
Putri Amerilya dan keenam anak duke masih bertarung melawan para prajurit dari Kediaman Duke Marques yang terus berusaha untuk masuk ke dalam, sepuluh pelayan setia gadis itu masih menyerang secara diam diam dan melindungi putri kecil mereka. Dari kejauhan Putri Amerilya melihat Tuan Muda Bristo Marques dan Nona Muda Ciela Marques datang untuk membantu pasukan pemberontak itu. Satu hal yang terlintas di kepala Putri Amerilya, seluruh anggota Keluarga Duke Marques sedang melakukan pemberontakan tanpa terkecuali. Putri Amerilya sedang memikirkan bagaimana konsisi tempat eksekusi Duke Zidan Marques, kemungkinan besar di sana sedang terjadi kekacauan juga.
"Anda baik baik saja Tuan Putri?." tanya Tuan Muda Rostow Elister yang menghampiri gadis itu setelah berhasil menumbangkan puluhan prajurit dari pihak musuh.
"Saya baik baik saja, sepertinya Keluarga Marques melakukan pemberontakan secara besar besaran." ucap Putri Amerilya dengan tatapan geram. Entah apa yang sedang difikirkan oleh Nyonya Riana Marques hingga melakukan tindakan sebodoh itu. Meski Zidan Marques dapat kembali secara hidup hidup, pria itu tak akan pernah memperlakukan sang istri secara manusiawi.
Dari dalam istana utama muncul dua ribu prajurit yang siap untuk membantu Tuan Putri Amerilya, mereka dipimpin langsung oleh keempat pangeran. Setelah sampai di luar gerbang akses keluar masuk Istana Kerajaan Meztano para prajurit terkejut melihat tuan putri kecil mereka begitu terampil menggunakan pedang, melihat begitu bersemangatnya Putri Amerilya menumbuhkan rasa semangat di hati mereka juga.
"Serang!!!!." triak Pangeran Mixo yang mengambil alih memimpin pasukan itu karna ia adalah pangeran tertua. Dua ribu pasukan Kerajaan Meztano berlari ke arah pasukan Keluarga Duke Marques yang masih tersisa, mereka menyerang dengan brutal dan sebagian bertugas untuk melindungi Tuan Putri Amerilya beserta keenam anak duke.
"Sialan para pangeran itu ikut turun dalam peperangan, melawan putri kecil itu kita sudah kewalahan bagaimana dengan sekarang." ucap salah seorang prajurit khusus dari kediaman Duke Marques, ia sedang mengamati jalannya peperangan kecil yang sedang terjadi antara Keluarga Duke Marques dengan Keluarga Kerajaan Meztano.
"Kita tak bisa mundur sekarang, pihak kerajaan akan memusnahkan Keluarga Duke Marques kalau kita sampai kalah." ucap prajurit khusus Kediaman Duke Marques yang lain.
"Semuanya formasi bertahan!!!." ucap prajurit khusus yang sempat merasa resah dengan kekalahan mereka.
Para prajurit dari kediaman Duke Marques mundur dan berkumpul di sebuah titik, mereka mengeluarkan perisai dari berbagai macam jenis sihir kemudian perisai itu menyatu dan membentuk pertahanan yang kuat. Putri Amerilya memandang ke arah perisai yang ada di hadapannya itu, meski terlihat sangat kuat namun sangat mudah untuk dihancurkan.
"Jika diantara para pangeran ada yang berhasil menghancurkan perisai itu maka saya Putri Amerilya akan menemaninya beristirahat malam ini." ucap Putri Amerilya dengan senyuman polosnya, gadis itu sedang menantang keempat kakak laki lakinya itu. Para pangeran saling melihat satu sama lain, bisa tidur bersama dengan adik kecil mereka adalah sebuah kesempatan yang sangat langka, Pangeran Luxe sudah membayangkan betapa lucunya sang putri saat tidur nanti.
"Baiklah pegang kata kata mu itu putri kecil." jawab keempat pangeran secara bersamaan. Mereka berempat maju di barisan paling depan untuk mempersiapkan serangan terkuat untuk menghancurkan perisai itu.
"Pangeran Azxo silahkan memulainya terlebih dahulu." ucap Pangeran Mixo yang memberi kesempatan pertama pada pangeran termuda.
Pangeran Azxo maju beberapa langkah kemudian ia mengeluarkan sebuah tongkat sihir berwarna hitam, Pangeran Azxo merapalkan sebuah mantra untuk membangkitkan prajurit tengkorak yang telah ia buat. Prajurit tengkorak milik Pangeran Azxo memiliki kemampuan khusus untuk menyerang serta melumpuhkan musuh, entah berhasil atau gagal Pangeran Azxo akan mencobanya demi Putri Amerilya.
"Serang!." Perintah Pangeran Azxo pada ratusan prajurit tengkorak miliknya. Ratusan tengkorak berwarna hitam menyerang secara bersamaan perisai yang melindungi para prajurit dari Kediaman Duke Marques. Sangat disayangkan prajurit tengkorak itu tak bisa melawan lebih lama karna beberapa diantara prajurit khusus Kediaman Duke Marques adalah penyihir dengan kekuatan sihir cahaya.
"Maaf saya gagal." ucap Pangeran Azxo dengan senyuman tipis yang menghiasi wajahnya itu, meski ia gagal untuk tidur bersama adik kecilnya malam ini setidaknya Pangeran Azxo sudah mencoba yang terbaik.
Putri Amerilya menghampirinya kakak laki laki termudanya itu dan meminta pada Pangeran Azxo untuk menunduk, sang pangeran hanya bisa pasrah menuruti keinginan adik kecilnya. Sang putri mencium pipi kanan dan pipi kiri sang pangeran sebagai hadiah karna telah berjuang menghancurkan perisai sihir itu. Terlihat semburat berwarna merah muncul di kedua pipi Pangeran Azxo, sepertinya ia merasa senang sekaligus malu setelah mendapat ciuman dari adik kesayangannya.
"Pangeran harus berlatih lebih keras lagi agar bisa melindungi ku di masa depan." ucap Putri Amerilya dengan logatnya yang sangat lucu.
"Baiklah kakak laki laki mu ini akan berlatih dengan giat." ucap Pangeran Azxo dengan senyuman canggungnya.
Kini giliran Pangeran Zico yang akan menyerang perisai sihir milik pihak musuh, sang pangeran mengeluarkan kemampuan sihir elemen es dan elemen air secara bersamaan. Ribuan balok es tajam muncul di hadapan perisai sihir itu, Pangeran Zico menggerakkan tangannya membentuk sebuah gerakan yang aneh bagi orang yang belum pernah melihat cara sang pangeran menggunakan sihir. Ribuan balok es dengan ujung yang sangat lancip menyerang perisai sihir milik prajurit Kediaman Duke Marques secara berturut turut, beberapa prajurit dengan elemen es merasakan guncangan yang sangat dahsyat dan hampir saja terpental kebelakang, dengan sigap Nona Muda Ciela Marques membuat perisai dengan elemen api untuk melelehkan es milik sang pangeran.
"Mengapa Tuan Putri kecil kita meminta para pangeran untuk menghancurkan perisai ini? apakah Anda merasa tak mampu untuk melakukannya?." tanya Bristo Marques yang menunjukkan senyuman meremehkan pada Tuan Putri Amerilya.
"Apa kalian tak malu melawan seorang anak berusia dua tahun? rupanya semua anggota Keluarga Duke Marques adalah orang orang dengan otak kosong." ucap Pangeran Mixo dengan tatapan kesal, bagaimana bisa mereka menantang Putri Amerilya secara terang terangan seperti itu.
"Lawanlah kami jika kalian merasa sangat kuat dan keluarlah dari balik tempurung sihir itu." cemoohan Tuan Muda Edwig Elister pada pihak Kediaman Duke Marques. Mereka berani menantang namun tak berani untuk menyerang duluan, sungguh tindakan seorang pengecut.
"Jadi Tuan Muda Bristo Marques dan Nona Muda Ciela Marques ingin saya turun langsung menghancurkan perisai sihir itu? baiklah saya akan mengabulkannya." ucap Putri Amerilya dengan tatapan tenang dan nada bicara yang sangat halus, putri kecil itu bahkan tersenyum dengan sangat lebar.
Kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya yang sedang bersembunyi merasakan niat membunuh yang kuat dari sang putri, seorang pelayan dengan rambut berwarna putih dan kata biru cerah menatap ke arah sang putri dengan tatapan kagum. Tak sia dia ia dan rekannya yang lain memutuskan untuk melayani putri kecil itu, mereka semua siap melindungi Putri Amerilya kapanpun juga. Di sisi lain tepatnya tempat eksekusi Duke Zidan Marques masih terjadi kekacauan yang cukup besar, para jenderal berusaha menangkap seorang jenderal yang berkhianat pada Kerajaan Meztano sedangkan Yang Mulia Raja Azvago sibuk melawan Zidan Marques.
"Meski saya akan kalah dengan Yang Mulia Raja, akan saya pastikan Anda kehilangan orang yang paling Anda sayangi." ucap Duke Zidan Marques dengan senyuman penuh arti.
Raja Azvago tak dapat menahan kemarahannya lagi, ia mengeluarkan pedang miliknya dan menodongkan pada leher sang duke. Sudah banyak kekacauan yang terjadi di wilayah kekuasaan Duke Marques yang tak ia ketahui dan dengan kepintaran dari putri kecilnya itu semua kejahatan yang dilakukan Duke Zidan Marques terbongkar juga.
"Takkan kubiarkan kau menyakiti salah satu anggota Kerajaan Meztano." ucap Raja Azvago dengan tatapan tajam, ia tak tau siapa yang sedang diincar oleh para pemberontak itu.
"Ahahaha apakah Yang Mulia Raja Azvago ketakutan saat ini?. Bukankah saat ini Tuan Putri Amerilya sedang tak bersama dengan Anda ataupun para Pangeran?." ucap Duke Zidan Marques tepat sasaran, terakhir kali Raja Azvago menitipkan putrinya itu pada keenam anak Duke.
"Sialan, jangan pernah berfikir untuk menyentuh satu helai rambut Putriku!!." bentak Raja Azvago dengan emosi yang meluap luap.
"Tenanglah Yang Mulia Raja Azvago, Tuan Putri Amerilya akan aman karna keenam anak duke bukanlah lawan yang lemah jika ada sekelompok orang yang ingin menyerang mereka." ucap Kesatria Richal yang saat ini sedang melawan beberapa pemberontak yang menyamar menjadi penduduk biasa dan menonton jalannya eksekusi penggal tadi.
Nyonya Riana Marques bangun dari tempat duduknya bersama dengan Tuan Muda Eren Marques, keduanya berjalan mendekat ke arah Ratu Zivaya. Nyonya Riana Marques menatap ke arah sang ratu dengan tatapan tajam dengan senyuman lebar yang tampak sangat memuakkan, ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh wanita itu untuk Ratu Zivaya.
"Anda harus menyiapkan upacara pemakaman secepat mungkin karna saat ini prajurit khusus Kediaman Duke Marques sudah berhasil masuk kedalam Istana Kerajaan Meztano. Besar kemungkinan putri kecil Anda telah tewas bersama dengan keenam anak duke yang berusaha untuk melindunginya." ucap Nyonya Riana Marques dengan senyuman puas, akhirnya ia bisa membalas rasa sakit yang ia rasakan pada Ratu Zivaya.
Ratu Zivaya menggenggam kedua telapak tangannya dengan sangat erat, aura dingin keluar dari tubuh sang ratu karna ia adalah penyihir dengan elemen es terkuat di Kerajaan Meztano. Tanpa aba aba Ratu Zivaya memukul perut Nyonya Riana Marques dengan sekuat tenaga hingga wanita itu terpental belasan meter dan menabrak dinding pembatas di area eksekusi untuk Zidan Marques.
"Jika sesuatu terjadi pada putri kecilku, akan ku pastikan nama Duke Marques tak akan pernah terdengar lagi selamanya." ucap Ratu Zivaya dengan tatapan dingin yang menusuk jantung Nyonya Riana Marques.
Ada satu hal yang ganjal di sana, Tuan Muda Eren Marques tak berusaha untuk membantu sang ibu ataupun menyerang Ratu Zivaya sebagai balas dendam atas apa yang terjadi pada ibu tirinya itu. Tuan Muda Eren Marques bahkan memilih untuk kembali ke tempat duduknya dan diam menyaksikan pertarungan yang masih berlanjut.
Hai semuanya akhirnya novel Putri Amerilya update juga setelah sekian lama betapa. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.