PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Kesempatan


Karena Riana Marques tak ingin menjawab pertanyaan dari Yang Mulia Raja Azvago meski ia sudah di siksa sedemikan rupa akhir Raja Azvago meminta salah seorang prajurit untuk memenggal kepala wanita itu. Riana Marques yang tadinya sangat yakin jika Raja Azvago tak akan membunuhnya dengan cepat karena masih memerlukan informasi darinya kini merasa ketakutan.


"Jangan lakukan itu Yang Mulia Raja Azvago, saya akan mengatakan semuanya." ucap Riana Marques yang kini memohon untuk diampuni nyawanya oleh Raja Azvago.


"Penggal kepala wanita ini karna saya tak ingin mendengar apapun lagi dari mulut busuknya itu." perintah Raja Azvago dengan tegas.


Seorang prajurit mendekati Riana Marques kemudian mengangkat pedang dengan tinggi, beberapa saat setelahnya kepala Riana Marques telah terpisah dari badan. Bristo Marques dan Ciela Marques hanya bisa memejamkan mata mereka saat prajurit itu memenggal kepala sang ibu, Ciela Marques sangat ingin mengatakan semua hal yang ia ketahui tentang pemberontakan kali ini dan siapa dalang dibalik semuanya namun ia tak bisa melakukan semua itu karna lidahnya sudah terputus.


"Bagaimana dengan kalian berdua? apakah kalian ingin mengatakan apa yang sebenernya terjadi." tanya Raja Azvago pada kedua anak Riana Marques.


Bristo Marques hanya diam karna ia tak mengetahui banyak mengenai pemberontakan yang melibatkan keluarganya, pemuda itu hanya diminta untuk memimpin para prajurit yang ingin menerobos masuk Istana Kerajaan Meztano saat ekseskusi pada sang ayah dilakukan. Di sisi lain Ciela Marques mengangguk kan kepalanya dengan semangat, ia mengetahui banyak hal mengenai pemberontakan itu karna sering menguping pembicaraan orang orang yang ada di Kediaman Duke Marques. Ciela Marques bahkan pernah memergoki sang ayah berbicara dengan seseorang yang sangat asing baginya, orang itu menyusun rencana pemberontakan yang dilakukan selama ini.


"Nona mengetahui banyak hal mengenai Pemberontakan kali ini?." tanya Raja Azvago pada Nona Muda Ciela Marques, dan dengan cepat gadis itu menganggukkan kepalanya.


"Bukankah saat ini Anda tak bisa berbicara dengan jelas? bagaimana cara Anda menjelaskannya pada saya?." tanya Raja Azvago yang sedang mempertimbangkan apakah ia harus memberi kesempatan pada gadis itu atau membunuhnya agar bernasib sama dengan sang ibu.


Ciela Marques membuat gerakan tubuh seperti ia sedang menulis, ia memberitahukan pada Raja Azvago bahwa ia bisa mengatakan semua yang ia ketahui mengenai pemberontakan itu melalui sebuah tulisan. Raja Azvago tersenyum miring saat melihat nona dari Kediaman Marques itu masih memiliki otak yang cerdas untuk menyelamatkan hidupnya di saat saat seperti ini.


"Bawa Nona Ciela Marques ruangan yang ada di dekat ruang kerja saya, beri ia makanan dan minuman serta kertas dan pena untuk menulis semua yang ia ketahui mengenai pemberontakan kali ini. Siapkan satu pelayan di ruangan itu, dan letakkan beberapa prajurit untuk berjaga di sekitarnya." ucap Raja Azvago yang sudah membuat keputusan untuk memberi sebuah kesempatan pada Ciela Marques untuk menebus nyawanya.


"Bagaimana dengan Tuan Muda Bristo Marques?." tanya seorang prajurit mengenai nasib anak laki laki dari Kediaman Duke Marques itu.


"Bunuh saja karna saya sudah tak membutuhkan nya lagi." ucap Raja Azvago kemudian pergi meninggalkan ruang eksekusi.


Ciela Marques dibawa pergi oleh beberapa prajurit dari ruangan itu sedangkan Pangeran Mixo masih di sana untuk mengawasi eksekusi mati untuk Bristo Marques.


"Jangan bunuh saya Pangeran Mixo, saya tak mengetahui apapun tentang rencana pemberontakan ini. Saya hanya diminta oleh kepala pengurus rumah untuk memimpin prajurit khusus Kediaman Duke Marques untuk menerobos masuk ke dalam istana Kerajaan Meztano." ucap Bristo Marques, pemuda itu memohon belas kasih dari sang pangeran. Ia sangat berharap Pangeran Mixo masih memiliki hati nurani tak seperti ayahnya yang sangat kejam itu.


Pangeran Mixo tak mengatakan apapun pada Bristo Marques, sang pangeran hanya membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar kemudian ia menganggukkan kepalanya sebagai pertanda bahwa Bristo Marques akan tetap dipenggal. Setelah mendapat kode dari Pangeran Mixo akhirnya beberapa prajurit memegangi tubuh Bristo Marques sedangkan seorang prajurit bersiap memenggal kepala pemuda itu. Dalam hitungan detik Bristo Marques telah kehilangan nyawanya dalam kondisi kepala yang terpenggal. Kini Pangeran Mixo berjalan keluar dari ruang eksekusi, ia ingin tau bagaimana reaksi Putri Amerilya saat mendengar bahwa sang ayah memberi kesempatan pada Ciela Marques untuk menyelamatkan hidupnya.


Di sisi lain saat ini Putri Amerilya masih tertidur dengan lelap walqu hari sudah mulai siang, anak perempuan itu terlihat sangat lelah. Di sebelah kamar Putri Amerilya ada Nona Ersa Rucixara dan Nona Alxin Rucixara yang bersiap untuk pulang bersama ayah dan kakak laki laki mereka, hari ini adalah hari terakhir bagi Keluarga Duke Rucixara untuk tinggal di Istana Kerajaan Meztano. Mungkin mereka akan datang lagi saat ulang tahun Putri Amerilya yang tinggal menghitung hari, dan saat ini semua orang sedang sibuk mempersiapkan hadiah untuk ulang tahun Putri Amerilya nanti.


"Selama siang Nona Ersa Rucixara dan Nona Alxin Rucixara, kalian ingin kembali sekarang?." tanya Liliana dengan senyuman lebar pada kedua nona muda dari Kediaman Duke Rucixara itu.


"Selamat siang juga Liliana, kami harus kembali sekarang jika tidak ayah akan meninggalkan kami." ucap Ersa Rucixara dengan suara pelan, ia tak ingin mengganggu Putri Amerilya yang masih lelap dalam tidurnya.


"Saya akan membangunkan Putri Amerilya, tuan putri ingin mengantar kepergian kalian." ucap Liliana yang langsung mengetuk pintu kamar Putri Amerilya dengan cukup kencang. Ersa Rucixara dan Alxin Rucixara saling bertatapan satu sama lain, mereka merasa tak enak hati jika sang pelayan membangunkan Putri Amerilya dengan paksa hanya karna mereka berdua ingin kembali sekarang.


Putri Amerilya yang saat itu sedang tertidur dengan pulas langsung terbangun karna mendengar suara ketukan pintu yang cukup kencang dari luar kamarnya. Putri Amerilya langsung turun dari tempat tidur dan langsung membuka pintu kamar, ia menatap ke arah Liliana dengan wajah khas orang bangun tidur.


"Ada apa Liliana?." tanya Putri Amerilya dengan mata yang masih sedikit terpejam.


"Tunggu sebentar." ucap Putri Amerilya yang langsung menutup pintu kamarnya dengan rapat. Sang putri langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya kemudian ia menggunakan gaun batu berwarna merah muda. Setelah selesai berdandan Putri Amerilya langsung keluar dari kamar dengan senyuman cerah.


Putri Amerilya berjalan menghampiri Ersa Rucixara dan Alxin Rucixara yang saat ini menunggunya di luar istana putri, mereka menunggu kehadiran Putri Amerilya sesuai instruksi si pelayan tadi. Kedua putri Duke Moren Rucixara itu tersenyum saat melihat Putri Amerilya keluar dari istana putri dengan senyuman ceria.


"Maaf karna membuat kalian menunggu lama." ucap Putri Amerilya dengan senyuman tak bersalahnya. Ia sengaja mandi dan berganti pakaian karan tak ingin terlihat lusuh saat mengantar kepulangan kedua teman barunya itu.


"Kami tak keberatan jika harus menunggu Tuan Putri Amerilya jadi Anda jangan merasa bersalah seperti ini." jawab Alxin Rucixara.


Ketiganya berjalan menuju gerbang depan Istana Kerajaan Meztano, di sana sudah ada Tuan Moren Rucixara dan kedua anak laki lakinya beserta anggota Keluarga Kerajaan Meztano yang lain. Pangeran Zico berlari ke arah Putri Amerilya kemudian memeluk adik perempuannya itu dengan erat, para pengeran tak memiliki banyak waktu untuk bermain dengan Putri Amerilya akhir akhir ini karna terlalu banyak masalah yang terjadi di dalam maupun di luar Istana Kerajaan Meztano.


"Amerilya kesulitan bernafas." ucap Putri Amerilya karna pelukan Pangeran Zico terlalu kencang.


"Hehehe maaf adikku." jawab Pangeran Zico yang langsung melonggarkan pelukannya.


Ersa Rucixara dan Alxin Rucixara bergabung dengan anggota keluarga mereka yang lain, kedua gadis itu merasa sedih karna harus pergi meninggalkan Putri Amerilya yang sangat lucu dan menggemaskan. Tuan Duke Moren Rucixara berpamitan pada Raja Azvago dan Ratu Zivaya, ia berterimakasih karna diperlakukan dengan baik selama tinggal di dalam istana.


"Beberapa hari lagi kalian akan datang ke Istana Kerajaan Meztano untuk merayakan ulang tahun Putri Amerilya jadi jangan terlalu sedih." ucap Ratu Zivaya pada kedua anak perempuan Duke Moren Rucixara.


"Kami seperti memiliki adik kecil saat tinggal di istana putri bersama dengan Putri Amerilya. Karna itu kami merasa sedih ketika harus kembali ke Kediaman Duke Rucixara." jawab Alxin Rucixara secara terang terangan. Gadis itu menunjukkan ekspresi seperti ia lebih senang tinggal di istana putri bersama Putri Amerilya daripada kembali ke rumahnya sendiri.


"Bagaimana jika ayah menjual mu saja pada pihak Kerajaan Meztano." ucap Duke Moren Rucixara dengan tatapan datar, ia tak menyangka bahwa anak terakhinya itu merasa tak betah tinggal di rumah.


"Dia hanya akan merepotkan Putri Amerilya. Sebaiknya ayah membawanya kembali kerumah." ucap Rui Rucixara dengan tawa kecil.


"Sudahlah kalian bisa datang kapanpun untuk menjenguk Tuan Putri Amerilya, jangan lupa untuk membawakan makanan manis untuknya." ucap Pangeran Mixo yang ikut bergabung dalam candaan itu.


"Tuan Putri Amerilya sangat marah saat Pangeran Mixo membawanya pergi saat ia sedang makan kue dengan lahap." ucap Ruxi Rucixara yang masih mengingat kejadian malam itu.


"Kue dan makanan manis adalah yang terbaik." jawab Putri Amerilya sembari mengacungkan kedua jempolnya.


"Bagaimana adikku bisa makan dengan lahap setelah kejadian semengerikan itu, apa kau hanya peduli pada makanan saja?." tanya Pangeran Mixo dengan senyuman lebar di wajah tampannya itu.


"Makanan nomer satu." jawab Putri Amerilya dengan wajah polos dan juga nada bicara yang lucu.


Semua orang yang sedang berada di halaman depan Istana Kerajaan Meztano tertawa setelah melihat ekspresi sang putri, entah bagaimana jadinya Istana Kerajaan Meztano jika Putri Amerilya tak bisa bertahan dari kutukan itu. Di sisi lain saat ini Ciela Marques sedang mengintip dari jendela ruangannya, ia begitu membenci semua ekspresi dari Putri Amerilya.


"Lihat saja, saya akan merebut semua kebahagiaan milikmu." batin Ciela Marques dengan tatapan penuh kebencian.


Hai hai semua author balik lagi nih dengan novel Putri Amerilya. Gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.