
Saat ini Putri Amerilya sudah berada di dalam istana putri, ia meminta pada kesepuluh pelayan setianya untuk berkumpul di dalam kamar sang putri. Putri Amerilya menatap satu satu wajah kesepuluh pelayannya itu, ia sangat yakin kejadian yang menimpa Kesatria Savalor adalah ulah mereka semua.
"Lain kali jangan lakukan hal berbahaya seperti ini hanya untukku." ucap Putri Amerilya dengan raut wajah sedih, ia sangat takut kehilangan sepuluh pelayan wanita yang sudah merawatnya sejak bayi. Mungkin juga ke-sepuluh pelayan itu ada orang pertama yang menerima kehadiran Putri Amerilya di Kerajaan Meztano.
Kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya saling bertatapan satu sama lain, mereka sangat yakin bahwa sang putri kecil tak akan mengetahui fakta mengenai hal itu dalam waktu yang cepat?. Apa saat ini Putri Amerilya sedang menguji mereka untuk menentukan apakah mereka ikut terlibat ataukah tidak?.
"Kami tak mengerti apa yang anda maksud Tuan Putri." jawab seorang pelayan berambut putih panjang dengan ekspresi lugunya.
"Sudah sewajarnya sebagai seorang pelayan kami mengkhawatirkan konsisi anda yang kami layani." ucap pelayan lain dengan cemas, pelayan itu bertingkah seolah oleh ia khawatir karna kejadian barusan bukan karna kejadian yang menimpa Kesatria Savalor.
Putri Amerilya menghela nafas pelan, anak itu ingin tertawa saat melihat akting buruk dari para pelayannya itu. Di kehidupan sebelumnya Putri Amerilya sangat senang melihat drama di televisi ataupun teater jadi ia bisa membedakan ketika orang mengeluarkan ekspresi secara natural ataukah hanya kedok menutupi sebuah kebenaran.
"Aku tau kalian yang melukai para Kesatria Savalor karna sangat kesal dengan tingkah pemimpin mereka. Amerilya merasa baik baik saja saat mendengar penghinaan itu dan Amerilya bisa membalas perbuatannya, akan tetapi Amerilya akan sangat sedih jika sampai ayah mengetahui keterlibatan kalian dan memecat kalian semua." ucap Putri Amerilya dengan mata berkaca kaca, ia tak ingin kehilangan orang orang baik yang selalu mendukungnya selama ini.
"Kami minta maaf karna membuat Tuan Putri Amerilya merasa sedih seperti ini, kami tak memikirkan akibatnya karna terlalu marah saat itu." ucap sang pelayan berambut putih yang langsung memeluk Putri Amerilya dengan erat, ia menepuk punggung anak perempuan itu pelan.
"Kami akan lebih berhati hati lagi di masa depan, setelah mengetahui hal ini kami harap Tuan Putri tak merasa takut pada kami." ucap pelayan lain dengan tatapan penuh harap.
"Amerilya sangat senang kalian begitu peduli pada anak perempuan kecil ini, tentu Amerilya tak akan takut pada kalian semua." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar. Akhirnya kesepuluh pelayan itu memeluk sang putri secara bergiliran, mereka semua merasa lega karna Putri Amerilya bisa menerima mereka apa adanya.
Karna hari sudah siang para pelayan harus pamit untuk membantu beberapa pekerjaan di istana utama, sedangkan Putri Amerilya yang merasa terlalu jenuh bila terus berada di dalam kamar memilih untuk keluar dari Istana Putri dan pergi menuju tempat latihan Kesatria White Rose. Setelah sampai di sebuah lapangan yang sangat luas, Putri Amerilya mendengar suara dentingan pedang yang saling beradu dan suara itu membuat Putri Amerilya merasa bahagia.
Kesatria Richal yang tadinya sedang fokus berlatih menyerang langsung menghentikan aktivitasnya itu dan berlari untuk menyambut kedatangan Putri Amerilya di tempat berlatih pribadi Kesatria White Rose.
"Salam hormat saya Pada Tuan Putri Amerilya." ucap Kesatria Richal dengan membungkukkan badannya.
"Salam saya pada Kesatria Richal, maaf karna mengganggu waktu latihan anda." ucap Putri Amerilya dengan senyuman canggung, ia hanya ingin melihat para kesatria berlatih dan hanya anggota Kesatria White Rose yang memiliki hubungan dekat dengan putri itu.
"Saya sangat senang karna anda datang berkunjung, jika Tuan Putri ingin melihat kami berlatih anda bisa berteduh di bawah pohon itu." ucap Kesatria Richal yang menunjuk sebuah pohon dengan ukuran yang cukup besar serta daun rimbun yang menutupi ranting rantingnya.
"Lanjutkan saja latihan anda, saya akan melihatnya dari sana." ucap sang putri yang langsung berlari menuju pohon rindang itu. Putri Amerilya duduk beralaskan rumput rumput kecil, sang putri terlihat begitu antusias melihat para anggota Kesatria White Rose berlatih.
Di sisi lain saat ini Pangeran Zingo dan Pangeran Lin datang untuk mengunjungi kakak tertua mereka yaitu Raja Azvago. Ini adalah kunjungan pertama kedua pangeran setelah acara ulang tahun Ibu Suri Sinya beberapa bulan yang lalu, Pangeran Zingo datang karna merindukan keponakannya yang cantik ia ingin melihat sejauh mana Putri Amerilya tumbuh.
Tok tok tok, suara pintu ruang kerja Raja Azvago yang diketuk oleh kedua adik laki lakinya. Karna tak mengetahui siapa yang datang akhirnya sang raja mempersilahkan tamunya masuk ke dalam, sorot mata Raja Azvago berubah menjadi datar saat ia melihat wajah Pangeran Zingo dan Pangeran Lin untuk apa kedua bocah itu datang ke Kerajaannya.
"Bagaimana kabarmu kak, sudah lama kami tak berkunjung kesini." ucap Pangeran Zingo dengan sangat santai.
"Saya baik baik saja, bagaimana dengan kalian berdua?." balas Raja Azvago dengan nada datar dan ekspresi wajah seperti ingin mengusir kedua anak laki lakinya itu.
"Kami sangat baik akan tetapi saya sangat merindukan putri kecilmu." ucap Pangeran Zingo dengan wajah berbinar binar, setelah menemui Raja Azvago yang sangat menyebalkan itu ia akan segera menuju Istana Putri untuk bertemu dengan Putri Amerilya.
"Saya juga ingin mengunjungi keponakan saya, terakhir kali saat melihatnya saya belum memperhatikan wajah putri kecilmu itu." ucap Pangeran Lin dengan senyum cengengesan. Ia juga sempat ragu jika Putri Amerilya bisa bertahan sejauh ini dan berhasil mematahkan kutukan itu.
"Jangan mengganggu putri kecilku, saat ini dia sedang beristirahat." jawab Raja Azvago dengan ketus, banyak masalah yang menghampiri putri kecilnya itu mungkin sang putri kecil butuh waktu untuk beristirahat.
Pangeran Zingo dan Pangeran Lin saling bertatapan satu sama lain mereka berdua yakin bahwa saat ini kakak laki laki mereka sedang sangat sensitif. Kedua pangeran itu memang belum mendengar kabar mengenai hal hal yang terjadi pada Putri Amerilya setelah kembali sari wilayah Duke Elister.
"Putri kecilku beberapa kali dalam bahaya, Duke Zidan Marques mengincar nyawanya saat berada di Kediaman Marques. Dua hari yg lalu ada kejadian penghinaan terhadap Putri Amerilya, pelakunya Kesatria Dominix." ucap Raja Azvago dengan raut wajah lesuh, ia sangat ingin memutuskan kerja sama antara Kerajaan Meztano dengan Kesatria Savalor namun sang raja juga mencemaskan hal hal yang mungkin saja terjadi di masa depan.
Pangeran Zingo terlihat sangat marah hingga daun telinganya berubah warna menjadi merah, keponakan yang sangat ia sayangi menjalani hidup dengan begitu berat, ia akan memukul Kesatria Dominix hingga pingsan karna berani menghina keponakannya itu serta mencekik leher Duke Zidan Marques karena telah membahayakan nyawa keponakan kesayangannya.
"Dimana Putri Amerilya sekarang?." tanya Pangeran Zingo dengan emosi yang menggebu gebu.
"Dia ada di istana putri, beberapa saat yang lalu para pelayan istana putri datang menjemput anak itu." ucap Raja Azvago.
"Aku akan pergi menemui keponakan kesayanganku terlebih dahulu, sampai jumpa Yang Mulia Raja Azvago." ucap Pangeran Zingo yang keluar dari ruang kerja kakak laki lakinya meninggalkan Pangeran Lin yang masih ada di sana. Karna Pangeran Lin belum sedekat itu dengan Putri Amerilya, ia tak merasakan amarah yang dirasakan oleh Pangeran Zingo.
Setelah kepergian adik pertamanya Raja Azvago langsung kembali duduk di kursi dan membaca beberapa berkas yang baru datang, Pangeran Lin merasa bahwa kehadirannya di sana seperti tak terlihat oleh kakak laki lakinya itu. Karna merasa kesal tak dianggap oleh Raja Azvago akhirnya Pangeran Lin keluar dari ruang kerja sang raja dan menyusul Pangeran Zingo menuju Istana Putri.
Setelah sampai di Istana Putri Pangeran Zingo bergegas masuk ke dalam untuk menemui keponakannya namun anehnya suasana terasa sangat sepi dan hanya ada para prajurit yang sedang berjaga.
"Permisi, apakah Putri Amerilya ada di dalam istana?." tanya Pangeran Zingo pada salah seorang prajurit yang berjaga.
"Beberapa saat yang lalu Tuan Putri Amerilya pergi menuju halaman tempat berlatih para kesatria." ucap prajurit itu dengan sopan.
"Trimakasih informasinya." ucap Pangeran Zingo yang langsung bergegas pergi menuju lapangan tempat berlatih para kesatria, dari arah belakang Pangeran Lin berlari untuk menyusul kakak keduanya itu untunglah Pangeran Lin dapat berlari dengan cepat.
"Kemana anda akan pergi? Istana Putri sudah terlewat." ucap Pangeran Lin dengan ekspresi bingung.
"Saya akan pergi menemui keponakan saya." jawab Pangeran Zingo dengan kata kata yang sama karna hanya itu tujuannya untuk saat ini.
Setelah sampai di sebuah lapangan yang luas mata Pangeran Zingo melihat keberbagai arah untuk menemukan keberadaan Putri Amerilya, setelah cukup lama mencari sang putri kecil akhirnya Pangeran Zingo menemukannya juga. Pangeran Zingo dan Pangeran Lin menghampiri Putri Amerilya yang sedang duduk di bawah pohon rindang sembari melihat anggota Kesatria White Rose yang sedang berlatih.
"Paman sudah mencari mu kemana mana, ternyata kau ada di sini gadis kecil." ucap Pangeran Zingo yang duduk di samping Putri Amerilya tanpa ragu ragu.
"Ah ternyata paman Zingo datang." ucap Putri Amerilya dengan ekspresi senang, anak perempuan itu berdiri dan langsung memeluk pamannya.
"Kau merindukan pamanmu yang tampan ini?." tanya Pangeran Zingo yang sedang menggoda Putri Amerilya.
"Amerilya sangat merindukan paman, bagaimana kabar yang lain?." ucap sang putri setelah melihat pamannya hanya datang bersama seorang pria asing.
Mata Putri Amerilya dan Pangeran Lin saling bertemu, sang putri menatap ke arah Pangeran Lin dengan tatapan bingung. Putri Amerilya merasa bahwa wajah pria yang ada di sampingnya itu pernah ia lihat sebelumnya, akan tetapi siapakah pria itu?.
"Perkenalkan saya Pangeran Lin, adik kedua dari Yang Mulia Raja Azvago. Senang bisa bertemu dengan anda Tuan Putri Amerilya." ucap Pangeran Lin dengan senyuman tipis, pria itu memang memiliki kepribadian yang cukup dingin.
"Saya Putri Amerilya senang bisa bertemu dengan paman Lin." jawab Putri Amerilya dengan sebuah senyuman yang sangat menggemaskan.
"Maaf karna pamanmu yang satu itu tak bisa duduk seperti yang kita lakukan saat ini." ucap Pangeran Zingo dengan nada bicara yang cukup canggung, ia mengenai baik saudara saudaranya yang lain. Pangeran Lin bisa dikatakan pria dingin yang sangat gila akan kebersihan, ia tak bisa duduk ataupun tinggal di tempat yang kotor dan berdebu.
"Ah begitu rupanya, lalu dimana paman Lin akan duduk?." tanya Putri Amerilya yang sedang berfikir dimana paman keduanya itu bisa duduk
Hai semuanya akhirnya novel Putri Amerilya update lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.