
Seorang tabib Kerajaan Meztano keluar dari ruang kesehatan dan menemui Raja Ruzel yang berada di luar ruangan itu. Sang tabib membungkukkan badannya dan mulai menanyakan seputar racun yang ada di dalam tubuh Putri Arbel.
"Maaf sebelumnya, kami para tabib kesulitan untuk menangani racun yang menyebar di dalam tubuh Putri Arbel karna racun itu berasal dari luar wilayah Kerajaan Meztano. Apakah Yang Mulia Raja Ruzel tau jenis racun apa itu?." tanya salah seorang tabib dengan tatapan berani. Iya yakin apa yang menimpa Putri Arbel ada kaitannya dengan Kerajaan Belgize.
Raja Ruzel merasa ragu ketika ingin menjawab pertanyaan dari sang tabib, jelas ia tau racun apa yang tengah menyebar pada tubuh putrinya karna racun tersebut ia buat sendiri dengan sangat berhati-hati. Meski Raja Ruzel yang telah menciptakan racun tersebut namun ia tidak mengetahui bahan bahan untuk membuat penawarannya.
"Racun itu terbuat dari beberapa jenis racun hewan seperti kalajengking, ular cobra, dan racun laba laba merah." jawab Raja Ruzel, kesembuhan putri kesayangannya jauh lebih penting daripada egonya saat ini.
Sang tabib menatap curiga ke arah Raja Ruzel, mengapa ia bisa tau komponen apa saja yang ada di dalam racun itu. Mungkinkah Raja Ruzel yang telah meracuni putrinya sendiri?.
"Bagaimana Anda bisa tau dengan jelas apa saja yang terkandung di dalam racun itu padahal para alkemis masih berusaha untuk menelitinya. Jika memang Anda yang membuat racun ini maka serahkan pada kami obat penawarnya." ucap sang tabib dengan ekspresi marah. Ia tak tau apa alasan Raja Ruzel hingga meracuni putrinya sendiri seperti ini.
"Saya tidak punya penawaran tabib, karna itu saya mohon selamatkan putri saya." jawab Raja Ruzel dengan putus asa.
Sang tabib yang marah tiba tiba saja mencengkram kerah baju Raja Ruzel kemudian menatapnya dengan tajam.
"Jika Anda yang membuat racun ini saja tidak mengetahui penawarannya bagaimana dengan kami yang baru mengatasi masalah seperti ini!." bentak sang tabib.
"Saya memang bersalah, seharusnya yang terkena racun adalah Putri Amerilya bukannya putri saya sendiri." gumam Raja Ruzel dengan suara rintihan lirih.
Plak.....
Sang tabib menampar pipi sang raja dengan cukup kencang. Jadi yang sebenarnya terjadi adalah Raja Ruzel ingin meracuni Tuan Putri Amerilya namun ia salah sasaran? jika tau begini mereka pasti akan menolak permintaan Raja Ruzel untuk mengobati Putri Arbel.
"Anda kira dimana tempat Anda saat ini!. Tuan Putri Amerilya adalah satu satunya anak perempuan dari Raja Azvago dan Ratu Zivaya, beraninya Anda berfikir untuk membunuhnya dengan racun mematikan itu. Silahkan bawa putri Anda ke Kerajaan Belgize untuk mendapatkan perawatan di sana!." triak sang tabib sebagai bentuk kemarahannya terhadap perkataan Raja Ruzel.
Raja Ruzel langsung diam membisu, ia tidak berani mengatakan apapun pada sang tabib yang saat ini sedang berusaha untuk menyelamatkan nyawa putrinya. Tabib itu masuk kembali ke dalam ruang perawatan untuk mengambil beberapa tindakan atas kondisi Putri Arbel.
Dari arah belakang muncul Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe yang sedang membopong Ratu Luncia, saat kedua pangeran itu hendak masuk ke dalam tiba-tiba mereka dihentikan oleh Raja Ruzel.
"Kalian harus mengantri karna saat ini para tabib dan alkemis sedang menangani putri saya. Lagipula luka yang dialami oleh Ratu Luncia tidak terlalu parah hingga dia harus mendapatkan perawatan secepat mungkin." tegur Raja Ruzel pada kedua pangeran.
Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe saling bertatapan satu sama lain, mereka tidak mengerti dengan jalan fikiran Raja Ruzel saat ini.
"Siapa Anda hingga bisa menghalangi kami seperti ini?. Para tabib dan alkemis yang ada di dalam dibayar menggunakan uang Kerajaan Meztano bukan Kerajaan Belgize." ucap Pangeran Mixo yang hampir tertawa saat mendengar perkataan Raja Ruzel.
"Minggirlah kami ingin masuk ke dalam. Apa yang terjadi pada Putri Arbel adalah tanggung jawab Anda sebagai seorang ayah sekaligus orang yang telah meracuninya." tegas Pangeran Luxe.
Kedua pangeran itu bersikeras untuk masuk ke dalam ruang perawatan agar Ratu Luncia segera diobati namun Raja Ruzel terus menghalangi mereka. Dengan terpaksa Pangeran Mixo mendorong tubuh Raja Ruzel hingga membentur dinding dan setelah itu mereka langsung masuk ke dalam.
"Ck sialan!." decak kesal Raja Ruzel saat punggungnya terbentur dinding dengan cukup kencang. Seluruh tubuh sang raja teras sangat sakit akibat pertarungannya tadi.
Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe meletakkan tubuh Ratu Luncia di sebuah ranjang kosong yang ada di ruang kesehatan, Pangeran Mixo memanggil beberapa tabib yang saat itu masih sibuk menangani Putri Arbel.
"Beberapa dari kalian cepatlah kemari dan lihat bagaimana kondisi Ratu Luncia." perintah Pangeran Mixo.
"Maaf pangeran, saat ini kami masih menangani Putri Arbel yang sedang dalam kondisi kritis." jawab seorang tabib tanpa menoleh ke arah Pangeran Mixo.
"Periksa dan lihat kondisi Ratu Luncia sekarang juga!. Apakah perlu semua tabib yang bekerja untuk Istana Kerajaan Meztano turun tangan untuk mengobati Putri Arbel. Lagipula kondisinya bisa seperti itu karena ulah ayahnya sendiri, sedangkan Ratu Luncia menjadi seperti ini karna menyelamatkan adik adik kami dari serangan Raja Ruzel." jelas Pangeran Luxe pada para tabib dan alkemis yang ada di dalam ruangan itu.
Seorang tabib dan alkemis berjalan ke arah ranjang Ratu Luncia untuk memeriksa kondisinya. Setelah beberapa menit akhirnya sang tabib dan alkemis itu selesai melakukan pemeriksaan, untunglah luka dalam yang ada di dalam tubuh Ratu Luncia tidak terlalu parah.
"Baiklah jika begitu, kami serahkan kesembuhan Ratu Luncia pada kalian berdua. Ingat tugas kalian adalah merawat Ratu dari Kerajaan Belgize ini, untuk kesembuhan Putri Arbel biarlah menjadi urusan tabib dan alkemis yang lain." perintah Pangeran Mixo yang tidak ingin mendengar bantahan apapun.
"Baik kami akan menjalankan tugas sesuai dengan arahan dari Pangeran Mixo." ucap sang tabib dan alkemis dengan pasrah.
"Kami pergi karna ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini juga. Sampai jumpa nanti." pamit Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe. Keduanya bergegas pergi meninggalkan ruang perawatan.
Di sisi lain saat ini Pangeran Zico dan Pangeran Azxo telah mengantarkan adik perempuan mereka hingga sampai di depan pintu masuk istana putri. Sang putri kecil menawarkan pada kedua kakak laki-lakinya itu untuk masuk ke dalam akab tetapi Pangeran Zico dan Pangeran Azxo menolak.
"Kami akan kembali ke istana pangeran sekarang juta, selamat beristirahat adik." ucap Pangeran Zico sembari mencium pipi Putri Amerilya.
"Segeralah beristirahat, kau pasti sangat lelah setelah melalui semua ini. Kami permisi terlebih dahulu." ucap Pangeran Azxo yang berjalan pergi meninggalkan teras depan istana putri.
"Sampai jumpa pangeran." ucap Putri Amerilya dengan melambaikan kedua tangannya.
Putri Amerilya masuk ke dalam istana putri, ia sangat lelah dan ingin beristirahat sekarang juga. Baru saja sang putri ingin membuka pintu kamarnya, terdengar suara seseorang yang memanggil dari arah belakang. Dengan segera Putri Amerilya membalikkan badan dan menatap ke arah orang itu.
"Apakah Anda sudah puas menghancurkan keluarga saya seperti ini?." tanya Putri Bilgiz dengan tatapan penuh kemarahan. Di adalah putri kedua dari Kerajaan Belgize yang sangat jarang membuka suara ketika sedang dalam lingkup orang banyak.
Mendapat pertanyaan seperti itu tentu Putri Amerilya merasa bingung, memangnya apa yang sudah lakukan hingga menghancurkan keluarga Putri Bilgiz.
"Apa maksud Anda berkata seperti itu?." tanya Putri Amerilya dengan wajah polos.
"Berhentilah berpura pura Tuan Putri Amerilya!!. Bukankah Anda yang telah membuat rencana untuk memecah anggota Keluarga Kerajaan Belgize seperti ini?. Saat di pesta tadi saya mendengar dengan jelas bahwa ibu meminta ayah untuk turun dari singgasana Kerajaan Belgize, besar kemungkinan mereka berdua akan berpisah setelah itu." ucap Putri Bilgiz dengan luapan amarah yang sangat besar.
"Ha? Anda menyalahkan kejadian itu pada saya?." tanya Putri Amerilya untuk memastikan sekali lagi maksud perkataan Putri Bilgiz.
"Jika bukan Anda siapa lagi yang harus disalahkan, saya tau Tuan Putri Amerilya memiliki kuasa yang besar di Istana Kerajaan Meztano ini tapi bukan berarti Anda bisa melakukan semuanya dengan sesuka hati." protes Putri Bilgiz.
"Lilian tolong kemari, saya ingin beristirahat namun ada yang mengganggu waktu istirahat saya." triak Putri Amerilya memanggil salah satu pelayan setianya.
Lilian yang saat itu sudah berada di dalam kamarnya yang berada di bagian belakang istana putri langsung terbangun dan berlari keluar dari kamar untuk menghampiri Putri Amerilya. Awalnya Liliana berfikir bahwa sang putri akan menginap di istana utama karna itulah ia belum kembali, namun Putri Amerilya kembali ke istana putri saat hari sudah cukup malam.
"Ada apa Tuan Putri Amerilya?." tanya Lilian sembari menatap dengan rasa cemas.
"Tolong urus Putri Bilgiz, saya sudah lelah dengan serangkaian peristiwa yang terjadi hari ini apalagi peristiwa penyerangan secara diam-diam yang dilahirkan Raja Ruzel." keluh Putri Amerilya.
"Raja Ruzel menyerang Anda?." tanya Lilian, wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut.
"Itu benar, untunglah Ratu Luncia menghalangi serangan dari Raja Ruzel, meskipun begitu kami harus bertarung untuk mengakhiri semuanya. Sekarang saya sangat lelah dan ingin beristirahat, tolong bawa Putri Bilgiz pergi sebelum saya kehabisan kesabaran." jelas Putri Amerilya pada pelayan setianya itu.
"Baik Tuan Putri Amerilya, silahkan beristirahat dan saya akan mengurus Putri Bilgiz." jawab Lilian. Ia merasa kasihan pada Putri Amerilya yang terlihat kelelahan itu.
Putri Amerilya masuk ke dalam kamarnya, sebelum pintu benar benar tertutup Putri Bilgiz ingin menyusul masuk ke dalam akan tatapi kerah baju bagian belakangnya langsung ditarik dengan kencang oleh Lilian. Akhirnya Putri Bilgiz gagal menyusul Putri Amerilya untuk melampiaskan amarahnya.
"Mari ikut dengan saya Putri Bilgiz." ucap Lilian dengan ekspresi wajah menyeramkan. Ia menarik Putri Bilgiz untuk menjauh dari kamar tidur Putri Amerilya agar tidak menggangu waktu istirahat sang putri.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.