PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Bertahanlah Tuan Putri


Lilian, Juylin, dan Amena berjalan menyusuri lorong istana utama. Mereka bertiga berjalan menuju ruang perawatan dengan raut wajah khawatir terutama Lilian, ia tidak ingin hal buruk terjadi pada Putri Amerilya namun pada kenyataannya dirinya sendiri belum cukup kuat untuk melindungi sang putri. Pada kejadian hari ini Putri Amerilya lah yang telah menyelamatkan nyawa semua orang dengan mengorbankan dirinya sendiri, untunglah sang putri masih bisa bertahan hidup.


Tok tok tok...


Suara pintu ruang perawatan yang diketuk oleh Lilian. Setelah menunggu beberapa menit seorang tabib membuka pintu itu dan menatap ketiga orang pelayan istana putri dengan tatapan bingung. Sang tabib tidak mengerti bagaimana cara ketiga pelayan itu masuk ke dalam istana utama, sudah sangat jelas ada sebuah peraturan dimana pelayan istana lain dilarang masuk ke dalam istana utama di hari hari biasa.


"Ada keperluan apa kalian bertiga datang kemari?" tanya sang tabib dengan ramah, tabib itu tidak ingin memulai pertikaian hanya karna masalah izin masuk ketiga pelayan.


"Kami diperintahkan oleh Yang Mulia Raja Azvago untuk menjaga dan merawat Tuan Putri Amerilya selama dalam masa pemulihan. Jika kami boleh tau bagaimana kondisi Tuan Putri saat ini?." tanya Lilian dengan penasaran.


"Tubuh sang putri sudah terkontaminasi oleh racun, dia masih belum sadarkan diri hingga sekarang. Salah seorang alkemis mengatakan bahwa tubuh Putri Amerilya memiliki kemampuan alami untuk mendetoks racun, sehingga putri kecil itu akan membaik secara perlahan." jelas sang tabib pada ketiga pelayan yang ada di hadapannya.


"Syukurlah kalau begitu, apakah kami bertiga diizinkan utuk masuk ke dalam?. Jika tidak kami akan menunggu di luar hingga Tuan Putri sadar." ucap Lilian.


"Silahkan masuk, lagipula Yang Mulia Raja sendiri yang memberi perintah pada kalian untuk menjaga Putri Amerilya. Sebagai seorang tabib saya tidak memiliki wewenang untuk membantah perintah dari raja." jawab tabib itu. Sang tabib membuka pintu ruang kesehatan dengan lebar kemudian mempersilahkan ketiga pelayan itu masuk ke dalam.


Di saat ketiga pelayan berjalan melewati sang tabib yang berdiri di ambang pintu, tabib itu merasakan aura yang tidak biasa dari ketiganya. Mungkinkah ketiga pelayan yang selama ini setia berada di sisi Tuan Putri Amerilya bukanlah pelayan biasa?.


"Ah sudahlah tidak perlu memikirkan hal yang tak penting. Lebih baik saya menutup pintu karna angin malam tidak terlalu baik." gumam tabib tersebut dengan suara lirih. Ia menutup pintu ruang perawatan kemudian berjalan masuk ke dalam.


Lilian dan kedua pelayan lain menatap ke arah wajah pucat Putri Amerilya, Lilian meremas tangannya dengan penuh kemarahan. Ia merasa marah dan kecewa pada dirinya sendiri karna tidak mampu menjaga sang putri, Lilian mulai berandai-andai jika dirinya jauh lebih kuat maka hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.


Juylin menepuk pundak Lilian secara perlahan, ia mencoba untuk menenangkan rekannya itu. Semua yang terjadi bukanlah kesalahan Lilian karna yang menjadi dalang dibalik kejadian ini adalah Keluarga Kerajaan Belgize. Semua orang juga sangat terkejut mengetahui bahwa pangeran dari bangsa iblis terlibat pada kekacauan yang terjadi di Istana Kerajaan Meztano.


"Bukankah tabib mengatakan Tuan Putri akan baik baik saja. Jangan menyalahkan diri Anda seperti ini. Untuk kedepannya kita semua harus berlatih untuk menjadi lebih kuat lagi, sekarang situasinya sudah jauh berbeda dan Putri Amerilya membutuhkan dukungan dari para penyihir hebat maupun kesatria yang kuat." ucap Juylin pada Lilian dengan berbisik.


"Ucapan mu itu benar, kita harus mempersiapkan segalanya untuk menjaga Tuan Putri Amerilya dengan baik. Pangeran Lich akan terus mengincar putri kecil kita ini." jawab Lilian.


"Saya kira bangsa iblis sudah tidak mau lagi ikut campur dalam urusan manusia, ternyata diam diam mereka menyebarkan pengaruh dan mengumpulkan pengikut dari kalangan manusia." gumam Amena dengan ekspresi tidak terima.


"Mau bagaimana lagi, diantar belasan ras yang ada di muka bumi ini para manusia adalah makhluk yang mudah untuk dipengaruhi." jawab Juylin sembari menghela nafas pasrah.


Lilian, Juylin, dan Amena duduk di beberapa kursi yang ada di ruang perawatan. Mereka bertiga sempat melihat Ratu Zivaya yang sedang tertidur pulas di sofa ruang tunggu, sepertinya sang ratu sangat lelah setelah semua hal yang terjadi hari ini.


Di sisi lain Yang Mulia Raja Azvago telah selesai mandi dan berganti pakaian, ia segera keluar dari kamarnya karna ada beberapa hal yang harus diurus untuk menuntaskan keinginan dari putri kecilnya itu. Untuk peperangan yang akan terjadi antara Kerajaan Meztano dengan Kerajaan Belgize, sang raja menyerahkan semua itu pada Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe.


"Masih ada dua orang lagi yang harus saya bunuh, mereka tidak boleh lolos." batin Raja Azvago sembari berjalan menuju pintu depan istana utama.


"Perketat keamanan, jangan biarkan siapapun untuk masuk kedalam istana utama kecuali anggota keluarga kerajaan dan ketiga pelayan dari istana putri tadi. Saya akan pergi sebentar untuk mengurus sesuatu." perintah Raja Azvago pada para prajuritnya.


"Baik Yang Mulia Raja, kami akan menjalankan tugas dengan baik. Sampai jumpa lagi setelah urusan Anda selesai." jawab para prajurit yang masih membungkukkan badan mereka.


Raja Azvago berlari dengan kecepatan penuh meninggalkan Istana Kerajaan Meztano, ia bahkan meloncati tembok pembatas Istana padahal ada akses keluar masuk melalui gerbang utama. Para prajurit yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas sembari menggelengkan kepala saja.


Raja Azvago berlari menyusuri jalan setapak yang menjadi penghubung antar desa yang ada di wilayah Kerajaan Meztano. Karna hari sudah sangat malam jadi jarang penduduk yang melakukan aktivitas mereka di luar rumah, dengan begitu lebih kecil resiko Raja Azvago menabrak penduduknya sendiri.


Setelah berlari kurang lebih selama sepuluh menit akhirnya sang raja sampai di gerbang perbatasan. Melihat kedatangan raja mereka membuat para prajurit penjaga perbatasan terkejut. Mereka sedang berfikir kemana Raja Azvago akan pergi malam malam seperti ini. Mungkinkah sang raja ingin menyusul pasukan perang yang dipimpin oleh Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe?.


"Buka gerbangnya saya ingin lewat." perintah Raja Azvago dengan nada dingin.


Tanpa berlama-lama para prajurit penjaga gerbang perbatasan membukakan jalan agar raja mereka dapat pergi dengan leluasa menuju tempat yang dituju.


"Kemana Yang Mulia Raja ingin pergi malam malam seperti ini. Apakah Anda ingin berperang bersama para pasukan yang telah pergi beberapa jam yang lalu?" tanya salah seorang prajurit penjaga perbatasan dengan rasa penasaran.


"Apa yang ingin saya lakukan bukanlah urusan kalian. Cukup jaga saja wilayah perbatasan, jangan sampai ada penyusup yang masuk ke dalam." jawab Yang Mulia Raja Azvago dengan ketus.


Setelah mengatakan hal itu Raja Azvago kembali melanjutkan perjalanannya menuju goa yang ada di hutan perbatasan. Ia ingin menuntaskan tugasnya dengan membunuh Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf, dengan begini tidak ada lagi anggota Kerajaan Belgize yang tersisa.


Di tempat lain tepatnya ruang perawatan, tiba tiba saja tubuh Putri Amerilya mengejang dengan sangat hebat dan membuat semua tabib dan alkemis merasa khawatir. Mereka semua langsung berlari ke arah ranjang perawatan Putri Amerilya kemudian mengecek kondisi sang putri.


"Cepat ambilkan air hangat, saat ini suhu tubuh Putri Amerilya turun drastis!." triak salah seorang prajurit dengan sangat kencang.


Lilian yang mendengar hal itu langsung berdiri dari tempat duduknya kemudian berlari keluar dari ruang perawatan menuju dapur istana utama. Respon Lilian sangatlah cepat, ia bahkan lebih sigap dari para alkemis ataupun tabib lain.


Ratu Zivaya yang awalnya sedang tidur dengan pulas mendadak membuka mata dengan lebar. Ia segera bangun untuk melihat apa yang sedang terjadi dan mengapa para tabib dan alkemis sangat berisik.


"Ada apa?." tanya Ratu Zivaya dari arah belakang, ia melihat tubuh putri kesayangannya mengejang.


"Mengapa kalian hanya diam saja, lakukan sesuatu untuk menyelamatkan putri saya!!!." triak Ratu Zivaya secara tiba-tiba.


"Kami sedang menunggu seorang pelayan membawakan air hangat untuk mengompres badan Tuan Putri. Saat ini suhu tubuh Putri Amerilya turun dengan drastis." jelas salah seorang alkemis agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.