
Beberapa tamu undangan yang menyadari kejadian itu juga merasa panik, mereka tidak tau apa penyebab Tuan Putri Amerilya tiba tiba kesakitan. Saat ini Yang Mulia Raja Azvago sedang berlari sekencang yang ia bisa menuju ruang kesehatan, para pelayan dan prajurit yang berada di dalam istana utama segera pergi memanggilkan beberapa tabib dan alkemis untuk mengobati sang putri kecil.
Pangeran Mixo dan yang lain masih berusaha untuk menenangkan diri mereka, kejadian barusan terlalu mendadak. Keempat pangeran itu berharap semoga pendengaran adik kecil mereka baik baik saja tanpa ada gangguan ataupun kerusakan.
"Pangeran Luxe dan Pangeran Zico pergilah menyusul ayah kalian ke ruang kesehatan, ibu akan menemani pangeran Mixo dan Pangeran Azxo di sini sampai pesta ulangtahun selesai." ucap Ratu Zivaya, meskipun wajahnya menunjukkan rasa khawatir namun ia berusaha untuk tetap tenang.
"Baik ibu kami akan pergi sekarang." jawab Pangerang Luxe. Tanpa basa basi lagi ia mengajak Pangeran Zico untuk pergi dari aula utama.
Kini kondisi kembali tenang seperti sebelumnya meskipun ada beberapa tamu undangan yang menunjukkan ekspresi cemas mereka. Pesta terus berlanjut, sedangkan di sisi lain saat ini Lilian bersama kelompok topeng emas sedang bertarung melawan para prajurit dari Kediaman Keluarga Marques Montiqu. Jumlah prajurit yang dikerahkan untuk membuat kekacauan saat pesta ulangtahun berlangsung cukup banyak, entah darimana para prajurit ini datang mungkinkah masih ada jalan tersembunyi yang belum diketahui pihak Kerajaan Meztano.
"Minggir kami tidak memiliki urusan dengan kalian. Jangan menghalangi kami seperti ini." ucap seorang jenderal yang memimpin pasukan dari Keluarga Marques Montiqu.
"Kami tidak akan membiarkan kalian merusak pesta ulangtahun Tuan Putri Amerilya!." jawab Lilian dengan tegas.
"Baiklah jika itu mau kalian. Semuanya sedang kelompok topeng emas itu jangan biarkan mereka kabur, bunuh mereka semua!!." triak sang jenderal dari Keluarga Marques Montiqu. Suaranya begitu kencang dan nyaring.
Kurang lebih seribu prajurit dari Kediaman Marques Montiqu maju secara bersamaan untuk menyerang kelompok topeng emas. Lilian tersenyum miring di balik topeng yang sedang ia kenakan, ini saat yang tepat untuk membuat Keluarga Marques Montiqu mengalami kerugian besar karna kehilangan banyak prajurit.
"Para penyihir siapkan banner pelindung!!." perintah Lilian pada anggota kelompoknya yang memiliki kemampuan dalam bidang sihir perlindungan.
Sepuluh orang maju kedepan, mereka mengucapkan mantra secara bersama sama kemudian muncul sebuah kubus besar transparan yang menutupi seluruh anggota topeng emas. Kini para prajurit Keluarga Marques Montiqu kebingungan harus menyerang dari sisi mana karna semuanya dikelilingi pelindung.
"Jangan ragu, bergeraklah dan hancurkan pelindung itu!." perintah sang jenderal pada pasukannya.
Kubus pelindung saat ini sedang diserang menggunakan pedang dan kekuatan sihir yang dimiliki oleh para prajurit Keluarga Marques Montiqu. Untunglah kubus pelindung itu sangat kokoh sehingga sulit untuk dihancurkan, sepertinya usaha pasukan musuh akan sia sia saja.
"Penyihir elemen api siapkan serangan terbaik kalian, buatlah bola sihir sebanyak yang kalian bisa!." ucap Lilian. Wanita itu meminta para anggota kelompok topeng emas dengan kemampuan sihir api untuk membuat fire ball sebanyak yang mereka bisa.
Ada sekitar enam belas penyihir dengan kemampuan elemen api dalam kelompok tersebut, mereka membuat banyak sekali bola api hingga memenuhi sisi atas kubus pelindung.
"Lemahkan perlindungan, serang sekarang!!." teriak Lilian dengan suara yang menggema.
Ratusan bola sihir dilemparkan ke arah pasukan musuh setelah itu Lilian mengangkat pedang berwarna biru miliknya, dengan begitu seluruh anggota kelompok topeng emas juga mengeluarkan senjata mereka masing masing.
"SERANG!!! pastikan tak ada satupun prajurit yang lolos. Menjaga Tuan Putri Amerilya agar tetap aman adalah tugas kita semua!" ucap Lilian dengan suara kencang dan emosi meluap-luap di dalam tubuhnya.
Ini adalah kali kedua Keluarga Marques Montiqu berusaha untuk menghancurkan pesta ulangtahun Putri Amerilya, yang pertama mereka ingin meluluh lantakkan istana Kerajaan Meztano dengan membakar puluhan ton bubuk peledak dan sekarang mereka ingin membuat kerusuhan? sungguh tindakan yang tidak terpuji.
Trang...trang...trang ..
Trang.....trang ...
Trang.......
Di sisi lain saat ini para tabib istana dan alkemis sedang melihat kondisi telinga Putri Amerilya yang terus menerus mengeluarkan darah, salah seorang alkemis menyadari bahwa gendang telinga sang putri baik baik saja lalu apa yang membuat pendarahannya tak kunjung berhenti.
"Bagaimana kondisi putri saya?." tanya Yang Mulia Raja Azvago. Ia bersikeras untuk tetap berada di dalam ruang kesehatan meskipun sudah diminta untuk keluar oleh beberapa tabib. Raja Azvago hanya ingin terus berada di sisi putri kesayangannya itu.
Suara dentingan pedang dari berbagai penjuru semakin jelas terdengar di telinga Putri Amerilya, ia mengerang kesakitan sampai wajahnya berubah menjadi pucat. Sontak semua tabib dan alkemis panik, mereka kembali berusaha untuk menghentikan pendarahan itu.
"Kondisi ini sangat aneh, telinga Tuan Putri dalam keadaan normal bahkan gendang telinga miliknya tak mengalami kerusakan sedikitpun namun ia terus mengerang kesakitan seperti ini." ucap seorang alkemis sembari menghela nafas pasrah. Ini kasus teraneh yang pernah ia tangani dan cara untuk mengatasinya sangatlah sulit.
"Apa yang Anda dengar saat ini Tuan Putri Amerilya?." ucap seorang tabib, ia mencoba untuk bertanya pada sang putri mengenai suara yang di dengar.
"Hentikan.... hentikan suara dentingan pedang itu. Telingaku sakit sekali." jawab Putri Amerilya.
"Suara dentingan pedang? kami bahkan tidak mendengar apapun selain suara musik dansa. Apakah saat ini Tuan Putri Amerilya sedang berhalusinasi?." ucap salah seorang tabib dengan tatapan bingung. Ia yakin semua orang yang berada di ruang kesehatan tidak mendengar suara dentingan pedang sama sepertinya begitupun dengan Yang Mulia Raja Azvago.
"Tenanglah putriku, semua akan baik baik saja. Dari mana kau mendengar suara dentingan pedang itu?." tanya Yang Mulia Raja Azvago secara perlahan. Meski ia tak mendengar hal yang sama namun ia percaya putrinya tidak sedang berhalusinasi.
"Dari segala penjuru, titik bagian timur sedang terjadi pertarungan antar penyihir saya bisa mendengar suara ledakan energi sihir mereka, bagian barat terdengar suara pedang yang saling beradu dan membuat telinga saya sakit, bagian selatan kombinasi antara ledakan sihir dan dentingan pedang yang semakin menguat, dan bagian utara saya mendengar suara pertarungan yang sangat kacau. Hentikan mereka ayah, telinga saya begitu sakit ketikan mendengarnya." ucap Putri Amerilya dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
Raja Azvago diam beberapa saat, ia sedang berfikir bagaimana bisa putri kecilnya itu mendengar suara pertarungan dengan jelas sedangkan ia dan yang lain tak dapat mendengar apapun?.
"Mintalah para prajurit untuk pergi ke arah empat penjuru mata angin, laporkan apakah ada pertarungan yang sedang berlangsung di keempat penjuru itu ataukah tidak. Ah iya mintalah penguji untuk pergi ke ruang kesehatan." perintah Yang Mulia Raja Azvago pada salah seorang alkemis yang ada di sana.
"Saya akan melaksanakannya sesuai dengan perintah Anda." jawab alkemis itu, ia bergegas pergi meninggalkan ruang kesehatan untuk menjalankan perintah dati Yang Mulia Raja Azvago.
"Tidak apa apa putriku, semua akan baik baik saja. Tenangkan dirimu dan berusahalah untuk mengendalikan gelombang suara yang ingin masuk ke dalam telinga mu." ucap Yang Mulia Raja Azvago. Ia sedang menenangkan sang putri sembari memberikan sedikit arahan.
Di bagian barat saat ini anggota Kesatria White Rose sedang bertarung melawan sekumpulan bandit hutan yang tiba tiba saja ingin menyerang Istana Kerajaan Meztano, untunglah Kesatria Richal merasa pergerakan dari wilayah barat sehingga ia langsung mengumpulkan pasukan dan bergerak kesana. Sebelum pertarungan itu pecah, Kesatria Richal menawarkan pada para bandit itu untuk kembali ke tempat mereka dan tidak membuat kekacauan saat pesta ulangtahun Tuan Putri Amerilya sedang berlangsung, namun para bandit menolak penawaran itu dan langsung menyerang begitu saja. Akhirnya dengan terpaksa Kesatria Richal memberikan perintah pada anggota Kesatria White Rose untuk membantai habis para bandit hutan.
"Malam ini kami akan melenyapkan seluruh anggota Keluarga Kerajaan Meztano terutama Tuan Putri Amerilya. Seorang anak kecil yang berbahaya seperti dirinya harus segera disingkirkan sebelum menimbulkan kekacauan." ucap ketua kelompok bandit hutan itu.
"Kalian suruhan Putri Haru?." ucap Kesatria Richal yang langsung bisa menebak alasan para bandit hutan menunjukkan diri mereka saat pesta ulangtahun Putri Amerilya.
"Jangan sembarang menuduh, kami tak mengenal siapa itu Putri Haru." elak salah seorang bandit dengan kebohongan yang terlihat jelas di wajahnya.
"Tentu saya bisa menebak hal itu dengan mudah, jangan harap kalian semua bisa lolos." ancam Kesatria Richal yang masih bertarung dengan pemimpin kelompok bandit itu.
Di wilayah bagian timur saat ini sedang terjadi pertarungan antara kelopak topeng perak yang dipimpin oleh Juylin dengan kelompok menata sihir yang ingin menyerang Istana Kerajaan Meztano untuk membalaskan dendam mereka pada Yang Mulia Raja Azvago. Dulu ada sebuah bangunan menara sihir di wilayah Kerajaan Meztano, sepuluh tahun yang lalu menara tersebut dihancurkan oleh pihak kerajaan setelah mendapatkan barang bukti mengenai sihir hitam aneh yang dipelajari oleh anggota kelompok menara sihir. Sangat disayangkan pihak kerajaan hanya berhasil membunuh beberapa anggota kelompok menara sihir sedangkan yang lain kabur dan bersembunyi di suatu tempat.
**Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak dan saran, rate bintang lima, share juga ya guys.
Makasih buat yang udah stay selalu sama author, meski kadang banyak liburnya. Makasih banyak semua**.