PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Kuda Hitam


Saat ini rombongan Kerajaan Meztano sedang beristirahat di sebuah desa kecil, mereka singgah di sana dan menyewa sebuah penginapan. Tadinya Raja Azvago ingin beristirahat di tengah hutan saja, namun ia mengingat dalam perjalanan kali ini ada putri kecilnya yang ikut. Saat sang raja, kedua pangeran, dan sang putri sedang tertidur di sisi lain Kesatria White Rose dan Kesatria Black Night mendapatkan tugas menjaga Duke Zidan Marques agar tak kabur dari kereta kuda. Duke Zidan Marques tiba tiba saja terbangun dan merasa bahwa badannya sangat sakit, ia melihat kesekitar untuk mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Terlihat raut wajah sang duke yang berubah menjadi suram saat mengetahui bahwa saat ini ia menjadi tahanan Kerajaan Meztano karena mencoba membunuh Putri Amerilya.


"Sialan, karna anak perempuan itu aku jadi seperti ini." gerutu Duke Zidan Marques, setidaknya ia harus berhasil membunuh Putri Amerilya sebelum menjadi tawanan Kerajaan Meztano seperti ini.


"Bagaimana caraku keluar dari sini jika penjagaannya sangat ketat." ucap Duke Zidan Marques saat melihat anggota Kesatria White Rose dan Black Night ada di luar kereta kudanya.


Duke Zidan Marques berfikir cukup keras, ia harus menemukan sebuah cara untuk kabur dari sana. Langkah pertama yang dilakukan oleh pria itu adalah membakar tali yang mengingat tangan dan kakinya, kemudian ia akan menunggu para kesatria yang ada di luar lengah. Duke Zidan Marques menyadari hukuman yang akan ia dapatkan sangatlah berat karna berhubungan dengan salah seorang anggota Keluarga Kerajaan Meztano, pria itu tak ingin mati terlebih dahulu sebelum ia menikah dengan Putri Haru. Cukup lama Duke Zidan Marques menunggu, akan tetapi penjagaan dari kedua pihak kesatria tak pernah lengah, karna hal itu Duke Zidan Marques tak memiliki cara lain keluar dari tempat itu selain melawan para kesatria.


Duke Zidan Marques perlahan lahan membuka pintu kereta kudanya, ia berjalan dengan pelan menuju salah satu Kesatria Black Night yang sedang berjaga, sang duke ingin memukul punggung kesatria itu dengan sebuah balok kayu agar pingsan namun sangat disayangkan aksi Duke Zidan Marques dilihat oleh Kesatria Richal yang baru keluar dari penginapan.


"Tuan Duke Zidan Marques berusaha untuk kabur, kepung dia sekarang!!." perintah Kesatria Richal pada Kesatria White Rose yang lain. Dengan sigap para anggota Kesatria White Rose mengepung sang duke dan menangkapnya kembali.


Duke Zidan Marques tak bisa melakukan apapun karna jumlah Kesatria White Rose sangat banyak, kemampuan berperang setiap anggotanya setara dengan kemampuan yang dimiliki oleh Duke Zidan Marques atau mungkin lebih dari itu. Setelah berhasil menangkap tawanan yang kabur, Kesatria Richal meminta pada anggotanya untuk menjaga Duke Zidan Marques hingga pagi datang.


"Maaf karna keteledoran anggota saya, sang duke hampir melarikan diri." ucap Kesatria Black Nicko, ia merasa bersalah atas kejadian itu.


"Lain kali tolonh latih anggota anda dengan sedikit lebih keras, kita bukan kesatria biasa yang hanya bertugas menjaga para duke ataupun warga sipil. Kita adalah kelompok kesatria yang terpilih untuk menjaga keselamatan anggota Keluarga Kerajaan Meztano, jangan sampai Raja Azvago merekrut kelompok kesatria baru untuk menggantikan kelompok anda." ucap Kesatria Richal yang memberikan sedikit nasehat pada ketua Kesatria Black Night.


"Saya akan mengingat nasehat anda dengan baik, saya dan yang lain permisi terlebih dahulu." ucap Kesatria Black Nicko, ia mengajak anggotanya untuk masuk kedalam penginapan. Kesatria Black Nicko merasa sangat malu dengan beberapa kejadian yang menimpa Putri Amerilya akhir akhir ini, semua itu terjadi karna ketidakmampuan mereka menjaga sang putri dengan baik.


"Lepaskan aku sialan, aku adalah duke yang terhormat. Bagaimana bisa aku mendapat perlakukan seperti ini!." triak Duke Zidan Marques, ia sangat marah karna tangan dan kakinya diikat menggunakan tali sihir air jika sudah begini sang duke tak dapat melarikan diri lagi.


"Posisi anda sebagai Tuan Duke yang terhormat akan segera digantikan, anda perlu tau menyakiti anggota keluarga kerajaan merupakan sebuah kejahatan yang tak bisa dimaafkan." ucap Kesatria Rozel dengan tatapan tajam, andai saja ia dan teman temannya yang diutus untuk menjaga sang putri maka hal seperti ini tak akan pernah terjadi.


"Tak ada yang bisa menduduki posisi Duke Marques kecuali keturunan mereka." ucap Duke Zidan Marques dengan tatapan sinis, ketiga putranya tak akan seberani itu untuk menduduki posisi sebagai kepala keluarga. Mereka bertiga tau seberapa besar tanggung jawab seorang Duke Marques dalam menjalankan tugas maupun bisnis keluarga.


"Jika putra anda tak bersedia, maka istri anda akan diangkat menjadi kepala keluarga." jawab Kesatria Rozel dengan tenang, ada banyak cara yang dapat dilakukan Yang Mulia Raja Azvago untuk menggeser kedudukan Duke Zidan Marques.


"Cih, kalian orang orang kotor yang ingin merebut kedudukan saya." ucap Duke Zidan Marques dengan senyum meremehkan, banyak hal yang telah ia lakukan untuk Kerajaan Meztano namun ini balasan yang ia dapat?. Seberapa penting peran Putri Amerilya dalam Kerajaan Meztano hingga semua orang begitu menjaga dan menyayanginya?.


Plak plak plak plak.


Terdengar suara tamparan yang dangat nyaring, bukan Kesatria Rozel yang melakukannya melainkan Kesatria Richal yang sedari tadi diam mendengar perdebatan antara salah satu anggotanya dengan Duke Zidan Marques. Kesatria Richal menampar sang duke karna ia merasa perkataan dari pria tersebut hanyalah omong kosong yang tak masuk akal.


"Jika kami orang orang kotor, maka julukan apa yang harus kami berikan pada pria gila sepertimu?. Bayangkan saja jika seluruh penduduk Kerajaan Meztano mengetahui tentang keanehan hormon mu itu, kau yang selalu ingin memiliki para gadis yang memiliki kemampuan diatas rata rata untuk menjadi istrimu. Mungkin penduduk Kerajaan Meztano akan memandang kearah mu dengan pandangan menghina." ucap Kesatria Richal, ucapannya dapat membuat Duke Zidan Marques langsung terdiam.


Sang duke tengah membayangkan betapa mengerikannya jika hal itu benar benar terjadi, para penduduk Kerajaan Meztano yang dulunya selalu memuji dan membanggakan Duke Zidan Marques tiba tiba berubah mengolok olok dan menghina pria itu. Kehormatan yang telah Duke Zidan Marques bangun selama ini bisa hancur dalam waktu kurang dari satu hari jika berita itu sampai tersebar.


"Lebih baik anda tetap diam hingga persidangan selesai nanti." ucap Kesatria Richal.


Di sisi lain saat ini Putri Amerilya sedang menatap keluar jendela kamarnya, anak perempuan itu sedang melihat para Kesatria White Rose yang menjaga tawanan Kerajaan. Putri Amerilya ingin keluar dari kamar dan menghampiri para Kesatria White Rose, namun jika ia melakukan hal itu sang ayah pasti sangat marah.


Tok tok tok, suara pintu kamar Putri Amerilya yang diketuk oleh seseorang. Dengan sigap sang putri berjalan dan membukakan pintu, ia melihat seorang pemuda yang tak asing baginya sedang menatap dengan tatapan sedih.


"Apa anda baik baik saya Tuan Putri Amerilya?." tanya Rostow Elister yang tiba tiba berada di penginapan yang sama dengan rombongan Kerajaan Meztano?.


"Saya baik baik saja, bagaimana anda bisa datang ketempat ini?" tanya Putri Amerilya dengan tatapan bingung yang sangat menggemaskan. Rostow Elister dengan gemas mencubit pelan pipi gembul sang putri, bagaimana ia bisa menjadikan bayi semanis ini menjadi rivalnya.


"Saya sengaja datang setelah mendengar kabar penyerangan yang terjadi pada anda, karna anda baik baik saya maka saya akan kembali ke kediaman Duke Elister." ucap Rostow Elister yang menghilang dari pandangan Putri Amerilya. Sang putri semakin bingung dengan apa yang barusan ia lihat, mengapa Rostow Elister bisa datang dan pergi secepat itu? mungkinkah ia memiliki kemampuan untuk mengendalikan ruang dan waktu hingga dapat melakukan teleportasi.


Karna tak ingin terlalu memikirkan hal itu akhirnya sang putri memilih untuk masuk kedalam kamar dan mengunci pintu, anak perempuan itu langsung berbaring di atas kasur kemudian mencoba untuk memejamkan matanya. Waktu berlalu dengan sangat cepat pagi telah tiba, semua rombongan Kerajaan Meztano sudah siap untuk melanjutkan perjalanan mereka.


"Aku ingin naik kuda bersama dengan ayah." ucap Putri Amerilya dengan sorot mata sedih, pada kehidupan sebelumnya ia adalah penunggang kuda yang handal gadis itu bahkan bisa menjinakkan beberapa kuda liar.


Raja Azvago melihat ke arah putri kecilnya itu, sangat berbahaya bagi Putri Amerilya yang masih berusia dua tahun jika naik ke atas punggung kuda. Kuda dikenal sebagai hewan yang sensitif, mereka tak selalu menerima kehadiran orang orang baru disekitarnya. Kuda yang ditunggangi oleh Raja Azvago adalah seekor kuda hitam dengan sorot mata tajam, kuda itu sering menyerang penjaga kandang yang memberinya makan karna merasa risih dengan kehadiran mereka.


"Ini sangat berbahaya putriku, kau bisa menaiki seekor kuda ketika sudah berusia sepuluh tahun." ucap Raja Azvago, sang raja berusaha memberi pengertian pada putri kesayangannya itu. Terlihat ekspresi sedih yang semakin menjadi jadi, Putri Amerilya terlihat ingin menangis karna dilarang naik kuda oleh sang ayah.


"Kau dengar itu Dizel, ayah melarang ku naik ke atas punggungmu." ucap Putri Amerilya, gadis kecil itu langsung naik ke kereta kudanya tanpa mendengar penjelasan dari sang ayah.


Raja Azvago menghela nafas pasrah, anak kecil memang senang melakukan hal hal aneh yang membahayakan nyawa mereka. Lalu siapa yang dipanggil oleh putri kecilnya itu dengan sebutan Dizel? ia bahkan belum menamai kuda hitam tersebut. Saat sang raja ingin naik ke atas punggung kuda hitamnya, tiba tiba kuda itu memberontak dan menyebabkan sang raja terjatuh.


"Mengapa kuda itu menjadi sangat marah?." tanya Kesatria Black Nicko dengan ekspresi bingung, selama belasan tahun sang kuda hitam selalu memperlakukan Raja Azvago dengan baik.


"Mungkinkah kuda itu marah karna sang raja tak mengizinkan Putri Amerilya naik ke atas punggungnya." ucap Kesatria Richal, ia sedang menebak apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa kau marah padaku?." tanya Raja Azvago pada kuda hitam miliknya itu, sang kuda hanya membuang muka dan tak ingin melihat rajanya.


Putri Amerilya membuka jendela kereta kuda yang ia tempati, sang putri melihat kekacauan yang terjadi di luar. Ia bertanya pada beberapa kesatria mengapa mereka belum berangkat dan para kesatria itu menjawab saat ini kuda yang ditunggangi oleh Raja Azvago sedang marah. Mendengar hal itu Putri Amerilya langsung turun dari kereta kuda, ia menghampiri kuda hitam itu.


"Dizel sedang marah pada ayahku?." tanya putri kecil itu dengan nada lembut. Sang kuda hitam menoleh ke arah Putri Amerilya, kuda itu menganggukkan kepalanya pelan.


"Ya terkadang ayah memang menyebalkan, tapi aku ingin segera tiba di istana. Bisakah Dizel mengijinkan ayah naik ke atas punggungmu? saat berusia sepuluh tahun nanti aku pasti akan naik ke atas punggungmu." ucap Putri Amerilya dengan ekspresi polos yang menggemaskan.


Akhirnya kuda hitam itu luluh dengan perkataan sang putri, Raja Azvago dan yang lain hanya menatap dengan tatapan terkejut. Rombongan Kerajaan Meztano mulai berjalan meninggalkan desa, beberapa jam lagi mereka akan sampai di Istana Kerajaan Meztano.


"Putri anda sangat luar biasa." ucap Kesatria Richal yang semakin kagum dengan kemampuan putri kecil mereka.


"Dia selalu mengejutkan ayahnya." jawab Raja Azvago dengan senyuman tampan. Perjalanan kali ini sangat tenang dan tanpa gangguan apapun, para bandit ataupun perampok memilih untuk diam di persembunyian mereka daripada harus menyerang rombongan Keluarga Kerajaan Meztano yang sedang dikawal oleh Kesatria Black Night dan Kesatria White Rose.


Hai semuanya akhirnya bisa up novelku yang ini. Gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys, jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share ke temen temen kalian