PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Waktunya Tiba


Hari sudah mulai sore Putri Amerilya ingin kembali ke istana putri karna sebentar lagi keluarga kerajaan akan pulang karna acara ulang tahun seorang Ducess akan segera berakhir dan sang putri tak ingin kehadirannya di antara Kesatria White Rosse diketahui oleh orang lain terutama Yang Mulia Raja Azvago.


"Aku akan kembali ke istana putli." ucap Putri Amerilya yang memberitaukan pada para Kesatria White Rose bahwa ia akan kembali ke istana putri.


Lauret salah satu anggota Kesatria White Rose menawarkan agar ia mengantar Putri Amerilya ke istana putri, ia akan menjaga sang putri agar aman sampai tujuan. Namun Putri Amerilya menolak ia ingin kembali sendirian karna tak ingin para pelayan mengetahui kemana ia pergi.


"Beljanjilah kalian tidak akan membelitau hal ini pada Raja Azvago atau ciapapun." ucap Putri Amerilya yang ingin para Kesatria White Rose berjanji padanya. Dengan serempak para Kesatria White Rose mengucapkan ikrar janji mereka, mereka berjanji tak akan memberitaukan hal ini pada siapapun. Dengan begitu Putri Amerilya merasa tenang karna rahasianya akan aman.


"Saya pelgi sampai jumpa." ucap Putri Amerilnya yang membungkukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan para Kesatria White Rose.


Putri Amerilya berjalan menuju istana putri dengan memeluk pedang kayu miliknya saat akan sampai di istana putri ia tak sengaja berpapasan dengan Raja Azvago yang sepertinya ingin pergi menemui para Kesatria White Rose, dengan cepat Putri Amerilya bersembunyi di sebuah pohon yang paling dekat dengannya saat itu.


"Untung saja ada pohon ini." ucap Putri Amerilya yang merasa lega karna tak ketahuan oleh Raja Azvago, sesegera mungkin Putri Amerilya melangkah menggunakan kaki mungilnya itu. Setelah beberap saat berjalan akhirnya Putri Amerilya sampai di istana putri, gadis itu langsung pergi ke kamarnya dan menyembunyikan pedang kayu yang ia dapatkan dari Kesatria White Rose.


Putri Amerilya menyembunyikan pedang kayu itu di bawah tempat tidurnya, setelah itu ia naik ke atas tempat tidur untuk mengistirahatkan badannya yang lelah. Putri Amerilya memejamkan matanya kemudian tertidur dengan lelap. Sedangkan saat ini Raja Azvago sedang berada di tempat latihan Kesatria White Rose.


"Selamat sore para Kesatria White Rose." ucap Raja Azvago yang menyapa para kesatria White Rose, sepertinya sang raja ingin mengumumkan sesuatu yang penting.


"Sore Yang Mulia Raja Azvago." ucap para Kesatria White Rose yang menjawab sapaan dari Raja Azvago.


"Bagaimana latihan kalian akhir akhir ini apakah ada sesuatu yang mengganggu latihan." ucap Raja Azvago yang ingin mengetahui bagaimana latihan para kesatria White Rose akhir akhir ini, mereka menjawab secara serempak bahwa latihan mereka lancar tak ada hambatan sedikitpun.


"Yang mulia raja apakah saya boleh bertanya?." ucap Richal ketua Kesatria White Rose yang sepertinya ingin menanyakan sesuatu yang bersangkutan dengan Putri Amerilya.


"Silahkan." ucap Raja Azvago yang mempersilahkan ketua Kesatria White Rose untuk menanyakan apa yang ingin ia ketahui.


"Apakah yang mulia raja benar benar tak ingin dekat dengan Putri Amerilnya?." tanya Richal yang ingin memastikan apakah rajanya benar benar tak ingin dekat dengan putrinya yang sangat cantik dan berbakat dalam hal berpedang itu. Richal hanya tak ingin jika nantinya Putri Amerilnya membenci Raja Azvago saat gadis itu berhasil melawan kutukan yang menyertainya.


"Saya sudah bosan menemani para tuan putri hingga mereka dijemput ajal, itu sungguh menyakitkan bagi saya." ucap Raja Azvago yang tak ingin melihat kematian putrinya lagi, mungkin sang raja sudah mengalami trauma yang cukup mendalam di hatinya. Ketika ia sudah dekat dengan putri putrinya mereka malah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Saya harap Raja Azvago memperhatian Putri Amerilya walau hanya sedikit saja." ucap Kesatria Richal yang mengingatkan pada Raja Azvago.


"Sudahlah itu bukan urusan kalian, yang perlu kalian lakukan hanya berlatih." ucap Raja Azvago yang langsung pergi dari lapangan tempat para Kesatria White Rose berlatih.


"Semoga saja Yang Mulia Raja Azvago tak menyesali keputusannya." ucap Laurent yang cemas dengan masa depan Putri Amerilya nantinya.


Raja Azvago berjalan menuju ruang kerjanya, setelah sampai ia langsung menutup pintu ruang kerjanya itu. Ia langsung berjalan menuju kusri dan duduk di sana Raja Azvago membuka beberapa dokumen yang ada di hadapannya.


"Mengapa semua orang menjadi suka pada putri tak berguna itu, apa gunanya saya menemaninya jika ia akan meninggalkan saya." ucap Raja Azvago yang semakin kesal pada putri kecilnya itu, ia telah menarik perhatian dan simpati banyak orang yang membuat sang raja merasa terpojokkan.


Hari berjalan dengan sangat cepat, Putri Amerilya mengasah kemampuan berpedangnya setiap hari di saat sepuluh pelayan setianya itu sibuk dengan tugas mereka masing masing. Walau belum mempelajari sebuah jurus namun kemampuan berperang putri kecil itu tak bisa diremehkan, semua kemampuan yang ia dapatkan dikehidupannya yang lalu setengahnya telah kembali sorot mata Putri Amerilya juga semakin menajam.


Malam ini adalah malam dimana saat pukul 00.00 nanti Putri Amerilya akan tepat berusia dua tahun dimana kutukan itu akan datang dan berusaha untuk merenggut nyawanya. Di Istana Putri telah berkumpul beberapa orang yang ingin menemani sang putri mereka adalah Ibu Suri Sinya, Ratu Zivanya yang sudah memaksa sang raja agar ia diperbolehkan untuk pergi ke istana putri, ke empat pangeran yang menjadi kakak laki laki Putri Amerilya, dan juga Richal yang sangat khawatir pada sang putri. Raja Azvago memilih untuk menenangkan diri di taman mawar hitam yang ada di istana utama ia tak ingin melihat bagaimana kutukan itu merenggut nyawa Putri Amerilya.


Semua orang yang ingin menemani Putri Amerilya hanya bisa menunggu di luar kamar, jika ada yang memaksa masuk maka orang itu juga akan ikut mati bersama dengan sang putri. Saat ini Putri Amerilya sedang duduk di ranjang kamarnya dengan membawa pedang kayu yang diberikan oleh para kesatria White Rose.


"Semoga kali ini ada keajaiban." ucap Ibu Suri Sinya yang benar benar tak ingin kehilangan Putri Amerilya yang sangat ia sayangi itu. Cucu perempuannya itu adalah calon wanita yang tangguh dari sorot matanya saja Ibu Suri sudah yakin tentang hal itu. Jika mendiang suaminya masih ada pasti ia akan sangat menyayangi cucu perempuannya itu.


"Kali ini putriku harus bisa bertahan, ibu sangat ingin memelukmu lagi." ucap Ratu Zivanya dengan air mata yang berlinang di pipinya, masih teringat jelas di benak sang ratu saat ia harus ikut dalam prosesi pemakaman beberapa putrinya yang telah tiada.


"Iya adikku kau harus bertahan kami semua sangat menyayngimu." ucap Pangeran Mixo yang sedari dulu sangat menginginkan seorang adik perempuan.


"Jika kau bisa bertahan kau boleh tidur di istana pangeran bersama kami." ucap Pangeran Luxe yang sangat ingin tidur dengan memeluk adiknya yang sangat lucu itu. Ayahnya pasti juga akan senang jika Putri Amerilya mampu bertahan dari kutukan itu.


"Kami semua menantikanmu putri." ucap Richal yang akan mengajarkan Putri Amerily banyak sekali ilmu pedang jika sang putri mampu bertahan.


"Mengapa lama sekali aku sungguh bosan." ucap Putri Amerilya yang menyangga dagunya dengan telapak tangan.


Tak berselang lama terdengar suara gemuruh dari langit, hujan turun dengan sangat keras sepertinya malam ini akan terjadi badai yang cukup panjang. Suara petir yang menyambar membuat beberapa orang yang ada di luar kamar sang putri merasa terkejut. Sedangkan Putri Amerilya malah bermain dengan sebuah boneka yang ada di sebelahnya.


"Ahahahaha rupanya ini putri terakhir dari Raja Azvago." ucap seorang wanita dengan paras cantik yang tiba tiba saja muncul di hadapan Putri Amerilya, wanita itu menggunakan jubah berwarna hitam dengan memegang tongkat tengkorak. Percakapan antara Putri Amerilya dan wanita itu tak ada orang lain yang bisa mendengarnya.


"Selamat malam umm nona cantik?." ucap Putri Amerilya yang menyapa wanita itu, wanita itu adalah penyhir kegelapan.


"Apa ini mengapa bocah berusia dua tahun sudah dapat berbicara selancar ini." ucap sang penyihir hitam yang menatap tajam ke arah Putri Amerilya.


"Jadi mengapa nona cantik ingin mengambil nyawa Amerilya?." tanya Putri Ameilya yang merasa pasti ada alasan mengapa penyihir kegelapan itu mengambil nyawa para tuan putri yang merupakan keturunan Raja Azvago.


Penyihir kegelapan itu menceritakan sedikit kisah dibalik kutukan itu sebelum ia mengambil nyawa bayi perempuan yang ada di hadapannya itu. Dahulu sang penyihir kegelapan memiliki seorang anak perempuan yang cantik, namun sangat disayangkan saat baru saja melahirkan suaminya sudah meninggal sehingga ia menjadi orang tua tunggal untuk putrinya itu. Saat putri kecilnya itu berusia dua tahun terjadi peperangan antara Kerajaan Matahari dengan para penyihir hitam, ia telah menyembunyikan putrinya itu di suatu tempat hingga Raja Azvago menemukan tempat persembunyian putri kecilnya itu. Entah sengaja atau tidak Raja Azvago menusuk putri kecilnya itu menggunakn sebilah pedang hingga putrinya sudah tak bernyawa lagi. Sejak saat itu ia memberikan kutukan pada setiap bayi perempuan yang menjadi keturunan dari Raja Azvago akan mati saat mereka berusia dua tahun. Dengan begitu Raja Azvago akan merasakan bagaimana rasanta kehilangan seorang putri yang sangat ia sayangi.


Akhirnya Putri Amerilya mengetahui alasan dibalik kutukan itu, ia merasa kasihan pada sang penyihir kegelapan wanita itu sangat menyayangi putri kecilnya itu.


"Tapi Amerilya tidak bersalah padamu." ucap Putri Amerilya dengan raut wajah sedihnya, mendengar kata kata sang putri membuat sang penyihir kegelapan tampak berfikir sejenak karna apa yang dikatakan oleh Putri Amerilya adalah sebuah kebenaran.


"Ya ini adalah kesalahan ayahmu." ucap sang penyihir kegelapan yang tak ingin terlarut dalam kata kata bayi perempuan itu.


"Amerilya ingin tetap hidup bagaimanapun caranya." ucap Putri Amerilya yang tak akan rela jika ia harus mati saat itu juga, dengan susah payah ia diberikan kesempatan kedua untuk menjalani hidup yang lebih baik maka tak ada yang boleh merenggut itu darinya.


"Sayang sekali saya tak bisa menghapus kutukan itu, selamat tinggal putri kecil." ucap sang penyihir kegelapan yang langsung menghilang dari hadapan Putri Amerilya, sepertinya kali ini ia merasa tak tega jika harus melihat kutukannya mengambil nyawa bayi cantik itu.


Tiba tiba saja sebuah cahaya berwarna hitam melesat dan masuk kedalam tubuh Putri Amerilya, seketika tubuh sang putri terasa sangat panas dan rasa sakit yang luar biasa menjalar di seluruh tubuhnya. Ada sesuatu yang mencoba untuk menghentikan detak jantungnya secara paksa.


"Tidak aku tidak boleh menyerah, ini bukan apa apa." ucap Putri Amerilya yang berusaha untuk menguatkan dirinya, ia tak ingin mati konyol karna sebuah kutukan.


Tubuh Putri Amerilya perlahan lahan berubah menjadi menghitam, sang putri juga kesulitan untuk bernafas ia berusaha untuk berteriak sekencang mungkin namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya itu.


"Aku tak terima dengan semua hal ini." batin Putri Amerilya yang sangat marah karna hidupnya akan direnggut lagi.


Putri Amerilya ingat bahwa di kehidupannya yang lalu ia memiliki sebuah pedang merah yang ia beri nama Red Mood, pedang itulah yang menemani perjalanannya, karna tak memiliki teman Putri Amerilya kadang bercerita pada pedang kesayangannya itu. Jika ia memangil Red Mood apakah pedang itu akan datang?.


"Red Mood aku membutuhkanmu." ucap Putri Amerilya sebelum menutup matanya karna ia sudah tak mampu menahan rasa sakit yang sangat luar biasa itu.


Sebuah cahaya merah keluar dari tubuh Putri Amerilya, sebilah pedang berwarna merah darah keluar dari tubub bayi perempuan itu. Pedang merah atau biasa ia panggil dengan sebutan Red Mood itu ternyata juga ikut berreingkatnasi bersama dengan dirinya.


Meskipun di masa sekarang Rad Mood bukanlah pedang dengan level pedang tertinggi namun pedang itu sudah cukup untuk membunuh seorang jenderal. Rad Moon berubah menjadi seorang pria dengan rambut merah panjang yang terikat dengan indah.


"Nonaku kau sudah cukup menahan rasa sakit selama ini." ucap sang pria yang melebur menjadi cahaya merah kemudian masuk kembali kedalam tubuh Putri Amerilya, cahaya merah itu berusaha menyembuhkan luka dalam yang disebabkan oleh kutukan itu. Sebuah cahaya berwarna putih juga keluar dari tubuh Putri Amerilya cahaya putih yang sangat terang bahkan menyilaukan mata orang orang yang ada di luar kamar Putri Amerilya.


Raja Azvago yang sedang ada di taman istana utama juga dapat melihat cahaya putih yang menyilaukan itu, ia sedang berfikir apakah kutukan itu kini memiliki mode baru.


"Cahaya apa itu mengapa sangat menyilaukan." ucap Richal yang khawatir jika Putri Amerilya tak bisa bertahan karna cahaya itu keluar dari kamar sang putri.


"Kapan kita bisa masuk kedalam sana?." ucap Ratu Zivanya yang ingin menyelamatkan putrinya.


"Kita tunggu sampai matahari terbit." ucap Ibu Suri Siya yang sudah hafal kapan waktu mereka bisa masuk kedalam sana.


Semua orang menunggu dengan cemas mereka tetap berharap agar Putri Amerilya dapat bertahan dari kutukan itu, sedangkan sang putri yang sedang mereka cemaskan masih berusaha sekuat mungkin untuk melawan kutukan yang menggerogoti tubuhnya.


Hai hai semua setelah sekian lama akhirnya aku bisa update lagi, gimana kabar kalian semoga sehat terus ya. Jangan lupa follow, vote, gift, like, komen, dan rate ya.