PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Membuat Rencana


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? besok acara ulang tahun Putri Amerilya sudah dimulai dan sekarang ada masalah sebesar ini?." tanya Ratu Zivaya, ia tak ingin pesta ulang tahun Putri Amerilya menjadi hancur karna ulah anggota Keluarga Marques Montiqu.


"Lebih baik untuk saat ini kita persikap seperti tak mengetahui apapun, tempatkan beberapa mata mata di sekitar toko terbengkalai itu. Saat para prajurit dari Kediaman Keluarga Marques Montiqu lengah kita harus segera menangkap mereka dan menyimpan semua bubuk peledak itu di tempat lain." ucap Putri Amerilya yang hanya memiliki satu saran saja untuk masalah kali ini. Jika sampai ada satu prajurit dari Kediaman Marques Montiqu yang kabur maka nyawa banyak orang akan dipertaruhkan.


"Jangan sampai meninggalkan satu prajurit dari pihak musuh." sambung Pangeran Zingo dengan nada bicara kesal.


"Apakah ada sebuah barang ataupun benda sihir yang dapat menyimpan sesuatu dalam jumlah besar? jika ada maka rencana kita akan berjalan dengan lancar." tanya Putri Amerilya yang belum mengetahui benda benda sihir macam apa yang ada di era sekarang ini.


"Maksud mu seperti cincin dimensi? ayah sedang memakainya saat ini." jawab Yang Mulia Raja Azvago sembari menunjukkan sebuah cincin dengan batu permata berwarna biru tua yang sedang ia pakai. Cincin dimensi memiliki harga yang cukup tinggi, beberapa keluarga bangsawan merasa enggan untuk membelinya karna hanya akan membuang buang uang.


Cincin dimensi dengan warna hitam dan dihiasi batu permata biru milik Yang Mulia Raja Azvago merupakan hadiah ulang tahun dari mendiang ayahnya, karna itulah sang raja selalu memakai cincin itu kemanapun ia pergi.


"Apakah bubuk peledak itu boleh di simpan di delam cincin milik ayah untuk sementara waktu?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan polos, ia tak tau jika cincin tersebut sangat berharga untuk ayahnya.


Raja Azvago diam dalam waktu yang cukup lama, cincin dimensi miliknya memang bisa menyimpan barang apapun tanpa ada batasan selama itu benda mati. Saat ini sang raja hanya khawatir jika tiba tiba bubuk peledak itu aktif secara tidak sengaja dan merusak cincin yang dihadiahkan oleh mendiang ayahnya. Pangeran Zingo mengerti apa yang sedang difikirkan oleh kakaknya itu, ia sangat yakin bahwa sang kakak tak akan membiarkan cincin itu dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan bubuk peledak meski putri kesayangannya sendiri yang meminta.


"Jangan memaksa ayah mu untuk melakukan hal itu keponakan ku, cincin dimensi itu sangat berharga bagi ayah mu." ucap Pangeran Zingo, ia mencoba untuk memberi pengertian pada Putri Amerilya agar tak memaksakan kehendaknya.


"Baiklah jika begitu Amerilya tak akan memaksa ayah. Sepertinya hanya itu saran yang Amerilya miliki, jika kalian punya saran lain silahkan diutarakan saja. Maaf Amerilya harus segera kembali ke istana putri karna hari sudah cukup siang dan ini waktunya untuk makan siang." ucap Putri Amerilya yang meminta tolong pada ibunya untuk membukakan pintu ruang kerja sang ayah, setelah pintu terbuka dengan lebar Putri Amerilya langsung keluar begitu saja tanpa mengucapkan apapun pada ayah, ibu, nenek, ataupun pamannya.


Saat dalam perjalanan kembali menuju istana putri, Putri Amerilya memikirkan siapa lagi orang yang memiliki cincin dimensi seperti milik ayahnya itu. Percuma jika mereka berhasil menangkap semua prajurit dari Kediaman Keluarga Marques Montiqu namun tak menemukan sebuah tempat yang aman untuk menyimpan semua bubuk peledak itu. Karna terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sang putri sampai tak sadar bahwa saat ini ia sudah berjalan keluar dari istana utama, para prajurit yang sedang berjaga di depan pintu merasa bingung dengan tingkah sang putri.


"Apa yang sedang difikirkan oleh Putri Amerilya? mengapa ia terlihat kebingungan seperti itu?." tanya salah seorang prajurit dari istana utama. Anak seumuran Putri Amerilya seharusnya tak memikirkan hal hal yang terlalu berat.


"Menjadi seorang keluarga kerajaan bukanlah hal yang mudah, kita akan dituntut untuk menjadi dewasa dalam hal berfikir." jawab prajurit yang lain.


Putri Amerilya terus berjalan hingga ia sampai di halaman depan istana putri, kebetulan saat itu Lilian sedang menyapu halaman depan sembari menunggu kepulangan Putri Amerilya dari toko gaun. Lilian melihat ke arah Putri Amerilya yang sedang berjalan seperti orang linglung, Lilian tak tau apa yang terjadi saat Putri Amerilya pergi ke toko gaun bersama dengan ibu dan nenek putri kecil itu.


"Hati hati Tuan Putri Amerilya, Anda bisa jatuh jika berjalan sambil melamun seperti itu." ucap Lilian yang langsung menegur Putri Amerilya.


"Ah maaf, saat ini saya sedang memikirkan sesuatu." jawab Putri Amerilya dengan senyuman polos seperti ia tak melakukan kesalahan apapun.


"Mari masuk ke dalam istana, saya akan meminta pelayan yang lain untuk berkumpul dan membantu Putri Amerilya untuk menyelesaikan masalah yang sedang Anda hadapi." ucap Lilian, pelayan itu menarik tangan Putri Amerilya dengan pelan kemudian membawanya masuk ke dalam istana putri.


Lilian meminta Putri Amerilya untuk menunggu di perpustakaan sedangkan ia pergi untuk memanggil rekannya yang lain. Sembari menunggu kedatangan sepuluh pelayan setianya itu Putri Amerilya mengambil beberapa buku yang ada di rak kemudian membacanya. Saat ini Putri Amerilya sedang membaca sebuah buku yang berjudul serigala diantara kawanan domba, buku itu sangat menarik perhatian Putri Amerilya, meskipun ceritanya cenderung terkesan kekanak-kanakan namun banyak hal yang bisa dipelajari dari dalam buku tersebut.


"Mungkinkah masih ada penghianat yang belum diketahui identitasnya?." tanya Putri Amerilya pada dirinya sendiri. Siapa yang berkemungkinan besar menghianati Kerajaan Meztano untuk membantu Keluarga Marques Montiqu.


Ada beberapa hal yang mengganjal di hati Putri Amerilya namun ia belum terlalu yakin dengan hal itu. Satu hal yang perlu dipertanyakan mengenai kejadian hari ini, bagaimana cara prajurit Kediaman Keluarga Marques Montiqu masuk ke dalam wilayah Kerajaan Meztano tanpa meminta izin terlebih dahulu pada pihak kerajaan?. Jika bukan karna bantuan dari orang dalam maka mereka tak akan bisa menyusup masuk seperti ini.


"Semua anggota Keluarga Duke Marques telah mati lalu siapa orang yang membantu mereka untuk menyusup?." tanya Putri Amerilya, sang putri sedang berfikir dengan sangat keras dan mencoba mengingat ingat kembali kejadian satu bulan belakangan ini.


"Kediaman Duke Marques dan Kediaman Keluarga Marques Montiqu, Marques ya kedua keluarga itu memiliki hubungan darah karna berasal dari leluhur yang sama. Jadi apakah ada pekerjaan di Istana Kerajaan Meztano ini yang masih memiliki hubungan dengan Marques!." ucap Putri Amerilya yang perlu mendapatkan daftar pekerja yang ada di Istana Kerajaan Meztano ini. Sang putri tak perlu curiga pada prajurit ataupun pelayan karna mereka tak memiliki wewenang ataupun kemampuan untuk memasukkan orang asing tanpa sepengetahuan pihak Kerajaan Meztano.


Saat Putri Amerilya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri tiba tiba sepuluh pelayan setianya datang dan langsung duduk di beberapa kursi yang ada di sekitar sang putri.


"Jadi masalah apa yang sedang mengganggu fikiran Anda saat ini Tuan Putri Amerilya?." tanya Lilian dengan tatapan serius, ia belum pernah melihat putri kecil itu sampai linglung hanya karna memikirkan sebuah masalah.


"Ah bangunan itu dulunya sebuah toko barang barang antik namun pemiliknya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu sehingga toko tersebut terbengkalai seperti sekarang." ucap seorang pelayan dengan penampilan rambut berwarna putih dan mata coklat tua.


"Ada apa dengan bangunan toko itu Tuan Putri Amerilya? apakah Anda menemukan sesuatu yang mencurigakan di sana?." tanya Juylin sang pelayan dengan mata dan rambut berwarna hitam legam.


Toko terbengkalai yang sudah lama tak digunakan lagi biasanya menjadi tempat yang cocok untuk sekumpulan orang jahat bersembunyi di tambah lokasi toko tersebut cukup strategis, mungkin saja Putri Amerilya menemukan sesuatu yang tak wajar di dalam bangunan itu.


"Saat pergi bersama ibu dan nenek tadi saya sempat mencium sesuatu yang membuat pernafasan saya sedikit terhambat, karna penasaran akhirnya saya mencari darimana bau itu berasal. Di dalam bangunan toko terbengkalai terdapat puluhan ton bubuk peledak yang dijaga oleh prajurit dari Kediaman Marques Montiqu, saya sudah membicarakan hal ini pada ayah, ibu, nenek, serta paman namun kami belum menemukan solusi yang tepat untuk mengatasinya." ucap Putri Amerilya yang sedang menjelaskan betapa rumitnya masalah yang sedang ia hadapi saat ini.


"Sepertinya Kediaman Marques Montiqu merencanakan sesuatu untuk menghancurkan pesta ulang tahun Anda sekaligus meruntuhkan kekuasaan Kerajaan Meztano. Bubu peledak adalah bahan yang sangat sensitif, jika tersulut api sedikit saja maka ia akan langsung menimbulkan ledakan yang sangat besar." ucap seorang pelayan dengan penampilan rambut berwarna coklat dan mata tajam berwarna hitam legam.


"Ini masalah yang cukup rumit, memindahkan puluhan ton bubuk peledak dari tempat itu bukanlah hal yang mudah." ucap Juylin, pelayan itu merasa ada yang tidak beres.


"Saya melihat ayah memiliki cincin dimensi yang dapat digunakan untuk menyimpan puluhan ton bubuk peledak dalam satu tempat, sangat disayangkan cincin dimensi itu adalah barang berharga yang ayah miliki. Saya tak tau lagi harus mencari cincin semacam itu di mana dan berapa mahal harganya." ucap Putri Amerilya dengan binar mata yang mulai meredup. Ia tak ingin ada kekacauan saat pesta ulangtahun nya nanti.


"Tunggu sebentar, sepertinya saya memiliki benda semacam itu." ucap Lilian yang bergegas keluar dari perpustakaan dan pergi menuju kamarnya untuk mengambil barang yang dibutuhkan oleh Putri Amerilya.


Liliana mengambil sebuah kotak besi yang ada di bawah kolong tempat tidurnya kemudian pelayan itu mengeluarkan beberapa barang pribadi miliknya. Lilian memiliki beberapa barang dengan efek sihir yang berbeda, selain itu ia juga memiliki beberapa koleksi cincin dimensi dengan skala ruang yang luas. Sebenarnya siapakah Lilian itu? mengapa ia bisa memiliki barang barang mahal yang enggan di beli oleh seorang bangsawan sekalipun.


Setelah selesai memilih akhirnya Lilian mengambil sebuah cincin dimensi dengan warna merah pekat dan dua buah batu permata kecil berwarna hitam yang menjadi hiasannya. Lilian segera meletakkan kembali kotak penyimpanan barang berharganya itu di bawah kolong kasur kemudian ia langsung keluar dari kamar dan bergegas pergi menuju perpustakaan lagi.


"Ini cincin dimensi yang saya miliki, ambillah Tuan Putri Amerilya. Saya memang memiliki niatan untuk memberikan cincin ini pada Anda." ucap Lilian sembari memberikan cincin yang ia bawa pada Putri Amerilya.


"Bukankah harganya sangat mahal? bagaimana saya bisa menerima benda semahal ini." ucap Putri Amerilya yang merasa tak enak hati jika harus menerima cincin pemberian dari Lilian.


"Ambillah Tuan Putri Amerilya, anggap saja ini hadiah ulang tahun dari saya. Jika dengan cincin ini Anda bisa membuat sebuah rencana yang lebih baik maka segeralah ambil." ucap Lilian yang memaksa Putri Amerilya untuk menerima pemberiannya itu.


Akhirnya dengan terpaksa Putri Amerilya mengambil cincin itu dari tangan Lilian kemudian menamainya di jari telunjuk. Cincin yang awalnya terlalu besar untuk Putri Amerilya tiba tiba bisa menyusut dengan sendirinya dan bisa menyesuaikan ukuran dengan si pemakai.


"Wah cincin ini sungguh ajaib." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar, sang putri terlihat sangat bahagia saat mendapatkan cincin tersebut.


"Cincin itu memang bisa menyesuaikan ukuran sesuai dengan siapa yang memakainya, jadi rencana apa yang akan Tuan Putri Amerilya buat?." tanya Lilian dengan sangat antusias, ia percaya Putri Amerilya memiliki ide serta rencana yang lebih baik daripada Raja Azvago.


"Saya akan membawa anggota Kesatria White Rose untuk pergi dengan saya ke toko terbengkalai, setelah sampai saya akan memasukkan semua bubuk peledak itu kedalam cincin dimensi dan menyimpannya untuk beberapa waktu. Saya juga ingin meminta bantuan pada kalian untuk mencari data mengenai anggota Kesatria Black Night." ucap Putri Amerilya dengan tatapan tajam, ia baru menyadari saat perjalanannya ke Kediaman Duke Elister ditemani oleh anggota Kesatria Black Night banyak kejanggalan yang terjadi. Mungkin salah satu diantara mereka adalah pengkhianatan Kerajaan Meztano.


"Untuk apa Putri Amerilya meminta data anggota Kesatria Black Night? apakah mereka melakukan pergerakan yang mencurigakan?." tanya Lilian yang tak mengerti apa yang sedang difikirkan oleh putri kecil itu.


"Kalian hanya perlu mencarinya saja, jika kecurigaan saya memang terbukti maka saya akan memberitahukan hal ini pada kalian." ucap Putri Amerilya dengan tatapan serius, untuk saat ini biarlah ia sendiri yang menyimpan kecemasannya itu.


"Baiklah kami akan menjalankan tugas dari Tuan Putri Amerilya dengan baik, jika Anda membutuhkan bantuan lain katakan saja karna kami akan selalu siap membantu Anda." ucap Lilian yang mewakili sembilan pelayan yang lain.


"Saat menjalankan misi jangan sampai Tuan Putri Amerilya terluka jika tidak kami akan langsung pergi ke wilayah Kerajaan Belgize untuk membakar Kediaman Marques Montiqu." ucap Juylin dengan tatapan serius, ia tak sedang bercanda dengan apa yang dikatakan.


"Saya akan menjaga diri dengan baik, terimakasih karna sangat perhatian dengan saya." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar. Sang putri izin untuk keluar dari perpustakaan terlebih dahulu karna ia ingin pergi menemui Anggota Kesatria White Rose yang saat ini sedang berada di markas mereka.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya. Gimana kabar kalian? jangan lupa kaga kesehatan ya guys. Follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.