PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Pelajaran untuk Kesatria Savalor


Keenam anak duke menikmati cemilan dan minuman yang disajikan oleh para pelayan Istana Putri, saat mereka sedang berbincang bincang satu sama lain tiba tiba ada beberapa Kesatria Savalor yang masuk ke dalam istana putri tanpa izin terlebih dahulu. Putri Amerilya menatap ke arah para kesatria itu dengan tatapan tajam, bolehkan ia membunuh mereka semua? Kerajaan Meztano tak membutuhkan kesatria kesatria sampah seperti itu. Keenam anak duke juga tampak terkejut dengan masuknya para Kesatria Savalor tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, mungkinkah ini sebuah kebiasaan di Istana Kerajaan Meztano? atau memang para kesatria itu sedang kehilangan akal mereka.


"Pergilah." ucap Putri Amerilya dengan nada kesal, ia tak akan membiarkan orang orang seperti para Kesatria Savalor bertindak sesuka hati mereka seperti yang sedang mereka lakukan saat ini.


"Kami datang untuk menanyakan dimana Kesatria Rosten Savalor, Kesatria Albigi Savalor, dan Kesatria Norx Savalor." ucap Arges Savalor dengan tatapan dingin yang ia berikan pada Putri Amerilya. Tuan Muda Rostow Elister tak menyukai cara berbicara kesatria itu, mereka seperti tak menghormati Tuan Putri dari Kerajaan Meztano.


"Turunkan nada bicara kalian." ucap Tuan Muda Rostow Elister dengan mata berapi api, anak laki laki itu tak bisa menahan amarahnya dan hampir membuat suasana menjadi kacau. Untung saja Edwig Elister segera menenangkan adik laki lakinya itu.


"Kalian adalah orang luar, jadi tak perlu ikut campur dengan urusan kami." jawab Lordxu Savalor, ia menatap tak suka ke arah anak anak duke yang sedang berkunjung ke Istana Putri.


"Kalian juga orang luar, jika ayah tak merekrut kalian menjadi kesatria di Istana Kerajaan Meztano maka kalian tak akan memiliki posisi seperti sekarang." ucap Putri Amerilya dengan tegas, jika para Kesatria Savalor itu tak bisa menghormati tamu tamunya maka Putri Amerilya tak perlu menunjukkan rasa hormat pada mereka.


"Katakan saja dimana Anda menyembunyikan ketiga anggota kami." ucap Rossen Savalor yang mendesak sang putri untuk mengakui kesalahannya.


Putri Amerilya semakin kesal karna ia tak tau apapun mengenai hilangnya ketiga anggota Kesatria Savalor itu, semalam ia tidur di istana utama bersama ayah dan ibunya dan bila ketiga anggota Kesatria Savalor menghilang apa hubungannya dengan Putri Amerilya. Semakin lama di pikirkan sang putri semakin curiga, mungkin ada sesuatu yang di sembunyikan oleh para pelayannya itu mengenai ketiga anggota Kesatria Savalor.


"Semalam saya menginap di kamar utama bersama Yang Mulia Raja Azvago dan Ratu Zivaya. Mungkinkah ketiga anggota Kesatria Savalor yang hilang itu datang ke istana utama untuk bertemu dengan ayah? jika hal itu yang terjadi mengapa kalian menanyakannya pada saya." jawab Putri Amerilya dengan wajah polos, ia berhak menyangkal tuduhan itu karna benar benar tak mengetahui apapun.


Rossen Savalor dan anggotanya yang lain saling bertatapan, mereka tak tau jika Putri Amerilya tak berada di istana putri ketika ketiga rekannya itu sedang menjalankan pengintaian. Jika bukan Putri Amerilya yang menyembunyikan mereka, lalu siapa yang telah melakukan semua ini?.


"Anda jangan membohongi kami semua." bentak Arges Savalor yang tak percaya dengan perkataan Putri Amerilya. Mana mungkin Yang Mulia Raja Azvago mau berbagi kamar dengan anak perempuannya itu, para pangeran saja tak diizinkan untuk masuk kedalam kamar utama.


"Jika kalian tak percaya mari kita pergi untuk menemui ayah." jawab Putri Amerilya yang memberikan sebuah solusi atas ketidakpercayaan anggota Kesatria Savalor terhadapnya.


Tuan Muda Ruhi Rucixara dan Tuan Muda Ruxi Rucixara mengepalkan tangan mereka dengan kuat, keduanya sangat ingin memukul para kesatria tak tau diri itu.


"Kalian semua tenanglah, jangan bertindak gegabah. Bagaimanapun ada hukum yang berlaku di kerajaan ini dan saya tak ingin kalian di penjara hanya karna memukul orang orang bodoh seperti mereka." ucap Tuan Putri Amerilya, gadis kecil itu berusaha menenangkan emosi keenam anak duke yang terlihat begitu marah.


"Sialan, cepat katakan saja dimana Anda menyembunyikan mereka bertiga. Kami semua hanya inggin mereka kembali dengan selamat." ucap Rossen Savalor, pria itu mendekat ke arah Putri Amerilya dan hendak menyerangnya dengan sebilah pedang yang ia bawa. Untunglah sang putri tak terluka karna berhasil menghindar dari serangan itu, kini para tuan muda dari kediaman Duke Elister dan Duke Rucixara tak bisa tinggal diam melihat sang putri diserang oleh seorang kesatria kerajaan.


"Kalian mundur lah, jika saya yang menghabisi nyawa mereka tak ada hukum di kerajaan ini yang akan memberatkan saya." ucap sang putri dengan tatapan tajam. Kali ini Putri Amerilya tak akan bersabar lagi terhadap para Kesatria Savalor, ia harus memberi mereka semua pelajaran.


"Kami tak bisa tinggal diam melihat anda melawan mereka semua sendirian." ucap Tuan Muda Rostow Elister, mata anak laki laki itu berubah menjadi merah karna menahan amarah yang meluap luap dari tubuhnya.


"Nona Ersa tolong beritahu hal ini pada ayah." ucap Putri Amerilya yang meminta salah satu anak perempuan dari Duke Rucixara untuk memberitahukan pada Raja Azvago tentang para Kesatria Savalor yang ingin menyerang sang putri.


Ersa Rucixara menganggukkan kepalanya kemudian berubah menjadi asap dan menghilang, gadis itu memiliki kemampuan sihir api dengan tingkatan yang lumayan tinggi sehingga bisa melakukan perubahan wujud. Para anggota Kesatria Savalor ingin mengejar anak duke itu akan tetapi mereka tak bisa membiarkan Putri Amerilya kabur dari sana. Di sisi lain sepuluh pelayan setia Putri Amerilya sudah bersembunyi di tempat yang tak terlihat, mereka akan langsung menyerang para Kesatria Savalor itu jika terjadi sesuatu pada Putri Amerilya. Kesepuluh pelayan setia sang putri tak bisa menyerang secara terang terangan karna masih ada anak anak dari Duke Rigel Elister dan Duke Moren Rucixara.


"Red Moon saya memanggil mu." ucap Putri Amerilya dengan sorot mata tajam dan nada bicara yang terdengar begitu dingin.


Langit di wilayah Istana Kerajaan Meztano yang tadinya sangat cerah kini berubah menjadi hitam ke merah merahan. Para jenderal dan prajurit yang sedang menyiapkan hukuman pancung untuk Zidan Marques merasa heran dengan fenomena itu, sedangkan anggota Kesatria White Rose panik dan segera pergi menuju Istana Putri.


"Sepertinya ada hal buruk yang menimpa Tuan Putri Amerilya. Mari kita segera pergi untuk membantunya." ucap Kesatria Richal dengan raut waja panik, pria itu berlari dari markas Kesatria White Rose menuju Istana Kerajaan Putri.


Di sisi lain Nona Muda Ersa Rucixara sudah sampai di ruang ramu dalam wujud asap kemudian kembali ke wujud manusianya, Raja Azvago dan kedua duke menatap ke arah gadis itu dengan tatapan bingung. Mengapa Ersa Rucixara datang dalam wujud elemen sihirnya? apakah ada sesuatu yang terjadi ketika mereka sedang berjalan jalan di sekitar Istana Kerajaan Meztano?.


"Maaf atas kelancangan saya Yang Mulia Raja Azvago. Saat ini para Kesatria Savalor ingin bertarung dengan Tuan Putri Amerilya, saya datang atas perintah putri Anda." ucap Ersa Rucixara dengan raut wajah panik, bagaimana caranya seorang anak berusia dua tahun bisa menghadapi para kesatria yang sudah memiliki banyak pengalaman di medang peperangan.


Mendengar ucapan dari Ersa Rucixara membuat jantung Raja Azvago seperti berhenti berdetak, pria itu dengan segera keluar dari ruang tamu istana utama dan berlari menuju Istana Putri. Di sisi lain Duke Rigel Elister dan Duke Moren Rucixara juga menyusul sang raja, mereka ingin tau apa yang sedang terjadi di Istana Kerajaan Meztano hingga para kesatria berani memberontak seperti itu. Ersa Rucixara yang di tinggal sendirian langsung berubah kembali dalam wujud asapnya, gadis itu bergegas menuju Istana Putri untuk membantu Putri Amerilya memukul para kesatria gila itu.


Saat ini Putri Amerilya sedang memegang pedang Red Moon miliknya, ia sudah siap mencabik cabik tubuh para Kesatria Savalor menggunakan pedangnya itu. Rossen Savalor menatap ke arah senjata milik sang putri, darimana anak kecil itu mendapatkan sebuah pedang yang sangar hebat? tak mungkin anak lemah sepertinya memiliki kemampuan menundukkan senjata sihir ataupun senjata spiritual tingkat tinggi.


"Dimana Anda mencuri pedang itu, lebih baik Anda menyerahkannya pada kami." ucap Rossen Savalor yang mulai kehilangan akal.


"Pedang ini sudah mengakui pemiliknya." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar yang terlihat menakutkan bagi para Kesatria Savalor.


Rossen Savalor dan Arges Savalor maju dan menyerang Putri Amerilya secara bersamaan. Kelima anak duke yang masih ada di sana mulai mengeluarkan senjata sihir mereka, jika ada anggota kesatria lain yang maju untuk menyerang Putri Amerilya maka dengan sangat terpaksa mereka harus ikut campur di dalam pertarungan. Tak menjadi masalah bila mereka mendapat hukuman karna membunuh para kesatria tak bermoral itu.


Suara dentingan pedang terdengar dengan begitu nyaring, Putri Amerilya sedikit kesulitan menggerakkan pedang Red Moon miliknya karna ukuran yang sangat besar. Kesatria Rossen Savalor dan Arges Savalor cukup kagum dengan kemampuan berpedang putri kecil itu, karenanya mereka tak bisa membiarkan Putri Amerilya tumbuh dewasa dan menjadi penghalang bagi mereka. Pelayan berambut putih tersenyum melihat Putri Amerilya memiliki kemampuan bertarung yang lumayan bagus, ia tak menyangka Putri Amerilya memiliki kemampuan seperti itu.


"Anda harus segera pergi meninggalkan dunia ini. Jika kami membiarkan Anda tumbuh menjadi dewasa maka akan terjadi hal buruk nantinya." ucap Kesatria Rossen Savalor yang mulai mempercepat gerakan menyerang dari sisi kanan sedangkan Arges Savalor menyerang dari sisi kiri. Putri Amerilya mencoba untuk fokus dalam pertarungan kali ini, ia harus mengalahkan mereka tanpa ada luka sedikitpun di badannya.


"Langkah pertama bulan hitam." ucap Putri Amerilya yang mengeluarkan salah satu jurus dari pedang Red Moon. Gadis kecil itu membuat langkah pedang yang cukup aneh, tiba tiba saja muncul seratus bayangan pedang Red Moon diatas kepala Putri Amerilya dengan segera sang putri mengarahkannya pada Kesatria Rossen Savalor dan Kesatria Arges Savalor.


Kedua anggota Kesatria Savalor itu kesulitan menangkis bayangan pedang yang menghujani tubuh mereka, pedang milik Arges Savalor sampai patah karna tak mampu menahan energi yang besar dari bayangan bayangan pedang tersebut. Sebuah bayangan pedang Red Moon menancap tepat di kening Arges Savalor hingga pria itu terjatuh di lantai dengan darah mengalir dari kepalanya, tiba tiba saja dari arah belakang Raja Azvago menutup mata Putri Amerilya dengan telapak tangan agar tak melihat kejadian itu.


"Maaf karna ayah terlambat datang." ucap Raja Azvago dengan tatapan tak percaya. Putri kecilnya itu benar benar mempunyai kemampuan berpedang yang sangat bagus, mungkin ia akan mendapat pewaris tahta kerajaan dengan kemampuan berpedang seperti yang ia inginkan selama ini.


"Saya sudah mengatakan bahwa Tuan Putri Amerilya bisa mengatasinya, saya hanya kasihan pada para anggota Kesatria Savalor." ucap Kesatria Richal dengan tatapan kagum, pria itu tersenyum lebar karna pernah diajarkan beberapa langkah berpedang oleh Tuan Putri Amerilya.


Hai hai semua author up lagi novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.