
"Apa maksud ibu berkata seperti itu di hadapan semua orang? sudah jelas kami bertiga adalah anak kandung mu. Mungkin sekarang ibu jauh lebih menyayangi Tuan Putri Amerilya daripada kami!." sangkal Pangeran Lunxi, ia tak ingin mendengar omong kosong yang diucapkan oleh Ibu Suri Sinya. Sejak bayi ia dan kedua adiknya memang tinggal di dalam Istana Kerajaan Meztano.
"Kalian bukan anak kandung saya dan ini bukan sekedar omong kosong belaka." ucap Ibu Suri Sinya dengan tatapan tajam.
"Lalu kami ini anak siapa jika bukan anak Anda?." tanya Pangeran Zogtu.
"Kalian bertiga adalah anak dari adik mendiang suami saya dengan seorang pelayan istana. Karna hubungan itu tidak direstui oleh ayah mertua saya akhirnya Pangeran Zildan dan pelayan itu memilih untuk keluar dari istana, namun beberapa tahun tepatnya saat Putri Haru dilahirkan sang pelayan mati dan Pangeran Zildan yang depresi memilih untuk mengakhiri hidupnya. Mendiang suami saya mengangkat kalian bertiga sebagai anaknya dan mendapat gelar keluarga kerajaan, ya kami sudah sangat baik menerima kalian di sini dan bisa bisanya Mendiang Putri Haru merencanakan hal jahat ketika pesta ulang tahun Putri Amerilya! sungguh tidak tau malu!." jelas Ibu Suri Sinya dengan kemarahan yang meluap luap. Akhirnya semua orang tau alasan mengapa ketiga anak terakhir dari Ibu Suri Sinya tidak mirip dengannya ataupun raja sebelumnya, ternyata mereka hanya anak angka saja.
"Ibu pasti bercanda, bagaimana bisa kami lahir dari rahim seorang pelayan. Katakan ini semua bohong kan bu!." ucap Pangeran Lunxi yang merasa tidak terima dengan perkataan Ibu Suri Sinya.
"Terserah, kenyataannya memang seperti itu." jawab Ibu Suri Sinya. Ia menarik tangan Ratu Zivaya untuk pergi dari aula utama dan tidak ikut serta dalam pemakaman Putri Haru.
Suasana di dalam aula menjadi kacau dalam beberapa saat, jadi Putri Haru bukanlah adik kandung dari Yang Mulia Raja Azvago dan untuk apa ia dimakamkan dengan prosesi kerajaan yang sangat lengkap seperti ini?. Tidak masalah jika Putri Haru dimakamkan seperti penduduk biasa pada umumnya karna dia hanya memiliki setengah darah bangsawan.
"Kalian semua tenang, prosesi pemakaman ini akan tetap dilanjutkan sebagaimana mestinya. Ini penghormatan terakhir yang saya berikan pada Putri Haru meskipun ia bukan bagian dari keluarga kerajaan." ucap Raja Azvago, akhirnya para pelayat kembali tenang dan upacara pemakaman dilanjutkan.
Pangeran Lunxi dan Pangeran Zogtu memilih untuk pergi dari aula dan tidak mengikuti prosesi pemakaman adik kandung mereka. Sepertinya kedua pangeran belum bisa menerima penjelasan dari Ibu Suri Sinya bahwa mereka adalah anak dari seorang pelayan dengan adik mendiang raja terdahulu. Pangeran Lunxi tiba tiba saja berteriak dengan cukup kencang kemudian berlari keluar dari istana utama dan pergi menuju istana putri.
"Putri sialan itu harus mati!." ucap Pangeran Lunxi dengan mata penuh kebencian. Pangeran Zogtu yang melihat kemarahan kakak laki lakinya itu hanya diam menonton, ia tak ingin ikut campur ataupun menenangkan Pangeran Lunxi.
Pangeran Lunxi berjalan penuh amarah menuju istana putri, saat ingin masuk ke dalam ia dihadang oleh beberapa prajurit. Para prajurit istana putri tidak bisa membuatnya Pangeran Lunxi masuk begitu saja karna mereka dapat merasakan kebencian yang sangat kuat dari sang pangeran, dan hal ini kemungkinan besar akan membahayakan Putri Amerilya.
"Maaf saat ini Istana Putri sedang tidak menerima tamu. Mohon Pangeran Lunxi untuk kembali nanti." ucap salah seorang prajurit yang memberanikan diri untuk mengusir sang pangeran secara halus.
"Minggir kalian semua, jangan halangi jalan saya!!!." bentak Pangeran Lunxi.
"Jangan membuat keributan di sini karna Putri Amerilya membutuhkan ketenangan untuk beristirahat. Mohon Pangeran Lunxi untuk pergi." tegur salah seorang prajurit dengan lebih tegas.
Pangeran Lunxi membuat sebuah pedang menggunakan sihir elemen es miliknya. Ia secara tiba tiba menyerang para prajurit hingga menyebabkan prajurit prajurit itu terluka dan tidak bisa menjaga pintu utama Istana Putri. Pangeran Lunxi masuk ke dalam dipenuhi dengan dendam dan kemarahan, ia berlari secepat mungkin menuju kamar yang digunakan oleh Putri Amerilya kemudian menendang pintu kamar itu hingga hancur menjadi kepingan kecil.
Brak....
Duar .......
Terdengar suara ledakan yang cukup kencang saat pintu kamar Putri Amerilya hancur, Pangeran Luxe yang saat itu sedang duduk sembari menatap wajah sang adik dikejutkan oleh suara ledekan tersebut. Kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya yang sedang melakukan pekerjaan mereka segera berlari menuju sumber suara yaitu kamar Tuan Putri mereka.
"Apa yang ingin kau lakukan di sini Paman Lunxi. Sebaiknya Anda pergi dan tidak mengganggu waktu beristirahat adik perempuan saya." tegur Pangeran Luxe pada sang paman dengan tatapan tajam. Ia rasa pamannya itu datang dengan niat yang buruk.
"Mengapa kau ada di sini? bukankah seharusnya kau berada di aula utama untuk mengikuti prosesi pemakaman bibi mu itu." tanya Pangeran Lunxi.
"Saya diperintahkan oleh ibu untuk menjaga Tuan Putri Amerilya hingga ia sembuh. Bukankah seharusnya paman juga ada di sana, lalu untuk apa paman datang ke sini?." tanya Pangeran Luxe lagi.
"Untuk mengambil nyawa adik kecilmu itu. Jika kutukan yang ditanam oleh sang penyihir tidak dapat mencabut nyawa Tuan Putri Amerilya maka sayalah yang akan mencabut nyawanya!!." triak Pangeran Lunxi sembari berlari menuju kasur tempat Putri Amerilya tidur.
Pangeran Luxe dengan segera membuat sebuah perisai menggunkan sihir elemen api miliknya utuk menahan serangan dari Pangeran Lunxi. Pangeran Luxe mundur beberapa langkah kebelakang karna ledakan sihir dari pedang Pangeran Lunxi terlalu besar. Saat Pangeran Luxe sudah terpojokkan tiba tiba Lilian dan Juylin masuk ke dalam kamar, mereka berdua menarik kerah baju belakang Pangeran Lunxi secara bersamaan kemudian menariknya ke luar istana putri.
"Hah.... Hah.. terimakasih telah membantu saya. Tolong jaga Putri Amerilya saya akan pergi keluar untuk menghadapi Pangeran Lunxi." ucap Pangeran Luxe pada kedelapan pelayan istana putri yang melihat dari luar pintu kamar sang putri.
"Baik kami semua akan menjaga Tuan Putri Amerilya, berhati hatilah Pangeran Luxe karna paman Anda itu milik sesuatu yang tidak biasa di dalam tubuhnya." ucap Amena dengan wajah serius.
"Baik terimakasih telah mengingatkan saya." jawab Pangerang Luxe. Ia bergegas berlari keluar dari kamar Putri Amerilya menuju halaman depan istana putri sedangkan kedelapan pelayan tadi langsung masuk ke dalam kamar sang putri dan membuat sebuah sihir pembatas agar orang lain tidak dapat masuk ke dalam.
"Berani beraninya pelayan rendahan seperti kalian ikut campur dengan urusan saya!." ucap Pangeran Lunxi dengan sangat marah.
"Selagi itu menyangkut keselamatan Tuan Putri Amerilya maka kami akan ikut campur. Dari Tuan Putri baru lahir hingga ia sebesar sekarang ini kamilah yang merawatnya, jadi siapapun yang ingin melukai Tuan Putri Amerilya akan berurusan dengan kami semua." jawab Juylin dengan tatapan dingin.
Lilian mengepalkan tangannya kemudian muncul sebuah pedang berwarna biru muda dari udara, pedang itu terbuat dari sihir elemen es dan elemen air sedangkan Juylin mengambil sebuah pedang berwarna hitam pekat dari dalam cincin dimensi miliknya. Kini Lilian dan Juylin sudah siap bertarung melawan Pangeran Lunxi, mereka siap menerima hukuman dari pihak kerajaan jika sampai nyawa sang pangeran menghilang.
"Kalian berdua mundur saja, biarkan saya yang melawan Pangeran Lunxi. Jika sehat terjadi pada kalian maka adik akan merasa sedih." ucap Pangeran Luxe yang baru keluar dari istana putri dengan pedang berwarna merah dengan kobaran api yang cukup kuat.
Lilian dan Juylin menganggukkan kepalanya mereka, keduanya langsung mundur menuruti perintah dari Pangeran Luxe. Kedua pelayan itu akan maju jika Pangeran Luxe dalam kondisi terdesak atau mungkin mereka akan memikirkan cara lain.
"Jika Anda ingin membunuh Tuan Putri Amerilya maka langkahi terlebih dahulu mayat saya." ucap Pangeran Luxe. Ia maju dan menyerang Pangeran Lunxi menggunakan pedang api miliknya. Pertarungan diantara mereka berdua sangatlah sengit.
Trang trang ...
Trang......
Suara pedang yang saling berbenturan satu sama lain. Pedang es milik Pangeran Lunxi beberapa kali menguap akibat kobaran api dari pedang milik Pangeran Luxe. Di sebuah tempat Pangeran Zogtu memantau pertarungan yang sedang terjadi, mungkin ia akan keluar di sana waktu yang tepat nanti.
Lilian merasa bahwa Pangeran Lunxi terlalu kuat untuk Pangeran Luxe karna pengalaman bertarungnya menggunkan pedang jauh lebih banyak dari Pangeran Luxe. Lilian membisikkan sesuatu ke telinga Juylin dan akhirnya Juylin pergi menuju istana utama. Setidaknya harus ada anggota keluarga kerajaan lain yang membantu Pangeran Luxe mengalahkan Pangeran Lunxi.
Juylin ingin masuk ke dalam istana utama namun lagi lagi dan lagi ia ditahan oleh para prajurit penjaga pintu masuk. Kali ini Juylin tidak tinggal diam, ia bahkan menatap ke arah para prajurit itu dengan tatapan penuh kemarahan.
"Menyingkirlah kalian semua!." triak Juylin dengan gelombang suara yang cukup kuat hingga membuat para prajurit penjaga pintu masuk istana utama terpental ke berbagai arah.
Setelah tidak ada lagi yang menghalangi jalannya Juylin pun masuk ke dalam istana dan bergegas pergi mencari siapapun yang biasa ia mintai bantuan. Saat melewati sebuah ruangan Juylin tidak sengaja berpapasan dengan Ibu Suri Sinya dan Ratu Zivaya yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Berhenti!." perintah Ibu Suri Sinya yang langsung menghentikan langkah kaki Juylin.
"Bukankah kau salah satu pelayan dari istana putri? apa yang membuat mu masuk ke istana utama dengan wajah panik seperti itu?." tanya Ibu Suri Sinya.
"Apakah sesuatu terjadi pada Putri Amerilya?!." tanya Ratu Zivaya yang ikut khawatir.
"Pangeran Lunxi tiba tiba masuk ke dalam Istana Putri, ia menghancurkan pintu kamar Tuan Putri Amerilya dan ingin menyerangnya. Untunglah di sana ada Pangeran Luxe yang menahan serangan dari Pangeran Lunxi. Karna saat itu Pangeran Luxe terpojok akhirnya saya dan Lilian menyeret paksa Pangeran Lunxi untuk keluar dan membawanya ke halaman depan. Saat ini Pangeran Luxe sedang bertarung dengan Pangeran Lunxi, kami para pelayan tidak bisa membantu secara langsung karna akan dihukum oleh pihak istana." jelas Juylin pada Ratu Zivaya dan Ibu Suri Sinya.
"Apa kau melihat keberadaan Pangeran Zogtu di sana?." tanya Ratu Zivaya yang merasa curiga.
"Tidak ada siapapun selain Pengeran Lunxi." jawab Juylin dengan jujur.
"Mari kita pergi sekarang. Jangan sampai kedua cucuku terluka karna anak tidak tau diuntung itu." perintah Ibu Suri Sinya.
Mereka bertiga bergegas keluar dari istana utama untuk melihat bagaimana pertarungan antara Pangeran Luxe dengan Pangeran Lunxi, selain itu Ratu Zivaya juga ingin memastikan apakah Pangeran Zogtu merencanakan penyerangan secara diam diam pada putri kecil kesayangannya itu.
Para prajurit yang sempat terpental akibat gelombang suara dari Juylin sudah bagun dari tempat mereka jatuh. Para prajurit itu berniat untuk masuk ke dalam istana utama untuk mencari sang pelayan yang berani menyerang mereka, belum sempat para prajurit itu masuk ke dalam tiba tiba pintu utama terbuka dan mereka melihat pelayan dari istana putri itu pergi bersama Ratu Zivaya dan Ibu Suri Sinya. Artinya sang pelayan memaksa masuk ke dalam karena ada hal mendesak yang ingin ia sampaikan.
"Untunglah kita belum masuk ke dalam untuk menggeretaknya, jika tidak kita akan dimarahi oleh Ratu Zivaya seperti kemarin." ucap salah seorang prajurit yang merasa lega.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.