PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Pesta Ulang Tahun Dimulai


Kini Putri Amerilya dapat tidur dengan tenang, waktu terus berjalan hingga sore pun tiba. Kini semua tamu undangan yang berasal dari wilayah kerajaan lain telah sampai dan sedang bersiap siap di kamar tamu yang mereka tempati untuk menghadiri acara pesta ulang tahun Putri Amerilya malam nanti.


Putri Amerilya sudah terbangun beberapa saat yang lalu, ia menatap ke arah jam dengan tatapan datar. Ternyata hari susah sore dan ia harus mempersiapkan diri untuk pesta malam nanti.


Tok tok tok...


Suara pintu kamar Putri Amerilya yang diketuk oleh beberapa pelayan, mereka ingin membantu sang putri untuk bersiap siap di hari istimewanya itu. Dengan langkah kecil Putri Amerilya mendekat ke arah pintu kemudian membuka pintu itu, terlihat Lilian bersama dengan pelayan lain sedang tersenyum ke arahnya.


"Kami akan membantu Anda untuk bersiap." ucap Lilian penuh dengan semangat.


Beberapa pelayan langsung masuk ke kamar sang putri kemudian menutup kamar tersebut dengan rapat. Kini Putri Amerilya sedang mandi sedangkan Lilian dan yang lain sibuk menyiapkan baju serta pernak pernik lain yang akan dipakai oleh putri kecil mereka itu. Kini semua orang sedang sibuk dengan persiapan mereka masing masing namun ada beberapa orang yang tampak kebingungan entah karna hal apa.


"Dimana tempat persembunyian para prajurit yang telah ayah kirim, saya tidak bisa menemukan mereka dimanapun." ucap Tuan Muda Egil Montiqu dengan tatapan bingung sekaligus khawatir.


"Seharusnya mereka memilih tempat yang tak jauh dari Istana Kerajaan Meztano, mungkin saat ini para prajurit sedang bersiap siap untuk menjalankan tugas mereka." jawab Tuan Marques Jordy Montiqu. Ia sangat tenang karna percaya rencana yang di buat seratus persen berhasil.


Tuan Marques Jordy Montiqu dan putra pertamanya sedang berada di halaman samping Istana Kerajaan Meztano, mereka sengaja memilih tempat yang sepi agar tak di dengar oleh orang lain. Setelah memberikan hadiah ulangtahun pada Putri Amerilya mereka akan segera pergi meninggalkan Istana Kerajaan Meztano agar tak terkana dampak ledakan besar yang akan terjadi, Marques Jordy Montiqu sudah tidak sabar menantikan runtuhnya Kerajaan Meztano.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?." tanya Pangeran Mixo yang sedang berpatroli bersama beberapa anggota Kesatria White Rose.


"Ah salam hormat saya pada Pangeran Mixo. Kami sedang berkeliling di sekitar istana dan merasa terpaku dengan pohon pohon buah yang kalian tanam di halaman samping." jawab Tuan Marques Jordy Montiqu dengan alasan yang masuk akal. Jika Pangeran Mixo tak mengetahui rencana busuk dari Keluarga Marques Montiqu maka ia akan mempercayai perkataan pria itu.


"Rupanya begitu, baiklah kami akan melanjutkan patroli sebelum pesta dilangsungkan malam nanti. Kami pamit terlebih dahulu." ucap Pangeran Mixo, ia pergi bersama dengan beberapa anggota Kesatria White Rose.


Tuan Marques Jordy Montiqu dapat bernafas dengan lega, untunglah sang pangeran tak menaruh rasa curiga pada mereka. Marques Jordy Montiqu mengajak putra pertamanya untuk masuk kembali ke dalam istana, mereka perlu bersiap siap seperti tamu undangan yang lain. Anggap saja ini perayaan pesta ulangtahun yang pertama dan terakhir untuk Tuan Putri Amerilya, sungguh malang nasib putri itu.


Waktu terus berjalan dan akhirnya malampun tiba, kini beberapa tamu undangan yang tinggal di sekitar Kerajaan Meztano mulai berdatangan. Mereka menunjukkan kartu undangan pada para kesatria yang ditugaskan berjaga di gerbang utama Kerajaan Meztano, penjagaan malam ini puluhan kali lebih ketat dari biasanya dan semua itu dilakukan untuk kelancaran pesta ulang tahun sang putri.


Suasana di dalam aula utama mulai ramai, para tamu undangan sibuk berbincang bincang satu sama lain sembari menunggu acara tersebut dimulai. Beberapa anggota Keluarga Kerajaan dari wilayah lain mulai masuk kedalam aula dan menyita perhatian banyak orang. Malam ini semua tuan putri terlihat begitu anggun dengan gaun mewah yang mereka gunakan, mata Pangeran Nanzo dari Kerajaan Belgize tertuju pada Putri Yunha dari Kerajaan Monzxo. Sang pangeran memberanikan diri untuk berjalan mendekat menuju gadis yang telah mencuri perhatiannya itu.


"Selamat malam Nona Muda, bolehkah saya berkenalan dengan Anda?." tanya Pangeran Nanzo dengan sedikit rasa gugup. Gadis yang ada di hadapannya itu begitu cantik dengan warna kulit sedikit kecoklatan.


"Perkenalkan saya Putri Yunha dari Kerajaan Monzxo." ucap Putri Yunha degan senyuman tipis. Ia tak terlalu tertarik menjalin hubungan dengan para pemuda karna usianya yang masih muda.


"Ah ternyata Anda seorang Tuan Putri. Perkenalkan saya Pangeran Nanzo dari Kerajaan Belgize. Saya harap Putri Yunha bersedia menjadi partner saya saat berdansa nanti." ucap Pangeran Nanzo dengan senyuman manis. Ia mencoba untuk menarik perhatian Putri Yunha.


"Saya akan meminta izin pada ayah terlebih dahulu sebelum menyanggupi ajakan dari Anda, semoga Pangeran Nanzo bisa mengerti keputusan saya." ucap Putri Yunha. Sebenarnya ia sedang menolak sang pangeran secara halus, entah mengapa rasanya tak nyaman berada di samping pangeran dari Kerajaan Belgize itu.


"Baik saya akan menunggu keputusan dari Anda nanti." ucap Pangeran Nanzo, ia berjalan kembali ke arah anggota Keluarga Kerajaan Belgize yang lain dengan wajah masam. Mungkin ini kali pertama bagi sang pangeran menerima penolakan secara tidak langsung seperti itu.


Suasana di dalam aula semakin lama semakin ramai, kini semua tamu undangan telah datang dan para kesatria sudah menempatkan diri di titik mereka masing masing.


"Anggota Keluarga Kerajaan Meztano memasuki aula utama!!!." triak salah seorang prajurit yang berjaga di depan pintu masuk aula dengan suara keras dan lantang.


"Dimana Tuan Putri? mengapa yang datang hanya Raja, Ratu, dan Ibu Suri saja?." tanya salah seorang tamu undangan dengan banyak pertanyaan di dalam otaknya.


"Mungkin saat ini Tuan Putri Amerilya masih bersiap siap, mari kita tinggal beberapa menit lagi." ucap tamu undangan yang lain. Saat ini putri dari Kerajaan Meztano baru saja memasuki usia tiga tahun, jadi besar kemungkinan ia sedikit sulit untuk didandani oleh para pelayan.


"Tak biasanya Tuan Putri terlambat seperti ini, mungkinkah ada sesuatu yang sedang terjadi?." tanya Tuan Muda Rostow Elister pada kakak laki lakinya.


"Aish wajar bila dia datang terlambat, bukankah sangat wajar jika anak perempuan lama saat berdandan. Sepertinya adik tak cocok bersanding denan Tuan Putri Amerilya ketika ia sudah dewasa nanti." jawab Tuan Muda Edwig Elister dengan sedikit candaan. Ia tau bahwa adik laki lakinya itu sangat menyukai Tuan Putri Amerilya dan usia diantaranya tak terpaut terlalu jauh.


"Mengapa kakak sangat suka membuat saya merasa kesal seperti ini." balas Tuan Muda Rostow Elister dengan tatapan malas.


Raja Azvago naik ke atas podium yang telah disiapkan, ia melirik ke arah semua tamu undangan yang telah datang. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk membuka acara pesta ulangtahun Tuan Putri Amerilya.


"Selamat malam semuanya, saya ucapkan terimakasih untuk kalian yang berkenan untuk hadir dalam pesta ulangtahun Tuan Putri Amerilya. Pasti kalian semua tau bahwa Kerajaan Meztano sudah menantikan kehadiran seorang putri sejak lama, karna itu saya merasa kehadiran Tuan Putri Amerilya sebagai sebuah hadiah besar dari Sang Pencipta Alam Semesta pada Keluarga Kerajaan Meztano. Dalam pesta perayaan ulang tahun kali ini saya akan memperkenalkan Tuan Putri Amerilya pada kalian semua." ucap Yang Mulia Raja Azvago penuh dengan semangat. Ia memberikan beberapa kata pembuka pada para tamu yang hadir.


"Tuan Putri Amerilya bersama para pangeran dan kesatria memasuki aula Istana Kerajaan Meztano!." ucap salah seorang prajurit dengan suara keras. Ia mengumumkan kedatangan Tuan Putri Amerilya bersama dengan yang lain.


Pintu aula kembali terbuka dengan lebar, sebelum sang putri menginjakkan kakinya ke dalam beberapa prajurit menggelar sebuah karpet berwarna putih keemasan untuk pijakan putri kecil itu.


Putri Amerilya mulai berjalan masuk ke dalam aula utama dengan kaki kecilnya, sang putri terlihat sangat cantik, anggun, dan juga menggemaskan di waktu yang sama. Keempat pangeran berjajar dengan rapi di belakang sang putri, masing masing pangeran membawa satu keranjang penuh dengan bunga. Bunga bunga itu mereka tebarkan di sepanjang jalan yang telah dilalui oleh sang putri sebagai simbol bahwa ketika dewasa nanti Putri Amerilya akan terus berada di jalan yang baik. Di sisi lain beberapa anggota Kesatria White Rose yang berada di barisan paling belakang berjalan sembari mengangkat pedang mereka, hal itu sebagai simbol bahwa Tuan Putri Amerilya akan selalu dalam penjagaan semua orang yang tinggal di dalam Istana Kerajaan Meztano termasuk beberapa kelompok kesatria.


Putri Amerilya naik ke atas podium bersama dengan sang ayah sedangkan para pangeran dan kesatria duduk di tempat mereka masing masing. Putri Amerilya menunjukkan sebuah senyuman yang sangat manis pada seluruh tamu undangan yang datang, melihat senyuman itu membuat beberapa orang merasa gemas dan ingin menculik putri kecil itu. Tuan Muda Rostow Elister memegangi hidungnya yang sedang mimisan, sepertinya ia tak tahan dengan kelucuan Tuan Putri Amerilya.


"Lihatlah putramu itu suamiku." ucap Nyonya Muchela Elister pada sang suami dengan tawa yang tertahan. Baru kali ini ia melihat putra bungsunya bersikap seperti itu, padahal ia selalu dingin pada putri bangsawan yang berusaha untuk mendekatinya, namun sikap Rostow Elister pada Putri Amerilya sangatlah berbeda.


"Yah dia sama seperti saya ketika masih muda." jawab Tuan Duke Elister dengan senyuman bangga.


Putri Amerilya membungkukkan badannya sebanyak tiga kali di hadapan seluruh tamu undangan yang hadir.


"Terimakasih untuk para tamu undangan yang berkenan hadir dalam pesta ulangtahun saya malam ini. Senang bisa bertemu dengan kalian semua, saya akan memperkenalkan diri secara resmi meskipun saya tau sebagai besar dari kalian sudah mengetahui siapa saya. Perkenalkan saya Putri Amerilya anak bungsu dari Yang Mulia Raja Azvago dan Ratu Zivaya, saya adalah satu satunya putri dari pasangan raja dan ratu. Saya harap di masa depan bisa menjalin hubungan yang baik dengan kalian semua, sekian perkenalkan dari saya terimakasih banyak." ucap Putri Amerilya yang kembali membungkukkan badan. Putri kecil itu berjalan ke arah Ratu Zivaya dan langsung di duduk di pangkuan ibunya itu.


"Itulah perkenalan singkat dari putri saya, acara pesta ulangtahun yang ketiga Tuan Putri Amerilya resmi dimulai. Semua tamu undangan dipersilahkan untuk mencicipi makanan yang telah kami persiapkan dan menikmati penampilan dari para penari yang saya undang secara khusus." ucap Yang Mulia Raja Azvago.


Kini pesta ulangtahun Putri Amerilya resmi dimulai, para tamu undangan sedang menikmati kue serta makanan berat yang disediakan oleh pihak Kerajaan Meztano. Selain itu para penari memulai penampilan mereka beberapa saat yang lalu, sebuah tarian yang sangat indah dengan gerakan yang menunjukkan lekuk tubuh mereka. Saat semua orang menikmatinya Putri Amerilya malah menatap sinis ke arah para penari itu, bukankah mereka dibawa oleh Raja Ruzel? dan apa maksudnya menampilkan tarian seperti itu dalam pesta ulangtahun seorang anak perempuan yang menginjak usia tiga tahun.


"Ibu saya ingin pergi dan berkumpul bersama para pangeran." ucap Putri Amerilya, ia meminta izin terlebih dahulu pada Ratu Zivaya sebelum pergi.


"Baiklah jaga dirimu putriku, segeralah datang pada ibu jika ada pergerakan yang terlihat mencurigakan." pesan Ratu Zivaya pada putri kecilnya.


"Lebih baik ibu mengkhawatirkan ayah, dia terlihat begitu senang dengan penampilan para penari itu." ucap Putri Amerilya dengan tatapan kesal, ia segera pergi menjauh dan berjalan ke arah para pangeran.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.