PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Rencana Busuk


"Karna ayah sudah ada di sini kakak pamit untuk mengerjakan beberapa tugas, sampai jumpa lagi putri kecil." pamit Pangeran Mixo sembari mencium kening Putri Amerilya dengan penuh kasih sayang .


"Saya permisi ayah, sampai jumpa." ucap Pangeran Mixo yang tidak lupa berpamitan pada Yang Mulia Raja Azvago.


Setelah itu Pangeran Mixo keluar dari kamar sang putri dan bergegas pergi menuju istana pangeran. Saat ini di kamar Putri Amerilya yang tersisa hanyalah Raja Azvago dan sang putri kecil saja, keduanya saling bertatapan satu sama lain hingga sang putri naik ke atas tempat tidurnya untuk beristirahat.


"Kau sudah mengantuk putri ku?." tanya Raja Azvago.


"Umm.. Amerilya sudah mengantuk. Selamat malam ayah, sebaiknya ayah segera tidur karna masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan besok pagi." ucap Putri Amerilya dengan senyuman manis.


"Baiklah ayah akan tidur sekarang. Selamat malam putri ayah, mimpi indah sayang." ucap Raja Azvago.


Sang raja merebahkan tubuhnya di samping sang putri, ia memeluk Putri Amerilya penuh dengan kasih sayang dan penyesalan yang menyelimuti hatinya. Hingga saat ini Raja Azvago masih merasa bahwa ia bukanlah sosok ayah yang baik untuk anak perempuannya.


Putri Amerilya tertidur lelap sedang Raja Azvago masih memandang ke arah wajah imut putrinya itu, perlahan lahan kantuk pun datang dan sang raja tidur dengan lelap di samping sang putri.


"Argh sialan!! walaupun wajahnya sangat lucu dan menggemaskan namun ia sangat mirip seperti seekor rubah licik." teriak Raja Ruzel dengan kekesalan yang memenuhi otaknya.


Saat ini Raja Ruzel sedang berada di halaman belakang istana utama bersama dengan dua orang pangeran dan seorang putri. Ketiga anak Raja Ruzel hanya bisa memandang ke arah ayah mereka dengan tatapan bingung, apa yang telah dilakukan oleh Putri Amerilya pada ayah mereka hingga semarah itu?.


"Apa yang membuat mu begitu marah ayah?. Saat ini Tuan Putri Amerilya sedang sakit jadi tidak mungkin dia berkeliaran untuk mencari cari orang yang ingin membuat kerusuhan." ucap Putri Arbel. Sang putri tidak bisa memahami suasana hati dari ayahnya yang kerap kali berubah ubah.


Saat pertama kali bertemu dengan Putri Amerilya, Raja Ruzel jatuh cinta dengan wajah lucu dan tatapan polos sang putri. Akan tetapi setelah mengenal sosok Putri Amerilya lebih jauh akhirnya Raja Ruzel mengerti bahwa Tuan Putri kecil itu bukanlah lawan yang mudah. Sang putri memiliki otak yang pintar setelah pemikiran cerdas, kerap kali ia menyadari rencana buruk seseorang sebelum orang lain menyadarinya.


"Ck karna putri kecil itu ayah harus menanggung malu ketika masuk ke dalam istana utama. Beberapa waktu yang lalu ayah berencana untuk menyusup masuk ke kamar sang putri, semuanya berjalan baik di awal dan ayah berhasil masuk namun Putri Amerilya tidak ada di atas tempat tidurnya. Setelah itu terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, ternyata seorang pelayan ingin masuk ke dalam dan ayah mendengar Putri Amerilya baru kembali dari kamar mandi. Dengan segera ayah keluar dari kamar itu." ucap Raja Ruzel yang berhenti bercerita untuk mengambil nafas beberapa saat.


"Lalu apa yang terjadi pada ayah setelah itu?." tanya Pangeran Nanzo dengan tatapan penuh tanda tanya. Tidak mungkin pelarian ayahnya berjalan mulus, jika sang ayah sampai marah seperti ini.


"Apakah pelayan itu memergoki ayah?." tanya Putri Arbel.


"Sepertinya Putri Amerilya melakukan sesuatu pada ayah, tapi apa yang dia lakukan?." tanya Pangeran Argaf.


"Setelah itu ayah mendengar Putri Amerilya memerintahkan pelayannya itu untuk membuang air kotor yang ada di kamar mandi. Ayah tak menyangka sang pelayan akan membuangnya di bawah jendela tempat ayah bersembunyi. Hal yang mengejutkan adalah air yang di buang bukankah air kotor melainkan air es yang sangat dingin." jelas Raja Ruzel dengan wajah memerah. Ia sangat ingin membalas Putri Amerilya dan pelayannya itu.


Putri Arbel berusaha menahan tawanya yang hampir pecah, jadi ayahnya yang sudah berumur puluhan tahun itu dikerjai oleh seorang anak perempuan berusia tiga tahun? sungguh hal yang lucu dan memalukan.


"Lalu ayah kembali ke istana utama dalam kondisi basah kuyup? astaga itu sungguh memalukan. Mungkin saat ini ayah sedang menjadi bahan perbincangan diantara para pelayan." ucap Pangeran Argaf dengan suara tawa pelan.


"Sudahlah kalian bertiga jangan meledek ayah lagi. Bantu ayah untuk memikirkan sebuah cara agar biasa menculik Tuan Putri Amerilya. Waktu kita hanya sampai besok malam karna Yang Mulia Raja Azvago akan segera mengadakan pesta jamuan makan malam untuk penutupan." gerutu Raja Ruzel. Mereka tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan sebuah rencana yang bagus.


Saat Raja Ruzel dan ketiga anaknya sedang berdiskusi mengenai rencana penculikan Putri Amerilya, tanpa mereka sadari Kesatria Richal ingin melintas di halaman belakang. Sang kesatria langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar suara beberapa orang yang sedang bercakap cakap di halaman tersebut, dengan segera Kesatria Richal bersembunyi di balik dinding dan menguping pembicaraan mereka.


"Mungkin kita bisa menaburkan racun atau bubuk yang membuat semua orang di jamuan makan malam itu tertidur, dengan begitu akan sangat mudah menculik Putri Amerilya." ucap Pangeran Nanzo dengan saran yang cukup sulit untuk dilakukan.


"Kita akan kesulitan melakukan hal itu, para pelayan dan prajurit dari istana utama sangat sulit untuk disogok meski kita memberi mereka uang dalam jumlah banyak." jawab Putri Arbel yang tidak setuju dengan saran pangeran pertama yang terlalu beresiko itu.


"Apa kau dekat dengan Tuan Putri Amerilya selama tinggal di istana putri?." tanya Pangeran Argaf pada Putri Arbel.


"Hubungan saya dengan Tuan Putri Amerilya tidaklah dekat, sangat sulit untuk mencuri perhatian putri kecil itu. Diantara para tamu kerajaan tetangga, Putri Amerilya sangat dekat dengan para putri dari Kerajaan Monzxo terutama Putri Alexsi." jawab Putri Arbel.


"Mungkin kita bisa memancing Putri Amerilya keluar dari istana putri dengan sesuatu, tapi apa?." tanya Raja Ruzel yang masih kebingungan.


"Jika kita pergi dari gerbang utama maka beberapa prajurit akan langsung melaporkan pada Raja Azvago, rencana kita bisa gagal jika pihak kerajaan menaruh rasa curiga." ucap Raja Ruzel dengan banyak pertimbangan sebelum memutuskan trik apa yang akan mereka gunakan.


"Saya ataupun Pangeran Argaf bisa pergi melewati gerbang samping yang ada di dekat istana pangeran. Biasa penjagaan di sana sangatlah minim karena gerbang itu tidak bisa dibuka." ucap Pangeran Nanzo.


"Itu benar ayah, istana pangeran tidak seketat istana putri dalam hal penjagaan." ucap Pangeran Argaf.


"Baiklah jika begitu kita akan menggunakan saran dari Putri Arbel dalam misi kali ini. Jika diantara kalian mengalami kendala segera melapor pada ayah, kita harus cepat sebelum terlambat. Sekarang kalian bisa kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, tidak baik terlalu lama berada di halaman istana kerajaan lain apalagi saat malam hari seperti ini." ucap Raja Ruzel. Sang raja meminta pada putra dan putrinya untuk kembali ke kamar mereka.


"Saya pamit terlebih dahulu ayah, saya khawatir para pelayan di istana putri belum tidur dan akan memergoki saya nanti." ucap Putri Arbel sembari membungkukkan badan kemudian ia bergegas pergi menuju istana putri.


"Kami berdua juga pamit ayah. Akan sangat berbahaya jika ada prajurit ataupun Kesatria yang mendengar pembicaraan kita. Sampai jumpa." ucap Pangeran Nanzo, ia berjalan meninggalkan halaman belakang istana utama menuju istana pangeran, dan di belakangnya ada Pangeran Argaf.


Setelah kepergian ketiga anaknya itu Raja Ruzel memandang ke arah langit beberapa saat setelah itu ia menunjukkan sebuah senyuman yang sangat lebar.


"Setelah ini masa kejayaan Raja Azvago akan berakhir dan wilayah Kerajaan Meztano akan menjadi milik saya." ucap Raja Ruzel dengan percaya diri.


Sebelum pergi meninggalkan halaman belakang, Raja Ruzel sempat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan situasi di sekitarnya. Setelah di rasa aman Raja Ruzel pun segera masuk ke dalam istana utama melalui pintu belakang.


Kesatria Richal yang sedari tadi bersembunyi dan menguping pembicaraan antara Raja Ruzel dan ketiga anaknya itu merasa kesal sekaligus marah. Berani beraninya mereka berencana menculik Putri Amerilya untuk dijadikan sandra agar Raja Azvago bersedia menyerahkan wilayah Kerajaan Meztano pada Kerajaan Belgize.


"Hal ini tidak boleh di biarkan, saya harus segera melapor pada Yang Mulia Ratu Zivaya." ucap Kesatria Richal yang bergegas pergi menuju pintu depan istana utama. Kesatria Richal tidak melapor pada sang raja terlebih dahulu karna ia tau bahwa saat ini Raja Azvago sedang menemani Tuan Putri Amerilya.


Malam itu Kesatria Richal dan Ratu Zivaya berdiskusi cukup panjang untuk menghalangi niat jahat dari anggota keluarga Kerajaan Belgize tanpa tanpa menimbulkan adanya kerusuhan. Setelah menemukan sebuah cara, Ratu Zivaya meminta pada Kesatria Richal untuk melakukan langkah pertama.


Malam semakin larut dan suasana di sekitar Istana Kerajaan Meztano menjadi sangat sepi, yang tersisa hanyalah para prajurit yang bertugas untuk berjaga.


Suara kicauan burung mulai terdengar tandanya pagi telah datang, Putri Amerilya yang masih mengantuk memilih untuk melanjutkan tidurnya meski kondisi di dalam kamar sudah di sinari oleh cahaya matahari. Raja Azvago yang biasanya bangun tepat waktu juga memilih untuk terus menemani putri kesayangannya itu.


Tok tok tok....


Suara pintu kamar Putri Amerilya yang sedang di ketuk oleh Lilian. Cukup lama Lilian menunggu namun tidak ada respon apapun dari dalam.


"Mungkinkah Tuan Putri belum bangun?." gumam Lilian dengan tatapan heran.


Lilian yang tidak ingin mengganggu waktu istirahat putri kecilnya itu memilih untuk pergi dan memberitahukan pada Kesatria Albern. Alasan Lilian ingin membangunkan Putri Amerilya karna sedang di cari oleh Kesatria Albern.


"Maaf Kesatria Albern, saat ini Tuan Putri Amerilya sedang beristirahat dan saya tidak tega untuk membangunkannya." ucap Lilian.


"Baiklah jika begitu, saya akan menunggu di sini hingga Tuan Putri Amerilya bangun." jawab Kesatria Albern yang bisa memahami kondisi Putri Amerilya saat ini.


"Sebenarnya hal apa yang ingin Anda sampaikan pada sang putri hingga bersedia menunggunya hingga bangun?." tanya Lilian dengan wajah curiga. Tidak mungkin wakil ketua anggota Kesatria White Rose bersikeras bertemu dengan Putri Amerilya jika tidak ada hal penting.


"Maaf saya hanya bisa menyampaikannya pada Tuan Putri Amerilya." jawab Kesatria Albern dengan tegas.


"Baiklah jika begitu, saya akan menyiapkan teh serta beberapa camilan untuk menemani Anda menunggu Tuan Putri." ucap Lilian yang bergegas pergi dari ruang depan menuju dapur.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.