
"Telinga adik berdarah." ucap Pangeran Zico yang menyadari ada darah yang mengalir dari sela sela telapak tangan yang sedang menutupi telinga asiknya itu.
Keempat pangeran semakin panik. Dengan segera Pangeran Luxe turun dari atas singgasana dan berlari menghampiri sang ayah dan ibu yang tengah asyik berdansa dengan para tamu undangan yang lain.
"Ayah ibu tolong berhentilah berdansa. Tiba tiba saja Putri Amerilya berteriak kesakitan kemudian keluar darah dari telinganya." ucap Pangeran Luxe dengan nafas tersengal sengal.
Yang Mulia Raja Azvago dan Ratu Zivaya langsung menghentikan dansa mereka, keduanya melihat ke arah singgasana dan menemukan Putri Amerilya sedang kesakitan sembari terus menutup kedua telinganya. Karna sangat khawatir dengan kondisi sang putri, Raja Azvago berlari naik ke atas kemudian menggendong Putri Amerilya.
"Bertahanlah putriku, mari kita pergi ke tabib sekarang juga. Pangeran Mixo tolong atur jalannya pesta ini, setelah dansa berakhir beritahukan pada seluruh tamu undangan bahwa acara selesai dan pihak Kerajaan Meztano mengucapkan terimakasih dengan tulus atas kehadiran mereka." setelah berpesan beberapa kata pada putra tertuanya, Raja Azvago langsung berlari keluar dari aula utama sembari menggendong Tuan Putri Amerilya.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.