
Malam yang sunyi Putri Amerilya beserta para kesatria White Rose sudah berada di gerbang belakang Istana Kerajaan Meztano, mereka memberikan isyarat pada beberapa prajurit yang berjaga untuk membukakan gerbang belakang secara perlahan. Untunglah hingga saat ini prajurit dari istana putri yang berjaga di sana sehingga Putri Amerilya mudah masuk ke dalam tanpa hambatan sedikitpun. Putri Amerilya mengarahkan pada anggota Kesatria White Rose untuk pergi menuju pintu belakang istana utama, mereka semua bergerak mengendap endap seperti maling dan untunglah tak ada yang curiga dengan hal itu. Setelah berhasil masuk ke dalam istana melalui bangunan bagian belakang kini Putri Amerilya dan para Kesatria White Rose harus berpisah. Putri Amerilya akan pergi untuk menemui Raja Azvago dan Ratu Zivaya sedangkan anggota Kesatria White Rose harus membawa semua tahanan menuju ruang khusus untuk diintrogasi.
Setelah berpisah dengan Kesatria White Rose kini Putri Amerilya berjalan dengan santai mengurusi lorong lorong yang ada di istana utama, terlihat para pelayan masih sangat sibuk mendekor beberapa tempat untuk persiapan pesta ulangtahun nya besok malam. Beberapa pelayan yang melihat kehadiran sang putri langsung membungkukkan badan dan memberikan salam penghormatan, beberapa diantara mereka juga mengucapkan selamat karna sang putri akan segera menginjak usia tiga tahun. Setelah perjalanan yang cukup lama akhirnya Putri Amerilya sampai di depan pintu ruang kerja Raja Azvago.
Tok tok tok..
Suara pintu ruang kerja Raja Azvago yang diketuk oleh Putri Amerilya, setelah menunggu beberapa saat pintupun terbuka dan sang raja menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari siapa orang yang mencarinya.
"Ekem apakah ayah tidak melihat keberadaan saya di sini?." tanya Putri Amerilya dengan ekspresi cemberut, hanya karna tubuhnya yang mungil dan pendek ia menjadi bahan bercandaan sang ayah.
Raja Azvago segera menundukkan kepala, ia tersenyum lebar ke arah putri kesayangannya itu. Raja Azvago benar benar tak melihat keberadaan Putri Amerilya di sana, mungkin ia mengira yang datang adalah salah seorang mentri ataupun prajurit yang ingin melaporkan hal penting.
"Maaf karna ayah tak melihatmu tadi. Ada apa putriku? mengapa kau belum tidur ini sudah sangat larut." ucap Raja Azvago sembari membawa Putri Amerilya ke dalam gendongannya.
"Saya dan para Kesatria White Rose berhasil menangkap para prajurit dari Keluarga Marques Montiqu, kami hanya menyisakan lima orang saja beserta satu penghianat kerajaan sedangkan yang lain sudah tewas di tempat." ucap Putri Amerilya dengan tatapan serius.
Raja Azvago menatap ke arah putri kecilnya itu dengan tatapan tak percaya, ia dan beberapa jenderal sedang menyusun rencana untuk menangkap para penyusup yang masuk ke dalam wilayah Kerajaan Meztano sedangkan putrinya sudah berhasil membereskan masalah itu dalam kurun waktu kurang dari tiga hari? sungguh hal yang sangat luar biasa.
"Benarkah itu? apakah kau baik baik saja?. Mengapa kau melakukannya sendiri tanpa memberitahu ayah terlebih dahulu, bagaimana jika kau terluka ataupun ditangkap oleh mereka." ucap Raja Azvago yang lebih mementingkan keselamatan putri kecilnya itu. Para penyusup bisa di tangkap sebelum pesta ulang tahun Putri Amerilya dilangsungkan namun keamanan serta keselamatan sang putri adalah hal yang terpenting.
"Saya baik baik saja ayah tak perlu cemas, lagipula ada anggota Kesatria White Rose yang selalu menjaga dan memastikan bahwa saya dalam keadaan aman. Akan sangat terlambat jika saya harus memberitahu ayah terlebih dahulu, malam ini para prajurit dari Keluarga Marques Montiqu berencana meledakkan semua bubuk peledak itu. Sepertinya mereka merubah rencana karna hal yang sangat mendesak." jelas Putri Amerilya. Sebuah alasan yang sangat masuk akal jika Putri kecil itu tak sempat memberitahukan rincian rencananya pada sang raja.
"Lalu dimana mereka sekarang?." tanya Raja Azvago, ia akan pergi untuk menemui para penyusup serta pengkhianat itu.
"Kesatria Richal dan yang lain membawa mereka ke ruang interogasi. Lebih baik jika ayah membawa beberapa jenderal dan penyidik kerajaan untuk menangani kasus ini." ucap Putri Amerilya yang memberikan sedikit saran pada ayahnya.
Tanpa basa basi Raja Azvago langsung pergi menuju ke rungan khusus penyidik kerajaan, ia meminta dua orang untuk ikut bersamanya. Setelah itu sang raja meminta salah seorang prajurit untuk memanggilkan tiga orang jenderal tingkat tinggi, tak perlu menunggu lama ketiga jenderal itu langsung berkumpul di titik temu. Kini Raja Azvago, Putri Amerilya, kedua penyidik kerajaan, dan tiga orang jenderal tingkat tinggi berkumpul di depan ruang interogasi. Dua orang penyidik kerajaan dan tiga orang jenderal saling berpandangan satu sama lain, mereka belum tau maksud dari Yang Mulia Raja mengumpulkan mereka semua di tempat itu.
"Apakah ada hal penting yang ingin Yang Mulia Raja sampaikan hingga meminta kami untuk berkumpul di tempat ini?." tanya salah seorang jenderal dengan tegas. Ia dan beberapa rekannya yang lain masih membuat peta penyergapan untuk para penyusup dari Keluarga Marques Montiqu.
"Rencana yang telah kita buat sebelumnya batalkan saja, Putri Amerilya dan anggota Kesatria White Rose telah bergerak terlebih dahulu dan mereka berhasil membersihkan orang orang dari Keluarga Marques Montiqu. Saat ini ada lima prajurit dan seorang pengkhianat kerajaan yang siap untuk diintrogasi." ucap Raja Azvago dengan tatapan dingin dan suara tegas.
"Apa!!! apakah Anda sedang bergurau pada kami?. Bagaimana bisa Tuan Putri Amerilya membuat rencana dalam waktu singkat dan langsung menjalankan rencana itu tanpa persetujuan dari Anda?." ucap salah seorang penyidik kerajaan dengan tatapan tak percaya. Menangkap para penyusup dari wilayah kerajaan lain bukanlah hal yang mudah apalagi mereka memiliki koneksi orang dalam.
"Ini melanggar aturan yang ada, mengapa Tuan Putri Amerilya bertindak gegabah seperti ini. Bagaimana jika tindakannya itu membahayakan nyawa banyak orang." ucap penyidik kerajaan yang lain.
Putri Amerilya menatap ke arah dua orang penyidik kerajaan itu dengan tatapan tak suka, apa yang sedang mereka katakan itu?. Apakah para penyidik kerajaan memiliki dendam pribadi pada sang putri atas kejadian yang menimpa Keluarga Zidan Marquez beberapa bulan yang lalu?. Putri Amerilya sangat tidak nyaman dengan kehadiran kedua penyidik itu dan dia sangat ingin mencekik mereka berdua hingga tewas.
"Membahayakan orang lain? lalu apa yang kalian lakukan selama ini. Mencari tau masalah yang terjadi di sekitar Kerajaan Meztano adalah tugas kalian sebagai penyidik kerajaan namun pada kenyataannya kalian tak pernah mendapatkan Informasi apapun bahkan tak pernah menyelesaikan permasalahan yang ada. Kini kalian berdua mengatakan bahwa saya membahayakan nyawa orang lain? haruskah saya membiarkan bubuk peledak itu menghancurkan seluruh wilayah Kerajaan Meztano hanya karna ketidakmampuan orang dewasa seperti kalian ini." jawab Putri Amerilya dengan tatapan sinis, ia sangat tidak suka dipojokkan seperti ini.
Cklak...
Terdengar suara ruang interogasi yang di buka oleh seseorang. Ternyata yang keluar adalah Kesatria Richal, ia sangat geram mendengar ada orang yang sedang menyalahkan Putri Amerilya padahal jika bukan karna putri kecil itu maka mereka semua sudah tewas terkena ledakan.
"Tetap saja tindakan Anda tak bisa dibenarkan Tuan Putri Amerilya. Sangat tidak wajar jika seorang anak berusia tiga tahun terlalu banyak ikut campur dalam urusan kerajaan." ucap salah seorang penyidik dengan tatapan tak suka yang ia berikan pada Putri Amerilya.
"Begitulah? apakah itu benar ayah?. Ah baiklah jika begitu, apapun informasi yang saya dapatkan nanti biarkan saya yang mengetahuinya." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar serta sorot mata polos.
"Itu akan lebih baik Tuan Putri, jika ada kesalahan ataupun bencana yang terjadi kita bisa melimpahkan semua itu pada penyidik kerajaan yang sangat lamban." ucap Kesatria Richal yang menyetujui perkataan Putri Amerilya.
"Bukan....bukan seperti itu Tuan Putri. Jika Anda mendapatkan informasi penting yang menyangkut keselamatan banyak orang ataupun anggota keluarga kerajaan Anda harus melaporkannya pada kami." jawab salah seorang penyidik kerajaan dengan gelagapan.
"Mengapa saya harus melakukan hal itu, saya tak ingin membantu kalian dalam bentuk apapun. Lain kali carilah sendiri informasi itu dan selesaikan sendiri, jangan meminta bantuan pada anak kecil yang baru akan menginjak usia tiga tahun ini." ucap Putri Amerilya yang sudah sepakat atas pemikirannya.
Raja Azvago menatap tajam ke arah kedua penyidik kerajaan yang sangat menyebalkan itu, apapun yang diucapkan oleh putri kecilnya adalah kenyataan. Selama ini para penyidik tidak pernah menjalankan tugas mereka dengan benar dan selalu Putri Amerilya yang menyelesaikan setiap masalah yang ada ataupun mendapatkan informasi mengenai masalah itu terlebih dahulu. Jadi apa gunanya para penyidik kerajaan? apakah mereka makan gaji buta selama ini?.
"Saya rasa itu bukan ide yang buruk Yang Mulia Raja." timpal Kesatria Richal yang setuju dengan saran sang raja.
"Yah terserah ayah ingn melakukan apa pada mereka, saya tidak akan membantu lagi jika itu tak berkaitan dengan nyawa saya ataupun orang orang yang penting bagi saya." ucap Putri Amerilya yang sudah sangat kesal dan memutuskan untuk berhenti ikut campur dengan masalah kerajaan.
"Kau serius dengan hal itu putriku?." tanya Raja Azvago yang ingin memastikan.
"Lagipula itu bukanlah tugas anak ingusan seperti saya, bukankah begitu?." tanya Putri Amerilya sembari menatap ke arah ke dua penyidik kerajaan yang sedang gemetaran. Mereka merasa takut jika pada akhirnya harus kehilangan pekerjaan karna terlalu menyepelekan posisi Putri Amerilya dalam Kerajaan Meztano.
"Baiklah ayah akan menghargai keputusan mu itu, mari kita masuk ke dalam dan memulai interogasi." ucap Raja Azvago yang mengajak semua orang untuk masuk, sang raja masih dalam posisi menggendong Putri Amerilya.
Kelima prajurit dari Keluarga Marques Montiqu dan Kesatria Black Linox menatap ke arah Putri Amerilya dengan tatapan penuh kebencian, karna anak perempuan itu semua rencana mereka gagal dan harus berakhir seperti ini. Melihat tatapan itu membuat para Kesatria White Rose merasa kesal dan langsung melayangkan sebuah cambukan pada kelima prajurit dan Kesatria Black Linox.
"Turunkan pandangan kalian dihadapan Tuan Putri Amerilya. Jika kalian marah maka itu kesalahan kalian sendiri!." bentak Kesatria Albern dengan suara lantang.
"Bawa kelima prajurit itu ke hadapan saya." ucap Yang Mulia Raja Azvago sembari menurunkan Putri Amerilya dari gendongannya. Ia ingin melihat dengan jelas wajah wajah para prajurit yang telah menyusup ke wilayah kekuasaannya itu.
Beberapa anggota Kesatria White Rose membawa kelima tahanan itu ke hadapan sang raja. Raja Azvago langsung menatap mereka berlima dengan tatapan tajam, kilatan cahaya berwarna hitam muncul dari kedua mata sang raja. Tiba tiba muncul aura membunuh yang sangat kental hingga membuat kelima prajurit itu kesulitan untuk bernafas.
"Kalian semua berencana untuk menghancurkan Kerajaan Meztano dalam satu malam? siapa dalang utama di balik rencana busuk ini!." tanya Raja Azvago dengan kemarahan meluap-luap. Suaranya yang sangat lantang disertai aura membunuh yang semakin kuat membuat kelima prajurit itu merasa lemas dan ingin segera menjemput ajal mereka saja.
"Kami tidak akan memberikan informasi apapun pada kalian." jawab salah seorang prajurit Keluarga Marques Montiqu dengan mulut bergetar.
"Ternyata kalian sangat setia pada Keluarga Marques Montiqu, baiklah saya juga tidak ingin mendengar apapun dari mulut busuk kalian itu. Cambuk mereka hingga pesat ulang tahun Putri Amerilya selesai, meskipun mereka pingsan jangan pernah berhenti melayangkan cambukkan." perintah Raja Azvago pada para Kesatria White Rose yang ada di sana. Mereka bisa bergantian dengan para prajurit nanti karena anggota Kesatria White Rose dipercaya menjaga keamanan saat pesta ulangtahun berlangsung.
"Siap laksanakan." jawab anggota Kesatria White Rose secara serempak.
Kini tatapan mata Raja Azvago beralih pada Kesatria Black Linox, ia tak pernah menyangka bahwa pria itu bekerjasama dengan Keluarga Marques Montiqu untuk menghancurkan Kerajaan Meztano. Kesatria Black Linox telah bekerja dengan Anggota Kesatria Black Night selama beberapa tahun untuk melayani Istana Kerajaan Meztano namun pada kenyataannya ia adalah seorang pengkhianat.
Bugh...
Sebuah tinju yang sangat kuat dilayangkan oleh Raja Azvago dan mendatar tepat di perut Kesatria Black Linox hingga sang kesatria melesat ke belakang dan menabrak dinding. Bukan hanya itu saja Kesatria Black Linox sampai memuntahkan darah segar dalam jumlah yang cukup banyak.
"Beraninya kau mengkhianati Kerajaan Meztano hanya untuk para bajingan seperti mereka. Apakah pelayanan yang saya berikan untuk mu dan anggota Kesatria Black Night yang lain itu kurang?!." tanya Raja Azvago yang sudah tersulut emosi.
"Ahahaha pengkhianat? apakah Anda tak salah Yang Mulia Raja Azvago." jawab Kesatria Black Linox yang masih bisa tertawa dengan cukup kencang walaupun nyawanya sudah di ujung tanduk.
"Sialan apa maksud perkataan mu itu!." bentak Raja Azvago.
"Bisa di bilang Kesatria Black Linox bukanlah seorang penghianat ayah karna sedari awal ia masuk ke wilayah Kerajaan Meztano adalah sesuatu yang direncanakan. Kesatria Black Linox adalah mata mata yang ditempatkan oleh Tuan Marques Jordy Montiqu untuk mengawasi setiap hal yang kita lakukan. Saya mendapat informasi ini beberapa waktu yang lalu dari sumber terpercaya, saat pesta ulangtahun nanti Kesatria Black Linox akan menunjukkan kedoknya itu dihadapan semua anggota keluarga kerajaan." jelas Putri Amerilya dengan tatapan dingin. Ia mengetahui semua hal tentang Kesatria Black Linox bahkan ia tau dimana keluarga pria itu tinggal.
"Apakah Anda dengar itu Yang Mulia Raja, putri Anda jauh lebih cerdas dari semua anggota keluarga kerajaan yang ada. Kehadirannya adalah ancaman bagi musuh musuh Anda, karna itulah saya dan yang lain menyiapkan hadiah besar untuk Tuan Putri saat pesta ulangtahunnya nanti. Sangat disayangkan kejutan itu digagalkan oleh sang putri." ucap Kesatria Black Linox dengan senyuman lebar seperti seorang orang yang terkana gangguan jiwa.
"Diamlah Tuan Kesatria, jika Anda mengatakan sesuatu yang membuat saya kesal saya tak bisa menjamin istri dan anak Anda masih bisa menghirup udara hingga esok pagi." ucap Putri Amerilya dengan senyuman miring. Tatapan matanya menunjukkan bahwa ia benar benar serius dengan hal itu.
"Bagaimana bisa kau mengetahui tempat tinggal istri dan anakku!!. Jangan sentuh mereka, jangan pernah berfikir untuk menyentuh mereka." bentak Kesatria Black Linox yang mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
"Tenanglah Tuan Kesatria, jika Anda bisa diajak untuk bekerjasama maka istri dan anak Anda akan baik baik saja." ucap Putri Amerilya. Setelah mendengar hal itu Kesatria Black Linox langsung terdiam dan tak berani mengatakan apapun yang dapat menyinggung perasaan Putri Amerilya.
Semua orang yang ada di ruang interogasi menelan ludah mereka dengan kasar, ternyata Putri Amerilya adalah sosok paling mengerikan diantara yang lain.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys.