
Putri Amerilya telah masuk ke dalam istana utama, saat sedang berlari sang putri tidak sengaja menabrak Ibu Suri Sinya yang baru saja keluar dari ruangannya. Akhirnya Putri Amerilya terjatuh, melihat hal itu ibu suri langsung membantu cucunya itu untuk berdiri.
"Mengapa kau berlarian seperti ini, lihat kan kau jatuh karna tidak fokus melihat ke depan." omel Ibu Suri Sinya pada Putri Amerilya. Ia melakukan hal itu bukan karna marah pada sang putri namun tak ingin terjadi sesuatu pada cucu kesayangannya itu.
"Maafkan aku nenek, saat ini Amerilya sedang bermain kejar-kejaran dengan ayah. Agar tidak tertangkap Amerilya berusaha untuk berlari sekencang mungkin namun berakhir seperti ini." ucap Putri Amerilya yang meminta maaf dengan tulus pada sang nenek yang telah ia tabrak.
Ibu Suri Sinya hanya bisa menghela nafas pasrah ketika mendengar penjelasannya dari cucunya itu, lagipula untuk apa Raja Azvago bermain kejar-kejaran seperti anak kecil saja. Untunglah yang di tabrak Putri Amerilya adalah dirinya, bagaimana jika orang lain? dan orang itu merasa tidak terima. Dari arah belakang terdengar suara langkah kaki yang mendekat, ternyata itu adalah Raja Ruzel.
"Ada apa Ibu Suri Sinya?." tanya Raja Ruzel dengan tatapan bingung. Ia sempat mendengar sedikit keributan dari dalam kamarnya.
"Bukan apa apa Raja Ruzel, hanya sedikit kesalahpahaman antara nenek dengan cucu perempuannya." jawab Ibu Suri Sinya dengan sebuah senyum yang ia paksakan.
Raja Ruzel menatap ke arah Putri Amerilya sekilas, saat sang putri tersenyum padanya dengan segera Raja Ruzel memalingkan wajah agar tidak terbuai dengan wajah polos dan lugu sang putri yang ternyata hanya kepalsuan semata. Putri Amerilya tidak ambil pusing atas perlakuan Raja Ruzel, ia tidak peduli apa yang sedang dipikirkan oleh raja tidak tau diri itu.
"Meskipun Tuan Putri Amerilya masih berusia tiga tahun namun dia harus tetap di disiplinkan saat melakukan sebuah kesalahan. Jangan hanya karna ia masih kecil kalian malah terlalu memanjakannya seperti ini." pesan Raja Ruzel pada Ibu Suri Sinya, sepertinya sang raja memberikan isyarat agar Putri Amerilya dihukum atas tindakannya itu.
"Saya dan istri saya yang bertanggungjawab untuk mengajari putri kami bagaimana cara bersikap. Anda orang luar yang tidak mengetahui apapun tiba tiba mengomentari tingkah putri saya seperti ini, apakah itu benar?." tanya Raja Azvago yang baru saja masuk ke dalam istana utama dan menemukan putri kesayangannya sedang dipojokkan oleh Raja Ruzel.
"Saya hanya memberikan saran untuk kebaikan Putri Amerilya di masa depan. Saya hanya tidak ingin putri tunggal Yang Mulia Raja Azvago tumbuh sebagai sosok putri yang angkuh dan tidak beretika." jawab Raja Ruzel.
"Cucu saya akan langsung meminta maaf ketika ia melakukan sesuatu yang salah, dia tidak akan menyangkal atas kesalahan yang telah dibuat. Terkadang orang dewasa pintar mengomentari bagaimana sikap seorang anak namun lupa bagaimana cara untuk berkaca." balas Ibu Suri Sinya dengan tatapan tak suka.
"Sudahlah Amerilya tidak apa apa. Mari kita pergi ayah, bukankah ayah ingin mandi sebelum hari semakin siang." ucap Putri Amerilya, ia langsung menarik tangan Raja Azvago untuk segera pergi dari ruang depan istana utama.
Raja Azvago pasrah saat ditarik oleh putri kecilnya itu, lagipula ia juga tidak tahan mendengar omongan tak bernilai dari Raja Ruzel. Setelah kepergian Putri Amerilya dan Raja Azvago kini yang tersisa hanyalah Ibu Suri Sinya dengan Raja Ruzel.
"Anda bisa melihat sendiri etika buruk dari Putri Amerilya, dia bahkan tidak mengucapkan salam ketika pergi." ucap Raja Ruzel.
"Ajari saja anak anak Anda, biarkan Putri Amerilya menjadi urusan putra saya. Lagipula orang mana yang tidak merasa kesal saat dibicarakan seperti itu tepat di hadapannya? Anda pasti sudah sangat marah atau mungkin mengumpat." jawab Ibu Suri Sinya, setelah mengatakan hal itu Ibu Suri langsung pergi keluar dari istana utama karna ada beberapa hal yang harus dikerjakan.
Raja Ruzel mengumpat di dalam hatinya, bisa bisanya ia dipojokkan oleh pasangan ibu dan anak itu. Lihat saja bagaimana perlakuan Raja Ruzel nanti saat anggota Keluarga Kerajaan Meztano berada di Istana Kerajaan Belgize, ia pasti akan membalas semuanya berkali kali lipat.
Waktu terus berjalan dan hari sudah mulai sore, Putri Arbel membuka matanya perlahan kemudian menatap ke sekitar. Putri Arbel merasa bingung mengapa saat ini ia berada di dalam kamar? bukankah terakhir kali ia berada di halaman depan Istana Kerajaan Meztano untuk melakukan sesuatu, lalu apa yang terjadi?.
"Uh.... mengapa saya tidak mengingat apapun, dan bagaimana bisa saya berakhir di dalam kamar seperti ini." gumam Putri Arbel seperti orang linglung.
Putri Arbel bangkit dari tempat tidurnya, sebelum pergi keluar ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Sang putri masih harus pergi ke Istana Pangeran untuk menemui kedua kakak laki lakinya, entah mengapa Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf tidak kunjung datang untuk menemui sang putri.
Setelah selesai mandi Putri Arbel langsung keluar dari kamarnya, ia berpapasan dengan salah seorang pelayan dari istana putri.
"Permisi, apakah kau tau mengapa saya bisa berada di dalam kamar?. Sebelumnya saya berada di halaman depan namun saat bangun saya berada di dalam kamar." tanya Putri Arbel pada pelayan itu yang ternyata adalah Amena.
Amena yang saat itu sedang membersihkan beberapa pajangan dinding langsung menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Putri Arbel.
"Siang tadi ada beberapa prajurit yang mengantarkan Anda kembali ke istana putri. Saat itu Anda dalam kondisi pingsan, salah seorang prajurit menjelaskan bahwa Anda terjatuh ketika berlari dari halaman depan menuju istana pangeran. Karna tersandung sesuatu akhirnya Anda jatuh dengan benturan yang cukup kencang dan akhirnya pingsan." ucap Amena sembari tersenyum tipis.
"Ah ternyata begitu, terimakasih penjelasannya saya permisi terlebih dahulu." ucap Putri Arbel yang langsung pergi meninggalkan istana putri.
Arbel berjalan dengan santai menuju istana pangeran, setelah berjalan sekitar delapan menit akhirnya ia sampai di depan istana pangeran. Saat Putri Arbel ingin masuk ke dalam, di saat yang bersamaan Pangeran Luxe keluar dari dalam istana dan merekapun saling bertatapan satu sama lain.
"Salam hormat saya pada Pangeran Luxe." ucap Putri Arbel sembari menundukkan kepala.
"Salam saya pada Tuan Putri Arbel. Ada keperluan apa hingga Anda datang ke istana pangeran?." tanya Pangeran Luxe dengan raut wajah bingung.
"Saya datang untuk mencari Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf, apakah mereka ada di dalam. Pagi tadi saya sudah datang kemari untuk mencari mereka namun beberapa prajurit mengatakan bahwa kedua pangeran itu telah pergi sejak pagi dan belum kembali. Saya berpesan pada salah seorang prajurit untuk meminta mereka berdua datang menemui saya jika sudah kembali, namun hingga saat ini mereka belum datang." jelas Putri Arbel pada Pangeran Luxe.
"Sejak tadi pagi saya dan yang lain tidak melihat Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf, dari pihak Kerajaan Belgize yang ada hanyalah Pangeran Geri dan Pangeran Zen. Sepertinya hingga saat ini mereka memang masih belum kembali, jika saya boleh tau kemana kedua pangeran itu pergi?." tanya Pangeran Luxe dengan wajah penasaran.
Putri Arbel terdiam untuk beberapa saat, ia merasa bingung dengan semua ini. Seharusnya pangeran pertama dan pangeran kedua telah kembali dan paling lambat adalah siang tadi namun mengapa hingga hari menjelang malam mereka belum juga kembali?.
"Umm saya juga kurang tau kemana Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf pergi. Mereka hanya mengatakan memiliki beberapa urusan di luar." jawab Putri Argaf dengan terbata bata.
"Saya akan meminta beberapa prajurit untuk mencari keberadaan kedua pangeran itu, saya khawatir jika sesuatu sedang terjadi pada mereka berdua." ucap Pangeran Luxe yang ingin pergi untuk memanggil beberapa prajurit namun tangannya langsung ditahan oleh Putri Arbel.
"Tidak perlu Pangeran Luxe, biarlah masalah ini menjadi urusan kami. Saya permisi terlebih dahulu, sampai jumpa pangeran." pamit sang putri yang langsung pergi meninggalkan teras depan istana pangeran.
Putri Arbel segera pergi menuju ke istana pangeran dan pergi menuju istana utama untuk melaporkan hal ini pada Raja Ruzel. Pangeran Luxe menyeringai sembari melihat ke arah kepergian Putri Arbel.
"Dimana kalian akan mencari kedua pangeran itu, berurusan dengan Keluarga Kerajaan Meztano bukanlah hal yang mudah." gumam Pangeran Luxe sembari berjalan masuk ke dalam istana pangeran.
Di sisi lain saat ini Raja Azvago dan Putri Amerilya sedang berada di sebuah pasar yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan Istana Kerajaan Meztano, sore ini sang raja memang berniat untuk mengajak jalan jalan putri kecilnya itu.
"Ayah, Amerilya ingin itu." ucap Putri Amerilya sembari menunjuk ke arah penjual manisan buah. Putri Amerilya tergiur dengan manisan buah apel dan strawberry yang di tusuk memanjang.
"Salam hormat saya pada Yang Mulia Raja Azvago dan Tuan Putri Amerilya, silahkan memilih manisan apa yang putri inginkan?." tanya sang penjual manisan buah dengan senyuman ramah.
"Tolong ambilkan Dua tusuk manisan apel, dan dua tusuk manisan strawberry. Sisanya tolong antara ke istana, katakan pada para prajurit penjaga gerbang utama bahwa semua ini pesanan saya." ucap Raja Azvago sembari memberikan empat puluh lima keping koin emas pada penjual manisan buah itu.
"Terimakasih banyak Yang Mulia Raja, saya akan segera pergi untuk mengantarkan pesanan Anda. Sampai jumpai." ucap sang penjual manisan buah, ia segera membungkus semua manisan yang tersisa dan pergi menuju Istana Kerajaan Meztano.
Mata Putri Amerilya bersinar dengan cerah menatap empat tusuk manisan buah yang ada di tangannya, Raja Azvago kembali mengajak putri kecilnya itu untuk berkeliling di sekitar pasar dan membeli barang ataupun makan yang diinginkan oleh Putri Amerilya. Setelah satu jam berada di sana Raja Azvago memutuskan untuk kembali ke istana karna sebentar lagi jamuan makan malam penutup akan segera dilakukan.
Di sisi lain saat ini Putri Arbel dan Raja Ruzel sedang kebingungan memikirkan kemana Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf pergi, mungkinkah telah terjadi sesuatu pada mereka ketika sedang mencari markas para pembunuh bayaran?.
"Bagaimana ini ayah, saya khawatir jika mereka diculik ataupun dilukai oleh seseorang ketika sedang dalam perjalanan." ucap Putri Arbel dengan raut wajah cemas.
"Ayah juga tidak mengerti mengapa semuanya menjadi seperti ini? mungkinkah rencana kita telah diketahui oleh pihak Kerajaan Meztano?." tanya Raja Ruzel.
"Itu tidak mungkin ayah, malam itu saya sangat yakin tidak ada siapapun di sana." ucap Putri Arbel dengan penuh keyakinan.
"Lalu apa yang terjadi pada kedua kakak laki laki mu itu?." ucap Raja Ruzel yang malah bertanya pada putrinya.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.