
Malam semakin larut kini semua orang terlelap dalam tidur mereka masing masing kecuali beberapa orang dengan alasan tertentu. Beberapa anggota Kesatria White Rose berjaga di depan ruang kesehatan setelan mendengar kabar mengenai Putri Amerilya saat ini, Yang Mulia Raja Azvago sedang sibuk di ruang kerjanya untuk mengurus beberapa berkas. Sepertinya sang raja akan mengurungkan niatnya untuk membawa masalah Keluarga Marques Montiqu ke pengadilan Istana Kerajaan Belgize, sang raja yakin bahwa orang orang dari Kerajaan Belgize akan lebih condong pada Keluarga Marques Montiqu yang berada di wilayah mereka. Hanya ada dua kemungkinan yang akan dilakukan Yang Mulia Raja Azvago, pertama ia akan melakukan peperangan secara terbuka dengan Keluarga Marques Montiqu, dan pilih kedua membalas dendam pada mereka dengan cara yang sama.
"Sepertinya Tuan Marques Jordy Montiqu terlalu meremehkan ku sebagai raja dari Kerajaan Meztano. Lihat saja balasan apa yang akan diberikan pada keluarga mereka." gumam Yang Mulia Raja dengan tatapan tajam.
"Kalian keluarlah, saya memiliki tugas baru yang harus kalian lakukan." perintah Yang Mulia Raja Azvago pada prajurit bayangan miliknya. Lima orang dengan pakaian serba hitam keluar dari sisi gelap ruangan sang raja. Kelima orang prajurit bayang itu bersimpuh di hadapan sang raja dengan kepala tertunduk.
"Kami prajurit bayangan siap mengerjakan tugas yang diberikan oleh Anda." ucap kelima prajurit bayangan itu secara bersamaan.
"Kemungkinan besar saat ini Keluarga Marques Montiqu telah pergi meninggalkan Istana Kerajaan Meztano setelah mendengar bahwa pasukan mereka dikalahkan. Tugas kalian adalah mengejar rombongan keluarga itu lalu buat Nona Muda Anye Montiqu terluka parah sedangkan yang lain buat mereka tak sadarkan diri." ucap Yang Mulia Raja Azvago. Jika Tuan Marques Jordy mengincar anak perempuannya maka ia akan melakukan hal yang sama.
"Baik kami akan melaksanakan tugas dari Yang Mulia Raja dengan sempurna, kami permisi terlebih dahulu." ucap kelima prajurit bayangan yang langsung menghilang begitu saja.
Beberapa saat yang lalu setelah kembali dari ruang interogasi Yang Mulia Raja Azvago pergi menuju kamar tamu yang ditempati oleh Marques Jordy Montiqu bersama sang istri namun mereka tidak ada di sana, Pangeran Mixo juga memberikan laporan bahwa kedua tuan muda dari Keluarga Marques Montiqu juga tidak berada di istana pangeran artinya mereka semua telah melarikan diri.
Kilauan cahaya berwarna hitam pekat keluar dari mata Yang Mulia Raja Azvago, ia terlihat sangat marah dan ingin segera melihat kehancuran Keluarga Marques Montiqu secara perlahan.
"Ini masih belum seberapa, lihat saja apa yang akan terjadi pada kalian nantinya." gumam Raja Azvago dengan pelan.
Suasana di dalam ruang kesehatan begitu sepi, hanya ada Putri Amerilya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang. Kemana Ratu Zivaya pergi? bukankah ia mendapatkan tugas untuk menjaga Tuan Putri Amerilya?.
Ya saat ini sang ratu tidak sedang berada di dalam istana Kerajaan Meztano. Ratu Zivaya bersama seorang penyihir kelas atas yang ia kenal sedang berada di kawasan hutan tempat Putri Haru menjalankan pengasingan. Di hutan itu terdapat sebuah benteng tinggi dengan beberapa rumah dan bangunan lain di dalamnya. Meskipun Putri Haru adalah adik kandung dari sang suami tak membuat kemarahan Ratu Zivaya reda. Ini adalah kesekian kalinya Putri Haru berusaha untuk menyingkirkan Putri Amerilya dan sebagai seorang ibu Ratu Zivaya merasa tidak terima.
"Apa yang akan Yang Mulia Ratu lakukan, sekarang kita telah sampai di tempat yang Anda inginkan." ucap sang penyihir kelas atas dengan rasa penasaran tinggi.
"Tentu saya memberikan pelajaran pada adik ipar saya itu." jawab Ratu Zivaya sembari menunjukkan senyuman jahat.
"Apa Anda ingin saya antar menuju kamar Putri Haru?." tawar sang penyihir.
"Saya bisa pergi sendiri, tunggulah di sini sampai saya kembali." jawab Ratu Zivaya.
Sang Ratu menggunakan tudung jubah yang sedang ia kenakan, saat ini penampilan sang ratu sangat persis dengan seorang pembunuh bayaran. Ratu Zivaya melompat dari atas benteng menuju beberapa bangunan yang ada di dekatnya, kini sang ratu sedang mengamati situasi sekitar dan mencari tau dimana Putri Haru tinggal.
"Mengapa pemimpin bandit hutan itu belum juga kembali, mungkinkah mereka tertangkap oleh prajurit yang bertugas di istana kerajaan?." tanya salah seorang prajurit yang ditugaskan untuk menjaga Putri Haru di dalam benteng itu.
"Saya khawatir Pangeran Lunxi dan Pangeran Zogtu akan marah jika sampai rencana Putri Haru diketahui oleh pihak Kerajaan Meztano." ucap prajurit lain dengan raut wajah khawatir.
"Tiga hari lagi mereka akan datang berkunjung ke sini, sebaiknya kita tetap berada di pihak Putri Haru jika tak ingin mati mengenaskan. Lagipula tak ada anggota Keluarga Kerajaan Meztano yang datang berkunjung setelah Putri Haru menjalani pengasingan." jawab prajurit itu pada rekannya.
"Mau bagaimana lagi, saat ini Kerajaan Meztano telah mendapatkan seorang Tuan Putri. Kabarnya putri kecil itu sangat lucu dan menggemaskan, akan tetapi kehadirannya adalah malapetaka bagi Putri Haru. Saya rasa Pangeran Lunxi dan Pangeran Zogtu akan membalas dendam atas hal ini, bagi mereka Putri Haru satu satunya Tuan Putri Kerajaan Meztano." ucap sang prajurit.
"Akan terjadi pertarungan antara keluarga kerajaan inti dan keluarga kerajaan cabang. Beberapa hari yang lalu Pangeran Lunxi juga mengatakan bahwa ia tak sudi datang ke pesta ulang tahun anak pembawa sial itu." ucap prajurit lain. Ia rasa semua ini bukan kesalahan Putri Amerilya, bagaimanapun lahirnya seseorang ke dunia adalah kehendak Yang Maha Kuasa.
Ratu Zivaya mendengar percakapan para prajurit yang sangat melukai hatinya itu. Tangan Ratu Zivaya mengepal dengan kuat dengan sorot mata tajam yang dipenuhi dengan rasa benci.
Ratu Zivaya membuat ratusan pedang es kemudahan mengarahkannya pada para prajurit yang ditugaskan untuk berjaga di tempat pengasingan.
"Kerajaan Meztano tidak memerlukan prajurit tidak kompeten seperti kalian. Selamat tinggal para penghianat." ucap Ratu Zivaya dengan aura membunuh yang meledak dari tubuhnya.
Puluhan pedang es milik sang ratu menancap tepat pada jantung para prajurit yang ada di tempat itu, kini area pengasingan tampak sunyi karna tak ada satupun prajurit yang tersisa.
"Ini terlihat sangat bagus, dengan begini tidak ada lagi mulut kotor yang membicarakan putri kesayangan saya." ucap Ratu Zivaya.
Pintu rumah terbuka namun tak menimbulkan suara, Ratu Zivaya berjalan dengan perlahan sembari mengamati setiap pintu ruangan yang ia lewati. Agar rencana berhasil ia harus menemukan kamar Putri Haru dalam sekali tebak.
"Ternyata ini kamar Putri Haru." batin Ratu Zivaya yang sudah menemukan kamar yang ia cari.
Ratu Zivaya mendengar pergerakan dari dalam ruangan itu, mungkin Putri Haru terbangun dan ingin keluar dari kamar.
Cklak...
Pintu ruangan itu terbuka, Putri Haru keluar dari sana kemudian berjalan menuju dapur. Sang putri mengambil segelas air kemudian berjalan kembali menuju kamarnya.
"Mengapa suasana malam ini sangat hening, kemana perginya para prajurit yang biasanya sangat berisik itu?." tanya Putri Haru pada dirinya sendiri. Entah mengapa ia rasa ada yang tidak beres, mungkinkah terjadi sesuatu di luar sana.
"Prajurit....!! masuklah saya ingin meminta bantuan kalian." triak Putri Haru dengan suara yang cukup kencang. Ia menunggu selama beberapa menit akan tetapi tak ada jawaban dari luar.
"Sialan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa tak ada satupun prajurit yang menjawab panggilan ku." gerutu Putri Haru dengan tatapan kesal.
Tanpa berfikir panjang sang putri berjalan menuju area depan rumahnya, ia membuka pintu kemudian melihat pemandangan yang sangat mengejutkan. Belasan prajurit tergeletak tak bernyawa dengan sebuah pedang es yang menancap di jantung mereka, dengan segera Putri Haru melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan situasi saat ini. Merasa khawatir penjahat itu akan menemukannya Putri Haru kembali masuk ke dalam rumah kemudian mengunci pintu dengan rapat.
"Siapa yang mengirim orang untuk melakukan hal seperti ini? jangan sampai aku tertangkap oleh pembunuh itu." ucap Putri Haru dengan keringat dingin yang menetes dari keningnya.
Putri Haru berlari menuju kamar, ia mengunci kamarnya itu serta menutup semua jendela dengan rapat. Setidaknya sang putri harus bertahan hingga tiga hari mendatang karna kedua kakaknya akan datang berkunjung.
"Apa yang harus aku lakukan, mengapa semuanya menjadi seperti ini. Mungkinkah para bandit hutan itu gagal? aku bahkan membayar mereka dengan sangat mahal." ucap Putri Haru yang sedang kebingungan.
Saat Putri Haru tak bisa memikirkan jalan keluar tiba tiba ia merasa bahwa ruang kamarnya sangat dingin tak seperti biasanya. Mata Putri Haru tertuju pada lantai kamar yang telah membeku, ia segera melihat ke sekeliling dan menemukan semua barang yang ada di kamarnya dilapis oleh es.
"Siapa?! siapa kau!." triak Putri Haru dengan tubuh gemetaran.
"Cepat keluar jangan bermain petak umpet seperti anak kecil." tantang Putri Haru. Ia sangat penasaran dengan sosok yang telah melakukan semua ini.
"Saya di sini." jawab seseorang dari arah belakang sang putri. Dengan segera Putri Haru membalikkan badannya dan menatap ke arah si pelaku dengan tatapan tak percaya.
"Ratu Zivaya?! apa yang sedang Anda lakukan di sini?. Jangan bilang kematian para prajurit adalah ulah Anda, tapi mengapa seorang Ratu sampai melakukan hal semacam ini." ucap Putri Haru. Ia tak tau alasan Ratu Zivaya membunuh semua prajurit dan menyebabkan kekacauan pada tempat pengasingan.
"Benar adanya bahwa saya seorang ratu namun di sisi lain saya adalah seorang ibu. Tidak ada yang salah jika seorang ibu ingin menyingkirkan orang orang yang mengusik kehidupan putrinya. Bukankah begitu Putri Haru?." tanya Ratu Zivaya dengan senyuman miring yang tampak menyeramkan.
"Apa yang akan Anda lakukan pada saya?. Apakah Anda lupa bahwa saya adik kandung dari suami Anda!" ancam Putri Haru menggunakan nama Yang Mulia Raja Azvago.
"Yah apakah saya peduli akan hal itu?." ucap Ratu Zivaya.
"Jangan mendekat! jika Raja Azvago mengetahui hal ini maka Anda akan mendapat hukuman berat darinya." ucap Putri Haru. Ia semakin khawatir saat Ratu Zivaya terus mengambil langkah maju kedepan.
"Apakah orang mati dapat memberikan kesaksian? sepertinya tidak. Jadi jika Anda mati maka ini akan menjadi sebuah rahasia." jawab Ratu Zivaya.
"Jangan....saya mohon jangan lakukan hal itu. Saya berjanji tidak akan pernah menyentuh Putri Amerilya lagi meskipun saya telah keluar dari tempat pengasingan ini." janji Putri Haru pada Ratu Zivaya. Ia berharap semoga sang ratu mempercayai kata katanya itu.
"Biarkan saya berfikir sejenak, apakah orang seperti Anda berhak mendapatkan kesempatan ataukah tidak." ucap Ratu Zivaya, ia terdiam selama beberapa saat untuk mempertimbangkan permintaan Putri Haru.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys.