
Putri Lena terdiam membeku, ia tak mengetahui jika sang ayah dan Yang Mulia Raja Azvago sudah berada di belakangnya sedari tadi. Kini tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Putri Liene untuk membela sang adik karna ia juga akan mendapat hukuman dari ayahnya. Saat Putri Liene dan Putri Lena sedang kebingungan memikirkan cara untuk terlepas dari masalah ini, Putri Amerilya tersenyum miring dengan tatapan tajam, tak akan ada akhir yang baik untuk orang orang yang berani mengusik kehidupannya.
"Saya minta maaf atas sikap kurang ajar dari Putri Lena yang telah mengambil pedang milik Anda. Saya kembalikan pedang ini pada Tuan Putri Amerilya, saya mohon untuk masalah ini jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya." ucap Raja Alenzie, ia mengambil paksa pedang yang ada di tangan Putri Lena dan memberikannya pada Tuan Putri Amerilya. Raja Alenzie juga berharap semoga Putri Amerilya dan Keluarga Kerajaan Meztano yang lain tak menceritakan masalah ini pada pihak luar.
Putri Amerilya menatap ke arah Raja Alenzie, ia mengambil kembali pedang miliknya itu. Meskipun pedangnya telah kembali ke tangannya, Putri Amerilya belum puas memberikan pelajaran pada Putri Liene dan Putri Lena. Keduanya memiliki pemikiran yang sangat sempit, namun yang paling parah adalah Putri Liene membela tindakan adiknya meskipun sudah terbukti bersalah. Sebagai seorang anak perempuan yang sudah menginjak usia remaja seharusnya ia sudah bisa membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk, Putri Liene juga harus bisa memberikan contoh yang baik pada adik adiknya.
"Ayah, saya ingin bertanya sesuatu." ucap Putri Amerilya dengan wajah polos dan senyuman manis. Ekspresi anak perempuan itu membuat orang lain tak akan percaya dengan kekejaman yang ia miliki.
"Silahkan menanyaka apapun yang ingin kau tanyakan putriku." ucap Raja Azvago sembari melihat ke arah Putri Amerilya dengan tatapan hangat.
"Saya pernah mendengar dari beberapa pelayan yang ada di istana utama, Pangeran Mixo akan dijodohkan dengan putri dari Kerajaan Antez. Apakah hal itu benar ayah?." tanya Putri Amerilya dengan wajah polos meski matanya menunjukkan bahwa ia tak menyukai hal itu.
Raja Azvago diam beberapa saat, ia dan Raja Alenzie sudah membicarakan hal ini beberapa tahun yang lalu namun masih dipertimbangkan oleh sekarang oleh Yang Mulia Raja Azvago. Sebenarnya yang mengajukan lamaran bukanlah pihak Kerajaan Meztano melainkan Kerajaan Antez, Putri Liene sendiri yang meminta ayahnya untuk meminang Pangeran Mixo karna ia sangat tertarik dengan ketampanan dan cara berfikir sang pangeran.
"Beberapa tahun yang lalu Putri Liene mengirimkan surat lamaran untuk Pangeran Mixo, hingga saat ini ayah dan kakak pertama mu belum mengambil keputusan apapun mengenai lamaran itu." jawab Raja Azvago dengan jujur tanpa menutupi apapun dari Putri Amerilya.
Putri Amerilya bisa bernafas sedikit lega, untunglah Pangeran Mixo belum melaksanakan prosesi lamaran dengan Putri Liene. Entah mengapa perasaan Putri Liene menjadi tidak enak ketika mendengar Putri Amerilya menanyakan soal lamaran itu, mungkinkah sang putri kecil akan meminta pada Pangeran Mixo untuk menolaknya?.
"Sebaiknya Pangeran Mixo tak menerima lamaran itu." ucap Putri Amerilya yang membuat Raja Alenzie, Putri Liene, dan Putri Lena terkejut bukan main.
Semua penduduk Kerajaan Alenzie sudah mengetahui berita bahwa Putri Liene akan menikah dengan Pangeran Mixo tahun depan, jika lamaran Putri Liene tiba tiba ditolak seperti ini maka reputasinya akan hancur di mata publik. Raja Alenzie berusaha memikirkan sebuah cara untuk membujuk Putri Amerilya agar tak meminta Pangeran Mixo menolak lamaran itu.
"Alasan apa yang membuat Tuan Putri Amerilya tak setuju jika Pangeran Mixo menikah dengan Putri Liene?." tanya Raja Alenzie dengan suara lembut meski saat ini ia merasa sedikit kesal.
"Putri Liene secara terang terangan membela adiknya yang terbukti bersalah, ia juga berbicara dengan sangat kasar pada saya. Jika Pangeran Mixo sampai menikah dengan Putri Liene saya khawatir sikap buruk dari sang putri akan menurun pada anak anaknya nanti. Lahir sebagai anggota Keluarga Kerajaan artinya dia harus bisa menjaga sikap dan etika dengan baik, ditambah saat ini Putri Liene sudah berusia tujuh belas tahun. Saya ingin kakak pertama saya yang suatu hari nanti akan duduk di tahta Kerajaan Meztano mendapatkan calon istri yang baik, dan bisa memainkan peran seorang Ratu yang adil dan menyayangi rakyatnya." jelas Putri Amerilya dengan panjang lebar. Alasan anak perempuan itu sangat masuk akal hingga Raja Alenzie langsung terdiam.
"Jadi Anda menilai bahwa saya tak pantas bersanding dengan Pangeran Mixo? bagaimana bisa Anda mengatur perasaan sang pangeran hanya karna adalah adiknya?." tanya Putri Liene yang tak akan bisa menerima pernyataan dari Putri Amerilya. Sepertinya Putri Liene sangat yakin bahwa Pangeran Mixo juga memiliki perasaan padanya, Putri Liene memiliki paras yang cantik hingga bisa memikat banyak putra bangsawan karna itu dia sangat percaya diri.
"Pangeran memiliki perasaan pada Tuan Putri Liene?." tanya Putri Amerilya secara terang terangan pada Pangeran Mixo. Masalah lamaran yang diajukan oleh Kerajaan Alenzie harus selesai saat ini juga.
"Dari awal surat lamaran itu datang saya sudah meminta ayah untuk mengirim surat penolakan, Kerajaan Antez terlalu terburu buru hingga ingin saya menikah dengan Putri Liene saat usia saya menginjak sembilan belas tahun. Saya adalah pangeran tertua dan harus mencari pasangan yang bisa mengerti saya dan tugas tugas saya nantinya, selain itu Putri Liene terlalu kasar dan tak bisa memberikan arahan yang baik pada adiknya. Dengan itu saya Pangeran Mixo menolak lamaran yang diajukan oleh Putri Liene." jawab Pangeran Mixo dengan tegas, setelah sekian lama menunggu waktu yang tepat akhirnya ia bisa mengungkapkannya. Pangeran Mixo melihat ke arah Putri Amerilya dengan senyuman lebar, berkat adik perempuannya itu ia terbebas dari beban yang cukup berat.
"Saya akan mengirimkan surat penolakan dalam beberapa hari, sebaiknya Anda mengajari kedua putri Anda dengan lebih baik lagi." ucap Yang Mulia Raja Azvago, ia tak mempermasalahkan keputusan dari Pangeran Mixo yang menolak lamaran itu.
"Hah, baiklah jika begitu. Semua ini juga kesalahan kami yang terlalu terburu buru mengajukan lamaran padahal Pangeran Mixo masih sangat muda. Saya akan mendidik kedua putri saya dengan lebih baik lagi nantinya, karna masalah ini telah selesai saya izin untuk kembali ke kamar. Kalian berdua tolong jaga sikap dengan baik selama berada di Kerajaan Meztano." ucap Raja Alenzie kemudian pergi dari istana putri dengan raut wajah kecewa. Kerajaan Antez akan menanggung rasa malu yang sangat besar karna lamarannya ditolak oleh pihak Kerajaan Meztano.
Yang Mulia Raja Azvago berjongkok di depan Putri Amerilya, ia mengusap rambut putrinya itu dengan pelan kemudian mencium kedua pipi putrinya. Raja Azvago pamit karna ia harus menyelesaikan beberapa tugasnya agar besok saat pesta ulang tahun dilangsungkan ia tak merasa pusing karna masih ada tumpukan dokumen.
"Ayah pergi terlebih dahulu, jika terjadi sesuatu seperti ini lagi dan kau tak bisa menyelesaikannya beritahu ayah ya." ucap Raja Azvago dengan kata kata yang terdengar sangat manis hingga membuat Putri Lena merasa iri dengan Putri Amerilya. Mengapa anak perempuan itu mendapatkan banyak kasih sayang dari seorang ayah sedangkan ia selalu dimarahin seperti tadi.
"Bukankah Tuan Putri Amerilya memang sangat suka menyiksa orang yang telah mengusik kehidupan Anda." ucap Kesatria Richal dengan senyuman tipis.
"Ya saya memang melakukan hal itu namun saya tak akan memenggal kepala seseorang tanpa mempertimbangkan masalah apa yang akan terjadi setelahnya." jawab Putri Amerilya dengan senyuman lebar.
"Jaga dirimu baik baik, ayah pergi sekarang." ucap Raja Azvago yang mengajak Kesatria Richal untuk pergi dari istana putri.
Setelah kepergian Yang Mulia Raja Azvago dan Kesatria Richal, kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya izin untuk kembali ke dapur karna mereka perlu menyiapkan hidangan untuk makan malam nanti. Kini tinggal Putri Amerilya, Pangeran Mixo, serta kedua putri dari Kerajaan Alenzie. Putri Amerilya melihat sorot mata penuh kebencian yang ditujukan untuknya dari kedua putri itu, meskipun mendapat musuh baru Putri Amerilya tak mempermasalahkan hal itu, lebih baik ia dimusuhi oleh manusia sampah seperti kedua putri itu daripada harus berpura pura baik dan menjadi teman dekat keduanya.
"Apakah Pangeran Mixo tak ingin mempertimbangkan keputusan Anda lagi?" tanya Putri Liene dengan tatapan penuh harap. Ia sangat menyukai Pangeran Mixo sejak pertemuan pertama mereka saat pesta yang diadakan Raja Azvago empat tahun yang lalu, Putri Liene mengirimkan surat lamaran saat Ratu Zivaya sedang mengandung Putri Amerilya.
Saat Pangeran Mixo ingin menjawab pertanyaan dari Putri Liene tiba tiba saja Pangeran Luxe datang untuk mencarinya. Pandangan Putri Liene tiba tiba teralihkan pada Pangeran Luxe, seperti sang putri jatuh hati kembali pada salah satu putra dari Yang Mulia Raja Azvago. Putri Amerilya menyadari tatapan Putri Liene pada Pangeran Luxe sangatlah tidak biasa, Putri Amerilya menatap ke arah Putri Liene dengan tatapan tajam.
"Saya juga tak akan setuju jika Anda memiliki niatan untuk mengirim lamaran pada Pangeran Luxe." ucap Putri Amerilya secara tiba tiba, sontak Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe menoleh dan melihat ke arah Putri Liene.
"Pangeran Luxe bukanlah pewaris tahta, mengapa Tuan Putri Amerilya masih belum menyetujuinya?." tanya Putri Lena dengan tatapan bingung, jika kakak perempuannya tak bisa menikah dengan Pangeran Mixo setidaknya kakaknya bisa menikahi dengan Pangeran Luxe.
"Karna saya tak ingin memiliki kakak ipar seperti Putri Liene, apa kalian tak terima?. Ah saya tak peduli dengan hal itu, seharusnya Putri Liene tak meninggalkan kesan buruk pada saya jika ingin menikah dengan salah satu Pangeran dari Kerajaan Meztano." ucap Putri Amerilya dengan ekspresi tenang, ia merasa ucapannya itu memang benar.
"Pangeran Luxe tak memiliki kesan baik saat melihat saya?." tanya Putri Liene dengan wajah memelas untuk menarik rasa simpati dari Pangeran Luxe.
"Saya hanya akan menikah dengan gadis yang bisa memperlakukan adik perempuan saya dengan baik, seperti Putri Liene bukanlah gadis itu." jawab Pangeran Luxe.
Putri Liene merasa sangat malu karna perasaannya sudah ditolak oleh dua pangeran dari Kerajaan Meztano, akhirnya sang putri pergi dan masuk ke dalam kamar yang telah ia pilih tanpa mengatakan apapun. Putri Lena sangat membenci Putri Amerilya setelah melihat putri kecil itu menghancurkan perasaan kakak perempuannya.
"Saat tumbuh menjadi seorang remaja nanti, akan saya pastikan tak ada yang meminang mu!." ucap Putri Lena dengan amarah yang meluap luap.
"Anda ingin menghancurkan reputasi saya? maka saya bisa menghancurkan reputasi Anda sekarang juga. Apakah Putri Lena ingin mencobanya?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan serius, semua kelakuan tak pantas dari Putri Lena akan menyebabkan secara cepat di wilayah Kerajaan Meztano dan lama kelamaan akan terdengar sampai ke wilayah kerajaan lainnya.
"Argh kau sangat menyebalkan!." bentak Putri Lena yang langsung masuk ke dalam kamar secara acak tanpa memilihnya terlebih dahulu.
"Kau sungguh hebat adikku, untunglah kakakmu yang tampan ini tak jadi menikah dengan gadis kasar seperti Putri Liene." ucap Pangeran Mixo dengan dua jempol tangan yang terangkat ke atas, Pangeran Mixo sangat kagum denhan keberanian yang dimiliki oleh Putri Amerilya.
"Sepertinya kami harus segera pergi Tuan Putri kecil, ada beberapa barang yang harus kami beli untuk persiapan pesta mu nanti. Sampai jumpa adikku yang cantik." ucap Pangeran Luxe yang langsung menarik tangan Pangeran Mixo untuk pergi dari istana putri. Putri Amerilya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah dari kedua pangeran itu.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.