
Meskipun sudah ditenangkan oleh Pangeran Luxe, isak tangis dari Putri Amerilya tak kunjung reda. Ia merasa sangat sedih ketika bertemu dengan kedelapan kakak perempuannya yang telah tiada, jika saja mereka semua bisa bertahan dari kutukan itu sama sepertinya maka kondisi Istana Kerajaan Meztano akan sangat ramai. Ratu Zivaya mengambilkan segelas air putih dan menyodorkan pada Putri Amerilya, sang putri meminum air itu perlahan.
"Apa kau sudah merasa lebih tenang putriku?. Mengapa tiba tiba memanggil kakak mu dengan histeris seperti itu?." tanya Ratu Zivaya. Ia ingin memastikan bahwa kondisi putrinya baik baik saja.
"Aku bertemu dengan kakak." jawab Putri Amerilya.
"Bukankah hampir setiap hari Amerilya bertemu dengan kakak kakak mu?." tanya Ratu Zivaya lagi.
"Bukan kakak laki laki tapi kakak perempuan." jawab Putri Amerilya dengan singkat.
Ratu Zivaya terdiam membisu setelah mendapat jawaban atas kebingungannya itu, mungkinkah kakak perempuan yang dimaksud Putri Amerilya adalah anak anak perempuan yang ia lahiran? anak anak perempuan yang hanya bisa bertahan hidup hingga usia mereka mencapai dua tahun kemudian mati terkena kutukan. Sangat mustahil jika Amerilya bertemu dengan kedelapan putrinya yang telah tiada itu.
"Apa ada sesuatu yang kau ingat tentang mereka?." tanya Ratu Zivaya. Kini sang ratu merasa penasaran apakah Putri Amerilya hanya berhalusinasi saja atau benar benar bertemu dengan jiwa jiwa milik kakak perempuannya.
"Seorang anak perempuan dengan rambut panjang berwarna hitam, mata hijau cerah yang indah mungkin dia beberapa tahun lebih tua dari Pangeran Mixo. Lalu seorang anak perempuan dengan gadis cantik dengan rambut lurus berwarna putih dengan mata yang tajam seperti ayah. Hanya mereka berdua saja yang bisa Amerilya lihat dengan jelas, mereka membantu jiwa Amerilya kembali masuk ke dalam tubuh saat ingin di bawa pergi oleh jiwa Putri Haru." jelas Putri Amerilya pada sang ibu mengenai apa yang membuatnya menjerit histeris.
Raut wajah Ratu Zivaya berubah menjadi sedih, kedua gadis yang ciri cirinya disebutkan oleh Putri Amerilya adalah anak perempuan pertama dan kedua dari Ratu Zivaya mereka meninggal tepat saat berusia dua tahun. Setelah kedua anak perempuannya itu tiada sang ratu dikaruniai anak laki laki yaitu Pangeran Mixo.
"Ya mereka adalah kakak perempuan mu putriku, ah ibu sangat merindukan mereka semua." gumam Ratu Zivaya. Tubuh sang ratu terasa sangat lemas, untunglah jiwa jiwa putrinya yang telah tiada menyayangi adik perempuan mereka yaitu Putri Amerilya. Akan sangat berbahaya jika jiwa milik Putri Amerilya dibawa pergi oleh Putri Haru.
"Tidak apa apa ibu, mereka sangat senang karna saat ini Kerajaan Meztano memiliki seorang putri seperti yang ayah inginkan. Mereka juga berpesan agar Amerilya hidup dengan baik di sini." ucap Putri Amerilya sembari tersenyum tipis.
"Ya mereka benar, sekarang sudah ada putri ibu yang sangat baik dan manis ini. Apakah kau tidak merasa lapar? ibu akan memperlihatkan seorang pelayan memasak makan siang untuk mu." tanya Ratu Zivaya, ia menyadari bahwa wajah Putri Amerilya sedikit pucat dan memerlukan nutrisi yang cukup.
"Tidak ibu, Amerilya tidak merasa lapar. Amerilya hanya ingin beristirahat saja. ucap Putri Amerilya, ia kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sembari melihat kesekitar.
"Ibu akan kembali ke istana utama untuk melihat apakah mayat Putri Haru udah tiba ataukah belum, meskipun dia sudah mati namun jiwanya terus saja mengganggu mu." gerutu Ratu Zivaya.
"Ya dia selalu mengganggu Amerilya." jawab sang putri.
"Tetaplah di sini dan jaga adikmu dengan baik. Saat ini Istana Putri masih ditempati oleh beberapa tamu dari kerajaan lain, ibu khawatir mereka akan mengganggu waktu istirahat adik mu itu." pesan Ratu Zivaya pada Pangeran Luxe.
"Baik saya akan menjalankan perintah ibu dengan senang hati. Selama saya ada di sini maka adik akan baik baik saja." jawab Pangeran Mixo dengan tegas.
Setelah selesai berpamitan Ratu Zivaya segera pergi meninggalkan kamar putri kesayangannya itu menuju Istana Utama, beberapa pelayan yang berjaga di depan kamar Putri Amerilya hanya menatap kepergian sang ratu dengan tatapan bingung. Dari raut wajah sang ratu sepertinya ia sedang marah, entah apa yang membuat ratu marah.
"Sebaiknya kita kembali mengerjakan tugas masing masing, saat ini Putri Amerilya sudah di jaga oleh Pangeran Luxe." perintah Lilian pada beberapa rekannya.
"Apa yang dikatakan Lilian ada benarnya, kita masih memiliki banyak pekerjaan yang belum diselesaikan. Jika Pangeran Luxe ataupun Tuan Putri Amerilya membutuhkan sesuatu keduanya pasti akan memanggil kita untuk datang." tambah Juylin.
Lima orang pelayan yang sedang berjaga di depan pintu masuk kamar Putri Amerilya bergegas pergi menuju dapur dan beberapa tempat lain. Di sisi lain saat ini rombongan Kesatria White Rose yang sedang membawa jasad Putri Haru sudah sampai di depan gerbang masuk istana kerajaan Meztano.
"Buka gebangnya!! anggota Kesatria White Rose ingin masuk ke dalam area Istana Kerajaan Meztano!." triak salah seorang prajurit penjaga gerbang, ia berteriak dengan cukup kencang.
Beberapa saat setelahnya gerbang utama Kerajaan Meztano terbuka dengan lebar. Beberapa kesatria yang membawa tandu masuk terlebih dahulu ke dalam area depan Istana Kerajaan Meztano diikuti anggota Kesatria White Rose yang lain dari belakang. Raja Azvago dan beberapa anggota kerajaan yang lain keluar dari istana utama untuk melihat bagaimana kondisi mayat Putri Haru. Raja Azvago membuka sedikit penutup kain berwarna putih dan seketika matanya diam terpaku.
Mayat Putri Haru sangat sulit untuk dikenali karna wajah dan tubuhnya yang telah rusak akibat terbakar api, Raja Azvago menundukkan kepalanya ia kembali menegaskan air mata dan merasa telah gagal menjadi kakak laki laki bagi Putri Haru.
"Tenangkan diri Anda Yang Mulia Raja Azvago, saya tau ini sangat berat namun Anda harus bisa menahannya." ucap Raja Yuminxo sembari menepuk pundak Raja Azvago pelan.
Mayat Putri Haru dibawa menuju halaman belakang untuk dibersihkan oleh beberapa pelayan dari istana utama sedangkan anggota Keluarga Kerajaan Meztano bersama tamu yang lain menunggu di aula utama. Suasana duka memenuhi seisi aula, semua orang merasa terpukul dengan kepergian Putri Haru meskipun ada beberapa orang yang hanya melakukan hal itu untuk sandiwara belaka.
Setelah menunggu kurang lebih selama dua puluh menit, pintu aula terbuka dengan lebar. Beberapa prajurit masuk dengan membawa sebuah peti mati yang berisikan mayat Putri Haru yang terlah dibersihkan dan dipakaikan pakaian yang layak. Peti mati itu diletakkan di bagian paling depan aula utama.
"Saya ucapkan terimakasih untuk semua orang yang mau hadir dalam prosesi pemakaman Putri Haru. Saya sebagai kakak tertua dari sang putri tidak pernah menyangka bahwa ia akan pergi secepat ini, jika Putri Haru memiliki kesalahan pada kalian entah itu disengaja ataupun tidak mohon keluasan hati untuk memaafkannya." ucap Raja Azvago yang memberikan beberapa kalimat pembuka dalam prosesi pemakaman Putri Haru. Suara sang raja bergetar karna ia harus menahan air mata yang ingin tumpah di hadapan banyak orang.
"Putri Haru pulang ke pangkuan Sang Pencipta saat ia berusia dua puluh tahun, semoga di kehidupan selanjutnya ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sekarang. Untuk para anggota Keluarga Kerajaan Meztano yang ingin meletakkan bunga di dalam peti mati sang putri saya persilahkan." ucap Raja Azvago.
Sebelum ada anggota keluarga kerajaan lain yang melakukan hal itu Raja Azvago terlebih dahulu mengambil sebuah mawar putih yang telah di sediakan, ia meletakkan mawar putih itu di sisi sebelah kanan peti mati. Setelah Raja Azvago selesai kini giliran Ibu Suri Sinya dan Ratu Zivaya yang maju kedepan, keduanya secara bersamaan mengambil satu tangkai mawar hitam. Ibu Suri Sinya menatap ke arah Ratu Zivaya dengan tatapan bingung begitupun dengan sebaliknya.
"Kau juga?." tanya Ibu Suri Sinya dengan suara pelan agar tidak didengar oleh orang lain.
"Tentu saya ibu, bagaimana bisa saya menyukai gadis sepertinya." jawab Ratu Zivaya dengan pelan.
Ibu Suri Sinya dan Ratu Zivaya meletakkan mawar hitam yang mereka ambil ke sisi kiri peti mati Putri Haru, setelah keduanya turun dari bagian atas aula kini giliran yang lain untuk maju dan memberikan bunga sesuai dengan keinginan mereka. Saat prosesi pemberian bunga hampir selesai tiba tiba pintu aula utama Kerajaan Meztano ditendang dengan sangat kencang oleh seseorang.
Bruak......
Suara pintu aula yang bertatapan dengan dinding hingga menyebabkan sedikit kerusakan. Pangeran Lunxi dan Pangeran Zogtu masuk ke dalam aula dengan tatapan marah, mereka menatap ke arah semua orang dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa kalian sudah gila membuat keributan saat pemakaman Putri Haru!." bentak Raja Azvago dengan tegas pada kedua adik laki lakinya itu.
"Diamlah, Anda bahkan gagal menjadi sosok kakak yang baik untuk Putri Haru. Selama sang putri dalam pengasingan hanya kami berdua yang datang berkunjung untuk melihat bagaimana kondisinya, dimana Yang Mulia Raja Azvago dan pangeran lain saat itu!. Semenjak Putri Amerilya berusia dua tahun dan berhasil melewati kutukan itu tidak ada lagi yang peduli dengan Putri Haru. Seharusnya ia juga mati seperti kedelapan anak perempuan Anda yang lain." ucap Pangeran Lunxi dengan bahasa yang kasar. Ia rasa semua kemalangan yang menimpa adik perempuannya disebabkan oleh Putri Amerilya.
"Jaga ucapan Anda Pangeran Lunxi!!! kematian Putri Haru tidak ada kaitannya dengan anak perempuan saya." bentak Ratu Zivaya, ia tak suka jika ada orang lain yang menjelek-jelekkan nama Putri Amerilya dihadapan banyak orang.
"Dimana Putri Amerilya sekarang? dia bahkan tidak menghadiri prosesi pemakaman bibinya sendiri. Atau jangan jangan dialah yang sudah membakar area pengasingan dengan tujuan agar menjadi satu satunya Tuan Putri dari Kerajaan Meztano?." ucap Pangeran Zogtu. Kedua pangeran itu sudah gila dan terus menerus menyudutkan Putri Amerilya.
Para pelayat yang lain melihat ke berbagai sudut aula utama Kerajaan Meztano untuk menentukan keberadaan Putri Amerilya namun sang putri benar benar tidak ada di sana. Mungkin saja asumsi yang diberikan oleh kedua pangeran itu benar, kabarnya Putri Amerilya sangatlah cerdik dan pintar ia bahkan orang yang telah mengungkap pengkhianat yang dilakukan Keluarga Duke Marques dan bisa saja kebakaran itu direncanakan oleh Putri Amerilya secara sengaja.
"Maaf bukannya saya ingin ikut campur dalam masalah pribadi anggota Keluarga Kerajaan Meztano namun sejak berakhirnya pesta ulangtahun Putri Amerilya saya mengetahui satu hal bahwa sang putri jatuh sakit dan harus beristirahat untuk memulihkan kondisinya, sangat tidak mungkin jika ialah pelaku pembakaran itu." bela Putri Alexsi dari Kerajaan Monzxo.
"Putri Amerilya juga sangat terkejut saat mendengar kabar kematian Putri Haru hingga ia jatuh pingsan dan harus menerima perawatan saat ini. Jangan menuduh sembarangan jika kalian tidak memiliki bukti." tegas Putri Yunha.
"Itu semua pasti sandiwara yang telah dipersiapkan dengan matang oleh Putri Amerilya agar tidak ada orang lain yang curiga padanya. Putri kecil yang licik seperti dirinya pasti memiliki banyak rencana jahat." bantah Pangeran Lunxi. Ia tidak ingin mendengar alasan apapun mengenai Putri Amerilya.
Ratu Zivaya meremas tangannya dengan kuat, ia sangat ingin memukul kedua adik iparnya itu hingga pingsan. Entah mengapa suaminya memili saudara saudara yang gila seperti Pangeran Lunxi dan Pangeran Zogtu padahal saudaranya yang lain bersikap seperti manusia normal.
"Sekali lagi mulut kalian berdua mengucapkan hal buruk mengenai cucu saya maka akan saya sobek mulut kalian itu." ucap Ibu Suri Sinya dengan tatapan tajam, ia tak sedang bercanda dengan apa yang dikatakan.
"Ibu bahkan lebih membela anak perempuan itu daripada anak kandung ibu sendiri? kalian semua dengar bukan bahwa semua orang lebih menyayangi Putri Amerilya." triak Pangeran Lunxi dengan energi sihir yang meluap dari dalam tubuhnya.
"Tentu saya akan lebih menyayangi Putri Amerilya, dan siapa yang bilang bahwa kalian bertiga adalah anak kandung saya." jawab Ibu Suri Sinya atas pernyataan Pangeran Lunxi. Seketika suasana di dalam aula Kerajaan Meztano menjadi hening, semua orang mengarahkan pandangan mereka pada ibu suri dengan tatapan bertanya tanya.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.