PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Keinginan Ciela Marques


Duke Moren Rucixara dan ke empat anaknya pergi meninggalkan Istana Kerajaan Meztano sedang Putri Amerilya berjalan menggunakan kaki kecilnya itu menuju istana utama untuk melihat lihat karna ia bosan terlalu lama berada di istana putri. Saat Putri Amerilya menoleh ke sebuah jendela yang letaknya tak jauh dari jendela ruang kerjanya ayahnya terdapat pantulan wajah Ciela Marques yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Dia belum dieksekusi mati." gumang Putri Amerilya dengan suara pelan. Mungkin Ciela Marques ingin memberikan beberapa informasi mengenai pemberontakan yang dilakukan oleh anggota Keluarga Duke Marques dan beberapa pejabat Kerajaan Meztano.


Putri Amerilya menghiraukan tatapan tajam dari Ciela Marques dan melanjutkan perjalanannya menuju istana utama, saat akan masuk ke dalam para prajurit penjaga pintu depan menyambut kedatangan putri kecil itu dengan sangat ramah setelahnya mereka mempersilahkan Putri Amerilya untuk masuk ke dalam.


"Bolehkah saya bertanya sesuatu?." tanya Putri Amerilya pada beberapa prajurit yang sedang berjaga di pintu depan.


"Kami akan menjawab sebisa kami." ucap para prajurit yang tak merasa keberatan.


"Mengapa Nona Ciela Marques masih berada di dalam istana utama? bukankah Yang Mulia Raja Azvago memerintahkan para prajurit untuk menghukum mati Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan polos. Ia tak ingin para prajurit curiga dengannya, pada umumnya anak berusia dua tahun tak akan bertanya tentang hal hal seperti itu.


"Dari informasi yang kami dapatkan saat ini Nyonya Riana Marques dan Tuan Muda Bristo Marques telah dieksekusi mati sedangkan Nona Muda Ciela Marques masih tetap bertahan karna ia ingin memberikan semua informasi mengenai pemberontakan yang terjadi." ucap salah seorang prajurit yang memberi penjelasan pada Putri Amerilya.


"Baiklah terimakasih karna telah memberitahu saya, saya masuk dulu ke dalam." ucap Putri Amerilya yang langsung masuk ke dalam istana utama.


Di sisi lain saat ini Ciela Marques kembali ke tempat duduknya, gadis itu meminta pena dan beberapa lembar kertas pada seorang pelayan yang berada di ruangan itu, karna tak bisa berbicara dengan lancar akhirnya Ciela Marques menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Pelayan itu mengambilkan barang sesuai dengan keinginan Ciela Marques kemudian ia kembali berdiri di belakang gadis itu.


"Lihat saja bagaimana cara ku mendapatkan semua yang kau miliki Tuan Putri Amerilya." batin Ciela Marques dengan senyuman lebar penuh kebahagiaan.


Ciela Marques mulai menuliskan banyak hal yang ia ketahui mengenai pemberontakan itu ia menambahkan beberapa informasi palsu agar Yang Mulia Raja Azvago merasa kasihan padanya. Saat ini Putri Amerilya sudah berada di ruangan khusus Ibu Suri Sinya, ada beberapa hal yang ingin putri kecil itu sampaikan pada sang nenek. Putri Amerilya masih ingat dengan jelas bahwa Ibu Suri Sinya adalah anggota Keluarga Kerajaan Meztano kedua yang menganggapnya ada setelah Pangeran Zingo.


Tok tok tok.


Suara pintu ruangan khusus Ibu Suri Sinya yang diketuk pelan oleh Putri Amerilya. Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah pintu, tak lama setelahnya pintu tersebut terbuka dengan lebar memperlihatkan seorang wanita tua dengan paras yang masih cantik. Ibu Suri Sinya tampak menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari tau siapa orang yang telah mengetuk pintu ruangannya itu.


"Amerilya ada di bawah sini nenek." ucap Putri Amerilya sembari menggembungkan pipinya, ia merasa kesal karna sang nenek tak menyadari keberadaannya sedari tadi.


Ibu Suri Sinya menundukkan kepalanya dan melihat ke arah Putri Amerilya, ibu suri tertawa pelan karena ia tak melihatnya keberadaan cucu kecilnya itu.


"Maaf karna nenek tak bisa melihat mu, silahkan masuk ke dalam cucuku." ucap Ibu Suri Sinya, ia mempersilakan Putri Amerilya untuk masuk ke dalam.


Setelah masuk ke dalam ruangan itu, Ibu Suri Sinya langsung menutupnya dengan rapat. Ibu Suri Sinya memiliki firasat bahwa cucu perempuannya datang untuk menyampaikan hal penting padanya, setelah menutup pintu ibu suri mempersilahkan Putri Amerilya untuk duduk di sofa empuk yang ada di ruangan itu.


"Apa yang membuatmu datang menemui nenek cucuku?." tanya Ibu Suri Sinya dengan suara yang sangat lembut, ia begitu menyayangi cucu perempuannya itu.


"Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan pada nenek, dan saya berharap nenek bisa menjaga rahasia ini hingga waktunya tiba." ucap Putri Amerilya dengan tatapan serius, ia tak bisa menyembunyikan kekuatannya ini sendirian. Perlu seseorang yang dapat mendukung dan menutupi segala hal yang dilakukan oleh Putri Amerilya saat menggunakan kekuatannya itu.


"Katakanlah cucuku, kau bisa mempercayakan rahasia mu pada nenek." ucap Ibu Suri Sinya dengan rasa penasaran tinggi, rahasia apa yang dimiliki oleh seorang anak perempuan berusia dua tahun.


Putri Amerilya memejamkan matanya kemudian membaca sebuah mantra, beberapa saat setelahnya muncul cahaya berwarna hijau yang menyelimuti tubuh Putri Amerilya. Tiba tiba saja munjul tanaman rambat serta bunga bunga cantik yang menghiasi lantai ruangan itu, Ibu Suri Sinya diam seribu bahasa ia tak dapat mengatakan apapun setelah melihat kekuatan dari cucu perempuannya itu.


"Amerilya membutuhkan bantuan nenek untuk menutupi hal ini, saat Amerilya besar nanti semua orang akan mengetahuinya." ucap Putri Amerilya pada Ibu Suri Sinya yang masih terdiam sembari menatap ke arah cucu perempuannya.


Setelah beberapa saat kesadaran Ibu Suri Sinya mulai kembali, ia mengedipkan matanya beberapa kali dan mencoba untuk melihat lebih serius ke arah Putri Amerilya. Ibu Suri Sinya tersenyum dengan lebar karna cucu perempuannya mewarisi kekuatan dari Ratu pertama pendiri Kerajaan Meztano.


"Nenek mengerti kau pasti takut jika kekuatan mu itu akan menarik perhatian banyak musuh. Selama nenek hidup nenek akan membantumu untuk menutupinya." ucap Ibu Suri Sinya sembari memeluk cucunya dengan erat.


"Terimakasih nenek, Amerilya merasa lebih tenang Sekarang." ucap Putri Amerilya dengan senyuman kecil yang menghiasi wajah imutnya.


Putri Amerilya manarik kembali kekuatan alam yang baru saja ia keluarkan, putri kecil khawatir ada seseorang yang menyadari aura alam milikinya.


"Mungkin ayah membutuhkan beberapa informasi dari gadis itu nek." jawab Putri Amerilya dengan ekspresi tenang, jika Ciela Marques melakukan sesuatu yang berlebihan maka ia yang akan turun tangan langsung untuk membunuh gadis itu.


"Nenek tak menyukai kehadirannya." ucap Ibu Suri Sinya sembari melepas pelukannya dari Putri Amerilya.


"Amerilya juga tak menyukainya, sebelum masuk ke istana utama tadi Amerilya sempat melihat Ciela Marques menatap tajam ke arah Amerilya." ucap anak perempuan itu dengan ekspresi kesal.


"Jika anak itu melakukan sesuatu padamu, kau harus segera melapor pada nenek." ucap Ibu Suri Sinya yang akan menjamin keamanan serta keselamatan Putri Amerilya.


"Baiklah nenek, bolehkah Amerilya beristirahat di ruangan ini dan menemani nenek?." tanya Putri Amerilya yang ingin berada lebih lama di dalam ruangan khusus Ibu Suri Sinya.


"Lakukan saja apa yang membuatmu nyaman cucuku." ucap Ibu Suri Sinya yang tak merasa keberatan.


Akhirnya Putri Amerilya menetap di dalam ruangan khusus Ibu Suri Sinya dalam waktu yang cukup lama, di sisi lain saat ini Ciela Marques sudah selesai menulis semua informasi yang ia ketahui mengenai pemberontakan yang terjadi. Ciela Marques meminta sang pelayan untuk mengantarnya menuju ruang kerja Yang Mulia Raja Azvago.


"Silahkan Nona Ciela Marques berjalan di depan." ucap pelayan itu sembari mengikuti Ciela Marques dari belakang. Sang pelayan meminta beberapa prajurit yang sedang berjaga di depan ruangan itu untuk membukakan pintu.


"Kemana kalian akan pergi?." tanya salah seorang prajurit dengan tatapan tajam, jangan sampai Ciela Marques melarikan diri dari Istana Kerajaan Meztano.


"Saya ingin mengantar Nona Ciela Marques menuju ruang kerja Yang Mulia Raja Azvago." jawab pelayan itu dengan jujur.


"Ingat jangan sampai gadis itu kabur." ucap salah seorang prajurit yang sedang memberi peringatan pada sang pelayan.


"Baik saya akan mengingat hal itu, kami permisi terlebih dahulu." ucap si pelayan yang langsung meminta Ciela Marques untuk berjalan menuju ruang kerja Raja Azvago.


Karna jarak antara ruangan Ciela Marques dengan ruang kerja Raja Azvago sangatlah dekat mereka pun hanya memerlukan ketekunan waktu beberapa detik untuk sampai.


Tok tok tok.


Suara pintu ruang kerja Yang Mulia Raja Azvago yang diketuk oleh Ciela Marques, setelah mendapatkan izin untuk masuk Ciela dan si pelayan langsung masuk ke dalam.


"Selamat siang Yang Mulia Raja Azvago, saya datang untuk mengantar Nona Ciela Marques menghadap Anda." ucap pelayan itu sembari membungkukkan badannya begitupun dengan Ciela Marques.


"Kau sudah selesai menulis semua informasi yang kau ketahui?." tanya Raja Azvago sembari menatap penuh selidik ke arah Ciela Marques, dengan segera gadis itu menganggukkan kepalanya.


Ciela Marques memberikan beberapa lembar kertas pada Yang Mulia Raja Azvago, sang raja menerima kertas itu dan mulai membacanya perlahan. Di sana Ciela Marques menuliskan bahwa ia sang ibu dan saudara laki lakinya bersembunyi di sebuah ruangan yang ada di bagian belakang istana utama namun Ciela Marques tak tau pasti dimana letak ruangan itu. Ciela Marques juga memberikan petunjuk mengenai seorang pria asing yang selalu datang ke Kediaman Duke Marques dan menyusun rencana pemberontakan yang mereka jalankan selama ini, masih banyak informasi yang diberikan oleh gadis itu.


"Apa yang kau inginkan sebagai ganti dari semua informasi ini?." tanya Yang Mulia Raja Azvago dengan tatapan serius. Informasi dari Ciela Marques cukup berguna bagi Istana Kerajaan Meztano.


Ciela Marques menuliskan sesuatu di papan kayu yang ia bawa. Gadis itu memberitahu Raja Azvago bahwa ia ingin dijadikan anak angkat oleh sang raja karna saat ini ia sudah tak memiliki siapapun.


"Menjadi anak angkat saya? bagaimana kau bisa disandingkan dengan Putri Beiling." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan tatapan tak suka.


"Bawa Ciela Marques masuk kembali ke dalam ruangannya. Saya akan mengadakan rapat mengenai permintaan mu itu." ucap Raja Azvago.


Sang pelayan langsung membawa Ciela Marques keluar dari ruang kerja Yang Mulia Raja Azvago, dari perkataan sang raja tadi pelayan itu sudah mengetahui bahwa permintaan Ciela Marques tak akan dikabulkan.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya. Gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima.