
Setelah selesai sarapan Putri Amerilya, Pangeran Mixo, dan Pangeran Luxe bergegas pergi menuju kediaman Duke Elister untuk menepati janji yang dibuat oleh sang putri. Di luar istana sudah di siapkan kereta kuda untuk mengantar perjalanan mereka bertiga, Raja Azvago, Ratu Zivaya, dan Ibu Suri Sinya mengantar kepergian mereka bertiga.
"Berhati hatilah putriku kau harus kembali dalam keadaan utuh." ucap Ratu Zivaya yang tak rela melepas kepergian Putri Amerilya untuk menjalankan tugas pertamanya, meski sudah di dampingi oleh dua pangeran dan para Kesatria Black Night namun keselamatan putrinya belum terjamin.
"Aku akan baik baik saja ibu." ucap Putri Amerilya, ia mencium pipi sang ibu untuk meredakan rasa khawatir wanita itu.
Melihat istrinya di cium dengan penuh kasih oleh Putri Amerilya membuat Raja Azvago merasa iri. Sang raja memasang wajah cemberut yang membuat beberapa orang merasa keheranan, baru kali ini mereka melihat Raja Azvago bertingkah layaknya anak kecil yang sedang merajuk.
"Mengapa ayah memasang wajah seperti itu?." tanya Pangeran Mixo dengan ekspresi datar.
"Tentu ayah iri dengan ibu." ucap Pangeran Luxe yang sedang menahan tawanya.
Mendengar percakapan kedua kakaknya itu membuat Putri Amerilya tersenyum tipis, ia mendekati Raja Azvago dan meminta sang raja berjongkok agar selisih tinggi antara mereka tak terlalu jauh. Sang raja memenuhi keinginan putrinya itu, ia berjongkok di hadapan banyak orang setelah itu Putri Amerilya mencium pipi kanan dan pipi kiri Raja Azvago secara bergantian.
Terlihat semburat berwarna merah muda muncul di pipi sang raja, sepertinya ia merasa malu karna sikapnya tadi.
"Terimakasih putriku." ucap Raja Azvago dengan hati berbunga bunga.
"Setelah tugas ini selesai Amerilya ingin tidur di kamar ayah." ucap Putri Amerilya yang mengutarakan keinginannya untuk tidur di kamar sang raja.
"Tentu, apapun untuk putriku tersayang." ucap Raja Azvago yang tak menolak keinginan putrinya itu.
Kesatria Nicko menyarankan agar mereka segera berangkat karna perjalanan menuju kediaman Duke Elister memakan waktu yang cukup lama, akhirnya Putri Amerilya dan kedua pangeran masuk kedalam kereta kuda merekapun berangkat menuju kediaman Duke Elister. Setelah rombongan itu pergi Raja Azvago dan Ratu Zivaya pergi ke ruang kerja meraka masing masing, ibu suri pergi ke Istana Pangeran Zingo untuk bertemu dengan cucunya.
Di perjalanan hanya terdengar suara langkah kuda yang ditunggangi oleh para Kesatria Black Night, Putri Amerilya melihat dari jendela betapa mengagumkannya para kesatria yang menunggangi kuda, sang putri ingin melakukan hal yang sama suatu hari nanti saat umurnya sudah cukup.
"Apa yang sedang kau lihat adikku?." tanya Pangeran Luxe dengan senyum mengembang di wajah tampannya, Pangeran Luxe sangat senang karna ia bisa melihat secara langsung sang adik perempuan menjalankan tugas pertamanya.
Semua putra dari Raja Azvago akan mendapat tugas pertama saat mereka berusia lima tahun, dalam tugas pertama yang mereka jalankan sang raja akan melihat bakat yang dimiliki oleh putra putranya itu. Namun kali ini sedikit berbeda, Putri Amerilya mengambil tugas pertamanya sebagai seorang putri dari Kerajaan Meztano saat ia masih berusia dua tahun, selain itu tugas utama yang akan dilakukan oleh sang putri dipilih langsung olehnya.
"Para Tuan Kesatria Black Night terlihat sangat hebat saat mereka menunggangi kuda seperti itu." ucap Putri Amerilya dengan jujur, tatapan matanya masih tertuju ke luar jendela.
"Kami juga bisa menunggangi kuda seperti mereka." ucap Pangeran Mixo dengan ekspresi bangga.
Setelah mendengar perkataan dari Pangeran Mixo, Putri Amerilya langsung berbalik badan dan melihat ke arah kedua kakak laki lakinya itu. Dalam fikirannya sang putri sedang bertanya tanya apakah semua pangeran di Kerajaan Meztano bisa menunggangi kuda seperti itu? jika iya maka Putri Amerilya akan meminta sang ayah untuk mengajarinya berkuda.
"Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe bisa berkuda?." ucap Putri Amerilya dengan logatnya yang sangat lucu, serta binar mata senang yang tak bisa ia sembunyikan membuat kedua pangeran merasa gemas dengan sang putri.
"Tentu sebagai seorang pangeran kami semua diajari hal hal seperti itu." ucap Pangeran Luxe.
"Saya bisa mempelajarinya nanti?." tanya Putri Amerilya penuh dengan harapan, meskipun ia terlahir sebagai seorang putri Raja namun ia ingin diperlakukan layaknya seorang pangeran yang diizinkan untuk berlatih berpedang, menunggangi kuda, memanah, dan banyak hal lain yang ingin Putri Amerilya lakukan.
"Kau perlu izin dari ayah jika ingin melakukan hal itu, namun setahu ku seorang putri akan diajari etika dasar kerajaan, lalu bagaimana cara menyeduh teh, bagaimana bersikap saat menghadiri pesta serta hal hal feminim lainnya." ucap Pangeran Mixo dengan jujur, ia tak ingin memberi banyak harapan pada adik kecilnya itu. Meminta izin pada ayah mereka adalah hal yang cukup sulit, Raja Azvago lebih mementingkan kehormatannya sebagai seorang raja daripada kebahagiaan putra putrinya itulah yang sedang difikirkan oleh Pangeran Mixo.
"Kami para pangeran juga lebih senang jika ayah lebih memanjakan mu Putri Amerilya." ucap Pangeran Luxe dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan, setelah sekian lama menunggu akhirnya mereka mempunyai adik perempuan jadi mereka ingin adik perempuan mereka itu mendapat banyak kasih sayang.
"Amerilya menyayangi kalian semua." ucap Putri Amerilya dengan wajah yang sangat imut, Pangeran Luxe dan Pangeran Mixo langsung memeluk adik kecil mereka itu.
Hari pun menjelang siang, rombongan Putri Amerilya hampir sampai di kediaman Duke Elister, di sisi lain semua anggota keluarga Duke Elister sedang mempersiapkan diri untuk menyambut rombongan dari kerajaan yang akan membantu mereka menyelesaikan masalah pencemaran air yang terjadi di sana.
"Tuan Putri Amerilya dan yang lain akan segera datang." teriak seorang prajurit yang berlari kedalam rumah sang Duke, prajurit itu baru saja melihat kereta kuda dengan bendera berlambangkan Kerajaan Meztano melintas masuk ke wilayah kekuasaan Duke Elister.
"Baik terimakasih atas informasinya saya akan beritahu ayah." ucap Tuan muda Edwig Elister yang langsung bergegas pergi menuju kamar sang ayah, jangan sampai mereka terlambat memberi penyambutan pada Tuan Putri.
Tok tok tok.
Suara pintu kamar Tuan DukeRigel Elister yang diketuk oleh putra pertamanya, Duke Rigel Elister membuka pintu kamar dan menatap ke arah putranya seperti sedang mempertanyakan mengapa putranya itu mengetuk pintu dengan sangat kencang.
"Mohon maaf ayah karna menggangu waktu anda, baru saja prajurit yang berjaga di gerbang masuk wilayah Duke Elister mengatakan Tuan Putri hampir sampai ke kediaman kita." ucap Edwing Elister.
"Baiklah kalian semua berkumpul di gerbang depan, ayah akan segera menyusul." ucap Duke Rigel Elister yang meminta putra pertamanya itu untuk mengumpulkan anggota keluarga yang lain.
"Baik saya akan melakukannya." ucap Edwig Elister yang langsung pergi.
Di sisi lain rombongan Putri Amerilya sudah sampai di depan gerbang masuk kediaman Duke Elister, para Kesatria Black Night turun dari kuda yang mereka tunggangi dan mulai membentuk sebuah barisan. Pangeran Mixo, dan Pangeran Luxe keluar dari kereta kuda lalu membukakan pintu untuk adik mereka, Putri Amerilya melangkah keluar dari kereta kuda itu dengan kaki kecilnya.
"Silahkan Pangeran, Tuan Putri, dan para kesatria masuk kedalam." ucap para prajurit penjaga gerbang masuk sambil membungkukkan badan mereka.
Rombongan Putri Amerilya pun masuk kedalam tanpa ragu ragu, Saat itu mereka sedang berhadap hadapan dengan anggota Keluarga Duke Rigel Elister. Nyonya Muchela Elister sedang memandang ke arah Putri Amerilya dengan tatapan gemas, ia ingin memiliki seorang putri yang cantik dan menggemaskan seperti Tuan Putri.
"Salam hormat kami pada anggota Kerajaan Meztano yang bersedia hadir ke kediaman Duke Elister ini." ucap Duke Rigel Elister dan anggota keluarganya yang lain, mereka membungkukkan badan menghadap ke arah Tuan Putri Amerilya dan kedua pangeran.
"Senang bisa hadir ke Kediaman Tuan Duke Elister, sebagai perwakilan dari Kerajaan Meztano saya ucapkan terimakasih atas sambutannya." ucap Putri Amerilya penuh dengan wibawa, anak perempuan itu tampak seperti gadis yang sudah dewasa si usianya yang masih dua tahun itu.
Setelah penyambutan, Tuan Rigel Elister mempersilahkan rombongan Putri Amerilya untuk masuk kedalam dan makan siang bersama dengan mereka semua sebelum membahas mengenai masalah yang terjadi di wilayah kekuasaan Duke Elister.
Suasana di meja makan sangatlah hening hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu, sebagai anggota keluarga bangsawan tentu mereka memiliki atika tersendiri saat berada di ruang makan. Setelah selesai Duke Elister mengajak rombongan Putri Amerilya pergi ke ruang rapat, tentu mereka perlu rencana matang sebelum pergi ke area pertambangan.
"Seberapa buruk kualitas air yang ada di sini? bisakah saya mendapatkan sampelnya?." tanya Putri Amerilya yang penasaran dengan kualitas air di sekitar pemukiman penduduk, saat ia minum tadi semua terlihat baik baik saja.
Duke Elister meminta beberapa prajurit untuk mengambil air dari sungai terdekat agar Putri Amerilya bisa melihat separah apa pencemaran yang telah terjadi. Duke Elister menjelaskan bahwa ia membeli air bersih dari wilayah Duke Marques dengan harga yang lumayan murah, karna itu Duke Elister bisa membantu penduduk yang tak memiliki air bersih.
Para prajurit yang di utus sang Duke telah kembali, mereka memberikan air dalam mangkuk itu pada Putri Amerilya. Sang putri sangat terkejut melihat air berwarna keruh dengan sisa sisa minyak yang mengapung di atasnya, air seperti ini tak bisa diminum karna mengandung racun yang bisa menyebabkan wabah penyakit menular untung saya para penduduk yang tinggal di Wilayah Duke Elister segera menyadari bahwa air yang mengalir di sungai telah tercemar.
"Sebaiknya kita pergi ke sana sekarang, bawakan beberapa ahli kimia yang bisa membantu kita." ucap Putri Amerilya, ia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Jika semua ini tak segera di hentikan maka air sungai yang ada di sekitar sini akan tetap tercemar, Putri Amerilya hanya takut minyak minyak yang mengapung di atas air akan terserap oleh tanah saat musim kemarau tiba.
Duke Elister memanggil beberapa ahli kimia yang bekerja untuknya, setelah semua persiapan selesai mereka segera pergi menuju hutan tempat para imigran tinggal. Dalam perjalanan banyak penduduk wilayah Duke Elister yang menyambut kedatangan Putri Amerilya dengan baik, mereka sudah mendengar kabar bahwa Putri kecil itu ingin membantu masalah pencemaran yang sedang mereka alami.
"Bukankah dia masih terlalu kecil untuk menyelesaikan masalah serumit ini?." ucap salah seorang penduduk dengan tatapan bingung. Anak anak seusia Putri Amerilya akan sibuk bermain dengan teman sebaya mereka, namun sang putri malah sibuk menyelesaikan masalah kerajaan.
"Bagaimanapun gadis itu adalah seorang putri tentu hidupnya berbeda dengan rakyat biasa." jawab penduduk lain yang masih melihat Putri Amerilya dari kejauhan.
Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka sampai di hutan yang tak jauh dari area pemukiman penduduk, terlihat beberapa tenda besar yang di dirikan sebagai tempat tinggal para imigran. Putri Amerilya mencium bau minya yang sangat pekat, ia berjalan ke arah barat dan menemukan beberapa lubang pertambangan.
"Ini situasi yang sangat buruk." ucap Putri Amerilya dengan kerutan di keningnya.
"Ada apa putri?. tanya Kesatria Nicko yang berada di samping sang putri.
"Mereka membuat tambang minyak di area sungai dengan menyumbat beberapa titik, pantas saja minyak minyak itu tak bisa mengalir kemanapun dan tetap berada di kawasan Tuan Duke Elister." ucap Putri Amerilya, ia sedang melihat ke sekeliling sangat aneh jika area pertambangan sepi. Mungkinkah para imigran itu pergi karna mendengar kabar bahwa sang Duke akan datang ke sana.
"Mereka tak ada di sini." ucap beberapa prajurit Duke Elister yang sedang mencari keberadaan para imigran.
"Sungai ini mengalir dari wilayah Kerajaan Meztano hingga ke Laut Zues, jika mereka tak menyumbat aliran sungai minyak minyak ini akan trus mengalir dan mencemari banyak tempat." ucap Putri Amerilya yang masih mencari motif para imigran membuka tambang yang merugikan Duke Elister.
Putri Amerilya meminta beberapa ahli kimia untuk meneliti zat apa saja yang terkandung di dalam air, mungkin ada solusi untuk menyaring minyak yang mengapung di atas sungai. Sebelum minyak minyak itu dihilangkan, penyumbatan di beberapa titik sungai tak akan boleh di buka.
Putri Amerilya melihat kesekitar, matanya terhenti pada beberapa pohon tinggi yang ada di sekitar mereka. Pantas saja para prajurit tak menemukan kelompok imigran itu, ternyata mereka sedang bersembunyi di atas pohon dengan harapan tak ada yang bisa menemukan keberadaan mereka.
"Mereka ada di sini." ucap Putri Amerilya dengan tenang, para kesatria Black Night berjaga jaga jika terjadi serangan.
"Dimana?." tanya Duke Elister dengan wajah panik.
"Di atas pohon." ucap Putri Amerilya dengan sangat keras hingga beberapa prajurit yang jauh di belakangnya dapat mendengar suara sang putri.
Semua orang mendongakkan kepalanya dan melihat ke beberapa pohon yang ada di sekitar mereka, ternyata benar para imigran ada di sana untunglah Putri Amerilya menyadari hal itu. Karna persembunyian mereka telah di ketahui pihak Duke Elister, imigran imigran itu turun dari pohon dan bersiap untuk menyerang.
Putri Amerilya menatap ke arah beberapa imigran yang sedang memegang pedeng mereka, diantara para imigran ada beberapa wanita dan anak anak yang tak bisa bertarung. Jika pertarungan ini tetap dilangsungkan para imigran itu akan mati, ini menjadi masalah yang sulit karna hanya mereka yang tau pasti mengapa tambang minyak dibuka secara ilegal.
"Jika kalian tetap melawan anak dan istri kalian akan mati, kami tak peduli berapapun usianya semua pemberontak memang pantas dipenggal." ucap Putri Amerilya dengan tatapan tajam, putri kecil itu tak sedang bermain main dengan apa yang ia katakan. Pangeran Luxe dan Pangeran Mixo saling bertatapan satu sama lain, mereka tak mengerti dari mana sang adik belajar kata kata kejam seperti itu.
"Mengapa anak kecil sepertimu berusaha menggertak orang dewasa." ucap beberapa imigran yang tak terima dengan perkataan Putri Amerilya.
"Kalian bukan bagian dari Kerajaan Meztano, kalian tak memiliki izin untuk membuka pertambangan, kalian telah merugikan para penduduk yang tinggal di wilayah Duke Elister, dan kalian juga ingin menyerang anggota kerajaan. Dengan semua alasan itu, bukankah pantas di sebut dengan pemberontak dari kerajaan tetangga?." ucap Putri Amerilya dengan tegas, ia harus mengambil sikap atas permasalahan ini.
"Anggota kerajaan?." tanya beberapa imigran yang belum mengetahui jika gadis yang ada di hadapan mereka itu bagian dari anggota kerajaan.
"Mereka bertiga adalah anak anak dari Raja Azvago, dan gadis yang anda gertak adalah Putri Amerilya." ucap Duke Elister dengan tatapan tak suka, jika ia tau hal ini akan terjadi maka ia tak akan menyetujui para imigran tinggal di wilayah kekuasaannya.
Hai semuanya akhirnya bisa update novelku yang ini, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa kasih dukungan buat author, vote, like, gift, komen, rate, and share. Love you all.