
Di sisi lain saat ini beberapa prajurit sedang mengetuk pintu kamar Raja Azvago untuk membangunkan sang raja dari tidurnya, mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar membuat Putri Amerilya merasa terganggu dan mulai membuka matanya perlahan, Putri Amerilya bingung mengapa ada orang yang mengetuk pintu kamar ayahnya malam malam begini.
"Ayah bangun." ucap putri kecil itu sembari mengguncang pelan tubuh Raja Azvago.
Setelah beberapa saat akhirnya Raja Azvago bagun dan menatap bingung ke arah putri kecilnya itu, untuk apa sang putri membangunkannya padahal ini masih sangat malam.
"Ada orang yang mencari ayah dan terus menerus mengetuk pintu." ucap Putri Amerilya dengan tatapan polosnya.
"Baiklah ayah akan melihat siapa yang datang malam malam begini." ucap Raja Azvago, pria itu beranjak dari kasurnya dan segera membukakan pintu. Saat membuka pintu, sang raja menatap bingung ke arah para prajurit yang berada di hadapannya itu.
"Salam hormat kami pada Yang Mulia Raja Azvago." ucap para prajurit itu sembari membungkukkan badan mereka.
"Saya terima salam kalian, ada masalah apa hingga kalian mengganggu waktu tidur saya?." tanya Raja Azvago dengan penasaran, ia yakin ada sesuatu yang terjadi hingga para prajurit berani membangunkannya.
Seorang prajurit mendekat ke arah Raja Azvago kemudian membisikkan tentang hal yang baru saja terjadi di Istana Putri, sang prajurit sengaja melakukan hal itu karna ia tau di dalam kamar utama masih ada Ratu Zivaya dan Putri Amerilya tak baik jika mereka berdua sampai terbangun setelah mendengar kabar ini. Raja Azvago membelalakkan matanya, ternyata anggota Kesatria Savalor menyimpan dendam pada Putri Amerilya yang tak mengetahui apapun mengenai kejadian beberapa waktu lalu.
"Masukkan mereka bertiga ke penjara, besok saya sendiri yang akan memberi hukuman." ucap Raja Azvago dengan tatapan penuh kekesalan. Mengapa banyak sekali orang yang ingin mengambil Putri Amerilya dari sisinya.
"Baiklah kami mengerti Yang Mulia Raja Azvago." jawab para prajurit yang ada di sana secara serentak.
"Jangan katakan apapun jika ada yang bertanya mengenai hal ini pada kalian, orang luar tak perlu tau dengan masalah masalah yang terjadi di dalam Istana Kerajaan Meztano." ucap Raja Azvago dengan tegas agar para prajuritnya itu tak menyebarkan berita mengenai penyerangan di Istana Putri.
Para prajurit itu pergi untuk memberitahukan pada yang lain mengenai perintah dari Yang Mulia Raja Azvago, sedangkan sang raja kembali masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat rapat. Putri Amerilya melihat ke arah Raja Azvago dengan tatapan bingung, mengapa ia tak mendengar percakapan antara ayahnya dengan beberapa prajurit yang berada di luar kamar utama.
"Apa ada yang sedang terjadi ayah?." tanya Putri Amerilya dengan mata sayu karna menahan kantuk. Ia ingin tau alasan para prajurit itu datang malam malam seperti ini untuk mengganggu waktu istirahat seorang raja yang sangat berharga.
"Semuanya baik baik saja putriku, tidurlah kembali. Kau bisa melihat ibumu tidur dengan sangat nyenyak tanpa khawatir akan apapun." ucap Raja Azvago sembari menunjuk ke arah Ratu Zivaya yang sedang tertidur. Putri Amerilya menengok ke samping, gadis kecil itu berusaha menahan tawa karna tak sanggup melihat wajah konyol dari ibunya ketika sedang tertidur.
"Baiklah aku akan tidur sekarang ayah." ucap Putri Amerilya yang langsung memejamkan matanya, anak perempuan itu kembali terlelap di dalam mimpi indah.
Setelah putri kesayangannya tertidur Raja Azvago beranjak pergi dari kamar utama untuk menemui ketiga Kesatria Savalor yang ingin menghabisi nyawa putrinya itu, kali ini sang raja tak akan berbelas kasih pada mereka. Sudah cukup banyak masalah yang ditimbulkan oleh anggota Kesatria Savalor untuk Keluarga Kerajaan Meztano, ditambah mereka sangat ingin menyingkirkan Putri Amerilya dari dunia ini, jika Raja Azvago tak bertindak tegas maka dilain hari akan terulang kejadian serupa. Raja Azvago membuka sebuah pintu ruangan khusus yang jarang dimasuki oleh orang lain kecuali dirinya dan beberapa prajurit khusus, sang raja duduk di sebuah kursi yang telah disediakan kemudian menatap ke arah Kesatria Rosten Savalor, Kesatria Albigi Savalor, dan Kesatria Norx Savalor.
"Mengapa harus Putri Amerilya?." tanya Raja Azvago dengan tatapan penuh kebencian, ketiga pria itu pasti tau berapa lama sang raja menantikan seorang anak perempuan yang mampu bertahan dari kutukan mengerikan itu.
"Semenjak Putri Amerilya lahir di Kerajaan Meztano, kerajaan mengalami banyak kesialan. Lebih baik jika putri Anda yang tak memiliki bakat apapun itu disingkirkan dari dunia demi kesejahteraan Kerajaan Meztano." ucap Kesatria Rosten Savalor yang tengah memberikan saran gila pada Raja Azvago. Ayah mana yang tega untuk membunuh putrinya sendiri? ditambah putrinya sangat lucu, menggemaskan, cantik, dan juga mempunyai banyak misteri yang tersembunyi di dalamnya.
"Kami juga yakin bahwa yang menyerang malam itu adalah para pelayan yang bekerja untuk Putri Amerilya. Jika bukan karna ulah mereka kami tak akan tertangkap seperti ini." ucap Kesatria Norx Savalor dengan ekspresi kesal. Bagaimana bisa mereka dikalahkan oleh sekumpulan pelayan yang sangat lemah.
Raja Azvago sempat terdiam sejenak, ia memang sedikit curiga dengan identitas sepuluh pelayan yang setia melayani putri kecilnya sejak kecil. Dulu mereka datang saat Ratu Zivaya baru mengandung Putri Amerilya dan kesepuluh pelayan itulah yang menjaga sang ratu, ketika Putri Amerilya lahir sepuluh pelayan itu meminta pada Raja Azvago untuk memindahkan mereka ke Istana Putri dan merawat putri kecil mereka.
"Itu bukan urusan kalian, lagipula mereka hanyalah pelayan biasa yang bekerja untuk Istana Kerajaan Meztano." ucap Raja Azvago dengan tegas.
Raja Azvago menaikkan sebelah alisnya dan melihat ke arah Rosten Savalor, mengapa pria itu sangat percaya diri bahwa Kerajaan Meztano sangat membutuhkan bantuan Kesatria Savalor? saat ini banyak kelompok kesatria lain yang memiliki tingkatan di atas Kesatria Savalor dan berkemungkinan besar akan setia pada Kerajaan Meztano.
"Kalian membuat saya muak." ucap Raja Azvago dengan nada dingin.
Mata Raja Azvago berubah menjadi hitam dan aura di dalam ruangan tersebut berubah drastis seperti ada malaikat maut yang sedang menghampiri mereka, ketiga anggota Kesatria Savalor itu tak berani menatap mata Raja Azvago karna tau apa yang akan terjadi jika mata mereka saling bertatapan satu sama lain. Di belakang ketiga anggota Kesatria Savalor itu muncul tiga bayangan hitam raksasa yang mencengkram kepala mereka dengan sangat kuat, tiga bayangan hitam itu memaksa Rosten Savalor, Albigi Savalor, dan Norx Savalor untuk melihat ke arah mata Raja Azvago. Ketika mata mereka bertiga bertemu dengan mata hitam Raja Azvago ada sensasi aneh yang mereka rasakan, darah di dalam tubuh mereka seperti mendidih karna suhu yang sangat tinggi dan dalam sekejap tubuh ketiga anggota Kesatria Savalor terbakar habis menjadi abu berwarna hitam pekat.
"Pastikan mereka tak akan berreingkarnasi lagi." ucap Raja Azvago pada ketiga bayangan hitam itu.
"Baik kami mengerti." ucap ketiga bayangan hitam itu kemudian menghilang dari hadapan Raja Azvago.
Para prajurit yang menjaga di dalam ruangan harus menahan nafas serta menutup mata mereka rapat rapat hingga Raja Azvago kembali dalam kondisi normal, setelah mendapat isyarat para prajurit langsung membuka mata mereka dan mengantar Raja Azvago keluar dari ruangan itu. Kini ketiga anggota Kesatria Savalor telah lenyap untuk selamanya, itulah bayaran yang akan mereka dapat saat mencoba untuk menghabisi Putri Amerilya.
"Jangan katakan hal ini pada siapapun." ucap Raja Azvago dengan tatapan tajam yang ia berikan pada para prajurit yang mengetahui kejadian itu.
"Baiklah saya mengerti Yang Mulia Raja Azvago." ucap para prajurit dengan tubuh gemetaran. Raja mereka terlihat sangat menakutkan saat ini.
Kejadian kelam itu berlalu dengan bergantinya hari menjadi pagi, Putri Amerilya membuka matanya perlahan lahan dan melihat ke kiri kanan untuk memastikan apakah ayah dan ibunya sudah bangun atau belum. Tak ada siapapun di samping putri kecil itu, sepertinya Raja Azvago dan Ratu Zivaya sudah pergi menuju ruang kerja mereka masing masing. Dengan segera Putri Amerilya keluar dari kamar utama dan bergegas pergi menuju Istana Putri untuk mandi serta sarapan bersama dengan para pelayan setianya, sang putri curiga telah terjadi sesuatu malam tadi hingga ada beberapa prajurit yang mencari sang ayah.
"Selamat pagi Tuan Putri Amerilya, Anda sudah kembali. Bagaimana tidur Anda malam tadi?." tanya seorang pelayan berambut putih dan memiliki manik mata coklat tua.
"Saya tidur dengan nyenyak malam tadi, bagaimana dengan situasi di Istana Putri?." tanya Putri Amerilya yang melihat ke sekitar Istana Putri.
"Semua dalam keadaan aman dan terkendali, Anda tenang saja karna kami semua akan menjaga istana ini saat Anda sedang pergi." ucap pelayan itu yang berusaha meyakinkan Putri Amerilya bahwa tak ada hal yang terjadi di Istana Putri saat ia sedang pergi. Putri Amerilya menganggukkan kepalanya kemudian masuk kedalam kamar untuk mengambil baju ganti.
Di sisi lain tepatnya markas anggota Kesatria Savalor, beberapa kesatria sedang mencari tiga rekan mereka yang menghilang sejak malam tadi. Beberapa diantara mereka beranggapan bahwa ketiganya baru keluar saat menjelang pagi untuk mengawasi kegiatan Putri Amerilya.
"Tenang semuanya, saya yakin Rosten, Abigail, dan Norx bisa menjaga diri mereka dengan baik. Mungkin mereka bertiga sedang mengawasi pergerakan Putri Amerilya untuk memperlancar rencana kita nanti." ucap Kesatria Rossen Savalor, pria itu sedang berusaha menenangkan anggota lain agar tak mencemaskan ketiga rekan mereka yang hilang.
"Bagaimana jika sesuatu terjadi pada mereka?. Akhir akhir ini muncul sekelompok orang yang sangat menjaga dan melindungi Tuan Putri Amerilya." ucap Kesatria Arges Savalor yang tak bisa berfikir dengan tenang, banyak kemungkinan yang sedang terjadi dengan tiga rekan mereka.
"Hari ini adalah hari dimana Duke Zidan Marques akan mendapatkan hukuman penggal, semua orang sedang sibuk menyiapkan tempat hukuman tak mungkin ada yang menyadari kehadiran tiga rekan kita itu." ucap Rossen Savalor dengan raut wajah tenang. Akan banyak penduduk yang datang untuk melihat Duke Zidan Marques dipenggal oleh algojo, hal seperti ini sudah sangat wajar bagi penduduk Kerajaan Meztano.
"Kita akan mencari mereka jika belum kembali hingga sore nanti." ucap Kesatria Lordxu Savalor dengan tegas, selama ketua mereka tak ada di sana mereka harus bisa menyelesaikan
masalah sendiri.
"Baiklah saya setuju." jawab Rossen Savalor, hanya itu satu satunya cara untuk menenangkan anggota Kesatria yang lain.
Hai hai semua author update lagi novel Putri Amerilya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.