PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Suasana Di Ruang Makan


Putri Amerilya berjalan keluar dari istana utama dan ia tak sengaja berpapasan dengan Ratu Jeylena yang sedang menatap tajam ke arahnya. Putri Amerilya mengabaikan tatapan dari wanita itu dan terus berjalan menuju istana putri karna beberapa pelayan terlihat sedang mencarinya, Ratu Jeylena merasa kesal karna diabaikan oleh putri kecil itu ia sangat ingin memberi pelajaran pada sang putri namun banyak orang yang sedang menatap ke arahnya.


"Ini bukan Kerajaan Antez jadi jaga sikap Anda Yang Mulia Ratu Jeylena." ucap Putri Amerilya setelah jaraknya cukup jauh dari sang ratu namun ucapan putri kecil itu masih bisa di dengar dengan jelas. Ratu Jeylena mengepalkan tangan dan berusaha untuk menahan amarahnya, setelah merasa sedikit lebih tenang iapun masuk ke dalam istana utama.


Di sisi lain Putri Amerilya sudah berada di halaman depan istana putri, ia tersenyum ke arah dua pelayan yang sedang mencarinya di sekitar istana putri dan taman bunga.


"Kemana Anda pergi? kami sangat khawatir karna tak bisa menemukan Anda di halaman depan ataupun di sekitar area istana putri." ucap Amena seorang pelayan dengan penampilan rambut berwarna coklat dan mata tajam berwarna hitam.


"Saya pergi ke istana utama untuk bertemu dengan ayah dan ibu, ada beberapa hal penting yang ingin saya sampaikan pada mereka. Maaf karna saya tak mengabari kalian sebelumnya." ucap Putri Amerilya dengan tatapan bersalah.


"Mari kita masuk ke dalam, semua tamu Anda sudah menunggu di ruang makan. Hah saya merasa sangat kesal dengan kedua putri yang berasal dari Kerajaan Antez itu, mereka sangat menyebalkan hingga saya ingin memukul mereka hingga pingsan." ucap Juylin dengan ekspresi kesal yang membuat Putri Amerilya dan Amena tertawa pelan.


Mereka bertiga masuk ke dalam istana utama dan bergegas pergi menuju ruang makan, Putri Amerilya menatap ke arah pintu kemudian beberapa prajurit membukakan pintu ruang makan dengan lebar dan mengumumkan kedatangan Putri Amerilya.


"Putri Amerilya masuk ke dalam ruang makan!!." teriak salah seorang prajurit dengan suara lantang.


Putri Amerilya masuk ke dalam ruang makan dengan tatapan dingin, ia sedikit tak menyukai keberadaan Putri Liene dan Putri Lena di dalam ruangan itu. Setalah masuk Putri Amerilya langsung menatap ke arah Putri Lena yang sedang duduk di kursi utama, hah mengapa anak perempuan itu kembali membuat ulah.


"Sebaiknya Putri Lena pergi ke tabib untuk memeriksakan mata Anda, apakah Anda tak mengetahui bahwa kursi ini ditujukan untuk pemilik Istana Putri dari Kerajaan Meztano?!." ucap Putri Amerilya yang kini tak perlu merasa sungkan atau tak enak hati saat ingin menegur Putri Lena.


"Apa maksud perkataan Anda? bukankah semua tempat duduk itu sama. Lagipula Anda adalah seorang putri bukannya Raja ataupun Ratu." jawab Putri Lena yang kembali berulah.


"Yah mau bagaimana lagi, berbicara dengan seseorang yang otaknya kosong memang sangat sulit. Sepertinya saya hanya bisa bersabar daripada menjadi gila karna meladeni orang seperti Anda." ucap Putri Amerilya dengan tatapan sinis.


Ketiga putri dari Kerajaan Monzxo hanya bisa diam dan melihat perselisihan yang terjadi antara Putri Amerilya dengan Putri Lena, dilihat dari sudut pandang manapun Putri Lena yang bersalah karna telah lancang duduk di kursi utama yang ada di ruang makan. Putri Alexsi, putri tertua dari Kerajaan Monzxo menata ke arah Putri Lena dengan tatapan tak suka, seharusnya sebagai seorang anak perempuan yang lahir dalam lingkup keluarga kerajaan ia bisa menjaga nama baik kerjaanya sendiri.


"Menyingkir lah karna saya ingin duduk di tempat saya." ucap Putri Amerilya yang meminta Putri Lena untuk pindah secara baik baik karna Putri Amerilya tak ingin kehilangan selera makannya.


"Saya yang dagang terlebih dahulu dan memilih tempat ini, seharusnya sebagai pemilik istana putri Anda datang lebih awal dari yang lain." ucap Putri Lena, anak perempuan itu menemukan sebuah kesalahan yang dilakukan oleh Putri Amerilya.


Putri Amerilya menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan, ia harus mengendalikan emosinya dengan baik meski hasrat membunuhnya sudah muncul. Putri Amerilya membungkukkan badan satu kali di hadapan semua putri yang ada di ruangan makan kemudian ia mengucapkan permintaan maaf.


"Dengan tulus saya meminta maaf pada kalian semua karna datang terlambat pada jamuan makan malam kali ini, saya menjadi tindakan saya ini sangat tidak baik karna tak dapat menjamu para tamu. Saya harap para Tuan Putri bersedia memaafkan kesalahan saya." ucap Putri Amerilya dengan tulus, anak perempuan itu tak pernah malu ketika harus mengakui kesalahan yang ia lakukan. Sebagai seorang putri dari Kerajaan Meztano setidaknya Putri Amerilya bisa bersikap sopan.


"Kami mengerti bahwa Anda memiliki kepentingan lain di luar Istana Putri, saya secara pribadi tak mempermasalahkan hal ini." jawab Putri Alexsi dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cantiknya. Entah mengapa Putri Alexsi merasa nyaman ketika berada satu ruangan dengan Putri Amerilya, meskipun umur keduanya terpaut sangat jauh namun Putri Amerilya sangatlah dewasa.


"Ini bukan masalah besar, saya dan saudari yang lain bisa memaklumi masalah ini. Terimakasih karna Tuan Putri Amerilya bersedia meminta maaf secara langsung pada kami, meminta maaf setelah melakukan sebuah kesalahan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan." jawab Putri Yunha dengan wajah datar namun ia sangat terkesan dengan keberanian Putri Amerilya. Putri Yunha malah merasa sangat risih ketika harus melihat sikap kekanak-kanakan dari Putri Lena yang lebih tua dari Putri Amerilya.


Putri Lena menghela nafas kesal kemudian ia berdiri dari kursi utama, Putri Lena memilih duduk di sebelah Putri Alexsi daripada kakak perempuannya sendiri. Putri Lena tersenyum ramah ke arah Putri Alexsi dan berharap sang putri dari Kerajaan Monzxo itu mau menjalin hubungan baik dengannya. Setelah menunggu beberapa saat tak ada respon apapun dari Putri Alexsi, akhirnya Putri Lena memilih untuk diam dan menunggu jamuan makan malam dimulai.


Setelah duduk di tempatnya Putri Amerilya langsung menatap ke arah semua orang yang ada di hadapannya itu.


"Saya sangat berterimakasih karna kalian bersedia memaafkan kesalahan yang telah saya lakukan, jamuan makan malam yang diadakan malam ini sebagai bentuk penyambutan kedatangan para putri dari Kerajaan Antez dan Kerajaan Monzxo yang bersedia hadir ke Kerajaan Meztano. Sebagai satu satunya putri yang ada di Kerajaan Meztano saya menyambut kedatangan kalian." ucap Putri Amerilya dengan suara lantang dan tegas, wibawa sang putri dapat dirasakan olah para putri dari kerajaan lain. Meskipun tak suka dengan Putri Amerilya, Putri Liene tak dapat memungkiri bahwa putri kecil itu sangat mengagumkan.


"Silahkan menikmati hidangan yang telah disediakan, maaf karna hanya ini yang bisa kami hidangkan dalam jamuan makan malam hari ini." ucap Putri Amerilya dengan sebuah senyum yang sangat menggemaskan. Ketiga putri dari Kerajaan Monzxo berusaha untuk menahan diri mereka agar tak mencubit pipi Putri Amerilya yang bulat dan sangat lucu.


Jamuan makan malam juga dilakukan di istana utama, kini semua orang tengah menikmati hidangan yang disediakan setalah Raja Azvago mengucap beberapa kata sambutan. Saat semua orang sedang makan dengan lahap, Raja Azvago dan Ratu Zivaya saling bertatapan satu sama lain. Ratu Zivaya mengambil beberapa makanan yang letaknya cukup jauh dari jangkauan tangan, ia sengaja melakukannya hal itu agar terhindar dari makanan yang talah diracun oleh Ratu Jeylena.


"Mengapa Yang Mulia Ratu Zivaya tak memakan hidangan yang ada di dekat Anda?." tanya Ratu Jeylena dengan tatapan bingung sekaligus kesal karna ia khawatir rencananya gagal.


"Ah bukan begitu, saya menginginkan beberapa makanan yang ada di sana." ucap Ratu Zivaya dengan senyuman manis, ia menunjukkan ekspresi seolah olah tak mengetahui rencana dari ratu jahat itu.


"Saya dengar Ratu Zivaya menyukai ikan bakar asam manis, hidangan itu berada tepat di hadapan Anda. Sepertinya para pelayan yang ada di istana utama sangat pengertian pada Ratu mereka." ucap Ratu Jeylena dengan senyuman miring.


"Mengapa Anda mempermasalahkan makanan yang ingin dimakan oleh Ratu Zivaya, meskipun beliau memiliki makanan kesukaan bukan berarti ia harus memakannya setiap saat." ucap Ratu Jenya, ia sangat curiga dengan sikap Ratu Jeylena.


"Ahahaha jangan serius seperti itu, saya hanya merasa penasaran saja." ucap Ratu Jeylena yang berusaha untuk menghindar dari kecurigaan Ratu Jenya.


Makan malam telah selesai, makanan yang dituangkan racun oleh Ratu Jeylena tak disentuh sama sekali oleh Ratu Zivaya ataupun orang lain yang ikut dalam jamuan makan malam hari ini. Ratu Jeylena beejalan keluar bersama suaminya, saat berada di pintu keluar ruang makan ia menatap tajam ke arah Ratu Zivaya.


"Sialan rencana ku gagal." batin Ratu Jeylena yang tak bisa melakukan apapun meski emosinya memuncak. Kini satu satunya jalan yang ia miliki adalah bertanding dengan Ratu Zivaya dengan semua kemampuan yang ia miliki.


Ratu Zivaya menyadari bahwa ia di tatap tajam oleh wanita licik itu namun sang ratu memilih untuk mengabaikannya karna tak ingin membuat wanita itu curiga. Ratu Zivaya dan Raja Azvago masuk ke dalam kamar utama kemudian menutup pintu dengan rapat, keduanya menghela nafas lega setalah berhasil melewati situasi yang sangat menegangkan itu.


"Hah wanita itu sungguh menyebalkan, apakah aku tak boleh membunuhnya saat perbandingan nanti?." tanya Ratu Zivaya dengan tatapan memohon yang ia tunjukkan pada Raja Azvago.


"Sebaiknya kau menahan diri agar tak membunuhnya, besok adalah hari spesial untuk putri kecil kita jangan sampai acara ulang tahun Putri Amerilya rusak karna ulah orang orang yang memusuhi kita berdua." jawab Raja Azvago. Ia tak melarang Ratu Zivaya untuk membunuh Ratu Jeylena, yang harus dilakukan hanyalah menunggu waktu dan saat yang tepat.


"Ya bagaimanapun ini ulang tahun pertamanya setelah tinggal di dalam istana Kerajaan Meztano selama kurang lebih tiga tahun, suasana di istana juga lebih ceria setelah kelahiran putri kecil kita itu." ucap Ratu Zivaya dengan senyuman tipis, kemarahan yang meluap luap di dalam hatinya seketika menghilang ketika membahas Putri Amerilya.


Hai hai semuanya author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.