
Putri Amerilya dan kedua anak Duke Moren Rucixara telah sampai di istana putri, mereka masuk ke dalam kamar masing masing kemudian beristirahat. Di sisi lain saat ini kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya kembali berkumpul di perpustakaan istana putri, mereka sedang membahas beberapa hal yang terjadi dalam pesta termasuk perubahan Tuan Youzen yang menyerupai ras iblis.
"Mungkinkah para iblis sudah mempersiapkan diri mereka untuk kembali menyerang dunia manusia?." tanya Liliana pada rekannya yang lain dengan raut wajah khawatir.
"Bukankah Raja Iblis telah menandatangani perjanjian perdamaian antara ras manusia dengan ras iblis? jika mereka menyerang akankah kita mampu bertahan lagi." ucap seorang pelayan dengan rambut berwarna pirang dan mata berwarna emas.
"Sepertinya kita perlu mengawasi beberapa tempat. Jangan sampai ada portal yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia para iblis." ucap Liliana dengan nada serius.
Setelah membicarakan beberapa hal penting, kesepuluh pelayan itu bergegas keluar dari perpustakaan menuju kamar mereka masing masing. Diperlukan energi ekstra untuk memikirkan hal seberat ini, mereka berharap era kekacauan akan datang setelah Putri Amerilya besar nanti. Untuk saat ini putri kecil mereka masih membutuhkan banyak pelatihan serta pengalaman dalam melawan musuh yang lebih kuat darinya, lagipula Putri Amerilya masih berusia dua tahun dan hampir menginjak usia tiga tahun. Anak anak seusia Putri Amerilya masih belajar untuk melakukan banyak hal seperti berjalan dengan tegak, berbicara dengan jelas, ataupun menghabiskan waktu untuk bermain main.
"Semoga saja Raja Iblis menepati janjinya." ucap Liliana kemudian wanita itu memejamkan mata dan mulai masuk ke dalam alam mimpi.
Saat ini Yang Mulia Raja Azvago dan pasukannya telah kembali ke Istana Kerajaan Meztano, mereka semua merasa lega karna para pemberontak yang bersembunyi di Kediaman Duke Marques sudah habis terbakar dan dapat dipastikan tak ada yang tersisa lagi. Para prajurit dari istana putri dan istana pangeran bergegas kembali ke tempat mereka bertugas, kemungkinan besar esok pagi Raja Azvago akan memeriksa semua prajurit yang ada di istana utama untuk memastikan apakah masih ada pengkhianatan yang tersisa.
"Kalian pergilah ke penjara khusus, coba lihat apakah Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya masih ada di sana ataukah sudah melarikan diri." ucap Raja Azvago pada para Kesatria Black Night.
"Baik kami akan pergi sekarang juga." ucap anggota Kesatria Black Night yang langsung pergi menuju penjara khusus.
Di sisi lain saat ini Kesatria White Rose ingin melapor pada Yang Mulia Raja Azvago, mereka tengah mencari keberadaan sang raja. Saat dalam perjalanan menuju istana utama, Kesatria Richal dan yang lain melihat beberapa prajurit yang berusaha kabur memalui gerbang samping yang ada di dekat istana pangeran. Dengan segera Kesatria Richal memerintahkan pada anggota Kesatria White Rose untuk menangkap mereka semua dan untunglah tak ada yang berhasil lolos.
"Lepaskan kami, kami terpaksa melakukannya karna Tuan Moren Luzent dan Tuan Youzen memaksa." ucap salah seorang prajurit dari istana utama, ia berusaha menjelaskan pada anggota Kesatria White Rose bahwa ia tak bersalah dan melakukan semua itu karna terpaksa.
"Bukankah kalian menerima uang dari mereka." ucap Kesatria Albern dengan tatapan tajam. Mereka sudah mengetahui secara detail bagaimana para prajurit istana utama bisa bergabung dengan kelompok pemberontak.
"Kami terpaksa menerima uang itu karna sangat membutuhkannya." ucap prajurit lain dengan mata berkaca-kaca.
Kesatria Richal memerintahkan anggota Kesatria White Rose untuk membawa para prajurit itu ke dalam penjara dan memberikan hukuman lima puluh cambukan pada masing masing prajurit. Setelah kepergian anggotanya yang lain Kesatria Richal melanjutkan tugasnya untuk mencari Yang Mulia Raja Azvago di istana utama. Setelah berlari beberapa menit akhirnya Kesatria Richal sampai di istana utama, terlihat beberapa prajurit yang bertugas untuk mengikuti perang sedang berjaga jaga di sekitar istana utama. Kemungkinan besar semua prajurit yang bertugas di sana telah bergabung dengan para pemberontak dan sedang ditahan di dalam penjara.
"Apakah Yang Mulia Raja Azvago ada di dalam?." tanya Kesatria Richal pada salah satu prajurit yang sedang berjaga di pintu masuk istana utama.
"Yang Mulia Raja Azvago dan pasukannya baru saja kembali dari Kediaman Duke Marques, saat ini beliau sedang berada di ruang kerjanya." jawab prajurit itu dengan nada bicara datar.
"Baiklah, terimakasih atas informasinya." ucap Kesatria Richal yang langsung masuk ke dalam istana utama dan bergegas pergi menuju ruang kerja Yang Mulia Raja Azvago.
Tok tok tok.
Suara pintu ruang kerja Raja Azvago yang diketuk oleh Kesatria Richal dengan cukup kencang, setelah mendapatkan izin untuk masuk ke dalam, Kesatria Richal langsung masuk dan memberikan salam pada Raja Azvago.
"Maaf mengganggu waktu Anda, ada sesuatu yang harus saya laporkan mengenai Nyonya Xielna Marques." ucap Kesatria Richal yang merasa tak enak hati karna sudah mengganggu waktu kerja Raja Azvago malam malam seperti ini.
"Ada apa dengan wanita itu?." tanya Raja Azvago yang langsung mengalihkan pandangannya pada Kesatria Richal.
"Kami sempat mengintrogasi Nyonya Xielna Marques, ia mengatakan rencana pemberontakan ini di susun oleh seseorang yang tak ia kenal dan berasal dari luar wilayah Kerajaan Meztano. Saat saya menanyakan apakah Nyonya Xielna Marques mengetahui tentang perubahan Tuan Youzen menjadi seorang iblis, tiba tiba saja Tubuh Nyonya Xielna membeku kemudian pecah menjadi serpihan kecil. Saya dan yang lain cukup terkejut dengan hal itu, kemungkinan besar dalang di balik semua ini adalah seorang penyihir kuat dari luar wilayah Kerajaan Meztano." ucap Kesatria Richal yang sedang menjelaskan tragedi yang terjadi saat mereka sedang mengintrogasi Nyonya Xielna Marques.
"Sepertinya itu penyihir yang berbeda dengan penyihir yang telah mengutuk putri putriku." ucap Raja Azvago yang sedang mengingat ingat apakah ia pernah menyingung orang dari luar Kerajaan Meztano.
"Saya dan anggota Kesatria White Rose yang lain akan melakukan penyelidikan secara diam diam mengani hal ini. Sebaiknya Yang Mulia Raja Azvago tak mengatakannya pada orang lain." ucap Kesatria Richal yang sudah menyusun rencana. Ia dan anggotanya akan pergi ke wilayah perbatasan Kerajaan Meztano dengan kerajaan lain, mereka akan menyamar menjadi pengembara yang sedang melakukan perjalanan panjang dan singgah di beberapa kerajaan.
"Baiklah lakukan seperti yang telah kau rencanakan, sisanya biar saya yang urus." ucap Raja Azvago yang menyetujui permintaan dari Kesatria Richal.
"Salam Kesatria Richal." ucap Kesatria Black Nicko.
"Salam Kesatria Black Nicko, silahkan masuk karna Yang Mulia Raja Azvago sudah menunggu Anda. Saya permisi terlebih dahulu." ucap Kesatria Richal dengan senyuman ramah kemudian ia pergi meninggalkan Kesatria Black Nicko yang masih berdiri di luar pintu ruang kerja sang raja.
Setelah terdiam beberapa saat Kesatria Black Nicko langsung masuk ke dalam ruang kerja Raja Azvago, ia melaporkan bahwa Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya berhasil kabur dari penjara khusus. Ia juga menemukan beberapa prajurit yang bertugas untuk menjaga penjara digantikan oleh prajurit dari istana utama, karna itu para anggota Kesatria Black Night menangkap dan segera memenjarakan mereka.
"Kemana mereka bersembunyi saat ini." ucap Raja Azvago yang sedang mengira ngira tempat paling aman untuk buronan seperti Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya itu.
"Mungkin saat ini Nyonya Riana Marques telah menyewa sebuah penginapan yang cukup jauh dari Istana Kerajaan Meztano." jawab Kesatria Black Nicko yang sedang memberikan pendapatnya pada Yang Mulia Raja Azvago.
"Mereka tak mempunyai banyak waktu untuk melakukan hal itu, beberapa prajurit telah disiagakan di beberapa titik wilayah. Mereka semua tau bahwa saat ini anggota Keluarga Duke Marques adalah musuh bagi Kerajaan Meztano." jawab Yang Mulia Raja Azvago, ia tak setuju dengan perkataan Kesatria Black Nicko.
"Mungkin Tuan Putri Amerilya bisa memecahkan teka teki yang sulit ini." ucap Kesatria Black Nicko yang teringat dengan Putri Amerilya. Putri kecil dari Kerajaan Meztano itu memiliki pemikiran yang sangat luas, ia juga sangat peka terhadap perubahan yang ada di sekitarnya.
"Biarkan dia beristirahat untuk saat ini, saya akan menanyakan hal itu esok pagi." ucap Raja Azvago yang tak ingin menganggu waktu istirahat putri kecilnya itu.
"Baiklah kalau begitu saya pamit undur diri." ucap Kesatria Black Nicko dengan membungkukkan badannya kemudian ia pergi dari ruang kerja Raja Azvago.
Setelah kepergian Kesatria Black Nicko, Raja Azvago segera menyelesaikan semua berkas berkas yang ada di hadapannya itu agar bisa beristirahat dengan tenang. Di sisi lain saat ini Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya masih menunggu di kamar tamu terbengkalai, mereka kebingungan karna tak ada seorang prajurit yang datang untuk memberitahu kemenangan mereka mengalahkan pihak Kerajaan Meztano saat pesta makan malam berlangsung.
"Apa yang sedang terjadi saat ini, bagaimana jika kita dikalahkan lagi." ucap Nyonya Riana Marques dengan perasaan cemas, ia ingin keluar dari ruangan tersebut dan melihat bagaimana kondisi di istana utama. Jika memang pihak mereka berhasil dikalahkan setidaknya Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya bisa kabur dengan aman.
"Jika ibu keluar sekarang, ibu akan tertangkap oleh para prajurit ataupun pelayan yang sedang berjaga." ucap Tuan Muda Bristo Marques yang sedang mengingatkan sang ibu agar tak bertindak gegabah.
"Sepertinya kita harus menunggu hingga pagi datang, jika belum ada kabar juga berarti pihak kita telah kalah. Hal selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini." ucap Nona Muda Ciela Marques dengan saran berlian yang ia berikan pada sang ibu.
Nyonya Riana Marques menyetujui saran dari kedua anaknya itu, Istana Kerajaan Meztano bukanlah tempat yang aman untuk mereka keluar masuk seenaknya. Saat ini seluruh anggota Kerajaan Meztano sudah mengetahui bahwa Keluarga Duke Marques adalah musuh besar mereka, mungkin saja Raja Azvago sudah menyadari bahwa ia dan kedua anaknya kabur dari penjara. Nyonya Riana Marques meminta pada kedua anaknya untuk beristirahat, esok pagi mereka akan memikirkan cara untuk keluar dari tempat itu.
Di sisi lain saat ini Putri Amerilya sedang tertidur dengan lelap, anak perempuan itu merasa lelah dengan apa yang terjadi belakangan ini. Meskipun jiwanya adalah jiwa seorang remaja, namun tubuhnya masihlah anak berusia dua tahun. Semua hal yang terjadi sangat menguras energi sang putri, Putri Amerilya berencana untuk bangun siang meski para pelayannya akan marah nanti.
Waktu terus berjalan suasana malam yang sangat sunyi dan tak ada seorangpun yang berada di luar rumah mereka, saat ini beberapa cahaya berwarna merah melesat menjauh dari wilayah Istana Kerajaan Meztano menuju sebuah
goa yang ada di dekat perbatasan. Cahaya merah itu melesat masuk kedalam kemudian pintu goa tertutup dengan sebuah batu berukuran besar, dalam sekejap mata cahaya merah itu berubah menjadi se sosok anak laki laki dengan rambut dan mata merah menyala.
"Cih, mereka ingin melukai istri masa depanku." ucap anak laki laki itu sembari menunjukkan ekspresi marah. Entah siapa yang ia maksud dengan istri masa depannya.
Anak laki laki itu membuat sebuah pola sihir menggunakan darah yang keluar dari jari telunjuknya, setelah selesai ia membacakan mantra kemudian muncul sebuah pintu dari pola sihir itu. Dengan segera sang anak laki laki berambut merah membuka pintu tersebut kemudian masuk ke dalam, beberapa saat setelahnya pintu itu menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Setelah melalui malam yang cukup melelahkan kini pagi datang disambut sinar matahari yang cerah, Putri Amerilya masih meringkuk di atas tempat tidurnya karna ia ingin bermalas-malasan untuk hari ini tanpa ingin memikirkan apapun. Dari luar kamar sang putri sudah ada Liliana yang mengetuk pintu kamar beberapa kali namun tak ada jawaban apapun.
"Bangunlah Tuan Putri Amerilya, Anda harus sarapan dan bertemu dengan ayah Anda." ucap Liliana sembari mengetuk pintu kamar Putri Amerilya dengan kencang.
"Hari ini saya ingin tidur, saya sangat lelah dan tak memiliki tenaga untuk berjalan." jawan Putri Amerilya dengan jujur dari dalam kamarnya.
"Anda masih lelah Tuan Putri? baiklah jika begitu beristirahatlah hingga tenaga Anda pulih kembali. Saya akan menyampaikan pada Yang Mulia Raja Azvago bahwa putrinya masih butuh beristirahat." ucap Liliana yang langsung pergi dan tak berniat mengganggu waktu istirahat Putri Amerilya lagi.
Hai hai semua author balik lagi nih dengan novel Putri Amerilya. Gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.