
Para tabib dan alkemis yang telah selesai memeriksa kondisi Putri Amerilya berpamitan pada ketiga pelayan itu untuk kembali ke ruangan mereka dan mendiskusikan langkah yang harus diambil beberapa hari kedepan bila sang putri tak kunjung membaik.
Kini yang berada di dalam ruang kesehatan hanyalah Tuan Putri Amerilya bersama dengan ketiga pelayan setianya. Lilian sedang duduk di sebuah kursi sembari menatap ke arah Putri Amerilya dengan tatapan sendu, Lilian berharap agar sang putri segera sadar dan sembuh agar bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.
"Suasana di sekitar istana menjadi sangat sepi semenjak Putri Amerilya terbaring lemah di atas ranjang seperti ini. Saya harap Tuan Putri akan segera bangun dan membuat suasana kembali ceria seperti sebelumnya." ucap Amena dengan tatapan tak tega.
"Dia akan segera bangun, seorang putri yang sangat periang sepertinya tidak akan betah berlama lama terbaring di atas ranjang ruang rawat seperti ini." jawab Juylin sembari menunjukkan senyum lebar.
Di tempat lain prajurit Kerajaan Meztano dan Kerajaan Belgize sedang bertarung, pertarungan diantara keduanya masih sangat sengit. Ribuan prajurit dari pihak Kerajaan Belgize kalah telak, beberapa jenderal yang sempat sesumbar pada Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe mulai merasa bahwa peperangan ini tidak seimbang.
"Percepat serangan kalian, kita harus segera menduduki Kerajaan Belgize kemudian pulang ke kerajaan Meztano untuk memberitahukan kemenangan ini pada Tuan Putri Amerilya!!." triak Pangeran Mixo dengan semangat membara, tubuh sang pangeran terbakar oleh semangat dan kobaran api dari elemen sihir miliknya.
"Siap laksanakan!!! semuanya siapkan formasi kedua. Hancurkan di dinding pertahanan musuh!!." triak beberapa jenderal dari Kerajaan Meztano yang sedang memberi arahan pada pasukan masing masing.
Beberapa pasukan yang berada di garda depan mulai mundur kebelakang, mereka bergantian dengan para prajurit cadangan yang sedari tadi hanya sibuk memanah ke arah musuh. Pasukan dari Kerajaan Belgize tampak kebingungan, mereka belum pernah melihat formasi seperti ini selama berperang dengan Kerajaan manapun.
"Dorong!." triak Pangeran Luxe dengan suara keras dan lantang.
Dalam serempak pasukan yang ada di barisan terdepan berlari maju secara persamaan dengan menodongkan pedang mereka. Pada akhirnya pasukan Kerajaan Belgize terdorong mundur hingga menabrak dinding perbatasan. Tidak hanya sampai di situ saja, pasukan Kerajaan Meztano terus mendorong bahkan mereka mulai menggunakan mana sihir untuk memperkuat dorongan itu.
Bruak.....
Suara dinding perbatasan wilayah Kerajaan Belgize runtuh, ribuan pasukan dari kerajaan itu jatuh dan tertimpa rekan rekan mereka. Para Jenderal Kerajaan Belgize mulai merasa cemas akan hal yang terjadi, jika terus seperti ini Kerajaan Belgize akan benar-benar kalah.
"Bangun, bangun kalian semua!!. Kita tidak boleh menyerah dan membiarkan pihak musuh menang dengan mudah." ucap beberapa jenderal yang mulai mencoba membangkitkan semangat pasukan mereka.
"Uhuk uhuk.. maafkan kami jenderal, pertarungan ini tidak seimbang. Lebih baik kita menyerah daripada memakan banyak korban jiwa seperti ini." jawab salah seorang prajurit dengan tubuh sangat lemas.
"Ck apa apaan kalian semua, wilayah Kerajaan Balvagor adalah milik Yang Mulia Raja Ruzel dan Ratu Luncia. Bagaimana bisa kita membiarkan pihak lain menguasainya." bentak salah seorang jenderal pada para prajurit itu.
"Kami tidak sanggup lagi Jenderal, pertarungan ini sangat melelahkan dan membuat kami kehilangan banyak rekan kerja. Tolong sebagai seorang jenderal berfikirlah dengan logis." ucap salah seorang prajurit dengan berlinangan air mata.
Peperangan itu sempat terhenti sebentar karna pasukan Kerajaan Belgize tampak kelelahan dan belum sanggup melanjutkan peperangan tersebut. Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe memperhatikan gelagat para jenderal pihak musuh yang sangat aneh, mengapa para jenderal itu bersikeras meminta pasukannya untuk terus melanjutkan peperangan.
"Menyerah lah, kami akan membiarkan kalian tetap hidup. Mulai saat ini wilayah Kerajaan Belgize akan menjadi bagian dari Kerajaan Meztano." ucap Pangeran Mixo dengan tegas dan tatapan tajam.
Pasukan Kerajaan Belgize semakin goyah setelah mendengar perkataan dari Pangeran Mixo. Jujur saja seluruh prajurit yang ada di kelompok pasukan tersebut sangat ingin menyerah untuk menyelamatkan nyawa masing masing, namun relakah mereka memberikan wilayah Kerajaan Belgize pada pihak Kerajaan Meztano?.
"Kami akan memperlakukan para penduduk dengan baik sama seperti penduduk wilayah Kerajaan Meztano. Tidak ada perbedaan perlakuan selama kalian semua bersedia tunduk pada aturan yang ada di wilayah Kerajaan Meztano." jelas Pangeran Luxe dengan wajah serius. Apa yang ia katakan bukan sekedar omong kosong belaka karna semua yang terjadi adalah kesalahan anggota Keluarga Kerajaan Belgize bukan para penduduk kerajaan itu.
"Kami berjanji akan memperlakukan kalian dengan baik, patuhilah aturan dari Kerajaan Meztano maka kesejahteraan akan kami berikan." tegas Pangeran Luxe.
Para jenderal mulai angkat tangan, mereka tidak sanggup mengatasi para prajurit yang mulai memberontak. Akhirnya para jenderal memutuskan untuk mengakhiri peperangan ini dan berdiskusi secara baik baik dengan beberapa perwakilan Kerajaan Meztano.
"Mari ikut kami pergi ke Istana Kerajaan Belgize, diskusi ini harus dilakukan secara tertutup agar tidak ada pihak lain yang mengacau." ucap salah seorang jenderal yang memandu Pangeran Mixo, Pangeran Luxe, dan anggota Kesatria White Rose.
Merekapun berjalan menuju Istana Kerajaan Belgize, di sepanjang jalan banyak penduduk yang mengintip dari celah celah pintu ataupun jendela rumah mereka.
"Apakah peperangan sudah berakhir suamiku? bisakah kita keluar dari rumah untuk berjualan lagi." ucap seorang wanita di dalam rumahnya.
"Mungkin saja, saya juga berharap peperangan ini tidak berlangsung lama. Jika wilayah Kerajaan Belgize dikuasai oleh Kerajaan Meztano tidak ada kerugian bagi penduduk biasa seperti kita ini. Saya pernah beberapa kali pergi ke Kerajaan Meztano dan penduduknya hidup dengan makmur.
"Jadi kau berharap pihak Kerajaan Belgize kalah?." tanya wanita itu dengan tatapan bingung. Baru kali ini ada seseorang yang menginginkan kekalahan atas wilayah tempat kelahirannya sendiri.
Di sisi lain Ratu Zivaya dan Ibu Suri Sinya sedang berada di halaman depan mereka mengantar kepulangan anggota Keluarga Kerajaan Monzxo ke wilayah mereka. Putri Alexsi dan Putri Yunha melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Putri Amerilya namun tak kunjung menemukannya.
"Maaf Yang Mulia Ratu, sedari tadi saya tidak melihat keberadaan Tuan Putri Amerilya. Apakah dia masih tidur ataukah sedang ada kegiatan lain." ucap Putri Alexsi.
"Sebagai ibu dari Tuan Putri Amerilya saya meminta maaf atas ketidak hadiran putri saya. Saat ini ia sedang dirawat karna jatuh sakit, saya harap Putri Alexsi dan yang lain tidak merasa tersinggung atas hal ini." ucap Ratu Zivaya dengan tak enak hati.
"Putri Amerilya jatuh sakit?. Ah iya semalaman saya sempat mendengar sedikit keributan dari arah kamar sang putri, saat ingin pergi melihat apa yang sedang terjadi tiba-tiba saya tertidur dan tidak mengingat apapun." tanya Putri Yunha, ia ingin tau apa yang terjadi tadi malam.
"Ada sedikit kekacauan yang terjadi, tidak perlu khawatir karna kami semua telah membereskan kekacauan itu." jawab Ratu Zivaya sembari tersenyum lebar untuk menutupi kegelisahannya.
"Saya ucapkan terimakasih pada seluruh anggota Kerajaan Meztano yang sudah menyambut kedatangan kami dengan baik, memperlakukan kami seperti keluarga sendiri, dan menjamu kami dengan sangat baik ketika berada di sini. Maaf jika ada kesalahan yang kami lakukan secara sengaja ataupun tidak. Kami semua berharap agar kondisi Tuan Putri Amerilya segera membaik dan bisa berlarian kesana kemari seperti biasanya." ucap Raja Yuminxo dengan panjang lebar.
"Kami permisi terlebih dahulu, sampai jumpa lagi dikesempatan selanjutnya." ucap Ratu Jenya, ia berjalan menuju kereta kuda kemudian melambaikan tangannya pada Ratu Zivaya.
"Sampai jumpa lagi, datanglah kemari bila ada waktu luang." jawab Ratu Zivaya yang melambaika tangannya juga.
Seluruh anggota Keluarga Kerajaan Monzxo telah masuk ke kereta kuda mereka masing masing, perlahan lahan kereta kuda itu mulai berjalan meninggalkan halaman depan Istana Kerajaan Meztano bersama beberapa prajurit yang ada di barisan depan.
"Bagaimana kondisi Putri Amerilya saat ini? bisa bisanya Putri Bilgiz memanggil seorang iblis untuk menghancurkan kerajaan ini." ucap Ibu Suri Sinya.
"Saya juga tidak menduga bahwa beberapa anggota Keluarga Kerajaan Belgize adalah pengikut Pangeran Iblis, untuk kedepannya kita harus lebih berhati-hati." jawab Ratu Zivaya sembari menghela nafas pasrah.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.