PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Mengirim Surat


Pertarungan keduanya semakin sengit, lambat laun stamina dari rombongan Kerajaan Meztano mulai menurun mereka terus bertarung tanpa henti. Putri Amerilya melihat keluar jendela, ia sangat menantikan kedatangan pasukan dari Duke Zidan Marques. Setelah menunggu cukup lama akhirnya terdengar suara tapak kaki kuda dari kejauhan, pasukan Duke Marques yang di pimpin oleh ketiga putranya datang membantu rombongan Kerajaan Meztano.


"Selamatkan anggota keluarga kerajaan terlebih dahulu." ucap Tuan Muda Arges Marques, dia putra pertama dari Duke Zidan Marques. Arges mengingat perkataan sang ayah sebelum datang kesini, ayahnya meminta agar keselamatan anggota keluarga kerajaan diutamakan.


Beberapa pasukan Duke Marques mendekat ke arah kereta kuda tempat Putri Amerilya bersembunyi, mereka sedang memastikan adakan orang lain di dalam sana. Tiga orang pasukan Duke Marques melihat seorang anak perempuan yang sedang tertidur di dalam kereta kuda tersebut, dengan segera mereka membangun Putri Amerilya untuk di bawa ke tempat yang lebih aman.


"Bangunlah tuan putri." ucap salah seorang prajurit yang masih berusaha membangunkan Putri Amerilya.


"Seperti tuan putri sangat mengantuk, langsung kita gendong saja." ucap prajurit lain, tak baik jika mereka berlama lama di dalam kereta kuda hal itu akan memancing kedatangan para bandit hutan yang masih sibuk bertarung.


Setelah menggendong sang putri dengan posisi yang nyaman, ketiga prajurit itu langsung bergegas menuju Tuan Muda Arges yang sedang menunggu mereka.


"Kami menemukan Tuan Putri Amerilya sedang tertidur dengan lelap di dalam kereta kuda." ucap ketiga prajurit itu secara bersamaan.


"Bawa tuan putri ke Kediaman Duke Marques, katakan pada ayah untuk menjaganya karna saya dan yang lain harus menangkap para bandit hutan ini." ucap Arges Marques dengan tegas, sebagai kandidat calon kepala keluarga yang baru tentu Arges harus memiliki sikap baik dan berwibawa.


Ketiga putra dari Duke Zidan Marques berusaha mengalahkan kedua ketua bandit, untunglah mereka membawa pasukan yang cukup banyak untuk mengimbangi jumlah para bandit itu. Para bandit mulai kewalahan dan berusaha mundur ke markas mereka, dengan cepat Pangeran Luxe dan Pangeran Mixo menangkap kedua ketua bandit.


"Lepaskan kami sialan." ucap ketua pertama dari kelompok bandit itu, ia ingin menggunakan sihir api untuk lepas dari cengkraman Pangeran Luxe, namun dengan cepat sang pangeran menyerang balik menggunakan sihir air miliknya.


Setelah pertarungan yang cukup panjang akhirnya para bandit itu menyerah dan ditangkap oleh pasukan Duke Zidan Marques, setelah pertarungan itu selesai Tuan Muda Arges Marques mengajak semua rombongan Kerajaan Meztano untuk mampir ke kediaman Duke Marques. Dengan senang hati semua rombongan Kerajaan Meztano pergi ke Kediaman Duke Zidan Marques, sebelum pergi ke sana kedua pangeran sempat mencari keberadaan adik perempuan mereka.


"Dimana putri kecil kami? bukankah tadi ia berada di dalam kereta kuda?." ucap Pangeran Mixo dengan raut wajah panik, ia takut jika sang adik di culik oleh bandit lain saat pertarungan berlangsung.


"Tuan Putri Amerilya sudah kami amankan ke kediaman Duke Marques." ucap Eren Marques, ia putra kedua dari Duke Zidan Marques.


"Ternyata begitu, terimakasih telah menyelamatkan putri kecil kami." ucap Pangeran Mixo, dan Pangeran Luxe dengan senyuman tampan mereka berdua. Untunglah adik kecil mereka baik baik saja, jika sesuatu terjadi pada Putri Amerilya entah apa yang akan mereka katakan pada sang ayah.


"Sebaiknya kita kembali sekarang." ucap Arges Marques.


Di tempat lain saat ini Putri Amerilya sudah berada di salah satu kamar Kediaman Duke Zidan Marques, anak kecil itu tertidur dengan sangat pulas sampai menyadari ada sesuatu yang salah dengan alas tidurnya. Saat matanya masih terpejam Putri Amerilya merasa keheranan, bukankah ia tadi tidur di atas kursi kereta kuda namun mengapa ia merasa seperti tidur di atas kasur yang nyaman dan empuk.


Karna takut dirinya telah diculik saat ketiduran tadi, Putri Amerilya membuka mata dan melihat kesekitar. Dari interior ruangan yang ia tempati tak mungkin markas bandit hutan terbuat dari dinding yang kokoh?. Karna merasa penasaran dimana dia saat ini, Putri Amerilya bangun dari tidurnya dan membuka pintu kamar itu.


"Dimana aku sekarang?." tanya Putri Amerilya sembari melihat ke kanan maupun ke kiri, hanya ada beberapa prajurit asing yang tak ia kenali.


Saat sang putri sedang kebingungan ada seorang wanita paruh baya yang menghampirinya, wanita itu berjongkok di depan Putri Amerilya dan menatap gadis itu dengan tatapan senang.


"Anda sudah bangun tuan putri?." tanya wanita paruh baya itu.


"Umm, anda siapa?." tanya Putri Amerilya dengan sopan.


"Ah maaf karna lupa memperkenalkan diri saya, perkenalkan saya Riana Marques istri dari Duke Zidan Marques." ucap wanita paruh baya itu yang sedang memperkenalkan dirinya pada Putri Amerilya. Setelah mengetahui identitas wanita itu sang putri merasa lebih tenang, ternyata ia dibawa ke kediaman Duke Marques bukannya di culik oleh para bandit hutan.


Putri Amerilya bertanya pada Nyonya Riana Marques dimana kedua kakak laki lakinya dan semua rombongan kerajaan Meztano, sang putri menanyakan hal itu karna suasana Kediaman Duke Marques terlihat sangat sepi.


"Hanya kau saja yang datang kesini." ucap Nyonya Riana Marques dengan tatapan bingung, ia tak tau jika sang putri datang bersama rombongan Kerajaan Meztano yang lain.


Tadinya Nyonya Riana Marques sedang ada di ruang kerja untuk membantu beberapa pekerjaan sang suami, tiba tiba saja ada beberapa prajurit yang mengetuk ruang kerjanya, prajurit itu mengatakan pada Nyonya Riana Marques untuk menjaga Putri Amerilya yang sedang tidur di kamar tamu. Tanpa mengatakan apapun lagi para prajurit itu langsung pergi, karna hal itulah Nyonya Riana Marques tak mengetahui mengapa sang putri berada di kediamannya.


"Mungkinkah mereka masih ada di sana." ucap Putri Amerilya dengan raut wajah khawatir.


"Memangnya apa yang sedang terjadi pada anda?." tanya Nyonya Riana Marques, ia kebingungan menghadapi sang putri karna tak mengetahui apapun.


Saat Putri Amerilya ingin pergi dari sana, Nyonya Riana Marques berusaha menahan dengan sekuat tenaga. Riana Marques hanya takut putri kecil itu akan menjadi incaran banyak orang jahat saat pergi sendirian keluar, untunglah Duke Zidan Marques segera datang dan menjelaskan pada Putri Amerilya tentang kondisi rombongan Kerajaan Meztano saat ini.


"Tenanglah tuan putri, kedua kakak anda dan yang lain akan segera kembali." ucap Duke Zidan Marques, ia melihat ke arah Putri Amerilya dengan tatapan dingin.


Duke Zidan Marques memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengan Duke Rigel Elister, jika Duke Rigel Elister adalah sosok yang ceria, ramah, dan baik maka Duke Zidan Marques adalah sosok pria dingin, cuek, dan terkadang menunjukkan sisi kekejamannya. Duke Zidan Marques tak terlalu suka dengan anak perempuan karna ia menganggap perempuan adalah makhluk lemah yang tak bisa melakukan banyak hal, ia biasa jatuh cinta pada Nyonya Riana Marques karna wanita itu salah satu sarjana terbaik yang ada di Kerajaan Meztano, selain itu Nyonya Riana Marques juga ahli dalam hal berpedang.


"Ya, mereka akan segera kembali." jawab Duke Zidan Marques masih dengan tatapan dingin.


"Baiklah jika begitu, bisakah saya meminta bantuan anda tuan duke?." tanya Putri Amerilya dengan wajah polos yang sangat lucu. Sebenarnya Duke Zidan Marques ingin menolak permintaan anak perempuan itu, namun melihat kelucuan dari Putri Amerilya akhirnya ia mengalah.


"Bantuan apa yang kau inginkan tuan putri? jangan melakukan hal konyol saat berada di rumah saya." ucap Duke Zidan Marques, ia takut anak berusia dua tahun itu menginginkan sesuatu yang tidak masuk akal.


"Saya akan menulis sebuah surat, anda hanya perlu meminta seseorang untuk mengirim surat itu ke Kerajaan Meztano dan sampai ke tangan Yang Mulia Raja Azvago." jawab Putri Amerilya dengan sorot mata yang berubah menjadi tajam, sepertinya sang putri sudah mengetahui fakta bahwa Duke Zidan tak menyukai dirinya.


"Silahkan anda tulis surat itu terlebih dahulu, lalu antar ke ruang kerja saya." ucap Duke Zidan Marques yang langsung pergi meninggalkan Putri Amerilya bersama dengan sang istri. Melihat sikap dingin dari sang duke membuat putri kecil itu kasihan pada Nyonya Riana Marques, bagaimana bisa wanita secantik Nyonya Riana menikah dengan es batu.


"Tuan Duke selalu seperti itu?." tanya Putri Amerilya pada Nyonya Riana Marques.


Riana Marques tersenyum lembut pada sang putri, ia mengerti anak perempuan yang ada di hadapannya itu sedang khawatir dengan kehidupan sehari hari yang ia jalani dengan Duke Zidan Marques.


"Maaf tuan putri atas ketidaknyamanannya, suami saya sangat baik pada keluarganya dia memang sangat dingin pada orang luar." ucap Nyonya Riana Marques, setelah itu ia mengantar Putri Amerilya kembali ke kamar untuk menulis surat yang ingin sang putri antar ke Kerajaan Meztano.


Seusai mengantar Putri Amerilya, Nyonya Riana Marques pamit utuk kembali ke ruang kerjanya. Sekarang tinggal putri kecil itu sendirian di dalam kamar menggenggam sebuah pena dan kertas, Putri Amerilya masih berfikir kata kata apa yang harus ia tulis di dalam suratnya.


"Semoga ayah mengerti dengan tulisanku ini." ucap Putri Amerilya, perlahan lahan ia mulai menulis beberapa kata dan menyelesaikan surat yang ingin ia kirim pada ayahnya itu.


Di sisi lain Duke Zidan Marques sedang menunggu putri kecil datang ke ruang kerjanya, ia tak memiliki banyak waktu untuk menunggu gadis itu. Tak berapa lama setelahnya terdengar suara ketukan pintunya dari luar ruang kerja sang duke, dan tamu itu dipersilahkan masuk kedalam.


"Salam saya pada Tuan Duke Zidan Marques." ucap Putri Amerilya dengan sopan, pada pertemuan pertamanya dengan Duke Marques ia memberikan kesan yang kurang baik karna merasa khawatir pada rombongannya.


"Salam hormat saya pada Tuan Putri Amerilya." balas Duke Zidan Marques dengan tatapan dingin, ia mengira sang istri telah mengajari anak kecil itu cara mengucap salam ketika bertemu seseorang.


"Ini surat yang ingin saya kirimkan pada ayah." ucap Putri Amerilya dengan formal karna pria itu tak ingin menjalin hubungan baik dengannya.


"Saya akan meminta seseorang untuk mengirim surat ini, mohon maaf anda bisa keluar dari ruang kerja saya sekarang." ucap Duke Zidan Marques, itu adalah sebuah cara mengusir Putri Amerilya secara halus dari ruang kerjanya.


Entah mengapa Putri Amerilya merasa kesal denhan perlakuan Duke Zidan Marques padanya, akhirnya sang putri pergi tanpa mengatakan apapun. Sebelum keluar dari ruang kerja sang duke, Putri Amerilya sempat berbalik badan dan menatap tajam ke arah pria angkuh itu. Duke Zidan Marques cukup terkejut dengan reaksi yang diberikan sang putri kepadanya, dan dari mana anak berusia dua tahun itu belajar tentang tatapan kebencian.


"Dia anak perempuan yang cukup menarik." ucap Duke Zidan Marques sembari tersenyum miring.


Di sisi lain Pangeran Mixo, Pangeran Luxe, dan ketiga putra Duke Zidan Marques baru saja tiba di kediaman sang duke. Arges Marques meminta pada pelayan untuk menyiapkan beberapa kamar untuk tamu mereka ini.


"Terimakasih sudah membatu kami." ucap Pangeran Mixo, ia merasa perlu berlatih lagi lebih keras lagi agar bisa melindungi adik adiknya.


"Kami datang karna anda mengirim signal tanda bahaya." ucap Arges Marques dengan senyuman hangatnya, sangat wajar jika keluarga kecil sepertinuya membantu Keluarga Kerajaan Meztano yang sedang dalam bahaya.


"Kembang api itu adik perempuan kami yang menyalakannya." ucap Pangeran Luxe, ia dan yang lain tak memiliki pemikiran untuk menyalakan kembang api tanda bahaya yang ada di dalam kereta kuda karna mereka sibuk bertaring.


"Ah ternyata Putri Amerilya yang memiliki inisiatif menghidupkannya." ucap Arges Marques.


"Berapa usia adik kalian?." tanya Eren Marques, ia penasaran karna anak perempuan itu sangat pintar sangat berbeda dengan cerita sang ayah.


"Beberapa bulan lagi ia akan berusia tiga tahun." jawab Pangeran Masih Mixo.


"Saya fikir paling tidak ia seharusnya berusia empat bulan tahun keatas." ucap Eren Marques dengan tatapan tak percaya.


"Kalian bisa beristirahat sekarang, pelayan mengatakan kamar kalian sudah siap." ucap Arges Marques, semua rombongan Kerajaan Meztano pergi ke kamar mereka masing masing.


Ketiga putra Duke Zidan Marques saling bertatapan satu sama lain kemudian pergi menemui sang ayah untuk melaporkan beberapa hal penting mengenai para bandit hutan, dan beberapa hal tentang keanehan dari anak perempuan dari Raja Azvago itu. Duke Zidan Marques sedang berada di tengah tengah kota wilayah kekuasaannya, ia akan menyewa seorang pengirim surat tingkat teratas agar surat milik sang putri segera datang ke tempat yang dituju.


Hai semuanya aku up novelku yang ini dulu ya, untuk novel ratu iblis aku up nanti malem hehe. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.