
Pangeran Lin tampak kebingungan menjawab pertanyaan dari Putri Amerilya, saat melihat kesekeliling lapangan tempat latihan para kesatria memang tak ada tempat bersih ideal yang ia inginkan. Pangeran Lin memilih untuk tetap berdiri sembari mendengarkan percakapan antara Pangeran Zingo dengan Putri Amerilya yang terlihat sangat akrab.
"Paman dengar kalau kau mendapat banyak masalah akhir akhir ini." ucap Pangeran Zingo dengan menatap keponakan kecilnya itu.
"Banyak yang terjadi belakangan ini, paman tenang saja karna Amerilya bisa menjaga diri dengan baik." ucap Putri Amerilya dengan senyuman polos, jika ia tak memiliki kemampuan berpedang seperti sekarang mungkin ia sudah mati di tangan Duke Zidan Marques
"Sebenarnya paman ingin memukuli Zidan Marques sialan itu." ucap Pangeran Zingo, terlihat raut wajah kesal dari sang pangeran. Berani beraninya duke rendahan sepertinya ingin menghabisi anak perempuan satu satunya di Kerajaan Meztano.
Saat mereka berdua sedang asik mengobrol satu sama lain tiba tiba Kesatria Richal dan Kesatria Albern datang menemui Putri Amerilya. Kedua kesatria itu ingin melapor tentang penyelidikan yang mereka lakukan pada Arges Marques beberapa waktu yang lalu, seharusnya laporan itu sudah sampai ke Putri Amerilya namun karna banyak hal tak terduga yang terjadi maka kedua kesatria itu menundanya.
"Salam hormat kami pada Tuan Putri Amerilya dan kedua Pangeran." ucap Kesatria Richal dan Kesatria Albern secara bersamaan.
"Senang bertemu dengan tuan kesatria." jawab Pangeran Zingo dan Pangeran Lin.
"Kalian datang mencari saya?." tanya Putri Amerilya, sang putri hanya ingin memastikan tujuan kedua kesatria itu datang menghampiri mereka bertiga.
"Ada beberapa hal penting yang ingin kami sampaikan pada Tuan Putri Amerilya, bisakah anda ikut dengan kami sebentar?." tanya Kesatria Richal dengan sangat sopan.
"Baiklah saya akan ikut dengan kalian berdua. Paman Lin dan Paman Zingo bisa menunggu di sini ataupun kembali ke istana utama karna Amerilya tak tau berapa lama akan pergi bersama kedua kesatria." ucap Putri Amerilya pada kedua pamannya itu, mungkin Pangeran Lin saja yang ingin kembali ke istana utama karna tak terbiasa dengan lingkungan seperti di tempat latihan para kesatria.
"Pergilah keponakanku paman akan menunggu di sini." ucap Pangeran Zingo dengan senyuman lebar.
Putri Amerilya dan dua Kesatria White Rose pergi dari area pohon rindang itu, mereka berjalan menuju salah satu sudut lapangan yang cukup jauh dari para kesatria maupun kedua pangeran yang sedang menunggu Putri Amerilya kembali. Kesatria Richal dan Kesatria Albern meminta Putri Amerilya untuk duduk di sebuah kursi kayu sedangkan mereka berdua duduk di bawah.
"Mengapa saya duduk di atas sini dan kalian berdua ada di sana?." tanya Putri Amerilya dengan raut wajah kesal, ia tak ingin diperlakukan layaknya seorang ratu oleh kedua kesatria itu.
"Anda adalah Tuan Putri dari Kerajaan Meztano dan kami berdua hanyalah kesatrian yang bekerja di bawah kepemimpinan Raja Azvago, tentu anda layak mendapat perlakuan seperti ini." jawab Kesatria Richal, bagaimanapun anak perempuan yang ada di depannya itu memiliki status lebih tinggi dari para kesatria.
Putri Amerilya turun dari kursi kayu dan duduk beralaskan rumput bersama Kesatria Richal dan Kesatria Albern, posisi ini sangat nyaman bagi putri kecil itu. Kedua kesatria hanya menatap ke arah Putri Amerilya dengan tatapan pasrah, mereka berdua tak bisa memaksa sang putri untuk melakukannya hal yang tak ia sukai.
"Baiklah saya akan membahas tentang penyelidikan yang telah dilakukan beberapa anggota Kesatria White Rose beberapa waktu lalu." ucap Kesatria Richal, suasana yang tadinya biasa biasa saja berubah menjadi tegang karna nada bicara Kesatria Richal sangat serius.
"Katakanlah apa yang kalian temukan di sana?." tanya Putri Amerilya, sang putri sudah tak sabar mendengar seberapa besar keikutsertaan Arges Marques dalam rencana yang dibuat oleh ayahnya.
"Kesatria Lional memberitahukan pada saya bahwa Arges Marques memang terlibat dalam beberapa kejadian buruk yang menimpa anda. Pemuda itu yang mengatur para bandit hutan untuk menunggu di beberapa titik, Arges Marques melakukan hal ini setelah mendengar kabar bahwa rombongan Kerajaan Meztano sedang dalam perjalanan pulang dan akan melewati wilayah Duke Marques. Dalam kejadian pertama ini Arges Marques bukan mengincar anda melainkan kedua kakak laki laki anda, akan tetapi karna anda yang paling muda di dalam rombongan kerajaan akhirnya Arges Marques meminta para bandit untuk menyandar anda demi menundukkan kedua pangeran." ucap Kesatria Richal dengan suara pelan agar tak terdengar oleh orang lain selain mereka bertiga.
"Jadi awalnya Arges Marques mengincar Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe. Mengapa ia melakukan hal itu? apakah kedua kakak saya pernah melakukan kesalahan padanya?." tanya Putri Amerilya yang ingin tau alasan di balik rencana jahat dari Arges Marques.
"Sepertinya pemuda itu memiliki rasa iri yang berlebihan pada semua Pangeran di Kerajaan Meztano. Arges Marques merencanakan semua itu dengan bantuan Tuan Duke Zidan Marques, duke yang saat itu masih memiliki dendam pada Yang Mulia Raja Azvago tentu mendukung kejahatan yang dilakukan oleh putranya." ucap Kesatria Albern, sorot mata pria itu berubah menjadi tajam ia tak suka dengan kelicikan Keluarga Duke Marques.
"Apakah Arges Marques terlibat dalam penyerangan yang dilakukan oleh beberapa pembunuh bayaran ?." Putri Amerilya penasaran apakah pemuda gila itu juga berpura pura untuk menyelamatkannya demi mendapatkan simpati dari kedua pangeran atau pihak Kerajaan Meztano.
"Dalam penyerangan yang terjadi pada anda di Kediaman Duke Marques itu murni rencana daru Duke Zidan Marques." jawab Kesatria Richal, menurut informasi yang ia dapat Arges Marques memang tak terlibat dalam insiden itu.
"Arges Marques memang terlibat, pemuda itu yang membelikan obat tidur dan diberikan pada Duke Zidan Marques. Hal yang tak pernah di duka oleh Arges Marques adalah sang ayah ingin menghabisi nyawa anda karna rencana awal mereka hanyalah memberi pelajaran pada anda. Arges Marques juga sangat marah ketika mengetahui fakta jika ayahnya telah menghianati sang ibu dan berselingkuh dengan Putri Haru yang masih sangat muda." ucap Kesatria Albern.
"Baiklah jika begitu, pemuda itu harus mendapat pukulan keras agar tak mengulangi kesalahannya lagi. Jadi kapan sidang istana akan dilakukan? saya akan menjadi saksi sekaligus korban dalam peristiwa yang disidangkan nanti." ucap Putri Amerilya dengan sangat bersemangat, Duke Zidan Marques harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.
"Kami akan mendukung Tuan Putri dalam persidangan nanti." ucap Kesatria Richal dan Kesatria Albern secara bersamaan.
"Terimakasih atas bantuan yang telah kalian berikan, saya tak akan melupakannya. Saya harus pergi karna Pangeran Zingo dan Pangeran Lin masih menunggu, kita akan berlatih bersama di lain waktu." ucap Putri Amerilya, gadis kecil itu berlari menghampiri kedua pamannya yang masih menunggu di bawah pohon rindang sedangkan Kesatria Richal dan Kesatria Albern kembali berlatih bersama yang lain.
Pangeran Zingo dan Pangeran Lin mengajak Putri Amerilya kembali ke Istana Putri karna hari sudah mulai sore, kesepuluhnya pelayan Istana Putri menyambut kedatangan mereka bertiga dengan baik. Seorang pelayan berambut putih mengajak sang putri untuk masuk kedalam kamarnya sedangkan yang lain menyiapkan teh serta camilan untuk Pangeran Zingo dan Pangeran Lin.
"Anda baik baik saja Tuan Putri?." tanya pelayan berambut putih itu yang langsung melihat Putri Amerilya dari atas hingga bawah untuk memastikan sang putri tak terluka.
"Saya baik baik saja, mengapa kau terlihat sangat khawatir seperti itu?." tanya Putri Amerilya dengan perasaan bingung. Ia hanya pergi ke tempat berlatih Kesatria White Rose bukan sedang bertarung dengan mereka.
"Ada Pangeran Lin yang datang bersama dengan anda tentu saya sangat khawatir." ucap pelayan berambut putih itu.
Putri Amerilya semakin tak mengerti, ada apa dengan Pangeran Lin? bukankah ia sama seperti adik Raja Azvago yang lain. Kecemasan tanpa alasan dari para pelayan setianya menimbulkan banyak pertanyaan di benak Putri Amerilya, sang putri ingin menanyakan hal itu pada sang pelayan.
"Pangeran Lin orang jahat?." tanya Putri Amerilya dengan suara pelan, ia tak ingin menyinggung sang pangeran yang masih berada di dalam Istana Putri.
"Bukan seperti itu Tuan Putri, Pangeran Lin adalah orang yang sangat gila dengan kebersihan kami khawatir ia melukai Tuan Putri secara tidak sengaja karna merasa baju yang anda gunakan sangat kotor." ucap pelayan berambut putih itu sembari menunjuk beberapa noda lumpur di pakaian Putri Amerilya. Sepertinya sang putri tak menyadari bahwa pakaian yang ia kenakan saat ini memang cukup kotor.
Putri Amerilya melihat ke arah yang ditunjuk oleh pelayannya itu, sang putri memukul keningnya pelan mengapa ia bisa tak menyadari bahwa bajunya kotor. Putri Amerilya tersenyum canggung pada pelayan itu, sang putri bergegas mengambil baju ganti dari dalam almari kemudian berlari menuju kamar mandi. Pelayan berambut putih hanya tertawa pelan saat melihat tingkah lucu putri kecil mereka itu.
"Kami akan selalu berada di sisi anda karna ini sudah tanggung jawab kami semua." ucap pelayan berambut putri kemudian pergi dari kamar Putri Amerilya.
Di sisi lain saat ini para anggota Kesatria Savalor tak bisa diam dan menunggu ketua mereka dibebaskan oleh Raja Azvago, beberapa dari mereka beranggapan bahwa kerja sama antara Kerajaan Meztano dengan Kesatria Savalor akan segera berakhir karna kejadian ini. Semua itu terlihat jelas dari sikap Raja Azvago dan Ibu Suri Sinya yang sangat membela Putri Amerilya ditambah beberapa wanita aneh yang memihak pada anak kecil itu.
"Dia harus segera disingkirkan jika tidak kita semua akan kehilangan pekerjaan." ucap Kesatria Zunxi Savalor, wajah masamnya sangat tek enak untuk dipandang.
"Menyusup kedalam Istana Putri sama dengan bunuh diri." jawab Kesatria Rosten Savalor yang melihat bahwa keamanan di Istana Putri sudah diperketat.
"Kita harus memancing putri sialan itu untuk keluar dari istananya, saya dengar Putri Amerilya sering berkunjung ke tempat latihan Kesatria White Rose." ucap Kesatria Norx Savalor yang mulai menemukan ide bagus untuk menghabisi nyawa Putri Amerilya.
"Saat dalam perjalanan menuju tempat itu kita bisa menculiknya dan membawa Tuan Putri Amerilya keluar area Istana Kerajaan Meztano." jawab anggota Kesatria Savalor yang lain penuh dengan semangat.
"Baiklah kita akan lakukan hal itu setelah pengadilan kerajaan untuk Duke Zidan Marques selesai dilakukan." ucap Rossen Savalor yang mengambil sebuah keputusan menggantikan ketua mereka.
Hai semuanya novel Putri Amerilya update lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya. Baca juga novel Ling Huo.