PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Misi Membersihkan Para Pemberontak (02)


Putri Amerilya dan kedua anak Duke Moren Rucixara telah sampai di halaman belakang istana utama, terlihat banyak orang yang sudah berkumpul sembari menikmati beberapa makanan pembuka yang telah disajikan. Mata Putri Amerilya tertuju pada barisan meja yang berisi penuh dengan cake dan berbagai makanan manis yang menggugah selera, Putri Amerilya langsung berlari ke arah meja itu dan mengambil beberapa potong kue. Tanpa putri kecil itu sadari aksinya telah membuat gemas beberapa tamu undangan yang sedang menyaksikannya.


"Tuan Putri berlari dengan sangat kencang." ucap Ersa Rucixara sembari menghela nafas panjang, anak perempuan itu kehabisan nafas karna harus mengejar Putri Amerilya yang tiba tiba saja berlari.


"Apa kau tak bisa melihat bahwa saat ini Tuan Putri sedang makan? berhentilah mengajaknya bicara jika tidak ia akan tersedak." sindir Alxin Rucixara pada kakak perempuannya itu.


"Baiklah aku memang bersalah, apa kau puas sekarang?." ucap Ersa Rucixara yang langsung memutar bola matanya dengan malas.


Putri Amerilya tak menggubris pertengkaran diantara keduanya karna ia ingin memakan kue sampai puas sebelum ada insiden yang membuat selera makannya menghilang. Tuan Muda Edwig Elister dan Tuan Muda Rostow Elister mengedarkan pandangan mereka ke berbagai arah kemudian menemukan Putri Amerilya yang sedang duduk di sebuah kursi tepat di depan meja yang penuh dengan makanan manis. Keduanya berjalan santai mendekat ke arah Putri Amerilya, Tuan Muda Rostow Elister mengambil kue coklat kemudian ia menyerahkannya pada Putri Amerilya sedangkan Tuan Muda Edwig Elister mengambilkan kue ceri yang langsung ia berikan pada Putri Amerilya juga.


Putri Amerilya menatap bingung ke arah dua Tuan Muda dari Kediaman Elister itu, apa yang sedang mereka lakukan dengan memberikan sepotong kue pada Putri Amerilya?.


"Apakah saya harus memilih diantara kedua kue ini?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan polos.


"Anda bisa memilih jika Anda menginginkannya Tuan Putri." jawab Rostow Elister, ia yakin semua orang menyukai kue coklat dengan tekstur lembut dan rasa manis yang tak terlalu berlebihan.


Putri Amerilya merasa bingung, ia takut jika memilih salah satu diantara kedua kue yang ada di hadapannya itu akan menimbulkan permusuhan antara kedua anak laki laki Duke Rigel Elister. Putri Amerilya juga penasaran apakah wajahnya sangat cantik hingga menarik kedua tuan muda itu di usianya yang masih sangat kecil?. Karna tak bisa memilih akhirnya Putri Amerilya mengambil kedua kue itu dan memakannya dengan lahap, terlihat raut wajah bahagia dari kedua anak Duke Rigel Elister itu.


"Dimana ayah?." tanya Putri Amerilya setelah merasa kenyang ia ingin bertemu dengan ayahnya.


"Saat ini Yang Mulia Raja Azvago sedang berbincang bincang dengan beberapa tamu, ada beberapa mentri yang datang dalam pesta makan malam kali ini." ucap Tuan Muda Edwig Elister sembari menunjuk ke salah satu sudut yang ada di halaman belakang Istana Utama. Putri Amerilya segera mengalihkan pandangannya menuju ke arah yang ditunjuk oleh Edwin Elister, ia menemukan sang ayah sedang berbincang bincang dengan dua menteri yang berusaha untuk melengserkan kedudukannya.


"Haruskah saya memukul kepala mereka." ucap Putri Amerilya dengan suara pelan, ia sangat muak ketika melihat wajah Moren Luzent dan Youzen sang mentari keuangan.


Putri Amerilya langsung pergi untuk menemui ayahnya, anak perempuan itu berencana memisahkan sang ayah dengan kedua pria bermuka dua itu. Putri Amerilya khawatir jika salah satu dari kedua mentri tiba tiba menyerang sang ayah menggunakan senjata tajam, baru saya Putri Amerilya merasa khawatir tiba tiba ia melihat seseorang yang sedang bersembunyi di belakang pohon mangga yang ada di halaman belakang. Orang itu sedang meregangkan busurnya dan berusaha menembakkan panah tepat ke arah Raja Azvago, dengan segera Putri Amerilya berlari ke arah sang raja dan menarik tangannya agar terhindar dari panah yang sedang melesat itu.


"Ada apa putri ku?." tanya Raja Azvago yang merasa terkejut karna tiba tiba tangannya di tarik dengan kencang oleh putri kesayangannya. Sepertinya tak ada yang menyadari bahwa baru ada sebuah panah yang melesat menuju Raja Azvago.


"Aku ingin makan pie ceri ayah, namun aku tak dapat menemukannya. Bisakah ayah membantuku untuk mencari pie ceri?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan sedih, ia sedang berakting dihadapan kedua mentri yang sedang menaruh rasa curigai terhadap putri kecil itu.


"Ada beberapa hal yang ingin ayah bahas dengan kedua paman mentri, apakah putriku tak bisa mencarinya sendiri?." tanya Raja Azvago yang meminta Putri Amerilya untuk mencari pie ceri yang ia inginkan sendiri.


Mata Putri Amerilya mulai berkaca kaca, anak perempuan itu tiba tiba saja menangis dan membuat semua tamu melihat ke arahnya. Para tamu sedang berbisik bisik pada teman mereka mengenai hal yang membuat Putri Amerilya menangis, Tuan Moren Luzent dan Tuan Youzen saling bertatapan satu sama lain. Mereka berdua tampak kebingungan, berbincang lama dengan Yang Mulia Raja Azvago adalah salah satu rencana yang harus berjalan dengan lancar namun jika situasinya seperti ini maka Yang Mulia Raja Azvago akan lebih memilih menenangkan Putri Amerilya yang sedang menangis itu.


"Bisakah Tuan Putri Amerilya berhenti menangis? kami hanya meminjam sebentar saja waktu Yang Mulia Raja Azvago." ucap Tuan Moren Luzent dengan nada yang sengaja sedikit ia tinggikan agar Putri Amerilya mengerti.


"Tuan Putri sudah cukup besar untuk mencari pie ceri sendiri. Jadi pergilah bermain terlebih dahulu dengan anak anak lain." sambung Tuan Youzen yang menatap Putri Amerilya dengan tatapan tajam.


Mendapat perlakuan seperti itu membuat tangis sang putri kecil semakin menjadi jadi, banyak orang yang menatap sinis ke arah kedua mentri itu karna tak mau mengalah dengan seorang anak berusia dua tahun. Lagipula apa apaan Tuan Youzen, mengapa ia menatap tajam Putri Amerilya? bukankah wajar jika seorang anak kecil manja terhadap orang tuanya.


"Paman mentri seperti sangat marah padaku, aku akan memberitahu ibu." ucap Putri Amerilya yang langsung berlari menjauh untuk mencari keberadaan Ratu Zivaya, ia ingin mengadu pada ibunya tentang perlakuan kedua mentri itu.


Raja Azvago sedikit kelabakan, istrinya akan sangat marah jika tau bahwa ia telah mengabaikan keinginan putri kecil mereka. Dengan segera Raja Azvago berpamitan pada kedua mentri yang sedang berbincang bincang dengannya itu kemudian berlari untuk menyusul Putri Amerilya yang sedang merajuk. Tuan Moren Luzent dan Tuan Youzen meremas tangan mereka dengan erat, rencana mereka gagal hanya karna Putri Amerilya sedang merajuk.


"Sialan putri kecil itu sangat mengganggu rencana yang telah kita buat." ucap Tuan Youzen dengan tatapan penuh amarah yang ia berikan pada Putri Amerilya yang semakin jauh dari pandangan mata.


"Masih banyak kesempatan untuk membunuh sang raja, tenangkan lah dirimu Tuan Youzen." ucap Tuan Moren Luzent yang meminta rekannya untuk bersabar.


Di sisi lain saat ini Liliana dan kesembilan pelayan setia Putri Amerilya sedang bersiap, mereka semua telah menggunakan baju berwarna serba putih dengan cadar yang menutupi wajah mereka. Meskipun Putri Amerilya meminta kesepuluh pelayan setianya untuk tetap berada di dalam istana putri namun mereka tak bisa tenang jika tak mengawasi konsisi pesta makan malam.


"Mari kita bergerak sekarang, jangan sampai ada seseorang yang melukai Tuan Putri Amerilya." ucap Liliana dengan sorot mata tajam, nada bicara wanita itu juga terdengar dingin.


Akhirnya kesepuluh pelayan itu berpencar menjadi dua kelompok, kelompok pertama akan pergi ke gerbang depan sebagai akses keluar masuk Istana Kerajaan Meztano sedangkan kelompok kedua akan pergi ke atap istana utama dan mengawasi jalannya pesta makan malam. Di sisi lain saat ini Putri Amerilya sudah berhasil menemukan dimana sang ibu berada, putri kecil itu mempercepat langkahnya agar segera sampai pada Ratu Zivaya. Saat sudah sangat dekat dengan sang ibu tiba tiba saja ayahnya mengangkat tubuh Putri Amerilya dan mengajaknya untuk pergi.


"Ibu ..!" triak Putri Amerilya dengan suara yang cukup kencang, Ratu Zivaya yang tadinya sedang sibuk berbincang bincang dengan para wanita bangsawan yang lain langsung mengalihkan pandangannya dan berusaha mencari pemilik suara itu berada.


Ratu Zivaya membelalakkan matanya ketika melihat Putri Amerilya sedang digendong oleh sang suami dalam kondisi sedang menangis. Ratu Zivaya langsung berpamitan dan menghampiri putri kecilnya itu.


"Apa yang terjadi padamu putriku, mengapa kau menangis seperti itu?." tanya Ratu Zivaya yang langsung mengambil Putri Amerilya dari gendongan Raja Azvago.


"Ayah tadi mengabaikan ku." ucap Putri Amerilya dengan wajah cemberut dan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya.


Ratu Zivaya menatap tajam ke arah Raja Azvago, dengan segera sang ratu menjewer telinga Raja Azvago dengan cukup kencang hingga sang raja meringis kesakitan. Beberapa tamu yang menyaksikan hal itu berusaha untuk menahan tawanya, sebagian dari mereka merasa sangat puas melihat Raja Azvago dihukum oleh Ratu Zivaya.


"Apa kau sudah puas putri ku?." tanya Ratu Zivaya kemudian mengecup kening Putri Amerilya dengan penuh kasih sayang.


"Aku tak berniat untuk mengabaikan putri kita istriku, tadi kedua mentri sedang membicarakan beberapa hal penting karna itu aku meminta putri kita untuk mencari pir ceri sendiri." ucap Raja Azvago yang sedang membela dirinya. Ia tak ingin disalahkan secara sepihak hanya karna sang istri tak mengetahui cerita lengkapnya.


"Apapun yang terjadi, putri kita adalah prioritas utama." ucap Ratu Zivaya yang tak ingin dibantah oleh sang suami.


Setelah perdebatan antara Raja Azvago dan Ratu Zivaya berakhir beberapa pelayan dapur datang dengan membawakan hidangan utama. Mereka menatanya dengan rapi di atas meja kemudian mempersilahkan para tamu untuk menyantap hidangan itu. Saat semua orang sedang sibuk makan, Putri Amerilya sibuk mengedarkan pandangannya ke segala arah. Putri Amerilya melihat beberapa prajurit dari istana utama masuk ke dalam halaman belakang kemudian mereka membentuk formasi melingkari.


"Hah kapan perutku akan kosong lagi." ucap Putri Amerilya yang penuh dengan tekanan pada kata kosong yang ia ucapkan.


Para prajurit dari Istana Putri langsung mengedipkan mata mereka secara bersamaan sebagai pertanda bahwa mereka mengerti isyarat yang diberikan oleh Putri Amerilya. Para prajurit dari istana putri dengan segera berdiri di samping para prajurit dari istana utama, mereka akan mengawasi setiap langkah yang dilakukan oleh prajurit dari istana utama itu.


"Apa Tuan Putri sedang kekenyangan?." ucap Nona Muda Ersa Rucixara sembari menatap ke arah Putri Amerilya.


"Saat ini perutku tak dapat menampung apapun, bagaimana jika kue yang ada di dalam perutku ini bertarung dengan makanan lain seperti daging. Pertarungan di dalam perut bukanlah hal yang baik." ucap Putri Amerilya sembari menatap tajam ke arah para prajurit dari istana pangeran, sang putri sedang memberi isyarat pada mereka bahwa sebentar lagi pertarungan akan berlangsung.


Setelah semua prajurit yang ada di pihaknya telah siap dan mengetahui bahwa pertarungan akan berlangsung, Putri Amerilya langsung mengalihkan pandangannya ke arah tiga jenderal yang akan memimpin para prajurit pemberontakan untuk menyerang semua orang yang hadir dalam pesta makan malam.


"Ada apa Tuan Putri?." tanya Nona Alxin Rucixara dengan tatapan bingung seolah olah ia tak mengetahui apapun.


"Saya ingat bahwa paman Kesatria Richal ingin membelikan saya kue ceri." ucap Putri Amerilya yang langsung tersenyum dengan lebar ke arah para Kesatria White Rose yang berada di seberangnya.


"Saya akan membelikan Anda kue ceri di lain waktu Tuan Putri Amerilya." jawab Kesatria Richal.


"Baiklah saya memegang perkataan Anda Paman Kesatria Richal." ucap Putri Amerilya.


Kesatria Richal dan para Kesatria White Rose yang lain sudah siap jika tiba tiba pihak musuh melakukan penyerangan. Tebakan Putri Amerilya benar, beberapa saat setelah semua tamu telah selesai makan tiba tiba pada prajurit istana utama mengeluarkan senjata mereka dan mengarahkannya pada para tamu yang tak memegang senjata apapun. Dengan sigap para prajurit dari istana putri membantu para tamu dengan melawan para prajurit dari istana utama.


"Mengapa kalian saling bertarung!." bentak Raja Azvago dengan kemarahan yang terlihat di matanya, ia juga merasa bingung dengan situasi saat ini.


"Beberapa prajurit dari istana utama ingin memberontak, lindungi para tamu dan anggota Keluarga Kerajaan Meztano!!." triak Putri Amerilya dengan kencang hingga mengejutkan pihak musuh serta semua orang yang ada di sana.


"Sialan ternyata anak perempuan itu mengetahui rencana kita." ucap Tuan Moren Luzent dengan tatapan penuh kebencian.


Hai hai semua Novel Putri Amerilya update lagi nih, kalian kangen ga sama novel ini?. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.