
Saat tengah malam tiba, kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya bergegas keluar dari istana putri dan mereka semua menggunakan jalan rahasia untuk sampai di markas Kesatria Savalor. Di beberapa bagian Istana Kerajaan Meztano terdapat jalan rahasia yang hanya diketahui oleh para pelayan tertentu saja, ada beberapa pelayan yang masuk kedalam istana dan bekerja di sana bukan karna mereka di pilih oleh raja ataupun ratu melainkan mereka sendiri yang memilih anggota keluarga kerajaan mana yang ingin meraka layani. Pelayan yang bisa melakukan hal itu hanyalah keturunan langsung dari para pelayan yang bekerja untuk pendiri Kerajaan Meztano, mereka memiliki lencana khusus berwarna emas untuk jasa yang telah mereka berikan untuk Kerajaan Meztano.
Tak berselang lama kesepuluh pelayan itu sudah sampai di depan markas Kesatria Savalor yang tampak sepi, hanya ada dua kesatria yang sedang berjaga. Dua diantara kesepuluh pelayan itu melesat menuju dua kesatria tersebut dan memukul punggung mereka hingga pingsan, delapan pelayan yang lain menyusul. Kesepuluh pelayan itu masuk kedalam markas Kesatria Savalor dengan sangat berhati hati, setelah sampai di dalam markas mereka langsung berpencar.
"Kalian hanya perlu menusuk kedua kaki ataupun tangan mereka." ucap salah seorang pelayan dengan sorot mata biru cerah yang sangat indah.
"Bagaimana kalau saya melukai keempat bagian itu?." tanya salah seorang pelayan dengan tatapan memohon.
"Lakukanlah selama tak mengancam nyawa para kesatria bodoh itu." ucap sang pelayan bermata biru.
Akhirnya kesepuluh pelayan itu berpencar dan mulai masuk ke dalam kamar para Kesatria, untung saja Kesatria Savalor meminta markas khusus dengan banyak kamar sehingga dalam satu kamar hanya diisi oleh satu orang. Kesatria Savalor selalu meminta pelayanan yang lebih dari Kesatria Black Night ataupun Kesatria White Rose, jika dilihat dari tugas tugas yang telah mereka selesaikan sebenarnya Kesatria Savalor tak sepenting itu.
Seorang pelayan berambut hitam masuk kedalam kamar salah satu anggota Kesatria Savalor bernama Arges, sang pelayan menatap pria itu dengan tatapan tajam serta senyum yang cukup menyeramkan. Empat buah pisau menancap dengan tepat di kedua tangan dan kaki Kesatria Arges, sang kesatria ingin membuka mata untuk melihat siapa yang telah menyerangnya namun tak ada siapapun di sana.
"Korban pertama selesai." ucap pelayan berambut hitam itu kemudian masuk ke kamar yang lain.
Beberapa anggota Kesatria Savalor yang telah dilumpuhkan ingin berteriak untuk meminta bantuan pada anggota yang lain ataupun para prajurit yang berjaga di samping istana utama, anehnya suara mereka tak bisa keluar.
"Sialan siapa yang telah melakukan hal ini padaku." batin Kesatria Arges dengan sorot mata kesal. Baru kali ini ia merasakan rasa sakit yang begitu ngilu, kemana ketua mereka hingga tak mengetahui jika markas diserang oleh sekelompok orang.
Tiga puluh menit telah berlalu dan semua anggota Kesatria Savalor sudah dilumpuhkan, kesepuluh pelayan itu langsung keluar dari markas dan kembali ke istana putri agar tak dicurigai oleh pihak lain. Sebelum pergi dari sana seorang pelayan sempat menuliskan sesuatu di dinding markas Kesatria Savalor, mungkin esok pagi akan ada kegemparan di seluruh penjuru istana.
"Kalian kembali ke kamar masing masing, besok pagi lakukan aktivitas seperti biasa. Jika ada beberapa Prajurit yang datang dan menyampaikan tentang kabar ini kalian hanya perlu menunjukkan ekspresi terkejut saja." ucap sang pelayan bermata biru yang memimpin sembilan pelayan yang lain.
"Baik kami mengerti, kami akan kembali ke kamar." ucap kesembilan pelayan itu yang langsung pergi menuju kamar mereka masing masing.
Waktu berjalan begitu cepat, akhirnya pagi pun datang dan suasana di Istana Utama begitu ramai. Beberapa prajurit yang sedang berpatroli datang menemui Raja Azvago dan melaporkan bahwa markas Kesatria Savalor telah diserang, semua anggota Kesatria Savalor mengalami luka yang sama yaitu kedua tangan dan kaki mereka tertancap pisau.
"Bawa mereka semua ke ruang medis untuk mendapat pengobatan, lakukan penyelidikan tentang masalah ini." ucap Raja Azvago pada para prajurit itu.
"Kami menemukan sebuah coretan di dinding markas, sepertinya itu pesan yang disampaikan oleh orang yang menyerang markas Kesatria Savalor." ucap prajurit lain, Raja Azvago harus mengetahui hal itu karna berkaitan dengan putri kesayangannya. Mungkin penyelidikan akan dilakukan secara rahasia untuk menemukan pelaku dari penyerangan kali ini.
"Coretan apa yang ada di sana?." tanya Raja Azvago dengan rasa penasaran yang cukup tinggi. Biasanya para penjahat tak akan meninggalkan jejak apapun agar mereka aman dari kejaran pihak kerajaan.
"Terdapat sebuah coretan yang cukup besar, coretan itu bertuliskan 'jangan pernah menghina Putri Amerilya jika kalian tak ingin kehilangan kelapa'." ucap salah seorang prajurit yang masih mengingat detail coretan tersebut.
Raja Azvago membelalakkan matanya saat mendengar perkataan dari salah satu prajurit, mungkinkah ada orang luar yang mendukung Putri Amerilya sehingga ia merasa tak terima saat sang putri di hina? ataukah ini semua ulah dari orang dalam. Semalam hanya ada Ibu Suri Sinya dan kedua putranya saja, tak mungkin mereka bertiga melakukan tindakan seperti itu untuk menghukum Kesatria Dominix.
"Hanya Kesatria Dominix yang menghina putriku, namun mengapa penyerangan malah terjadi pada seluruh anggota Kesatria Savalor?." tanya Raja Azvago pada dirinya sendiri, ia perlu mengetahui motif dari si penyerang.
"Kesatria Dominix akan dianggap sebagai ketua yang gagal saat ia tak bisa melindungi anggotanya sendiri, lagipula selama ini Kesatria Savalor selalu bertindak sesuka meraka. Bisa saja ada pihak luar yang sedang memanfaatkan kondisi di dalam istana untuk membalaskan dendam mereka pada Kesatria Savalor dan sang putri dijadikan sebagai umpan." ucap Pangeran Luxe yang tiba tiba masuk kedalam aula utama Kerajaan Meztano setelah mendengat kabar tentang penyerangan markas Kesatria Savalor.
"Penjagaan malam itu sangat ketat, tak ada orang luar yang bisa masuk. Satu satunya yang bisa melakukan hal ini hanyalah orang dalam." jawab Raja Azvago dengan sangat yakin, para prajurit juga mengatakan tak ada korban dari pihak prajurit kerajaan yang sedang berjaga.
"Anggap saja ini pembelajaran untuk semua anggota Kesatria Savalor, meskipun Putri Amerilya satu satunya putri di Kerajaan Meztano bukan berarti mereka bisa menghina dengan sesuka hati. Sebaiknya ayah melakukan penyelidikan secara tertutup, kita tak tau apakah para penyerang ini berpihak pada semua anggota keluarga Kerajaan Meztano atau hanya pada Putri Amerilya saja." ucap Pangeran Luxe yang memberikan saran pada sang ayah kemudian ia pergi dari aula utama Kerajaan Meztano. Pangeran Luxe akan pergi ke Istana Putri untuk melihat bagaimana keadaan sang adik sekarang, mungkin adiknya itu belum mengetahui tentang penyerangan ini.
Saat ini beberapa prajurit sedang berada di istana putri, mereka akan menanyakan beberapa hal pada Putri Amerilya mengenai kejadian ini. Mungkin saja sang putri tau siapa saja yang berada di pihaknya dan kemungkinan besar memiliki keberanian untuk menyerang langsung anggota Kesatria Savalor saat mereka masih di dalam Istana Kerajaan Meztano.
"Apa yang ingin kalian lakukan di sini?." tanya seorang pelayan istana putri yang sedang menyapu halaman depan.
"Kami ingin bertemu dengan Putri Amerilya." ucap beberapa prajurit secara bersamaan.
"Saat ini Tuan Putri belum bangun, saya harap kalian semua tak mengganggu waktu tidur putri kecil kami." ucap pelayan itu dengan sedikit penekanan di beberapa kalimatnya.
"Lalu mengapa kalian mencari Putri Amerilya? apa hubungannya sang putri dengan masalah ini?." ucap pelayan itu dengan raut wajah bingung seolah olah ia tak mengetahui detail tentang kejadian itu.
"Di dinding markas terdapat coretan yang ditinggalkan oleh pelaku, dalam coretan itu terdapat kalimat yang bersangkutan dengan Putri Amerilya." ucap sang prajurit yang terus memberikan penjelasan agar sang pelayan tak salah faham pada mereka.
"Kalian masuklah kedalam, saya akan membangunkan Tuan Putri Amerilya terlebih dahulu." ucap pelayan itu yang mengizinkan para prajurit untuk masuk kedalam istana putri.
Akhirnya para prajurit masuk ke dalam sedangkan pelayan itu bergegas pergi menuju kamar Putri Amerilya. Tok tok tok, suara pintu kamar Putri Amerilya yang diketuk oleh seorang pelayan. Untung saja saat ini sang putri sudah bangun dari tidurnya dan berjalan untuk membukakan pintu.
"Umm, ada apa?." tanya Putri Amerilya dengan mata yang masih terpejam. Tak biasanya para pelayan datang ke kamar sepagi ini, mereka akan mengetuk pintu kamar Putri Amerilya saat jam sarapan telah tiba.
"Ada beberapa prajurit istana utama yang datang mencari anda." ucap pelayan itu dengan tenang.
"Baiklah bawa aku pada mereka." ucap Putri Amerilya yang berjalan pelan menuju ruang tamu, karna masih mengantuk sang putri hampir saja menabrak dinding untunglah sang pelayan sigap menahan tubuh Putri Amerilya.
"Tolong berhati hati Tuan Putri, kepala anda bisa terluka jika sampai terbentur dinding." ucap pelayan itu yang langsung mengambil inisiatif untuk menggendong Putri Amerilya.
"Maafkan aku, karna terlalu mengantuk sampai tak melihat ada dinding di depan sana." ucap sang putri yang merasa bersalah karna membuat pelayannya khawatir.
Tak berselang lama setelahnya mereka berdua sampai di ruang tamu, sang pelayan menurunkan Putri Amerilya dari gendongannya dan meminta sang putri untuk duduk. Para prajurit istana utama saling berpandangan satu sama lain, ternyata apa yang dikatakan oleh pelayan itu benar Putri Amerilya belum bangun saat mereka datang.
"Salam hormat kami pada Putri Amerilya, maaf karna telah mengganggu waktu tidur anda." ucap semua prajurit istana utama yang ada di sana.
"Saya sudah bangun sekarang jadi kalian tak perlu meminta maaf." jawab sang putri dengan kata kata yang lebih formal, Putri Amerilya tak bisa berbicara dengan santai saat berhadapan dengan orang orang yang tak begitu dekat dengannya.
"Kami datang kesini untuk menanyakan beberapa hal pada anda, kami harap anda menjawab dengan jujur." ucap salah seorang prajurit dengan senyuman ramah. Putri Amerilya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa ia setuju.
"Apakah anda sudah mengetahui penyerangan yang terjadi pada markas Kesatria Savalor?." tanya seorang prajurit yang membuat Putri Amerilya terkejut bukan main. Semalam ia hanya tidur dan menikmati mimpi indahnya saja, bagaimana bisa tiba tiba markas Kesatria Savalor diserang?.
"Saya baru mengetahuinya sekarang, bagaimana bisa markas mereka diserang? seharusnya penjagaan di sekitar istana sangat ketat." ucap Putri Amerilya dengan ekspresi terkejut dan meminta penjelasan pada prajurit yang sedang bertanya padanya itu.
"Kami juga menemukan sebuah pesan yang ditinggalkan oleh pelaku, sang pelaku meminta agar Kesatria Savalor tak menghina Tuan Putri Amerilya lagi atau mereka akan kehilangan kepala. Karna pesan itulah kami datang kesini untuk bertanya langsung pada anda, apakah anda mengetahui siapa pelakunya?." tanya seorang prajurit dengan tatapan serius, seharusnya Putri Amerilya tau siapa orang orang yang ada di pihaknya untuk saat ini.
"Saya tak mengetahui apapun tentang hal ini, tak ada pihak luar yang dekat dengan saya." jawab Putri Amerilya dengan jujur karna yang dekat dengannya hanya anggota Keluarga Kerajaan Meztano dan kesepuluh pelayan setianya saja.
Putri Amerilya melihat kearah sang pelayan yang membawanya ke ruang tamu, pelayan itu tersenyum pada sang putri. Entah mengapa Putri Amerilya merasa bahwa sepuluh pelayan setianya adalah pelaku dari penyerangan ini, artinya sang putri harus melindungi mereka agar gak tertangkap oleh prajurit istana utama.
"Kami sangat mengharapkan bantuan anda dalam penyelidikan kali ini." ucap salah seorang prajurit yang sedang memohon pada Putri Amerilya.
"Mengapa kalian meminta bantuan pada anak berusia dua tahun?." ucap pelayan bermata biru yang masuk ke dalam ruang tamu dengan membawakan beberapa cangkir teh.
"Masalah kali ini berkaitan dengan sang putri, lagipula Yang Mulia Raja Azvago meminta penyelidikan secara tertutup agar tak ada pihak luar yang mengetahuinya." ucap seorang prajurit dengan keras kepala, para prajurit istana utama tetap meminta sang putri untuk turun tangan secara langsung dalam penyelidikan.
"Sebagai seorang putri saya memiliki hak untuk menolak keinginan kalian, lagipula apa gunanya tim penyelidikan khusus jika saya harus turun langsung?." ucap Putri Amerilya dengan tatapan tajam, ia tak ingin ikut campur dalam masalah seperti ini. Putri Amerilya tau kesepuluh pelayannya melakukan hal semacam ini karna tak terima dengan sikap ketua Kesatria Savalor.
"Anda akan dianggap membangkang perintah Yang Mulia Raja jika tak ikut dengan kami." ucap beberapa prajurit istana utama.
"Saya akan memberitahu pada ibu suri apa yang telah kalian lakukan." ucap Putri Amerilya yang berbalik mengancam para prajurit istana utama itu.
"Anda bisa melakukannya jika memiliki keberanian." ucap para prajurit istana utama yang langsung keluar dari istana putri dengan raut wajah kesal.
Hai semuanya author update lagi nih novel Putri Amerilya, dukung author terus ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen yang banyak buat naikin rating, rate lima, share juga ya.