
Delapan orang penduduk di wilayah kekuasaan Duke Marques masuk kedalam ruang persidangan, delapan orang itu menatap penuh kebencian ke arah Duke Zidan Marques yang telah merusak hidup mereka. Enam dari gadis yang telah dihamili sang duke empat diantaranya tak menggugurkan kandungan mereka, keempat wanita itu membawa darah daging sang duke ke ruang persidangan agar semua orang tau sekotor apa Duke Zidan Marques itu.
"Terimakasih telah datang memenuhi undangan dari saya, di sini saya akan menuntut keadilan untuk kalian semua. Katakan saja apa yang ingin kalian katakan karna pihak Kerajaan Meztano akan melindungi kalian." ucap Putri Amerilya dengan sangat berwibawa, para penduduk juga harus mendapatkan hak mereka.
"Kami yang seharusnya mengucapkan banyak terimakasih pada Tuan Putri Amerilya, kami pernah mengajukan gugatan pada beberapa pengadilan yang ada di Kerajaan Meztano akan tatapi gugatan kami selalu ditolak. Sempat ada penyelidikan beberapa tahun yang lalu dan secara mendadak dihentikan tanpa alasan yang jelas." ucap seorang gadis dengan sebuah senyuman yang ia paksa.
Duke Zidan Marques semakin bingung karna hampir semua kesalahan yang telah ia lakukan di bongkar oleh Putri Amerilya, jika sang putri bisa membuktikan bahwa semua tuntutannya itu benar, habis sudah riwayat sang duke karna tak akan ada yang bisa membantunya lagi.
"Ayah tak mungkin meniduri wanita biasa biasa saja seperti mereka, lagipula ayah hanya mencintai ibu." ucap Arges Marques, pemuda itu masih sangat keras kepala untuk membantu ayahnya terbebas dari segala gugatan.
"Mengapa Tuan Muda Arges Marques sangat membela Duke Zidan Marques, sedangkan Tuan Eren Marques nampak senang melihat ayahnya sedang dalam kesulitan?." tanya Putri Amerilya yang dapat melihat dengan jelas perbedaan ekspresi Arges Marques dan Eren Marques.
Sebagai seorang anak dari istri kedua sang duke tentu Eren Marques mengalami banyak ketidakadilan saat tinggal di kediaman Duke Marques. Semua orang juga tau bahwa Eren Marques sering dibanding bandingkan dengan kakak pertamanya, Eren Marques juga beberapa kali melihat bagaimana sang ayah memperlakukan ibu kandungnya dengan kejam. Sudah sangat lama Eren Marques menantikan jatuhnya kepemimpinan Keluarga Marques yang dikuasai oleh ayahnya itu, masih banyak keturunan Keluarga Marques muri yang berhak menjadi pemimpin.
"Saya hanya bersikap sebagaimana saya harus bersikap di sebuah persidangan, ada aturan dimana semua saksi, korban, pelaku, dan pembela harus mendapatkan izin dari Raja yang memimpin Kerajaan Meztano untuk mengungkapkan apa yang ingin mereka katakan." jawab Eren Marques dengan sangat dewasa, ia benar benar memiliki sifat bertolakbelakang dengan Arges Marques.
"Saya merasa senang karna Anda mengingat aturan itu Tuan Muda Eren Marques." ucap Raja Azvago dengan senyuman hangat yang tunjukkan pada pemuda itu.
"Saya mewakili para korban untuk meminta izin pada Yang Mulia Raja Azvago agar mereka dapat menyampaikan semua keluhan yang telah mereka pendam selama ini." ucap Putri Amerilya yang beralih menjadi juru bicara para korban.
"Saya persilahkan untuk kedelapan korban mengatakan apapun yang ingin kalian katakan." ucap Yang Mulia Raja Azvago.
Kedelapan korban itu saling bertatap tatapan satu sama lain, mungkin mereka masih merasa takut jika beberapa anak dari Keluarga Marques akan membalas perbuatan mereka hari ini, namun mereka juga mengingat pengorbanan dari Tuan Putri Amerilya agar mereka bisa mendapat keadilan pastilah tak mudah. Karna hal itu beberapa orang diantara delapan korban tersebut mulai mengungkapkan fakta fakta yang lebih mengejutkan lagi.
"Saya memiliki dua orang putra dari hubungan saya dengan Tuan Duke Zidan Marques, satu tahun yang lalu Tuan Duke mengunjungi saya dan membunuh kedua putra saya. Saat itu saya tak bisa melakukan apapun karna Tuan Duke membuat saya pingsan." ucap seorang wanita muda dengan air mata berlinang di pipinya, ia tak merasa keberatan merawat kedua anak itu tanpa dinafkahi oleh Duke Zidan Marques akan tetapi sang duke terlalu kejam untuk membiarkan kedua anak itu tetap hidup.
"Sebelum melakukan tindakan tak senonoh pada saya, Tuan Duke Zidan Marques telah membunuh orang tua saya karna mereka berdua menghalangi Tuan Duke masuk ke rumah. Saat itu banyak penduduk yang mendengar jeritan saya namun mereka tak berani datang membantu, beberapa gadis lain di desa saya mengalami hal yang sama." ucap seorang gadis yang masih sangat muda, mungkin ia saat ini berusia sembilan belas tahun.
"Korupsi yang dikatakan oleh Tuan Putri Amerilya benar benar terjadi di wilayah kekuasaan Duke Marques. Enam tahun terakhir penduduk tak pernah mendapat jatah pangan saat musim kemarau datang, saat beberapa kepala desa menanyakan tentang hal ini Tuan Duke Zidan Marques hanya berkata belum mendapat bantuan dari pihak Kerajaan Meztano." ucap seorang wanita paruh baya, ia adalah istri dari seorang pria yang dibunuh oleh Duke Zidan Marques dengan sangat kejam.
"Beberapa panti asuhan yang ada di wilayah Duke Marques terbengkalai, untung saja sang pengurus dan anak anak panti dipindahkan ke wilayah kekuasaan Duke Elister sehingga mereka mendapat perawatan dan perlakuan yang baik di sana. Kami penduduk di wilayah Duke Marques sudah sangat menderita selama ini, kami dipaksa bungkam oleh sang duke saat beberapa tim investigasi dari Kerajaan Meztano melakukan pengecekan. Banyak lansia yang mati kelaparan ataupun kedinginan karna tak mendapat makanan serta selimut saat musim dingin datang, kami sudah cukup menderita Yang Mulia Raja Azvago." ucap seorang wanita paruh baya yang lain dengan air mata yang mengalir dengan deras, ia merasa sedih karna kehilangan sang suami dan beberapa tetangganya karna keserakahan dari Duke Zidan Marques.
"Lalu bagaimana bisa keempat wanita muda yang ada di sana menyelamatkan anak anak mereka?." tanya Raja Azvago dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.
"Kami pindah ke wilayah lain saat ingin melahirkan karna kami memiliki saudara di sana, setelah selesai melahirkan anak anak kami akan dititipkan di rumah saudara masing masing. Seandainya kami bisa memilih maka kami akan lebih senang menjadi bagian dari penduduk Tuan Duke Elister." ucap wanita muda itu dengan tatapan penuh kemarahan. Betapa malangnya ia dan gadis lain karna harus dipimpin oleh Duke yang sangat bejat dan tak manusiawi.
"Mungkin itu saja yang ingin diungkap oleh mereka semua, saya harap Yang Mulia Raja Azvago ataupun pihak lain tak menanyakan hal hal yang dapat mengingatkan mereka tentang kejadian kelam itu." ucap Putri Amerilya yang kembali berbicara sebagai perwakilan dari kedelapan korban.
Semua mentri dan anggota Keluarga Kerajaan Meztano serta beberapa penduduk yang kini duduk sebagai saksi dalam jalannya persidangan hari ini merasa kagum dengan sifat, ketegasan, ketenangan, serta kepintaran dari Tuan Putri Amerilya. Mungkin putri kec itu adalah jenius dari para jenius yang pernah terlahir di wilayah Kerajaan Meztano, entah seberapa menakjubkan nanti ketika sang putri melakukan tes bakat.
Beberapa tim penyelidik telah selesai mencocokkan pengeluaran kas Kerajaan Meztano untuk wilayah Duke Zidan Marques dan semua isi di dalam gulungan itu sangat akurat. Darimana seorang anak kecil berusia dua tahun mengerti masalah masalah keuangan yang sangat rumit seperti ini, seorang ahli akutansi kerajaan saja akan kesulitan menemukan celah dalam laporan keuangan tahunan.
"Permisi Yang Mulia Raja Azvago, kami tim penyelidik telah selesai mencocokkan semua datang dengan dua gulungan kertas dari Putri Amerilya. Kami tim penyelidik khusus dari Kerajaan Meztano menemukan beberapa kejanggalan dari catatan anggaran pengeluaran milik Duke Zidan Marques, dalam sebuah gulungan kertas dari Putri Amerilya terdapat sebuah catatan bahwa uang yang digelapkan oleh sang duke digunakan untuk bersenang senang di rumah bordil." ucap seorang anggota tim penyelidik khusus dengan raut wajah kesal yang tak bisa ia sembunyikan. Bagaimana mereka bisa kecolongan seperti ini, dilain hari mereka harus lebih berhati hati lagi.
"Maaf Yang Mulia Raja Azvago, ayah pergi ke rumah bordil menggunakan uangnya sendiri." ucap Arges Marques secara spontan, ayahnya memilikinya harta yang sangat berlimpah dan tak mungkin menggunakan anggaran dari Kerajaan Meztano hanya untuk bersenang senang saja.
"Jadi Anda tau jika Tuan Duke Zidan Marques sering pergi ke rumah bordil?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan terkejut.
"Aa...saya mengetahui hal itu." jawab Arges Marques dengan suara terbata bata.
"Lalu Anda hanya diam saja melihat ayah anda melakukan hal yang salah?. Nyonya Riana Marques, Anda harus menampar putra Anda sekarang juga." ucap Putri Amerilya yang memberikan perintah agar Nyonya Riana Marques menampar Arges Marques.
Nyonya Riana Marques tampak kebingungan, haruskan ia melaksanakan perintah dari Putri Amerilya untuk menampar anak pertamanya itu.
"Tampar sekarang sebelum dia tumbuh menjadi laki laki brengsek seperti ayahnya!." triak Putri Amerilya dengan cukup kencang dan mengagetkan beberapa orang.
Plak, satu tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Arges Marques. Nyonya Riana Marques memilih mendengar perintah dari Putri Amerilya karna apa yang dikatakan putri kecil itu sebuah kebenaran, kemungkinan besar Arges Marques akan menjadi pria jahat seperti ayahnya jika tak mendapat pendidikan yang lebih tegas lagi.
"Trimakasih telah mengingatkan tugas saya sebagai seorang ibu." ucap Nyonya Riana Marques.
"Saya harap Tuan Muda Arges Marques bisa mengerti beberapa kesalahan yang telah anda lakukan." jawab Putri Amerilya dengan raut wajah datar. Sang putri kembali duduk di tempatnya, ia akan mengawasi jalannya pengadilan hari ini.
Pengadilan Kerajaan Meztano terus berlangsung hingga hari mulai sore, kini saatnya Yang Mulia Raja Artur dan beberapa mentri berunding untuk menentukan hukuman yang tepat untuk Duke Zidan Marques. Semua orang menunggu dengan tegang, kira kira hukuman ringan atau hukuman berat yang akan diterima Duke Zidan Marques.
Saat Raja Azvago dan para mentri sedang berunding, Putri Amerilya melihat gelagat aneh dari Arges Marques entah apa yang ingin dilakukan oleh pemuda itu. Putri Amerilya melihat Arges Marques secara perlahan mendekati ke arah Pangeran Azxo dari arah belakang, Putri Amerilya menatap ke arah Kesatria Black Night yang sedang berjaga di barisan belakang para saksi.
Dengan sangat jelas Putri Amerilya melihat Arges Marques mengeluarkan sebuah belati dari balik baju yang ia gunakan. Dengan segera Putri Amerilya turun dari kursinya, mengambil sebuah pedang dari tangan seorang prajurit dan mengikis belati milik Arges Marques. Suara dentingan antara sebuah pedang dan sebilah belati mengejutkan semua orang, Pangeran Azxo langsung menoleh kebelakang dan melihat adik kecilnya berusaha melawan Arges Marques.
"Tangkap Tuan Muda Arges Marques!!." triak Pangeran Luxe dan Pangeran Mixo secara bersamaan. Dengan sigap beberapa anggota Kesatria Black Night menangkap Arges Marques dan menyita belati milik pemuda itu.
"Argh sialan kau selalu menggagalkan seluruh rencana ku. Keluarga Marques akan hancur tanpa ayah!!." bentak Arges Marques pada Putri Amerilya. Sang putri menatap tajam ke arah pemuda gila itu, Keluarga Marques akan hancur jika tetap berada di genggaman Duke Zidan Marques.
Sejak sarapan tadi Putri Amerilya telah menahan kekesalannya, dan sekarang anak perempuan itu kehilangan semua kesabaran yang ia miliki. Putri Amerilya menggenggam tangannya dengan sangat kuat, ia berjalan mendekat ke arah Arges Marques yang sedang dipegangi oleh anggota Kesatria Black Night. Dengan semua kemarahan dan kekesalan yang ia pendam, Putri Amerilya memukul perut Arges Marques dengan keras hingga pemuda itu memuntahkan darah segar.
"Saya sudah sangat sabar menghadapi sikap Anda, saya tau anda juga terlibat dalam beberapa rencana jahat dari ayah anda. Tadinya saya ingin memberikan Anda kesempatan kedua agar bisa memperbaiki kesalahan Anda, namun semua itu tak perlu saya lakukan sekarang. Saya Putri Amerilya mengajukan tuntutan pada Tuan Muda Arges Marques." ucap Putri Amerilya dengan amarah yang meluap luap.
Hai semuanya author up lagi novel Putri Amerilya. Buat Novel Ratu Iblis upnya nanti malem ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.