PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Menjenguk Putri Amerilya


Di tempat lain saat ini Tuan Duke Rigel Elister beserta kedua putranya sedang berada di depan pintu masuk ruang kesehatan, suasana di dalam ruangan tampak sepi tanpa ada suara apapun selain hembusan nafas. Duke Rigel Elister merasa tak enak hati jika ia harus masuk ke dalam dan mengganggu waktu istirahat Tuan Putri Amerilya.


"Lebih baik kita pulang saja dan menjenguk Tuan Putri besok saat siang hari." tawar Duke Rigel Elister pada putra keduanya.


Rostow Elister menatap ke arah sang ayah dengan mata berkaca-kaca dan mulut yang melengkung ke bawah. Ia terlihat begitu sedih karna tak bisa mengunjungi Tuan Putri Amerilya meskipun saat ini mereka masih di dalam area Istana Kerajaan Meztano, sang duke mengusap wajahnya dengan kasar ia tak akan bisa menolak keinginan putra bungsunya itu jika sudah menunjukkan wajah memelas.


"Baiklah mari masuk ke dalam namun ingat jangan membuat keributan." ucap Duke Rigel Elister.


Tok tok tok...


Suara pintu ruang kesehatan yang diketuk dengan sangat pelan oleh sang duke agar tak membangunkan Putri Amerilya yang sedang tertidur. Tak lama berselang pintu ruang kesehatan terbuka dan menunjukkan wajah Ratu Zivaya.


"Ada apa Tuan Duke Rigel Elister? apakah Anda memiliki kepentingan dengan saya?." tanya Ratu Zivaya sembari menunjukkan ekspresi bingung.


"Ah maaf Yang Mulia Ratu, putra bungsu saya ingin melihat kondisi Tuan Putri Amerilya sebelum pulang ke rumah. Sepertinya ia sangat cemas dengan kondisi sang putri saat ini, saya telah meminta izin pada Raja Azvago sebelumnya dan beliau memberikan izin." ucap Duke Rigel Elister.


"Ah ternyata begitu, silahkan masuk ke dalam. Saya harap kalian tidak membuat suara berisik yang dapat membangunkan Amerilya." ucap Ratu Zivaya. Ia mempersilahkan Duke Rigel Elister bersama kedua putranya untuk masuk ke dalam ruang kesehatan.


Edwig Elister dan Rostow Elister segera masuk ke dalam, mereka berdua menatap ke arah Putri Amerilya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang ruang kesehatan. Wajah sang putri tampak pucat, mata Rostow Elister kembali berkaca kaca ia bahkan menangis sesenggukan di sana.


"Hust jangan membuat suara berisik." bisik Edwig Elister pada sang adik. Jujur saja suara tangisan dari adiknya itu cukup mengganggu dan kemungkinan besar akan membuat Putri Amerilya yang sedang beristirahat terbangun.


Dengan segera Tuan Muda Rostow Elister mengusap air matanya dengan kasar dan berusaha menahan diri untuk tidak menangis saat melihat kondisi Putri Amerilya. Tuan Duke Rigel Elister dan Ratu Zivaya hanya memperhatikan apa yang dilakukan kedua tuan muda itu, tingkah Rostow Elister membuat Ratu Zivaya tertawa pelan. Sang ratu tak menyangka bahwa putra bungsu dari Tuan Rigel Elister begitu peduli dengan putri kecilnya.


Setelah selesai melihat dan memastikan kondisi Tuan Putri Amerilya, kedua tuan muda itu keluar dari ruang kesehatan. Rostow Elister memeluk sang ayah dan kembali menangis, ia sangat tak tega melihat Putri Amerilya sepucat itu. Duke Rigel Elister segera menggendong Rostow Elister dan berpamitan pada Ratu Zivaya karna mereka akan segera kembali.


"Terimakasih karna memberikan izin pada kedua putra saya untuk melihat kondisi Tuan Putri Amerilya. Maaf atas sikap putra kedua saya yang sekiranya kurang sopan, saya permisi terlebih dahulu." ucap Duke Rigel Elister. Ia bersama dengan Tuan Muda Edwig Elister membungkukkan badan kemudian berjalan keluar dari istana utama Kerajaan Meztano.


Setelah kepergian sang Duke bersama kedua putranya, Ratu Zivaya masuk kembali ke dalam ruang kesehatan untuk menjaga putri kecilnya yang masih dalam masa penyembuhan. Ratu Zivaya duduk di sebuah kuris yang menghadap ke arah putri kecilnya, sang ratu mengusap rambut Putri Amerilya perlahan sembari tersenyum tipis.


"Ibu berharap kau bisa terus hidup hingga memiliki anak, cucu, dan kehidupan yang panjang. Ibu dan ayah sangat mencintaimu Amerilya, karna itu tetaplah sehat." gumam Ratu Zivaya dengan suara pelan.


Kini malam semakin larut dan kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya sudah berkumpul di dalam istana putri, mereka sedang menunggu putri kecil itu kembali. Beberapa menit yang lalu ratusan prajurit istana utama datang dengan membawakan semua hadiah yang diberikan oleh para tamu undangan pada Tuan Putri Amerilya, saat Lilian bertanya pada salah satu diantara mereka dimana keberadaan Putri Amerilya saat ini mereka hanya diam.


"Ini sudah lewat dari jam dua belas malam namun Tuan Putri Amerilya belum kembali. Mungkinkah hari ini ia tidur bersama dengan Yang Mulia Raja dan Ratu?." tanya Juylin. Ia sedang menebak apa yang sedang dilakukan oleh putri kecil itu sekarang.


"Saya sangat mencemaskan kondisi sang putri saat ini. Bukankah ini pesta ulangtahun pertamanya yang dirayakan secara besar besaran, mungkin Tuan Putri sedikit syok saat bertemu dengan banyak orang." gumam Amena, suara wanita itu masih dapat di dengar oleh para pelayan yang lain.


"Ya itu mungkin saja terjadi jika anak perempuan lain yang mengalaminya, namun ini adalah Tuan Putri Amerilya. Ia bahkan tak takut saat dihadapkan oleh para pembunuh bayaran." tegas Lilian. Jika sesuatu sampai terjadi pada sang putri maka ia akan mencari dalang dibalik kejadian itu.


Saat kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya sedang beradu argument mereka masing masing, tiba tiba Putri Lena masuk ke dapur dan mengejutkan mereka semua. Lilian menatap Putri Lena dengan tatapan tajam, apa yang ingin dilakukan oleh putri licik itu malam malam begini?.


"Kalian pasti sedang bertanya tanya mengapa Tuan Putri Amerilya tak kunjung kembali ke istana putri padahal pesta susan berakhir sekitar dua jam yang lalu?." tanya Putri Lena dengan tatapan datar. Kedatangannya kali ini bukan untuk mencari masalah dengan para pelayan itu.


"Apa kau tau apa yang sedang terjadi pada Putri Amerilya sekarang? cepat katakan!." triak Juylin dengan suara yang cukup kencang.


"Katakan apa yang terjadi pada sang putri hingga ia tak kembali tepat waktu." ucap Lilian.


"Ya saya bisa memberitahukan hal itu pada kalian asal kalian mau mengabulkan satu permintaan saya." ucap Putri Lena dengan senyuman lebar yang tampak mencurigakan bagi kesepuluh pelayan itu.


"Apa yang kau inginkan sebagai imbalan?." tanya Lilian tanpa basa basi. Jika Putri Lena meminta sesuatu yang beresiko maka Lilian akan langsung menebas kepala Putri Lena saat itu juga.


"Saya ingin dua piring hidangan ikan salmon sama seperti yang Anda berikan pada Tuan Putri Amerilya beberapa hari waktu lalu." ucap Putri Lena, wajahnya menunjukkan ekspresi gembira seperti memenangkan sebuah lotre.


Lilian bersama kesembilan pelayan yang lain saling bertatapan satu sama lain, jadi ini permintaan yang diinginkan oleh Putri Lena?. Syukurlah jika putri jahat itu telah kembali ke jalan yang benar hanya karna memakan beberapa potong ikan salmon yang diberikan Tuan Putri Amerilya.


"Baiklah saya akan memasakkan dua menu ikan salmon untuk Anda, jadi apa yang terjadi pada Tuan Putri Amerilya?." tanya Lilian.


"Saat di tengah tengah pesta dansa, Putri Amerilya yang saat itu sedang duduk diam di atas singgasana bersama keempat pangeran tiba tiba berteriak histeris. Awalnya saya mengira sang putri sedang bercanda dengan kakak kakaknya itu, namun saya melihat darah yang mengalir dengan deras dari kedua telinga Tuan Putri Amerilya. Setelah itu Yang Mulia Raja Azvago membawa Tuan Putri menuju ruang kesehatan untuk mendapatkan penanganan. Karna merasa penasaran akhirnya saya keluar dari aula utama dengan alasan ingin pergi ke kamar mandi namun saya pergi ke ruang kesehatan untuk mengetahui kondisi sang putri. Meskipun kami sempat bermusuhan, saat itu saya sangat mengkhawatirkan kondisi Tuan Putri Amerilya. Saya mendengar bahwa beberapa tabib dan alkemis tidak dapat menghentikan pendarahan sang putri, entah apa yang terjadi seorang penguji masuk ke dalam ruangan itu dan menjelaskan bahwa Putri Amerilya sedang mengalami kebangkitan pada kedua indra pendengarannya. Saat ini Tuan Putri sedang beristirahat di ruang kesehatan jadi kalian tidak perlu cemas." ucap Putri Lena, ia menceritakan secara lengkap apa yang diketahui mengenai kondisi Putri Amerilya beserta kejadiannya.


"Jadi Putri Lena diam diam mendengar pembicaraan orang lain, apakah Anda terbiasa melakukan hal itu?." tanya Juylin dengan tatapan penuh selidik.


"Hal seperti itu sangat membuang buang waktu, biasanya saya akan bertanya langsung jika ingin mengetahui sesuatu namun saya sadar hubungan Antara Kerajaan Meztano dan Kerajaan Antez terlanjur berantakan karena ulah saya. Tak ada pilihan lain selain menguping pembicaraan mereka meski itu sangat tidak sopan." jawab Putri Lena dengan sedikit ekspresi bersalah.


"Haish baiklah namun lain kali jangan melakukan hal seperti itu lagi. Terimakasih atas informasinya, Anda bisa beristirahat sekarang karna diperlukan energi yang cukup untuk merasakan kenikmatan dari daging ikan salmon." ucap Lilian dengan wajah serius.


"Baiklah saya akan kembali ke kamar sampai jumpa semuanya." pamit Putri Lena yang langsung pergi meninggalkan dapur Istana putri.


Hai hai semua author balik lagi nih dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.