
Malam berlalu dengan cepat, gelapnya malam kini digantikan cerah matahari yang mulai menampakkan diri. Putri Amerilya bangun lebih awal dibandingkan kedua kakak laki lakinya, padahal anak perempuan itu tidur paling akhir. Mungkin sang putri merasa tak nyaman tinggal di kediaman Duke Zidan Marques setelah mengetahui fakta sang duke menginginkan kematiannya.
"Apa yang harus aku lakukan?." tanya Putri Amerilya pada dirinya sendiri. Sang ayah tak kunjung datang, putri kecil itu tak ingin menginap lagi di sana, bahaya akan selalu menghantui jika tetap berada di kediaman Keluarga Marques.
Putri Amerilya masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan kembali menggunakan pakaian karna ia tak membawa baju ganti yang ada di dalam kereta kuda.
Putri kecil itu lebih memilih berdiam diri di dalam kamar menunggu kedua kakak laki lakinya bangun, akan lebih aman berjalan di sekitar Kediaman Duke Zidan Marques bersama dengan mereka. Duke Zidan Marques hanya menargetkan Putri Amerilya saja, itu artinya ia akan mencari kesempatan saat sang Putri benar benar sendirian. Setelah menunggu hampir setengah jam, Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe akhirnya bangun, mereka berdua melihat ke arah Putri Amerilya yang sedang duduk di pinggir tempat tidurnya.
"Kau sudah bangun adikku?." tanya Pangeran Mixo pada Putri Amerilya, sang putri kecil hanya menganggukkan kepalanya.
"Tunggulah sebentar, kami akan segera mandi dan kita akan sarapan bersama." ucap Pangeran Luxe yang masuk kedalam kamar mandi terlebih dahulu, sembari menunggu Pangeran Luxe selesai mandi, Pangeran Mixo mengajak adik perempuannya mengobrol.
"Bagaimana tidurmu semalaman, apakah nyenyak?." tanya Pangeran Mixo yang kini duduk bersebelahan dengan Putri Amerilya.
"Aku kesulitan tidur malam ini." jawab Putri Amerilya dengan raut wajah sedih.
Putri Amerilya ingin ayahnya segera datang, meski ada kedua pangeran dan Kesatria Black Night namun sang putri merasa lebih aman jika ada ayahnya di sana. Lagipula Pangeran Mixo, Pangeran Luxe, dan Kesatria Black Night tak akan percaya bahwa Duke Zidan itu sedang mengincar nyawa putri kecil mereka itu. Putri Amerilya juga memprediksi, hubungan antata Duke Zidan Marques dan Putri Haru hanya diketahui oleh beberapa orang saja.
"Apa kau merasa tak nyaman? Tuan Duke Zidan yang sangat baik pada kita semua." ucap Pangeran Mixo, pemuda itu sedang menenangkan adik perempuannya.
"Amerilya hanya ingin pulang." ucap Putri Amerilya dengan tegas, ia tak akan sudi menginap di tempat ini lagi. Hal hal yang terjadi baru baru ini pasti sudah direncanakan oleh Duke Zidan Marques, termasuk penyerangan yang dilakukan oleh para Bandit Hutan. Sangat disayangkan Putri Amerilya tak memiliki banyak bukti untuk membawanya kasus ini ke pengadilan Kerajaan Meztano.
"Kita akan segera pulang, jangan bilang kau merindukan ayah?." ucap Pangeran Mixo sembari meledek Putri Amerilya yang berada di sebelahnya itu.
Pangeran Luxe keluar dari kamar mandi, kini giliran Pangeran Mixo yang harus membersihkan dirinya. Di sisi lain saat ini Raja Azvago dan Kesatria White Rose sudah sampai di wilayah kekuasaan Duke Marques, para penjaga perbatasan menyambut kedatangan sang raja dengan penuh hormat. Para penjaga perbatasan sedikit merasa heran, mengapa Raja Azvago tiba tiba datang ke wilayah mereka tanpa pemberitahuan apapun, mungkinkah sang raja datang untuk menjemput putra dan putrinya?.
"Selamat datang di wilayah Duke Marques, kami menyambut Kedatangan Yang Mulia Raja Azvago dan Kesatria White Rose." ucap para penjaga perbatasan, mereka meminta beberapa prajurit lain untuk membukakan gerbang agar rombongan Kerajaan Meztano bisa masuk kedalam.
"Trimakasih atas sambutannya, maaf karna kami datang secara tiba tiba." ucap Raja Azvago yang langsung masuk kedalam di susul Kesatria White Rose.
Dalam perjalanan menuju Kediaman Duke Zidan Marques, perasaan Raja Azvago sangat khawatir bagaimana jika Duke Zidan Marques sudah mengambil sebuah tindakan untuk mencelakai putri kesayangannya. Jangan sampai hal buruk menimpa Putri Amerilya, setelah sekian lama menunggu dan melihat kematian beberapa putrinya, kini Raja Azvago memiliki seorang putri yang dapat bertahan setelah terkena kutukan.
Di sisi lain Duke Zidan Marques meminta beberapa pelayan untuk memanggil rombongan Kerajaan Meztano yang masih beristirahat di kamar mereka untuk datang ke ruang makan, ini saat yang tepat untuk sarapan.
"Panggil mereka semua untuk sarapan bersama anggota Keluarga Duke Marques, ini jamuan terakhir sebelum mereka kembali ke Kerajaan Meztano." ucap Duke Zidan Marques dengan tatapan dingin dan nada bicara datar.
"Baik, kami akan segera meminta mereka untuk datang." ucap beberapa pelayan yang langsung pergi ke beberapa kamar.
Duke Zidan Marques tersenyum miring, entah apa yang telah direncanakan oleh pria itu. Sang duke berjalan menuju dapur, ia melihat apakah koki sudah menyiapkan semua makanan dengan baik.
"Semua persiapannya sudah selesai?." tanya Duke Zidan Marques pada beberapa koki yang masih sibuk menata makanan di atas piring.
"Sebentar lagi semua akan siap untuk dihidangkan." ucap salah satu koki Kediaman Duke Zidan Marques.
"Mengapa kalian tak menambahkan buah ceri di atas puding milik sang putri?. Apakah kalian tak tau bahwa Putri Amerilya sangat menyukai buah ceri!!." bentak Duke Zidan Marques pada para kokinya itu. Mendengar perkataan sang duke, para koki merasa panik mereka berlari menuju gudang es untuk melihat apakah ada buah ceri yang disimpan di sana.
Setelah para koki itu pergi, Duke Zidan Marques menaburkan sebuah bubuk berwarna putih ke makanan semua orang kecuali miliknya dan Putri Amerilya. Setelah selesai melakukan hal itu ia langsung pergi dari dapur tanpa menunggu para koki kembali, jika rencananya sampai gagal ia bisa menyalahkan par koki Kediaman Duke Marques atas kelalaian mereka. Sepertinya Putri Amerilya akan masuk dalam masalah yang cukup besar, semoga gadis kecil itu baik baik saja.
Tok tok tok.
Bunyi pintu kamar kedua pangeran yang diketuk oleh seorang pelayan, Pangeran Luxe membukakan pintu kamar dan melihat siapa yang datang.
"Salam saya pada pangeran, Duke Zidan Marques meminta anda dan yang lain untuk datang ke ruang makan. Sang duke mengundang kalian untuk jamuan pagi ini, tuan duke berharap kalian segera datang." ucap pelayan itu dengan sangat sopan.
"Kami akan segera pergi kesana, trimakasih sudah menyampaikan pesan dari Tuan Duke." balas Pangeran Luxe dengan ramah.
"Saya permisi terlebih dahulu." ucap pelayan itu yang langsung pergi dari hadapan Pangeran Luxe, pipi sang pelayan memerah karna melihat wajah tampan dari Pangeran Luxe.
"Haruskah kita pergi ke sana?." tanya Putri Amerilya dengan wajah murung, ia khawatir Duke Zidan Marques meminta seorang pelayan untuk memasukkan racun kedalam makanannya.
"Kita harus menghormati Duke Zidan Marques, bagaimanapun beliau telah menyelamatkan kita semua dari bandit hutan." ucap Pangeran Mixo yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pangeran Mixo merasa heran dengan sikap adik perempuannya hari ini, biasanya ia sangat senang menghadiri sebuah jamuan.
Saat di Kediaman Duke Elister, Putri Amerilya terlihat sangat senang dan juga ceria. Sang Putri bisa tertidur dengan nyenyak dan datang ke ruang makan dengan tepat waktu. Namun anehnya saat berada di Kediaman Duke Marques, Putri Amerilya terlihat sangat murung ia kesulitan untuk tidur dan tak memiliki nafsu makan. Apakah ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh putri kecil mereka itu, Pangeran Mixo sangat ingin tau alasan dibalik semua itu.
"Aku masih mengantuk." ucap Putri Amerilya, ia mencari sebuah alasan agat bisa tetap di kamar.
"Kita akan segera pulang ke Istana Kerajaan Meztano, lebih baik kau makan untuk mengisi tenaga mu." ucap Pangeran Luxe, bagaimana jika adik perempuannya itu merasa kelaparan saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Pangeran Mixo, Pangeran Luxe, dan Putri Amerilya keluar dari dalam kamar. Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan Kediaman Duke Zidan Marques, di dalam ruang makan sudah ada anggota Keluarga Duke Marques dan Kesatria Black Night yang baru saja datang beberapa saat yang lalu.
"Mengapa mereka sangat lama?." ucap Arges Marques, sepertinya pemuda itu masih sangat kesal atas kejadian yang menimpa Putri Amerilya malam tadi. Arges Marques merasa dipermalukan oleh seorang anak perempuan yang masih sangat kecil.
"Bersabarlah putraku, mereka dalam perjalanan menuju ruang makan." ucap Nyonya Riana Marques, ia tau putra pertamanya itu menyimpan kekesalan pada sang putri kecil.
Tak lama setelahnya terdengar suara seorang prajurit yang mengumumkan kedatangan Pangeran Mixo, Pangeran Luxe, dan Putri Amerilya. Ketiganya masuk ke dalam ruang makan dan meminta maaf karna membuat yang lain menunggu lama, mereka duduk di kursi yang telah disediakan.
"Silahkan dinikmati makanan yang sudah di masak dengan susah payah oleh koki kami." ucap Duke Zidan Marques dengan nada bicara datar.
Semua orang mulai mengambil makanan yang ada di hadapan mereka kecuali Putri Amerilya, anak itu masih diam dengan perasaan cemas yang semakin menjadi jadi.
"Mengapa anda tak mengambil sesuatu?. Mungkinkah anda tak menyukai makanan yang telah disajikan oleh koki Kediaman Duke Marques ini?." tanya Duke Zidan itu pada Putri Amerilya, nada bicara sang duke terdengar sangar ramah. Mendengarnya saja membuat tubuh Putri Amerilya merinding.
"Ah maaf, mungkin adik saya merasa kurang enak badan karna tak bisa tidur semalaman." ucap Pangeran Mixo yang menjadi juru bicara adik perempuannya itu.
"Makanlah puding ini, setidaknya anda harus memakan sesuatu Tuan Putri Amerilya." ucap Nyonya Riana Marques, wanita itu memberikan sepiring puding dengan topping buah ceri segar di atasnya.
Mau tak mau Putri Amerilya menerima pemberian Nyonya Riana Marques, wanita itu telah membantunya kabur tadi malam karna itulah Putri Amerilya merasa tak enak hati. Akhirnya dengan terpaksa sang putri menyendok puding itu dan ia masukkan kedalam mulut kecilnya, Putri Amerilya berharap ia tak akan mati hanya karna memakan punding saja.
Saat Putri Amerilya menikmati puding cerinya, ia merasa ada yang aneh karna suasana di ruang makan menjadi hening. Tan ada suara dentingan sendok ataupun suara seseorang yang sedang mengunyah makanan, akhirnya sang putri mengangkat kepala dan melihat kesekitar.
"Apa yang sedang terjadi!!." triak Putri Amerilya, ia terkejut melihat semua orang pingsan kecuali dirinya dan Duke Zidan Marques.
"Sepertinya mereka semua sedang tertidur pulas." ucap Duke Zidan Marques dengan senyuman yang mengerikan.
Dengan segera Putri Amerilya turun dari kursi tempatnya duduk dan berlari keluar dari ruang makan. Ia harus bertemu dengan seorang prajurit ataupun pelayan Kediaman Duke Marques, namun di sepanjang jalan ia tak bertemu dengan siapapun. Di sisi lain Duke Zidan Marques masih mengejar putri kecil itu, ia tak mengira bahwa Putri Amerilya memiliki respon yang bagus saat situasi buruk sedang terjadi.
"Berhentilah bocah nakal, jangan bermain kejar kejaran dengan saya!!." triak Duke Zidan Marques dari arah belakang.
Putri Amerilya terus berlari, ia harus menghindari pria gila itu jika ingin tetap hidup. Putri Amerilya ingin kembali ke kamar dan mengambil pedangnya yang ada di dalam sana, namun situasi sangat tak memungkinkan karna Duke Zidan Marques bisa mendobrak pintu kamar itu. Putri Amerilya terus berlarian di sekitarnya Kediaman Duke Marques hingga sampai di gerbang keluar masuk kediaman itu.
"Berhentilah di situ, kau tak akan bisa keluar dari tempat ini secara hidup hidup." ucap Duke Zidan Marques dengan senyum penuh kemenangan.
Putri Amerilya berusaha membuka gerbang utama Kediaman Duke Marques, namun tubuh mungilnya tak dapat melakukan apapun. Duke Zidan Marques semakin dekat dengan Putri Amerilya, semuanya menjadi buruk karna sang putri tak memiliki pedang.
"Tolong siapapun tolong saya!!!." triak Putri Amerilya dengan sangat keras, ia berharap ada seseorang di luar gerbang utama Kediaman Duke Marques yang mendengar suara teriakannya itu.
"Diamlah!!." bentak Duke Zidan Marques pada putri kecil itu.
"Saya tak memiliki kesalahan apapun pada anda, hal hal yang terjadi di masa lalu adalah kesalahan anda sendiri." ucap Putri Amerilya dengan sorot kata kesal, jika ia tak bisa kabur dari sana artinya ia harus melawan Duke Zidan Marques sendirian. Kali ini Putri Amerilya hanya bisa mempertaruhkan nyawanya saja.
"Aku akan membunuhmu." ucap Duke Zidan Marques, pria itu menodongkan sebuah pedang pada Putri Amerilya.
Putri Amerilya sedang berfikir keras, apa yang bisa ia lakukan untuk keluar dalam situasi yang sangat berbahaya ini. Putri Amerilya ingat dengan Pedang Red Moon miliknya, sebuah pedang berwarna merah dengan aura panas yang sangat luar biasa, pedang itu senjata Putri Amerilya dalam kehidupan sebelumnya.
"Red Moon datanglah, saya membutuhkan bantuan mu." triak Putri Amerilya dengan sangat kencang.
Tiba tiba saja langit berubah menjadi gelap di sekitar wilayah Kekuasaan Duke Zidan Marques, para penduduk sekitar khawatir akan terjadi badai besar hari ini. Namun tiba tiba sebuah kilatan cahaya menyambar Kediaman Duke Marques, kini di tangan kecil Putri Amerilya sudah ada sebilah pedang berwarna merah dengan tingkatan Kaisar.
"Dari mana kau mendapatkan pedang itu?." tanya Duke Zidan Marques dengan tatapan melotot, ia yakin bahwa Putri Amerilya tak membawa senjata apapun.
"Anda tak perlu mengetahuinya, saya akan tetap hidup meski harus melawan anda." ucap Putri Amerilya, anak itu langsung menyerang Duke Zidan Marques dengan kecepatan tinggi.
Duke Zidan Marques sebisa mungkin menghindari serangan dari Putri Amerilya, gadis itu seorang kesatria pedang yang cukup handal dan membuat Duke Zidan Marques terkesan.
"Jika kau ingin selamat, kau harus berjanji satu hal pada ku." ucap Duke Zidan Marques ditengah tengah pertarungan mereka berdua.
Putri Amerilya hanya diam tak membalas apapun, ia tak ingin mendengar suara jelek dari Duke Zidan Marques yang membuat telinganya sakit. Putri Amerilya menambah ketajaman serangannya agat pertarungan ini segera berakhir.
"Menikahlah denganku ketika kau sudah dewasa." ucap Duke Zidan Marques yang membuat Putri Amerilya terkejut bukan main. Saat ini ia masih berusia dua tahun lebih dan ia harus menikah dengan pria yang saat ini sudah memiliki tiga anak?.
"Anda sudah tidur dengan tenang di dalam tanah saat saya sudah dewasa." jawab Putri Amerilya dengan kata kata tajam, anak perempuan itu merasa jijik dengan sikap sang duke.
Hai semuanya, author up lagi nih novel Putri Amerilya. Gimana kabar kalian semua, semoga selalu diberi kesehatan. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share ke temen temen kalian.