PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Apa Yang Terjadi? (01)


Ratu Zivaya terdiam cukup lama, ia beberapa kali melirik ke arah Putri Haru dan kembali memikirkan keputusannya. Setelah kurang lebih selama lima belas menit sang ratu mendapatkan sebuah keputusan yang matang, demi kehidupan yang lebih baik untuk Putri Amerilya sepertinya Putri Haru tak bisa dibiarkan tetap hidup.


Ratu Zivaya mempertimbangkan jika Putri Haru akan melaporkan kejadian malam ini pada pihak Kerajaan Meztano dan membuatnya mendapat hukuman, ia juga khawatir jika Putri Haru akan dibawa pergi oleh Pangeran Lunxi dan Pangeran Zogtu kemudian disembunyikan oleh mereka. Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah niat Putri Haru untuk membalas dendam pada Putri Amerilya atas semua kemalangan yang menimpanya.


"Saya sudah mengambil sebuah keputusan, mungkin memberikan kesempatan kedua pada Anda bukanlah keputusan yang buruk." ucap Ratu Zivaya dengan senyuman palsu.


"Benarkah? kakak ipar memaafkan tindakan saya hari ini. Terimakasih banyak." ucap Putri Haru dengan perasaan senang yang tak bisa ia bendung. Untuk sementara waktu yang perlu ia lakukan hanyalah bertahan hidup hingga tiga hari mendatang bagaimanapun caranya, setelah itu ia akan memikirkan langkah lain untuk membalas perbuatan Ratu Zivaya dan Putri Amerilya.


Ratu Zivaya berlari dengan sangat cepat ke arah sang putri hingga Putri Haru tidak menyadari hal itu. Pedang es milik sang ratu menebas tubuh Putri Haru menjadi dua bagian, ya malam itu adalah malam terakhir bagi Putri Haru untuk menikmati hidup di dunia. Sangat mengenaskan karna ia mati di tangan kakak iparnya sendiri.


Ratu Zivaya menatap ke arah jasad Putri Haru dengan tatapan puas, tidak ada penyesalan yang ia rasakan karna semua ini diawali dengan kesalahan yang Putri Haru lakukan. Kini tugas Ratu Zivaya telah selesai ia melompat naik ke atas benteng untuk menemui sahabatnya yang sedang menunggu di sana.


"Anda sangat kejam Yang Mulia Ratu Zivaya. Seorang kakak ipar membunuh adik iparnya sendiri, namun semua itu balasan yang pantas untuk Putri Haru." ucap penyihir kelas atas itu, ia sangat puas dengan kinerja Ratu Zivaya saat memusnahkan setiap musuhnya.


"Bakar tempat ini sebelum kita pergi, jangan sampai ada jejak ataupun barang bukti yang tersisa. Sebagai seorang ibu saya akan memastikan kelancaran hidup Putri Amerilya bagaimanapun caranya." ucap Ratu Zivaya dengan sorot mata tajam yang dipenuhi dengan kebencian.


"Baik saya akan melakukannya sesuai dengan perintah Anda." jawab sang penyihir.


Penyihir kelas atas itu menggenggam tangan Ratu Zivaya, keduanya terbang di atas area pengasingan. Sang penyihir mengeluarkan api yang sangat besar dari telapak tangannya kemudian membakar seluruh area pengasingan menggunakan api itu. Setelah misi selesai mereka berdua bergegas kembali menuju Istana Kerajaan Meztano menggunakan sihir teleportasi.


Dalam kurun waktu kurang dari lima menit Ratu Zivaya telah muncul di dalam ruang kesehatan bersama sand penyihir.


"Terimakasih atas bantuannya, saya akan mengirim imbalan untuk Anda nanti." ucap Ratu Zivaya.


"Ah saya tidak membutuhkan uang ataupun semacamnya, jika Putri Amerilya menginginkan seorang guru sihir tolong jadikan saya sebagai gurunya. Saya melihat masa depan yang sangat cerah untuk putri kecil Anda Yang Mulia Ratu Zivaya." jawab penyihir kelas atas itu. Matanya terus terarah pada Putri Amerilya yang sedang tertidur dengan pulas.


"Tentu saja akan memilih Anda sebagai gurunya, di wilayah dataran tengah tidak ada ahli sihir sehebat Anda." ucap sang ratu.


"Saya lega mendengar perkataan Anda barusan. Baiklah saya harus pergi sebelum ada yang mencurigai kita berdua. Sampai jumpa Ratu Zivaya, semoga putri kecil Anda selalu diberkati." sang penyihir kelas atas tiba tiba saja menghilang dari ruang kesehatan setelah mengatakan hal itu.


Ratu Zivaya berjalan mendekat ke ranjang tempat Putri Amerilya beristirahat, ia mengusap rambut putrinya itu perlahan kemudian mencium kening sang putri penuh kasih sayang.


"Ibu akan melindungi mu putriku. Selama ibu masih hidup maka akan ibu pastikan tidak ada seorangpun yang dapat menyakiti mu." gumam Ratu Zivaya dengan suara pelan.


Di sisi lain saat ini rombongan Keluarga Marques Montiqu yang masih berada di wilayah Kerajaan Meztano berusaha secepat mungkin untuk keluar dari wilayah itu. Nyonya Birara Montiqu merasa bahwa ada yang mengikuti rombongan mereka sedari tadi karna itulah ia tak bisa tenang.


"Mintalah pada kusir untuk mempercepat laju kereta kuda ini, saya dapat merasakan ada pergerakan dari belakang." ucap Nyonya Birara Montiqu pada sang suami dengan tatapan serius. Ia tak ingin sesuatu terjadi pada keluarganya.


"Tenanglah, saat ini Yang Mulia Raja Azvago dan yang lain sedang sibuk menangkap beberapa kelompok yang ingin menghancurkan pesta putri kecilnya itu. Mereka tidak akan punya banyak waktu untuk melakukan pengecekan siapa saja yang masih berada di istana." ucap Tuan Marques Jordy Montiqu dengan tenang. Menangkap empat kelompok sekaligus bukanlah hal yang mudah, saat ini Kerajaan Meztano juga hanya memiliki dua kelompok kesatria saja.


"Sepertinya beberapa prajurit yang kita minta untuk meledakkan bubuk peledak saat pesta hampir selesai juga gagal menjalankan misi mereka." ucap Tuan Muda Egil Montiqu. Wajahnya menunjukkan kemarahan karna gagal menghancurkan Kerajaan Meztano.


"Mengelabuhi mereka bukanlah hal yang mudah, sepertinya beberapa prajurit kita ketahuan saat sedang keluar dari tempat persembunyian. Akan lebih baik jika kita segera sampai di wilayah Kerajaan Belgize." ucap Nona Muda Anye Montiqu.


Saat mereka sedang berbincang bincang mengenai rencana yang gagal, tiba tiba saja kereta kuda yang mereka tunggangi terhenti tanpa alasan yang jelas. Tuan Marques Jordy Montiqu bertanya pada kusir beberapa kali namun tak kunjung mendapat jawaban, sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini.


Bruak....


Keteka kuda itu terguling ke samping, sontak Keluarga Marques Montiqu yang masih berada di dalam merasa panik. Mereka berusaha keluar dengan sudah payah. Untunglah keempat anggota Keluarga Marques Montiqu berhasil keluar dari dalam kereta kuda itu meski mendalami sedikit cidera.


"Apa apaan ini!!!." triak Tuan Marques Jordy Montiqu saat melihat semua pasukan yang berada dalam rombongannya mati dengan luka tusukan di jantung mereka.


"Kalian semua berhati hatilah, sepertinya ada penyerangan dari orang yang tak dikenal." ucap Tuan Marques Jordy Montiqu. Ia meninta pada keluarganya untuk berkumpul sembari mengamati kondisi sekitar.


Ini sangat Aneh, mereka sedang berada di sebuah pedesaan namun tak ada satupun penduduk desa yang keluar dari rumah saat mendengar keributan dari luar. Jika mereka semua sedang tidur seharusnya mereka terganggu saat kereta kuda milik Keluarga Marques Montiqu terguling barusan.


"Bertahanlah putraku, kita akan segera keluar dari tempat terkutuk ini." ucap Nyonya Birara Montiqu, ia sedang berusaha menenangkan putranya.


"Ini sangat sakit ibu, aku tak bisa menggerakkan kedua kakiku." ucap Tuan Muda Agil sembari menangis sejadi jadinya. Ia takut mengalami kelumpuhan setelah mendapatkan luka separah ini.


"Tenanglah dan jangan berisik!!." bentak Tuan Marques Jordy Montiqu. Putranya itu sangat manja dan berisik berbeda dengan putrinya yang sangat tenang dan berusaha untuk mengamati sekitar.


Bruk....


Tiba tiba Nyonya Birara Montiqu pingsan tanpa alasan yang jelas. Marques Jordy dan Nona Muda Anye saling bertatapan satu sama lain, mungkinkah musuh yang sedang mereka hadapi saat ini memiliki kemampuan untuk menyembunyikan diri?.


"Ini sangat berbahaya ayah, perisai es." ucap Nona Muda Anye Montiqu. Nona Muda itu langsung membuat sebuah perisai es yang mengelilingi mereka semua agar terhindar dari serangan tak kasat mata.


Duaaar.....


Suara ledakan yang cukup kencang ketika sebuah bola api besar menghantam perisai es milik Nona Muda Anye Montiqu. Alhasil perisai itu hancur berkeping keping bahkan sang nona muda mengalami luka dalam. Tuan Marques Jordy Montiqu membopong tubuh putri kesayangannya itu kemudian berusaha untuk berlari secepat yang ia bisa.


Baru saja berlari selama beberapa detik tiba tiba tanah yang ia pijak bergetar dengan kencang. Tuan Marques Jordy Montiqu terjatuh dengan posisi tertimpa tubuh putrinya sendiri.


Tak berselang lama muncul tiga orang berjubah hitam dengan wajah tak terlihat. Ketiga orang itu menarik tubuh Nona Muda Anye Montiqu menjauh dari sang ayah.


"Lepaskan... lepaskan saya. Apa yang kalian inginkan dengan menyerang Keluarga saya seperti ini. Kita bahkan tidak saling mengenal satu sama lain." ucap Nona Muda Anye Montiqu sembari memberontak ketika ditangkap oleh ketiga orang berjubah hitam.


Salah satu dari prajurit bayangan miliknya Yang Mulia Raja Azvago memukul punggung Nona Anye Montiqu hingga pingsan setelah itu mereka menghilang dan membuat Tuan Marques Jordy Montiqu kebingungan.


"Kembalikan putri saya, cepat kembalikan dasar sialan." umpat Tuan Marques Jordy Montiqu dengan kemarahan meluap luap.


"Akan ku tenggelamkan seluruh desa ini jika kalian tidak mengembalikannya sekarang juga!!!." ancam Tuan Marques Jordy Montiqu seperti orang gila.


Belum sempat ia melafalkan mantra sihir untuk membuat luapan air, riba tiba beberapa bilah pedang menancap pada tangan dan kakinya. Karna pendarahan yang tak kunjung berhenti Tuan Marques Jordy Montiqu mulai kehilangan kesabaran dan pingsan di tempat.


"Tugas telah selesai dilaksanakan. Mari kita bawa gadis ini pada Tuan." ucap salah satu dari prajurit bayangan itu.


"Baiklah mari pergi sekarang." ucap keempat prajurit bayangan yang lain secara bersamaan.


Kelima prajurit bayangan milik Yang Mulia Raja Azvago pergi meninggalkan desa tersebut. Para penduduk desa yang tadinya bersembunyi di dalam rumah mulai memberanikan diri untuk mengintip dari sela sela jendela rumah mereka masing masing. Beberapa orang keluar untuk membereskan mayat dari para prajurit Keluarga Marques Montiqu dan sebagain lagi membawa anggota keluarga itu menuju tempat pengobatan.


Kini suasana di sekitar wilayah Kerajaan Meztano kembali menjadi sunyi, semua orang tengah beristirahat sembari menunggu pagi tiba.


Waktu berlalu dengan sangat cepat, tanpa sadar gelapnya malam telah tergantikan oleh cerahnya sinar matahari. Ah tidak pagi ini tak secerah biasanya, awan hitam mulai berkumpul di atas langit dan pada akhirnya hujan pun turun.


Putri Amerilya membuka matanya perlahan kemudian melihat ke sekitar, apa yang sedang terjadi dan dimana dia sekarang?.


"Kau sudah bangun putriku?." tanya Ratu Zivaya dengan senyuman yang sangat cerah.


"Iya ibu, dimana ini?." tanya Putri Amerilya dengan kebingungan. Hal terakhir yang ia ingat adalah kedua telinganya terasa sangat sakit dan setelah itu ia tak mengingat apapun.


"Kita sedang berada di ruang kesehatan. Semalam saat pesta berlangsung kau berteriak kesakitan dan ayahmu segera membawa menuju ruang kesehatan. Ibu sangat lega karna kau baik baik saja, sekarang putri kecil ibu harus belajar mengendalikan indra pendengarannya." jelas Ratu Zivaya secara singkat.


"Aku mengalami kebangkitan?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan tak percaya.


"Iya, Indra pendengaran mu jauh lebih tajam dari orang lain." ucap Ratu Zivaya, ia kembali menguap rambut sang putri kemudian mencium keningnya.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.