PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Rencana Ratu Jeylena


Putri Amerilya berjalan dengan santai menuju dapur istana putri, setelah sampai di sana Liana dan beberapa pelayan yang lain langsung menghampiri Putri Amerilya untuk menanyakan apakah sang putri membutuhkan sesuatu hingga datang ke dapur saat mereka sedang menyiapkan makan malam.


"Salam kami pada Tuan Putri Amerilya, apakah Anda memerlukan sesuatu? kami akan menyiapkannya dengan segera." ucap Liana dan beberapa pelayan lain dengan senyuman hangat.


"Apakah kalian sudah mendapatkan informasi mengenai para Kesatria Black Night, mungkin salah satu dari mereka berasal dari Kerajaan Belgize?." tanya Putri Amerilya, sang putri kecil harus menjalankan rencana dengan sempurna untuk malam ini karna menyangkut keselamatan banyak orang.


Lilian meminta Putri Amerilya untuk menunggu sebentar, pelayan itu berjalan menuju sebuah rak yang ada di dapur kemudian mengambil secarik kertas. Lilian menyerahkan kertas tersebut pada Putri Amerilya, selama penyelidikan berlangsung tidak ada hal mencurigakan mengenali identitas anggota Kesatria Black Night, mungkin saja kekhawatiran Putri Amerilya kali ini terlalu berlebihan.


"Kami telah menyelidiki identitas dan asal usul anggota Kesatria Black Night, tidak ada kejanggalan yang ditemukan. Lebih baik Tuan Putri membacanya sendiri untuk menentukan apakah penilaian kami benar atau tidak." ucap Lilian dengan penuh rasa hormat pada Putri Amerilya.


"Baiklah saya akan membacanya." jawab Putri Amerilya, gadis kecil itu berjalan mendekat ke arah sebuah kursi kemudian naik ke atas kursi itu. Putri Amerilya mulai membaca dari awal mengenai identitas para anggota Kesatria Black Night.


Saat sang putri kecil sibuk membaca para pelayan kembali mengerjakan tugas mereka masing masing, malam ini semua tuan putri dan tamu yang datang ke Istana Kerajaan Meztano akan dijamu dengan baik setelah itu mereka akan menyaksikan pertandingan antara Ratu Zivaya dengan Ratu Jeylena dari Kerajaan Antez. Sebenarnya pertandingan ini tidak diperlukan karna pihak Kerajaan Antez lah yang bersalah namun mereka semua sangat keras kepala.


Saat sedang serius membaca kertas yang ada di tangannya itu, tiba tiba ekspresi Putri Amerilya berubah menjadi serius. Putri Amerilya membaca ulang identitas seorang anggota Kesatria Black Night yang terlihat mencurigakan baginya.


"Saya menemukan orangnya." ucap Putri Amerilya yang membuat kesepuluh pelayan menoleh ke arahnya. Apakah Tuan Putri Amerilya sedang bercanda dengan mereka? bagaimana mungkin mereka melewatkan sesuatu informasi penting yang ada di kertas itu?.


"Siapa pelakunya?." tanya seorang pelayan bernama Juylin dengan rasa penasaran yang menyelimuti hatinya. Sepertinya ia tak salah memilih bekerja untuk Istana Putri dan melayani seorang tuan putri kecil yang sangat luar biasa.


"Kesatria Black Linox." jawab Putri Amerilya dengan tatapan serius, dari semua data data mengenai identitas anggota Kesatria Black Night hanya identitas Kesatria Black Linox saja yang sangat mencurigakan bagi sang putri.


"Mengapa Anda menunjuk Kesatria Black Linox sebagai tersangkanya? kami ingin mendengar penjelasan dari Anda. Sebelum itu saya akan membuat di dinding pembatas agar orang lain tak dapat mendengar pembicaraan kita." ucap Lilian. Wanita itu membaca sebuah mantra dengan sangat cepat hingga muncul beberapa dinding transparan yang melapisi setiap bagian dari dapur istana putri. Kini mereka tak perlu khawatir jika ada pihak lain yang ingin menguping.


"Kesatria Black Linox bergabung dengan anggota Kesatria Black Night sekitar lima tahun yang lalu, perlu digaris bawahi bahwa semua anggota Kesatria Black Night sudah bekerja selama delapan hingga dua belas tahun, saat Kesatria Black Linox bergabung saat itu juga sedang terjadi ketegangan antara Kerajaan Meztano dengan Kerajaan Belgize. Dari situ saya membuat sebuah asumsi, bisa saja Kesatria Black Linox adalah mata mata yang dikirim oleh Kerajaan Belgize untuk melihat perkembangan Kerajaan Meztano dan mencari kelemahan Yang Mulia Raja Azvago. Selama beberapa tahun tak ada hal aneh yang menimpa para putri yang lahir di kerajaan ini meski mereka memiliki umur yang pendek namun saat saya lahir dan bisa melewati kutukan itu semuanya terasa begitu aneh. Saya adalah kelemahan terbesar bagi Yang Mulia Raja Azvago, karna itulah banyak musuh yang mengincar saya termasuk pihak Kerajaan Belgize." jelas Putri Amerilya dengan sangat jelas. Perkataan dari putri kecil itu juga dapat diterima oleh kesepuluh pelayan setia yang sedang mendengarkannya.


"Hal yang membuat saya semakin yakin Kesatria Black Linox adalah seorang mata mata karna ia berasal dari sebuah desa perbatasan yang mengarah pada wilayah Kerajaan Belgize, jadi mata mata yang dicari selama ini bersembunyi dengan statusnya sebagai Kesatria yang menjaga kedamaian wilayah Kerajaan Meztano. Hanya itu saja yang bisa saya sampaikan untuk saat ini." ucap Putri Amerilya yang mengakhiri penjelasannya pada kesepuluh pelayan yang masih menunjukkan ekspresi kagum sekaligus tidak percaya atas kepekaan dan ketelitian Putri Amerilya.


"Anda sangat luar biasa Tuan Putri Amerilya, Anda pasti akan menjadi seorang putri yang sangat hebat dan bisa menjaga wilayah Kerajaan Meztano dengan baik." ucap Lilian sembari mengacungkan kedua jempolnya pada sang putri.


"Anda dapat menemukan kejanggalan yang tak kami sadari, sepertinya Yang Mulia Raja Azvago memiliki putri jenius." ucap Juylin dengan penuh semangat.


"Kedepannya kami akan lebih berhati hati dan mempercayakan keamanan Tuan Putri Amerilya pada a anggota Kesatria White Rose." ucap seorang pelayan dengan rambut berwarna putih dan mata berwarna coklat tua.


"Baiklah jika begitu, kalian bisa melanjutkan tugas yang tertunda saya akan pergi untuk berjalan jalan di sekitar taman putri. Jika jamuan makan malamnya sudah siap tolong panggil saya." ucap Putri Amerilya dengan senyuman yang sangat lucu. Putri kecil itu melangkah pergi dari dapur dengan langkah kaki pendeknya itu. Para pelayan melihat kepergian sang putri kemudian tersenyum manis, entah semengerikan apa kepintaran Putri Amerilya di masa depan.


Putri Amerilya berjalan dengan santai menuju halaman depan istana putri dan ia tak sengaja melihat Ratu Jeylena sedang mengendap endap berusaha keluar dari area istana, karna merasa curiga dengan hal yang akan dilakukan oleh Ratu Jeylena akhirnya Putri Amerilya mengikuti sang ratu. Ratu Jeylena melihat ke kiri dan kanan ketika ia berada di halaman belakang istana putri, dengan segera ia membaca sebuah mantra kemudian muncul sebuah tangga yang terbuat dari balok es. Ratu Jeylena menaiki anak tangga itu satu persatu hingga ia berhasil keluar dari bagian dalam Istana Kerajaan Meztano, tanpa basa basi Putri Amerilya segera menyusul wanita itu menggunakan akar tumbuhan yang melilit tubuhnya kemudian mengantar sang putri hingga ke bagian luar dinding istana dengan selamat.


"Terimakasih atas bantuannya." ucap Putri Amerilya sembari mengusap pelan akar tanaman yang masih ada di sampingnya itu, beberapa saat setelahnya akar tersebut kembali masuk ke dalam tanah agar tak diketahui keberadaannya oleh orang lain.


Putri Amerilya berlari menggunakan kaki kecilnya itu untuk mengejar Ratu Jeylena yang sudah cukup jauh, setelah beberapa menit berlari akhirnya Ratu Jeylena yang sedang ia ikuti berhenti di sebuah gang sempit dan gelap.


"Apakah kalian sudah membawa sesuatu yang saya pesan?." tanya Ratu Jeylena pada beberapa orang yang bersembunyi dalam kegelapan gang sempit itu.


"Kami telah membawanya sesuai dengan permintaan Anda, namun ada satu hal yang membuat kami khawatir. Apakah tindakan Anda kali ini tak berlebihan? bagaimana jika Yang Mulia Ratu Zivaya bukan hanya kehilangan kekuatannya melainkan mengalami kelumpuhan total atau mati setelah mengonsumsi ramuan berbahaya ini?." ucap seseorang yang sedang melakukan transaksi ramuan berbahaya dengan Ratu Jeylena.


"Jika sesuatu terjadi pada Ratu Zivaya, jangan pernah melibatkan kami dalam masalah Anda." ucap orang orang itu kemudian mereka menghilang begitu saja.


"Cih, akan lebih bagus jika wanita menyebalkan itu mati. Bagaimana jika aku merubah rencananya, mungkin akan lebih menarik jika bisa menjadi Ratu Kerajaan Meztano." gumang Ratu Jeylena dengan suara pelan namun masih bisa di dengar oleh Putri Amerilya yang sedang bersembunyi.


Sebelum Ratu Jeylena sampai ke istana dan memasukkan ramuan berbahaya itu kedalam makanan atau minuman milik ibunya, Putri Amerilya harus sampai ke istana terlebih dahulu untuk memperingatkan ayah dan ibu. Putri Amerilya berlari ke arah lain agar tak berpapasan dengan Ratu Jeylena, putri kecil itu memotong jalan hingga ia sampai lebih cepat dan segera masuk kembali ke dalam area Istana Kerajaan Meztano menggunakan cara yang sama seperti saat ia keluar tadi.


Putri Amerilya berlari menuju istana utama dengan nafas tersengal sengal, saat ingin masuk ke dalam sang putri dihentikan oleh beberapa prajurit penjaga pintu masuk istana utama karna mereka khawatir saat melihat kondisi Putri Amerilya yang sedang kelelahan.


"Apa Tuan Putri Amerilya baik baik saja? sebaiknya Anda kembali ke Istana Putri dan beristirahat." ucap salah seorang prajurit.


" Tolong jangan halangi saya masuk ke dalam, saya memiliki urusan penting dengan Yang Mulia Ratu Zivaya." ucap Putri Amerilya dengan tegas meski nafasnya belum beraturan.


"Maaf karna telah mengganggu perjalanan Anda, silahkan masuk ke dalam saat ini Yang Mulia Ratu sedang berada di kamar utama bersama Yang Mulia Raja Azvago." ucap salah seorang prajurit yang memberitahukan dimana Ratu Zivaya saat ini agar sang putri kecil tak berkeliling istana utama untuk mencarinya.


Putri Amerilya mengucapkan terimakasih pada para prajurit itu kemudian ia masuk ke dalam istana utama dan berjalan menuju kamar utama.


Tok tok tok...


Suara pintu kamar utama yang diketuk oleh Putri Amerilya, setelah menunggu beberapa saat akhirnya pintu itu terbuka dan menunjukkan wajah Raja Azvago yang sedang menatap ke arah putri kecilnya itu dengan tatapan bingung. Belum sempat Raja Azvago mempersilahkan Putri Amerilya masuk ke dalam, tiba tiba saya sang putri masuk dengan sendirinya. Merasa ada yang tidak beres dengan sikap putrinya itu Raja Azvago langsung menutup pintu kamar utama dengan rapat dan menyusul sang putri.


"Maaf karna lancang masuk ke dalam sebelum ayah memberikan izin, ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada ibu." ucap Putri Amerilya dengan ekspresi serius.


"Ada apa putriku? katakan saja, ibu akan mendengarnya." ucap Ratu Zivaya dengan tatapan lembut.


"Saat berada di halaman depan istana putri saya melihat pergerakan mencurigakan dari Ratu Jeylena, akhirnya saya berinisiatif untuk mengikuti kemana sang ratu pergi. Saya menemukan Ratu Jeylena sedang berada di sebuah lorong yang sangat sepi dan gelap, di sana ia sedang berbincang bincang dengan beberapa orang namun saya tak bisa melihat wajah mereka. Salah satu diantaranya mengatakan bahwa tindakan Ratu Jeylena sudah keterlaluan karna ramuan yang dipesan bukan hanya membuat orang yang meminumnya kehilangan kekuatan melainkan bisa menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian." jelas Putri Amerilya pada Raja Azvago dan Ratu Zivaya.


"Pada siapa Ratu Jeylena akan memberikan ramuan itu?." tanya Raja Azvago dengan rasa penasaran tinggi, kemungkinan besar orang yang ingin disingkirkan oleh Ratu Jeylena adalah salah satu anggota Keluarga Kerajaan Meztano.


"Ibu, Ratu Jeylena ingin menaruh ramuan beracun itu pada makanan atau minuman yang akan dihidangkan untuk ibu malam ini. Saya juga mendengar bahwa ia ingin menjadi Ratu dari Kerajaan Meztano." jawab Putri Amerilya dengan kemarahan meluap luap, Ratu Zivaya bisa merasakan aura pedang milik putri kecilnya itu.


Ratu Zivaya berjongkok di hadapan Putri Amerilya kemudian memeluk sang putri dengan sangat erat, jika bukan karna anak perempuan kesayangannya ini mungkin ia sudah kehilangan kekuatan ataupun nyawanya setelah makan malam. Ratu Zivaya sangat bersyukur karna memiliki anak perempuan yang sangat perhatian padanya.


"Terimakasih karna telah memperingatkan ibu, tenang saja karna wanita licik itu tak akan pernah bisa melukai ibumu ini." ucap Ratu Zivaya yang masih memeluk Putri Amerilya dengan erat.


"Jika wanita itu berani menyakiti ibu maka saya akan menyakiti anak anaknya." jawab Putri Amerilya.


"Lihatlah dia sama seperti mu suamiku." ucap Ratu Zivaya sembari menatap ke arah Raja Azvago.


"Itu sangat wajar karena dia juga putriku. Sekarang kembalilah ke istana putri, ayah dan ibu akan mengurus masalah ini." ucap Raja Azvago yang meminta pada Putri Amerilya untuk kembali ke tempatnya. Sebagai pemilik dari istana putri di Kerajaan Meztano, Putri Amerilya harus menyambut putri putri dari kerajaan lain dengan jamuan makan malam.


"Tolong jaga ibu dengan baik ayah, saya permisi terlebih dahulu." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar kemudian ia keluar dari kamar utama dan bergegas kembali ke istana putri sebelum para pelayannya merasa cemas karna tak bisa menemukannya di halaman depan ataupun taman yang ada di sekitar istana putri.


Hai hai semua author update lagi novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.