
Lilian sudah sampai di dapur, ia langsung memanaskan satu panci air hangat dengan kobaran api yang cukup besar. Empat menit berlalu dan air itu sudah mendidih, dengan segera Lilian mencampurkan air panas dengan air dingin. Setelah selesai Lilian bergegas pergi menuju ruang perawatan untuk memberikan air hangat tersebut pada para tabib yang sedang menunggunya.
Saat dalam perjalanan menuju ruang perawatan Lilian berpapasan dengan beberapa pelayan dari istana utama, dari tatapan pelayan pelayan itu mereka terlihat terkejut saat menemukan salah seorang pelayan dari istana putri berada di dalam area istana utama. Yang ada di fikiran para pelayan istana utama adalah pelayan bernama Lilian itu menyusup masuk ke dalam area mereka.
"Berhenti! untuk apa pelayan dari istana putri berada di dalam area istana utama. Apakah kau tidak mengetahui aturan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun bahwa para pelayan dari istana lain dilarang masuk ke dalam istana utama." tegur salah seorang pelayan istana utama dengan tegas.
"Sudahlah jangan menghalangi saya, keberadaan saya di sini atas perintah Yang Mulia Raja Azvago. Jika kalian merasa tidak terima silahkan protes langsung pada sang raja." jawab Lilian.
Lilian melanjutkan perjalanannya menuju ruang perawatan dan tidak menggubris teriakan dari pelayan lain. Akhirnya para pelayan dari istana utama menyusul Lilian dari belakang untuk mengetahui kemana ia kan pergi.
"Ck mereka sangat mengganggu. Apakah kelima pelayan istana putri itu tidak bisa mendengar dengan baik? padahal saya sudah mengatakan kehadiran saya di istana utama atas perintah sang raja." dumal Lilian di sepanjang jalan menuju ruang perawatan.
Setelah berjalan selama beberapa menit akhirnya Lilian sampai dan segera masuk ke dalam ruang perawatan. Lilian memberikan satu baskom air hangat pada salah seorang tabib, dengan segera tabib itu menaburkan bubuk yang terbuat dari tanaman herbal ke dalam air hangat yang dibawa oleh Lilian.
"Ambilkan beberapa handuk kecil yang ada di ruang belakang, setelah itu kompres kening, lutut, serta pusar Putri Amerilya menggunakan air herbal ini. Saya akan menyiapkan obat untuk memperkuat ketahanan tubuh Tuan Putri, lakukan dengan benar dan jangan sampai ada kesalahan." jelas salah seorang tabib pada beberapa rekannya yang lain dan para alkemis.
"Saya akan membantu Anda membuat obat untuk Tuan Putri Amerilya. Biarkan yang lain menjaganya di sini." ucap salah seorang alkemis yang menawarkan diri untuk membantu sang tabib untuk meracik obat.
"Mari kita pergi sekarang, jangan membuang-buang waktu lagi." ucap sang tabib, ia pergi meninggalkan ruang perawatan karna ada tempat khusus yang digunakan untuk membuat obat.
Para tabib dan alkemis yang masih berada di dalam ruangan itu sedang sibuk mengompres beberapa bagian tubuh Tuan Putri Amerilya, mereka melakukan semua itu sesuai dengan instruksi dari tabib sebelumnya. Ratu Zivaya menatap dari jarak yang cukup jauh, sang ratu tidak ingin menghambat proses pengobatan putri kesayangannya itu.
"Tenangkan diri Anda Yang Mulia Ratu, kami semua yakin bahwa Tuan Putri akan baik-baik saja. Putri Amerilya adalah sosok putri kecil yang sangat tangguh, dia tidak pernah mengeluh sesulit apapun masalah yang sedang dihadapi. Karena itulah kita hanya perlu percaya pada kemampuan sang putri." ucap Juylin yang sedang berusaha untuk menenangkan Ratu Zivaya.
"Ini semua karna ulah anggota Kerajaan Belgize. Jika saya tau mereka merencanakan hal jahat seperti ini, tidak akan pernah ada undangan pesta ulangtahun yang dikirim untuk Kerajaan Belgize." gerutu Ratu Zivaya dengan penyesalan yang terlihat jelas dimatanya.
"Semuanya sudah terjadi dan kita tidak memiliki kemampuan untuk mengubah takdir. Untuk kedepannya kita semua harus lebih berhati-hati lagi dalam menjaga keamanan Tuan Putri." ucap Amena.
Di tempat lain saat ini Raja Azvago telah sampai di goa tempat persembunyian pasukan prajurit bayangan miliknya. Jika sebelumnya sang raja datang dengan menutupi wajah agar identitasnya tidak diketahui oleh kedua pangeran dari Kerajaan Belgize dan putri dari Marques Montiqu, namun hal itu tidak berlaku lagi karna Raja Azvago datang dengan niat berbeda dari sebelumnya.
"Salam hormat kami pada pemimpin, apa yang membuat Anda datang kembali?." salam dari beberapa prajurit bayangan yang menyambut kedatangan pemimpin mereka.
"Ada beberapa hal yang ingin saya lakukan di sini, tolong persiapkan ruang siksaan. Ikat tubuh Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf di dalam ruangan itu." ucap Raja Azvago. Ia sudah tidak sabar untuk menuntaskan dendam untuk putri kesayangannya.
"Apakah Anda membutuhkan topeng dan baju ganti? jika iya kami akan segera menyiapkannya." tanya salah seorang prajurit bayangan. Ia khawatir baju mahal yang digunakan Raja Azvago akan dipenuhi dengan bercak darah yang sulit untuk dihilangkan.
"Kami akan menyiapkan segala persiapan agar Anda bisa menyiksa kedua pangeran itu hingga puas. Mohon tunggu sebentar pemimpin." ucap beberapa prajurit bayangan yang langsung berlari ke dalam goa tersebut.
Raja Azvago berjalan dengan santai menyusuri lorong goa yang sangat dalam, mata Raja Azvago memancarkan cahaya berwarna putih kehitaman yang menyinari goa itu.
"Sekali saja para manusia busuk itu berusaha untuk menyakiti putri saya, maka akan saya pastikan dia akan lenyap beserta seluruh keluarganya." ucap Raja Azvago. Ia benar benar serius dengan ucapannya kaki ini.
Hari terus berjalan, malam yang gelap samar samar mulai tergantikan oleh cahaya matahari. Beberapa orang mulai terbangun dan memulai aktivitas mereka di pagi hari, di sisi lain Raja Azvago masih belum puas menyiksa Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf.
Cetar......
Suara cambukan yang terdengar sangat nyaring menggema di seluruh penjuru goa. Para prajurit bayangan tidak dapat membayangkan bagaimana kondisi kedua pangeran dari Kerajaan Belgize itu.
Para prajurit itu merasa penasaran alasan kemarahan dari pemimpin mereka, biasanya Raja Azvago akan berusaha untuk menahan emosinya hingga para tahanan mati dengan sendiri, namun kali ini Raja Azvago benar benar marah.
"Tolong ampuni kami Yang Mulia Raja Azvago. Kesalahan apa yang telah kami perbuat hingga mendapatkan hukuman sekejam ini?." tanya Pangeran Nanzo dengan suara rintihan yang memilukan.
Cetar....
Tanpa menjawab pertanyaan dari Pangeran Nanzo, Raja Azvago terus mencambuk sang pangeran hingga perlahan lahan kesadarannya mulai menghilang.
"Uhuk uhuk..bangun kak." ucap Pangeran Argaf, ia berusaha untuk membangunkan kakak laki-lakinya itu.
"Cukup Yang Mulia Raja, kami memang merencanakan penculikan untuk Tuan Putri Amerilya namun tidak berniat untuk menyiksa sang putri seperti ini." ucap Pangeran Argaf, air mata sang pangeran mengalir dengan deras. Pangeran Argaf merasa bahwa lebih baik ia dan kakaknya mati daripada harus terus disiksa seperti ini.
"Tebuslah kesalahan yang telah dilakukan oleh beberapa anggota Keluarga Kerajaan Belgize terutama Putri Bilgiz. Dia adalah pengikut Pangeran Iblis, karna ulah Putri Bilgiz saat ini putri kesayangan saya dalam kondisi kritis." jawab Raja Azvago atas pertanyaan yang diajukan oleh Pangeran Argaf.
Sang pangeran langsung terdiam setelah mendengar alasan dibalik penyiksaan yang dilakukan oleh Raja Azvago pada Pangeran Argaf dan kakak laki-lakinya itu. Jadi selama ini ada anggota Kerajaan Belgize yang menyembah Pangeran Ibis? bukankah hal itu terlalu berlebihan dan terdengar seperti dibuat buat.
"Berhentilah menceritakan kisah palsu pada saya, sangat tidak mungkin bagi Putri Bilgiz untuk menjadi pengikut Pangeran Iblis." bela Pangeran Argaf pada adik perempuannya itu.
"Terserah Anda ingin percaya ataukah tidak, yang pasti saat ini kehancuran Kerajaan Belgize sudah di depan mata." ucap Raja Azvago dengan seringai menyeramkan.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.