PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Makan Malam Bersama


Raja Azvago menggendong putri kecilnya itu menuju dapur istana, beberapa pelayan yang bertugas di istana utama merasa terkejut saat melihat kedekatan antara Raja Azvago dengan Putri Amerilya karna setau mereka sang raja sangat membenci putri kecilnya itu.


"Kita mau kemana ayah?." tanya Putri Amerilya yang awalnya mengira bahwa sang ayah akan mengajaknya keluar istana dan membeli beberapa potong kue di toko.


"Ayah akan meminta koki istana untuk membuat kue ceri dan beberapa kue lain untuk putri ayah." ucap Raja Azvago dengan sebuah senyuman menawan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapapun sebelumnya. Ia merasa begitu beruntung setelah apa yang telah ia lakukan pada putri kecilnya itu ternyata sang putri bisa memaafkan semua perbuatannya.


Setelah berjalan beberapa saat akhirnya Raja Azvago dan Putri Amerilya sampai di dapur istana. Para koki yang sibuk menyiapkan bahan bahan segar untuk hidangan makan malam nanti merasa terkejut dengan kehadiran Raja Azvago.


"Hormat kami pada Yang Mulia Raja Azvago." ucap para koki dan pelayan, mereka menundukkan kepala tak ada yang berani menatap mata tajam milik sang raja.


"Tolong buatkan kue ceri dan beberapa jenis kue lain untuk putriku, hidangkan saat makan malam nanti." ucap Raja Azvago yang memberikan perintah pada para koki untuk membuat kue.


Para koki seperti tak bisa mempercayai apa yang mereka dengar, biasanya sang raja akan melarang makanan manis disajikan saat makan malam namun kali ini Raja Azvago meminta mereka membuat beberapa jenis kue untuk hidangan makan malam putrinya? sungguh hal yang luar biasa ajaib.


"Bukankah anda yang membuat larangan untuk menyajikan makanan manis saat makan malam?." tanya salah seorang koki yang merasa bahwa raja mereka sedikit berbeda dari biasanya.


"Lakukan saja tanpa membantah." ucap Raja Azvago dengan tegas namun para koki merasa ragu untuk melakukan hal itu.


"Caya akan makan cemua kuenya." ucap Putri Amerilya dengan nada bicara yang sangat lucu. Mendengar suara Amerilya membuat para koki langsung melihat kearah balita perempuan yang ada di gendongan Raja Azvago.


Sungguh balita perempuan yang sangat cantik dan imut, mata tajam yang mirip dengan Yang Mulia Raja Azvago hanya rambutnya saja yang berbeda. Ternyata ini adalah wujud dari tuan putri yang rumornya pernah mereka dengar. Banyak pelayan istana utama yang mengatakan bahwa Putri Amerilya memiliki wajah buruk rupa hingga dibenci oleh Raja Azvago nyatanya tuan putri mereka sangat cantik.


"Baiklah kami akan membuat banyak kue untuk tuan putri." ucap kepala koki yang tak bisa menolak permintaan balita seimut itu.


"Trimakasih semua." ucap Putri Amerilya yang tersenyum senang.


Setelah itu Raja Azvago membawa sang putri ke ruang kerjanya masih banyak berkas berkas yang harus ia urus sehingga belum bisa mengantar Putri Amerilya ke istana putri. Raja Azvago mendudukkan Putri Amerilya di sebuah kursi kecil yang ia siapkan disampingnya sedangkan sang raja menandatangani beberapa berkas penting.


"Lalala ayah amerilya bocan." ucap Putri Amerilya yang merasa bosan menunggu ayahnya bekerja. Raja Azvago melihat kearah putrinya ia tak tau apa yang harus dilakukan agar putri kecilnya itu tak merasa bosan.


"Amerilya mau membaca buku." ucap Putri Amerilya yang ingin membaca sebuah buku untuk menghilangkan rasa bosannya.


Raja Azvago menatap putri kecilnya itu dengan tatapan tak percaya, apakah Putri Amerilya sudah bisa membaca sehingga ia meminta sebuah buku atau hanya bisa melihat gambar gambar yang ada di dalam buku saja?. Raja Azvago mengambil sebuah buku yang ada di laci meja kerjanya kemudian memberikan buku itu pada Putri Amerilya.


Dengan senang hati Putri Amerilya membuka buku yang diberikan oleh sang raja, buku itu adalah buku yang berisi tentang silsilah keluarga Kerajaan Meztano saat ini, selain itu ada beberapa keluarga yang berpengaruh di wilayah Kerajaan Meztano.


"Wah ayah punya lima adik." ucap Putri Amerilya yang merasa sangat kagum karna Keluarga Kerajaan Meztano sangatlah besar.


"Putri ayah bisa membaca?." ucap Raja Mestano yang sangat kagum dengan kemampuan putrinya. Mungkin ia harus segera menyiapkan upacara kebangkitan agar segera tau kekuatan sihir apa yang dimiliki oleh putri kecilnya itu.


Putri Amerilya sibuk membaca sedangkan Raja Azvago sibuk dengan tumpukan berkas berkas penting. Dilain sisi saat ini Ratu Zivanya sedang mencari keberadaan putri kecilnya ia mendapat informasi dari seorang pelayan istana utama bahwa saat ini Putri Amerilya sedang ada di ruang kerja Raja Azvago. Dengan perasaan cemas, khawatir, dan takut yang bercampur menjadi satu Ratu Zivanya berlari ke ruang kerja suaminya.


Ratu Zivanya membuka pintu ruang kerja Raja Azvago dengan sangat kencang hingga mengagetkan Raja Azvago dan Putri Amerilya yang sedang sibuk. Ratu Zivanya melihat putrinya baik baik saja, ternyata ketakutannya itu sudah sangat berlebihan.


"Ibu mencariku.?" tanya Putri Amerilya dengan wajah polos tanpa dosa. Ibu mana yang tak akan mencari cari putrinya yang tiba tiba menghilang.


Ratu Zivanya berjalan ke arah Putri Amerilya dan memeluknya dengan sangat erat, ia sangat takut jika suaminya akan bertindak kasar lagi.


"Ibu sangat mencemaskanmu, bagaimana jika ada orang jahat yang ingin membunuhmu nanti." ucap Ratu Zivanya yang melihat ke arah Raja Azvago sekilas, sang raja tau bahwa pembunuh yang dimaksut oleh Ratu Zivanya adalah dirinya. Karna ia memang hampir membunuh putrinya sendiri tadi.


"Ada ayah di sini jadi tak ada yang berani menyakitiku." ucap Putri Amerilya yang merasa aman karna ada Raja Azvago di sampingnya.


Raja Azvago sangat terkejut ia meneteskan air matanya, ah bagaimana bisa ia yang sangat jahat dan kejam memiliki seorang putri yang baik hati seperti malaikat. Putri Amerilya adalah keberuntungan yang Raja Azvago dapatkan. Ia turun dari kursi kerjanya kemudian memeluk sang putri.


"Trimakasih karna telah memaafkan ayah." ucap Raja Azvago dengan air mata yang masih berlinangan. Dengan segera Putri Amerilya mengusap air mata sang ayah dengan tangan mungilnya itu.


"Sekarang aku punya keluarga lengkap." ucap Putri Amerilya dengan senang.


Raja Azvago dan Ratu Zivanya mencium pipi putri kesayangan mereka, kini suasana istana utama akan menjadi hangat dengan kehadiran Amerilya.


Setelah itu Ratu Zivanya pamit karna ia harus meneliti kembali berkas keuangan istana, sebagai seorang ratu tentu saja ia juga memiliki beberapa tanggung jawab terhadap Kerajaan Meztano.


"Putriku mari ikut dengan ibu." ucap Ratu Zivanya yang ingin mengajak Amerilya untuk pergi bersama dengannya.


"Aku ingin bersama dengan ayah." ucap Putri Amerilya yang ingin lebih dekat dengan ayahnya itu. Dengan pasrah Ratu Zivanya pergi dari ruang kerja suaminya.


"Kau membuat hati ibumu patah." ucap Raja Azvago yang sedang menahan tawa.


Putri Amerilya melihat ke arah ayahnya sebentar kemudian ia lanjut membaca buku. Waktupun berlalu dengan cepat saat ini Putri Amerilya sudah berada di istana putri ia baru saja selesai mandi dan menggunakan gaun berwarna merah yang sangat cantik.


"Putri sangat cantik saat menggunakan gaun merah ini." ucap salah seorang pelayan di istana putri.


Kesepuluh pelayan yang sudah mengabdikan diri mereka pada Putri Amerilya sejak lama merasa sangat bahagia saat mendengar kabar bahwa Raja Azvago sudah bisa menerima kehadiran sang putri di istananya.


Beberapa pelayan mengantar Putri Amerilya menuju istana utama untuk mengikuti acara makan malam bersama seluruh anggota Keluarga Kerajaan Meztano. Ternyata sudah ada Pangeran Zico dan Pangeran Azxo yang menanti kedatangan Putri Amerilya di pintu masuk istana utama.


"Selamat datang adik kami yang cantik." ucap Pangeran Zico dan Pangeran Azxo bersama sama.


Putri Amerilya tersenyum bahagia saat mendapatkan sambutan hangat dari kedua kakak laki lakinya itu. Ia memeluk kedua pangeran secara bergantian.


"Semuanya sudah menunggumu di dalam." ucap Pangeran Zico yang menggandeng tangan Putri Amerilya dan Pangeran Azxo kemudian membawa mereka menuju ruang makan istana utama.


Mereka bertiga masuk kedalam ruang makan istans utama, semua anggota kerajaan sudah duduk di kursi mereka masing masing begitupun dengan kedua pangeran yang menjemput Putri Amerilya tadi. Kini tinggal sang putri saja yang masih kebingungan karna semua tempat duduk sudah penuh, Raja Azvago melihat ke arah putri kecilnya itu ia lupa meminta pada pelayan untuk menambah satu kursi lagi untuk Putri Amerilya.


"Apa kau tau mendapatkan kursi keponakanku?." tanya Putri Haru adik terakhir dari Raja Azvago. Putri Haru menatap Amerilya dengan tatapan mengejek.


Putri Amerilya faham bahwa Putri Haru tak suka padanya. Alasannya sangat sederhana karna kehadiran Putri Amerilya anak kandung dari Raja Azvago membuat kasih sayang sang raja yang biasanya tertuju padanya kini diambil alih oleh Putri Amerilya. Tadinya Putri Haru mengira Putri Amerilya akan mati seperti anak perempuan yang lain dari sang kakak namun siapa sangka putri kecil itu bisa bertahan.


Raja Azvago mengerutkan keningnya saat melihat adik perempuannya mengejek putri kesayangannya itu.


"Jaga sikapmu Putri Haru." tegur Raja Azvago yang membuat Putri Haru semakin kesal.


Raja Azvago meminta pada Putri Amerilya untuk berjalan ke arahnya, tentu Amerilya menuruti perintah sang ayah. Setelah berada di samping Raja Azvago ternyata sang raja memangku putri kecilnya itu.


"Karna ayah lupa meminta pelayan untuk menambahkan satu kursi maka ayah akan memangkumu." ucap Raja Azvago yang tak keberatan jika putri kecilnya itu makan dipangkuannya.


"Wah wah apakah saya salah melihat?." ucap Ibu Suri Sinya yang tak menyangka bahwa putranya sudah berubah. Kini ia bisa lebih tenang.


Setelah itu beberapa pelayan masuk dan menghidangkan makanan yang telah para koki buat, ada berbagai jenis makanan di atas meja namun ada satu jenis makanan yang membuat anggota keluarga kerajaan terkejut yaitu makanan manis yang biasanya dilarang untuk disajikan saat makan malam.


"Mengapa ada berbagai macam kue di sini?." ucap Ibu Suri Sinya yang merasa cemas, karna saat Raja Azvago marah bisa jadi ia memenggal kepala para koki yang membuat hidangan manis itu.


"Putriku yang memintanya ia juga perlu makan makanan manis agar cepat tumbuh dewasa." ucap Raja Azvago yang menunduk malu, entah mengapa ia tak bisa menolak permintaan putri kecilnya itu.


Putri Haru semakin kesal pada Amerilya, dulu ia pernah meminta pada kakak laki lakinya itu untuk disajikan puding saat makan malam namun dengan tegas Raja Azvago menolak permintaanya. Lalu sekarang dengan mudah Putri Amerilya mendapat apa yang ia inginkan? sungguh tidak adil. Namun apakah Putri Haru yang sudah berusia sembilan belas tahun akan bersaing dengan Putri Amerilya yang berusia dua tahun??.


Hai hai guys Putri Amerilya up lagi nih gimana kabar kalian? semoga baik baik aja ya. Jangan lupa follow, vote, like, komen, rate, share juga.