PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Ketahuan


Saat ini Yang Mulia Raja Azvago dan Pangeran Zingo sudah berada di dalam ruang tamu, mereka duduk berhadapan agat mudah untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Pangeran Zingo menarik nafas panjang kemudian mempersiapkan diri untuk menceritakan kejadian yang ia dengar sebelum pergi ke Istana Kerajaan Meztano untuk menemui sang raja. Sebenarnya Pangeran Zingo juga cukup terkejut saat Raja Azvago mengatakan bahwa ia tak mengetahui apapun yang baru saja terjadi belakangan ini.


"Cepat ceritakan pada ku apa yang kau ketahui." ucap Raja Azvago yang sudah tak sabar, mengapa ia bisa ketinggalan informasi seperti ini.


"Sebelum datang kesini saya baru saja kembali dari beberapa wilayah kerajaan lain untuk mengantar undangan pesta ulang tahun Putri Amerilya, saat itu saya melintas di wilayah kekuasaan Keluarga Duke Lion dan mendengar kabar bahwa pagi tadi Putri Amerilya baru saja datang kesana bersama dengan kedua pangeran. Saat itu saya sedang rehat dan masuk kesebuah restoran untuk memesan makanan dan saya mendengar dari pengunjung lain bahwa Putri Amerilya sempat bersitegang dengan Keluarga Hanz Kyne salah satu bangsawan tingkat rendah yang ada di wilayah itu." ucap Pangeran Zingo yang sedang menceritakan apa yang ia dengar saat berkunjung ke Restoran Permata Merah.


"Awalnya Tuan Hanz Kyne memiliki masalah dengan putra pemilik restoran itu, putranya dan putra pemilik restoran bertengkar dan Tuan Hanz Kyne merasa tak terima sehingga ia memukuli putra pemilik restoran dan membawanya pada pemilik restoran itu." ucap Pangeran Zingo yang langsung dihentikan oleh Raja Azvago, sang raja sedang memikirkan sebuah restoran yang kemungkinan besar menjadi tempat terjadinya kejadian itu.


"Maksud mu Restoran Permata Merah milik Tuan Arges Linero?." tanya Yang Mulia Raja Azvago secara spontan, saat berkunjung ke wilayah Kekuasaan Duke Lion ia juga sering mampir ke restoran itu karna menu makanan yang mereka miliki sangat banyak dan memiliki cita rasa sangat enak sesuai dengan selera sang raja.


"Tebakan mu itu benar kak. Saat perselisihan antara Tuan Arges Linero dan Tuan Hanz Kyne tersedia kebetulan Putri Amerilya berada di sana karna ia terpisah dengan kedua pangeran. Untung saja Tuan Arges Linero menerima kedatangan seorang anak kecil asing tanpa dampingan dari orang tuanya karna itulah Putri Amerilya berada di pihak Keluarga Linero. Seorang pengunjung memberitahukan pada saya bahwa Tuan Hanz Kyne sempat meminta dua belas bawahannya untuk menyerang Putri Amerilya dan membunuh sang putri, saat itu Putri Amerilya melawan menggunakan pedang yang biasa ia panggil saat dalam situasi mendesak seperti itu dan ia berhasil membunuh salah seorang bawahan Tuan Hanz Kyne." ucap Pangeran Zingo yang terlihat sangat bersemangat saat menceritakan betapa hebatnya keponakan kesayangannya itu.


"Lalu apa yang dilakukan Putri Amerilya setelah itu?." tanya Raja Azvago, ia masih penasaran dengan kelanjutan cerita tersebut meski saat ini ia merasa marah pada kedua putranya yang telah membawa Putri Amerilya pergi namun tak bisa menjaga sang putri kecil dengan baik.


"Putri Amerilya menginginkan status bangsawan Keluarga Kyne dicabut, awalnya Tuan Hanz Kyne menertawakan keinginan Putri Amerilya dan menanyakan apa kedudukan ayah sampah nya itu. Setelah mengetahui anak perempuan yang sedang bersitegang dengannya sedari tadi adalah Putri Amerilya akhirnya Tuan Hanz Kyne meminta maaf dan memohon agar status bangsawan milik keluarganya tak di cabut. Saat itu kedua pangeran meminta Putri Amerilya untuk memberikan hukuman lain karna menghapus status bangsawan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan." ucap Pangeran Zingo dengan ekspresi kesal, seharusnya Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe mendukung keputusan dari adik perempuan mereka.


"Hukuman apa yang putriku berikan pada orang orang sialan itu!." triak Raja Azvago dengan kemarahan meluap luap, emosinya naik kembali setelah mendengar cerita dari Pangeran Zingo.


"Putri Amerilya meminta Tuan Duke Yosan Lion untuk membuat sebuah peraturan baru yang mengharuskan orang tua menggendong anak mereka ketiak berada di pasar itu, Putri Amerilya juga memerintahkan Duke Yosan Lion untuk memenjarakan sebelas bawahan Tuan Hanz Kyne." ucap Pangeran Zingo yang sempat terhenti sejenak, ia sedang mengingat ingat hukuman lain yang diberikan oleh keponakannya itu.


"Apakah itu saja?." tanya Yang Mulia Raja Azvago dengan sedikit ekspresi kecewa, sepertinya ia menaruh harapan yang sangat tinggi pada putri kecilnya itu.


"Ah iya, Putri Amerilya meminta beberapa prajurit Kediaman Duke Yosan Lion untuk menjemput paksa anak dari Tuan Hanz Kyne kemudian memerintahkan para prajurit itu untuk memukuli pemuda tersebut hingga ia pingsan. Saat putra dari Tuan Hanz Kyne sedang dipukuli dan menjerit kesakitan saat itu juga Putri Amerilya sedang menikmati makanan di dalam restoran. Banyak pengunjung yang terkejut dengan sikap sang putri namun beberapa saat setelah mereka mengingat bawah anak perempuan itu adalah anak dari Yang Mulia Raja Azvago." ucap Pangeran Zingo yang telah menyelesaikan ceritanya itu. Ia sangat puas saat mendengar putra dari Tuan Hanz Kyne mendapatkan banyak pukulan. Seharusnya pertengkaran kecil antara dua anak laki laki tak perlu sampai melibatkan orang tua mereka.


"Itu baru putriku, sepertinya Putri Amerilya memang sangat berbakat dalam menggunakan pedang." ucap Raja Azvago dengan senyuman lebar, ia puas dengan hal hal luar biasa yang dilakukan oleh putri kesayangannya itu.


"Tapi masih ada hal lain yang harus kau lakukan kak." ucap Pangeran Zingo yang sedang mengingatkan kakak laki lakinya.


"Aku harus memberi pelajaran pada dua pangeran itu." ucap Yang Mulia Raja Azvago yang kembali menunjukkan ekspresi kesalnya.


Raja Azvago dan Pangeran Zingo keluar dari ruang tamu kemudian bergegas pergi menuju istana pangeran, setelah sampai di sana terlihat lampu lampu ruang kerja para pangeran masih menyala dengan terang artinya mereka masih mengerjakan beberapa berkas yang harus diselesaikan sebelum hari ulang tahun Putri Amerilya. Raja Azvago pergi ke ruang kerja Pangeran Luxe terlebih dahulu, ia mengetuk pintu beberapa kali dan Pangeran Luxe langsung membukanya.


"Salam hormat saya pada Ayah dan juga Paman Zingo, mengapa kalian mencari saya selarut ini?." tanya Pangeran Luxe dengan tatapan polos seperti ia tak melakukan kesalahan apapun.


"Mari ikut ayah untuk menemui kakak mu." ucap Raja Azvago yang langsung berjalan menuju ruang kerja Pangeran Mixo.


Tok tok tok.


Tok tok tok..


"Apa yang terjadi pada wajah mu Mixo?." tanya Pangeran Zingo dengan suara tawa pelan, ia benar benar tak sanggup menahan diri untuk tak menertawakan keponakannya itu.


"Ahahaha saya baru saja selesai membungkus hadiah untuk Putri Amerilya, mengapa tiba tiba kalian bertiga datang mencari saya?." tanya Pangeran Mixo dengan tatapan bingung, tak biasanya sang ayah datang ke istana pangeran saat larut malam seperti ini.


"Apakah ayah boleh masuk?." tanya Raja Azvago yang meminta izin terlebih dahulu pada putranya, bagaimanapun juga ruangan itu adalah ruang pribadi milik orang lain meski berada di area Istana Kerajaan Meztano.


"Silahkan masuk semua, maaf jika sedikit berantakan." ucap Pangeran Mixo yang mempersilahkan Raja Azvago, Pangeran Zingo, dan Pangeran Luxe untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.


Pangeran Luxe menatap ke arah beberapa tumpuk kado yang memenuhi ruang kerja Pangeran Mixo, mereka berdua baru membeli beberapa barang di pasar yang ada di dekat Istana Kerajaan Meztano dan sekarang semua barang milik Pangeran Mixo sudah terbungkus dengan rapi? sungguh ketelatenan yang sangat luar biasa. Raja Azvago dan Pangeran Zingo duduk di kursi yang ada di ruangan itu, Pangeran Luxe duduk di kursi kerjanya sedangkan Pangeran Luxe berdiri di belakang Raja Azvago.


"Jadi ada keperluan apa hingga ayah dan paman datang menemui saya?." tanya Pangeran Mixo dengan tatapan tenang. Ia tak merasa telah melakukan kesalahan apapun yang membuatnya mendapat hukuman dari sang ayah.


"Ayah sudah mengetahui semua yang terjadi di wilayah kekuasaan Duke Yosan Lion." ucap Raja Azvago yang membuat kedua pangeran itu langsung terdiam. Raut wajah tenang kedua pangeran itu berubah menjadi panik, bagaimana biasa ayah mereka mengetahui kejadian itu? mungkinkah Putri Amerilya menceritakan semuanya?.


"Apakah adik yang bercerita pada ayah?." tanya Pangeran Mixo dengan tatapan penasaran, mereka sudah membuat kesepakatan sejak awal jangan sampai ayah mereka mengetahui hal ini.


"Saya yang telah memberitahukan hal itu pada ayah kalian, bagaimana bisa kalian berdua sampai se ceroboh itu? bagaimana jika sampai Putri Amerilya bertemu dengan orang jahat yang kemudian menculiknya? apakah kalian berdua bisa bertanggungjawab!" ucap Pangeran Zingo dengan penuh emosi, sebagai salah satu orang yang menyayangi Putri Amerilya tentu Pangeran Zingo tak ingin terjadi apapun pada keponakannya itu.


"Lain kali jangan mengajak adik kalian berpergian jauh jika tak bisa menjaganya dengan baik." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan sorot mata tajam dan nada bicara tegas.


"Maaf ini semua memang kesalahan kami berdua, seharusnya kami menceritakan kejadian ini pada ayah namun kami takut ayah akan melibatkan Keluarga Duke Lion juga." jawab Pangeran Luxe dengan menundukkan kepala, ia merasa bersalah mengenai hilangnya Putri Amerilya saat berada di pasar.


"Setelah pesta ulang tahun Putri Amerilya selesai, kalian berdua harus membantu para pelayan untuk membersihkan tempat pesta dan mencuci piring di belakang. Jangan membantah karna ini hukuman untuk kalian berdua, jika terjadi sesuatu seperti ini kalian harus melaporkan pada ayah karna ini perintah!." bentak Yang Mulia Raja Azvago kemudian pergi keluar dari ruang kerja Pangeran Mixo disusul Pangeran Zingo yang berjalan di belakang sang raja.


Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe menunjukkan raut wajah lesu, hukuman yang mereka dapatkan memang tak terlalu berat namun sangat menguras tenaga. Kedua pangeran itu belum pernah mencuci piring selama mereka hidup di Istana Kerajaan Meztano ini, semoga aja tak ada kejadian piring atau gelas yang pecah.


"Ternyata kita memang tak bisa menutupi apapun dari ayah." ucap Pangeran Mixo sembari menyandarkan kepalanya di meja kerja.


"Ayah memiliki banyak mata dan telinga, wilayah Kerajaan Meztano ini adalah wilayah kekuasaan ayah. Bagaimana bisa kita membodohi seorang penguasa?." ucap Pangeran Luxe yang terduduk lemas di salah satu kursi.


Saat ini Putri Amerilya sedang berada di dalam kamarnya, putri kecil itu sedang melihat langit malam dari jendela kaca yang ada di kamarnya itu. Putri Amerilya tersenyum lebar saat mengingat kejadian saat ayahnya menebas kepala Ciela Marques, gadis sepertinya memang pantas untuk mati.


"Kedepannya akan banyak bahaya dan juga musuh yang mengincar ku secara pribadi ataupun beberapa anggota Keluarga Kerajaan Meztano, akan lebih baik jika aku berlatih." ucap Putri Amerilya yang langsung membuka jendela kacanya itu kemudian melompat keluar dari sana. Putri Amerilya pergi menuju lapangan tempat berlatih para kesatria kemudian memulai berlatih beberapa jurus pedang yang ia kuasai saat di kehidupan sebelumnya.


Hai hai semua author balik lagi nih dengan novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.